
Tok tok tok
Teeettt teeettt teeettt
Endang akhirnya balik lagi untuk mengetuk pintu apartemen anaknya. Dia minta pada Ajeng, anaknya, untuk menghubungi Rian dan menyiapkan tempat tinggal untuknya. Dia tidak mau tahu apapun alasannya, karena rumahnya telah hangus terbakar karena ulah keponakannya Rian, yaitu Abiyasa.
Padahal ini hanyalah pemikiran Endang sendiri, karena dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Tok tok tok
Clek
"Mama?"
"Hiksss, Ajeng. Mama butuh kamu untuk menghubungi pamannya Abiyasa, Rian, dan memberitahunya bahwa dia harus menyiapkan tempat tinggal untukku." Endang menyatakan maksudnya kembali.
Endang, seorang orang tua yang egois dan mementingkan kepentingannya sendiri. Dia menuntut pada pihak keluarga Abiyasa, karena menurutnya, dia kehilangan rumahnya karena terbakar akibat ulah keponakannya, Rian. Yaitu Abiyasa, yang merupakan menantunya sendiri, suaminya Ajeng.
Sekarang Endang meminta anaknya, Ajeng, untuk menghubungi Rian dan menyiapkan tempat tinggal untuknya, meskipun dia sendiri tidak mau berurusan dengan Rian. Tapi ini terpaksa karena kejadian terbakarnya rumahnya, dia harus memiliki tempat tinggal yang lain.
"Tapi Ma, kenapa Mama tidak mau berbicara dengan paman Rian? Dia mungkin perlu dengan Mama sendiri. Bukankah rumah itu rumahnya Mama?"
Endang mengeleng beberapa kali. "Tidak hiks. Aku tidak perlu banyak bicara dan mengemis. Seharusnya dia yang berinisiatif untuk memberikan aku tempat tinggal, karena meskipun dia meminta maaf, kata maaf tidak bisa mengembalikan rumahku yang telah terbakar, Ajeng. Mama tidak ingin melihatnya."
Ajeng menghela nafas panjang. Dia ingin menceritakan yang sebenarnya, tapi sadar jika mamanya tidak mungkin percaya dengan apa yang dia katakan nanti.
"Tapi Ma, Mama butuh tempat tinggal. Bagaimana jika kita mencari tempat lain untuk tempat tinggal sementara?" Ajeng memberikan penawaran kepada mamanya, untuk itu mencarikan tempat tinggal.
"Mama tidak mau, hiks hiks. Kamu tahu sendiri, itu sulit Ajeng. Mama tidak memiliki uang banyak untuk mencari tempat tinggal yang layak. Mama juga tidak ingin merusak hubungan keluarga kita dengan memperpanjang perselisihan ini. Tolong hubungi Rian dan lihat apa yang dia bisa lakukan."
Akhirnya Ajeng mengalah. "Baiklah, aku akan menghubunginya. Tapi Ma, aku harap Mama tidak menyesalinya nanti."
"Cepatlah Ajeng! Huwaaa Mama capek dan butuh istirahat secepatnya."
Endang memaksa Ajeng, sehingga dengan terpaksa Ajeng menghubungi Rian. Dia juga tidak mau jika Endang ikut tinggal di apartemennya dan membuat kekacauan. Apalagi Endang sering kali memarahi suaminya.
Endang tetap memaksa Ajeng untuk menghubungi Rian dan menyiapkan tempat tinggal untuknya. Namun, Ajeng merasa terpaksa dan tidak senang dengan situasi ini karena Endang sering memarahi suaminya dan tidak ingin Endang tinggal bersama mereka di apartemen ini juga.
"Cepat Ajeng, kamu harus segera menghubungi Rian!"
"Sudah, tapi Ma, aku tidak senang dengan situasi ini. Jadi Ajeng menghubunginya lewat pesan dulu, takut jika paman sedang sibuk."
"Ck. Kelamaan itu, Ajeng. Kamu tidak mau Mama menjadi gelandangan, kan?!"
"Ma, bagaimana jika Mama ikut tinggal di sini saja?" Ajeng memberikan penawaran kepada mamanya, meskipun dia ragu jika semuanya akan baik-baik saja.
__ADS_1
"Tidak! Mama tidak mau tinggal bersama dengan kalian. Mama bosan dengan mengurus Abiyasa!"
Endang belum tahu jika Abiyasa sudah tidak bodoh lagi. Tapi karena dia memang tidak pernah tahu, tidak pernah melihat video yang sempat viral kemarin, jadi dia masih menganggap menantunya adalah pria yang tidak bisa diandalkan.
"Mama janji tidak akan membuat masalah lagi, Ajeng. Tapi jika sudah mendapatkan tempat tinggal. Mama hanya butuh tempat tinggal sementara. Tidak lebih dari itu." Endang memberikan alasan untuk meyakinkan anaknya.
"Sebentar, Ajeng mau menghubungi paman Rian dulu. Ini dia baru saja membalas pesan Ajeng, memberi tahu jika dia tidak sedang sibuk di kantor."
