
Semua orang yang ikut terlibat, termasuk Abiyasa dan Indra kembali sibuk mengurus kasus yang melibatkan Rian, karena banding yang diajukan oleh pamannya Abiyasa, yaitu Rian, diterima dan akan segera disidik ulang. Padahal sebelumnya, Rian sudah diputuskan sebagai tersangka dan sudah menjalani hukumannya. Tapi nyatanya, semuanya bisa mulus dengan rencana banding yang dilakukan oleh pengacaranya Rian karena pengaruh dari kekuatan uang yang dikeluarkan olehnya.
"Jadi, semuanya sudah diurus?" tanya Rian pada pengacaranya.
"Sudah, pak Rian. Tapi untuk sementara waktu, Anda masih tetap ada di dalam tahanan dan tidak bisa ada di luar."
Rian membuang nafas panjang saat mendengar jawaban yang diberikan oleh pengacaranya. Dia kecewa karena tidak bisa melakukan sesuatu dengan bebas di luar sana, sesuai dengan apa yang direncanakan.
"Tapi, Anda tidak perlu merasa khawatir. Semuanya sudah saya susun sedemikian rupa agar semuanya berputar balik."
Mendengar penjelasan yang diberikan oleh pengacaranya barusan, Rian menatap ke arah pengacara tersebut dengan mata menyipit. Dia ingin mendapatkan kepastian yang tidak membuatnya merasa penasaran.
"Iya, Pak Rian. Semuanya sudah disusun sedemikian rupa oleh tim."
Tanpa harus menunggu pertanyaan yang diajukan Rian, pengacaranya memberikan penjelasan terlebih dahulu karena sudah tahu isyarat dari tatapan mata Rian yang meminta penjelasan lebih.
Sebelumnya, Rian telah dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman oleh pengadilan. Namun, pamannya Abiyasa tidak bisa menerima keputusan tersebut dengan mudah. Dia mengajukan banding atas putusan tersebut, yang kemudian diterima oleh pengadilan.
Dengan demikian, Abiyasa dan Indra juga mau tidak mau harus kembali terlibat dalam mengurus kasus tersebut.
Banding adalah proses hukum yang memungkinkan pihak yang kalah dalam persidangan sebelumnya untuk mengajukan permohonan agar putusan tersebut diperiksa ulang oleh pengadilan dengan tingkat lebih tinggi dari sebelumnya.
"Tenang saja, Pak Rian. Saya dan tim sudah menyiapkan segala sesuatu untuk banding kita kali ini."
Mendengar keyakinan yang diucapkan oleh pengacaranya, Rian tersenyum puas. Dia sudah membayangkan bagaimana rasanya bisa kembali bebas.
Meskipun Rian sebelumnya sudah diputuskan untuk menjalani hukumannya, upaya banding yang dilakukan oleh pengacara Rian ternyata berhasil diterima oleh pengadilan. Ini berarti kasus Rian akan diperiksa kembali oleh pengadilan tingkat yang lebih tinggi, dan putusan sebelumnya dapat direvisi atau dikonfirmasi.
__ADS_1
Rian, memiliki keyakinan atau bukti yang cukup kuat untuk mengajukan banding dan meyakinkan pengadilan bahwa putusan sebelumnya perlu diperiksa ulang. Meskipun proses banding tidak menjamin perubahan putusan, langkah ini memberikan kesempatan bagi Rian untuk memperoleh keadilan yang lebih baik atau membatalkan hukumannya jika terdapat alasan yang kuat.
Pengacara Rian telah membuat berkas-berkas pembelaan yang bisa membuat Rian bebas. Abiyasa dan Indra, tidak ingin memberikan kesulitan untuk Rian sehingga mereka tidak membuat perlawanan agar Rian bebas. Abiyasa berpikir bahwa saat ini kakaknya, Aji, sudah ada di tangannya, sehingga pamannya itu tidak akan bisa mempengaruhi kakaknya lagi. Abiyasa berpikir jika pamannya akan mengurus keluarganya, istri dan anaknya saja, dan tidak mencampuri urusan abiyasa lagi.
***
Di lain pihak, Abiyasa juga berpikir bahwa saat ini ia memiliki kendali atau pengaruh atas kakaknya, Aji, sehingga pamannya tidak akan dapat mempengaruhinya lagi. Dengan demikian, Abiyasa berharap bahwa pamannya akan lebih fokus pada urusan keluarganya sendiri, seperti istri dan anaknya, dan tidak ikut campur dalam urusan Abiyasa lagi.
Abiyasa berharap situasi ini akan mereda seiring dengan keberadaan Aji yang sekarang ada di tangannya. Jadi, dia ingin supaya banding yang diajukan oleh pengacaranya pamannya, bisa membawa kebebasan bagi pamannya juga.
"Indra, aku sudah memikirkan tentang kasus paman Rian. Aku tidak ingin memberikan kesulitan padanya. Aku ingin kita tidak melawan banding yang diajukan oleh pengacaranya."
Indra mendengarkan perkataan Abiyasa dengan seksama. Dia ingin tahu apa yang diinginkan oleh bos-nya itu.