Endang menganggukkan kepalanya dengan tidak sabar. Dia ingin segera mendapatkan tempat tinggal, setidaknya sebuah apartemen yang nyaman untuknya.
Tut tut tut
..."Halo Ajeng, ada apa?"...
..."Halo paman Rian, ini Ajeng. Maaf, Mama memintaku untuk menghubungimu."...
..."Apa ini soal kebakaran rumah?"...
..."Iya, Paman. Mama membutuhkan tempat tinggal sementara karena rumahnya terbakar. Dia memintaku untuk menghubungimu dan menanyakan apakah Paman bisa membantunya menyiapkan tempat tinggal sementara."...
..."Oh, maaf. Paman sangat menyesal atas kejadian itu. Tentu saja Paman akan membantu Mamamu. Dia bisa tinggal di apartemenku yang kosong."...
..."Terima kasih, Paman Rian. Ajeng akan memberitahukan pada mama tentang tawaranmu."...
..."Tidak ada masalah. Apakah kamu dan Abiyasa butuh bantuan, apa pun katakan?"...
..."Tidak ada masalah, Ajeng. Tolong sampaikan salamku pada Mamamu dan beritahu dia untuk tidak ragu untuk menghubungi aku jika ada yang bisa ku bantu."...
..."Ajeng akan memberitahunya. Terima kasih, Rian. Sampai jumpa."...
..."Sampai jumpa, Ajeng. Orangku akan mengurus semuanya."...
..."Iya, Paman. Terima kasih."...
Klik
Ajeng menutup panggilan telpon tersebut, kemudian beralih pada mamanya.
"Sudah, Ma. Sebentar lagi orangnya paman datang menjemput nama untuk dibales apartemennya paman. Mama bisa tinggal di sana untuk sementara waktu."
"Nah, begitu lebih bagus. Aku tidak perlu mondar-mandir!" kesah Endang dengan kesal.
"Lihat suamimu! Tidak berguna."
Endang kembali melampiaskan kekesalan dan kemarahannya pada saat Abiyasa melewati ruang tamu menuju ke arah dapur. Tapi Abiyasa hanya melewatinya saja sambil nyengir. Dia tidak menyapa mama mertunya, yang bisa membuat Endang kembali berkata-kata dengan pedas dan kasar.
__ADS_1
***
Setelah Endang pergi bersama dengan orang suruhannya Rian.
"Mas Abi, maafin perbuatan mamaku tadi. Aku tidak menyangka Ibu bakal bersikap seperti itu." Ajeng meminta maaf atas kelakuan mamanya pada Abiyasa.
"Iya Ajeng, tapi jujur saja aku masih sedikit kesal."
Tiba-tiba saja, Ajeng mencium bibir Abi yang sedang kesal.
Much
"Ajeng?"
"Aku cuma tidak mau mas Abi marah lagi."
"Aku tidak marah kok, cuma sedikit kesal saja." Abiyasa memejamkan matanya, mengingat perkataan Endang.
Ketika Abiyasa mengatakannya, Ajeng lagi-lagi mencium lembut bibir Abi. Hal ini membuat libido Abiyasa naik.
Tanpa ada komando, lidah Abiyasa mulai menjajah masuk ke dalam mulut Ajeng. Lidah mereka berdua pun akhirnya saling beradu dengan beringas.
Nafas Abi dan Ajeng mulai tersenggal-senggal. Suhu tubuh memanas karena memuncak dan dipenuhi gairah membara sebagaimana layaknya orang-orang normal pada umumnya.
Tangan Abiyasa mulai menelusup di antara pakaian dalam Ajeng. Dengan buas, telapak tangan Abiyasa memainkan gunung kembar Ajeng yang cukup besar.
Ajeng pun menger4ng keenakan, menikmati permainan tangan suaminya, Abiyasa.
Setelah puas melakukan pemanasan, Abiyasa mulai membuka baju ajeng. Dan hal yang sama juga dilakukan Ajeng. Dia mulai membuka pakaian Abiyasa.
Adik Abiyasa yang sudah menegang sejak tadi, langsung digenggam erat oleh Ajeng. Getaran seperti tersetrum listrik memenuhi tubuh Abiyasa. Ia menggelinjang hebat ketika tangan Ajeng mulai naik dan turun. Mereka kemudian kembali berciuman sambil tetap saling meraba.
Hingga akhirnya, Abiyasa sudah tidak sabar dan mulai memasukkan adik kecilnya kedalam gua kenikmatan isterinya yang sudah basah semenjak tadi.
"Aah~" erang4n menggoda Ajeng ini malah membuat Abiyasa semakin bergairah.
Ia pun melakukan gerakan maju mundur yang begitu cepat. Abiyasa benar-benar membuat Ajeng mabuk kepayang.
Mereka pun terus melakukan hal-hal itu hingga dua jam lamanya. Setelah puas, mereka sama-sama berbaring di kasur dengan wajah lega dan juga senyuman yang sumringah.
Cup
"Terima kasih, sayang."
"Ummm..."
__ADS_1
Ajeng hanya mengangguk dan mendusel ke dalam pelukan suaminya.