"Apa maksudnya, mas Abi? Mengapa kita tidak melawan banding tersebut? Apakah ada alasan tertentu?" tanya Indra.
Indra mengerutkan keningnya mendengar jawaban yang diberikan oleh Abiyasa.
"Tapi mas Abi, apakah ini adalah keputusan yang bijaksana? Banding tersebut memberikan kesempatan bagi pak Rian untuk memperoleh pembebasan atau hasil yang lebih baik dalam kasusnya." Indra sepertinya tidak setuju dengan rencana yang dibuat oleh Abiyasa barusan.
"Aku mengerti kekhawatiran mu, Indra. Tapi aku merasa ada alasan untuk memberikan kesempatan kepada paman Rian. Jika memang dia bersalah atau jika ada argumen yang kuat dalam berkas pembelaannya, maka dia pantas mendapatkan keadilan yang lebih baik dengan bebas. Aku ingin mengakhiri semuanya dengan baik, jika itu memang untuk kebaikan."
Indra menganggukan kepalanya mendengar penjelasan yang diberikan oleh Abiyasa. Doa tahu, jika Indra memiliki hati yang lembut meskipun kata orang yang sudah penyakitnya.
"Baiklah, mas Abi. Jika itu yang mas Abi inginkan, saya akan menghormati keputusan tersebut. Akan kuinformasikan pada pengacara kita untuk tidak melawan banding dan membiarkan proses hukum berjalan."
Puk
__ADS_1
Abiyasa menepuk bahu Indra.
"Terima kasih, Indra. Aku yakin kita telah membuat keputusan yang tepat. Semoga keputusan ini membawa kebaikan bagi paman Rian dan membantu memulihkan hubungan kami."
Abiyasa dan Indra terus berdiskusi tentang keputusan untuk tidak melawan banding yang diajukan oleh pengacara Rian. Meskipun Indra memiliki kekhawatiran, Abiyasa meyakinkan bahwa keputusan ini didasarkan pada keyakinannya bahwa Aji, kakak Abiyasa, yang kini berada di tangannya sehingga pamannya itu tidak akan lagi mencampuri urusan mereka.
Indra akhirnya setuju untuk menghormati keputusan Abiyasa, karena dia tahu jika Abiyasa pastinya sudah memikirkan banyak hal dalam situasi ini.
Pengacara Rian, telah berhasil menyusun berkas-berkas pembelaan yang diyakini dapat membuat Rian bebas dari hukuman. Namun, Abiyasa dan Indra, memiliki peran dalam mengurus kasus ini, memutuskan untuk tidak memberikan kesulitan kepada Rian dengan tidak membuat perlawanan terhadap berkas-berkas tersebut.
Mereka berdua berharap supaya Rian akan segera sadar dengan sendirinya, atas semua kesalahan yang sudah dilakukannya.
Sayangnya, apa yang diinginkan dan dipikirkan oleh Abiyasa untuk pamannya tidak sama seperti yang diinginkan oleh Rian sendiri. Pamannya itu justru merencanakan sesuatu hal yang lebih besar lagi, yaitu membunuh Abiyasa dan Indra langsung dengan tangannya sendiri. Rian tidak kapok dengan segala dendamnya.
"Abiyasa, kau pikir kau bisa mengacaukan semua rencanaku begitu saja? Kau adalah alasan mengapa semuanya berantakan! Aku tak akan pernah berhenti, dan dendamku terhadapmu semakin besar!"
Rian berkata dengan kemarahan yang mendalam terhadap Abiyasa, menyalahkan keponakannya itu atas segala kegagalan dan kekacauan yang terjadi dalam rencananya. Rian percaya bahwa Abiyasa telah dengan sengaja terlibat dalam menghancurkan apa pun yang telah dia usahakan.
"Kau seharusnya sadar, Abiyasa, bahwa aku tak akan berhenti sampai aku melihatmu hancur! Kamu telah mengotori hidupku, dan sekarang, aku akan mengakhiri hidupmu dengan tangan sendiri!"
Rian berencana untuk membunuh Abiyasa dan Indra secara langsung dengan tangannya sendiri. Dendam yang begitu besar di dalam hatinya Rian terhadap Abiyasa, dan juga Indra, begitu kuat sehingga dia merasa perlu untuk mengambil tindakan yang ekstrim dengan rencana pembunuhan, menghilangkan nyawa Abiyasa dengan Indra secepatnya.
"Aku tidak akan membiarkan kalian hidup lebih lama, jika aku sudah keluar dari sini!"
Rian tidak hanya memiliki dendam terhadap mereka, Abiyasa dan Indra, yang telah mencampuri urusannya dengan Aji. Dia akan menyusun sebuah rencana yang jauh lebih berbahaya untuk mereka berdua.
Dalam kemarahan dan kekesalannya, Rian mengungkapkan niat jahatnya terhadap Abiyasa. Dia merasa bahwa satu-satunya cara untuk membalas dendam adalah dengan mengakhiri hidup Abiyasa, menunjukkan pada dunia sejauh mana dia telah membulat kan tekadnya atas rasa dendam yang dia miliki.
__ADS_1