Bukan Menantu Sampah

Bukan Menantu Sampah
Keadaan Aji


__ADS_3

Di markas, Aji telah diamankan kembali setelah percobaan kabur. Meskipun dia sudah dalam keadaan terikat, luka-lukanya cukup serius dan masih ada yang mengeluarkan darah meskipun hanya sedikit.


Abiyasa, sebagai saudaranya, merasa kasihan dan bertanggung jawab untuk memberikan pertolongan. Dia ingin mengobati luka-luka tersebut, meskipun hatinya ragu jika Aji mau. Dan benar saja, ketika Abiyasa mencoba mendekati Aji dengan niat baik, Aji menolak bantuan tersebut dan bahkan marah dengan kata-kata kasar yang ditujukan kepada Abiyasa.


"Stop Abiyasa, jangan dekati aku! Aku tidak butuh bantuanmu! Apa yang kau coba lakukan di sini? Pergi saja!" Aji marah dengan kata-kata yang diucapkan dengan nada tinggi.


"Aku hanya ingin melihat luka-luka, itu." Abiyasa menunjuk beberapa luka yang ada di tubuhnya Aji.


"Jangan sentuh aku! Aku tidak ingin bantuanmu! Kau pikir aku membutuhkanmu? Kau tidak tahu apa-apa! Cuihhh!" Aji membuang ludah, menolak bantuan Abiyasa.


Meskipun Abiyasa merasa terikat oleh ikatan keluarga dan ingin membantu Aji, reaksi Aji nyatanya menolak bantuannya.


Aji merasa marah, frustasi, bahkan merasa terancam dengan kehadiran Abiyasa, sehingga menolak dan marah-marah dengan syara keras untuk kata-kata kasar yang dia sampaikan.


Upaya Abiyasa untuk membantu Aji, meskipun datang dari niat baik, belum tentu diterima dengan baik oleh Aji. Sebab Aji tidak pernah mau dekat sebagaimana layaknya seorang kakak adik dengan Abiyasa. Yang dia lakukan dan inginkan hanya membuat Abiyasa sengsara, bahkan harus segera disingkirkan dari dunia ini.


"Tapi, kak..."


Aji berkata lagi dengan cepat dan nada yang sinis. "Oh, jadi sekarang kau ingin menjadi pahlawan? Apa kau pikir kau bisa mengubah segalanya dengan menyembuhkan luka-lukaku? Kau selalu berusaha mengendalikan segalanya, termasuk aku!"


Dengan rasa marah, Aji menatap Abiyasa dengan tatapan mata yang tajam. "Tinggalkan aku sendiri, Abiyasa! Kau tidak punya hak untuk mencampuri urusanku. Kau tidak tahu apa yang kurasakan!"


Keadaan dan situasi menjadi tegang dan sulit antara Abiyasa dan Aji.

__ADS_1


Abiyasa yang berusaha untuk melakukan yang terbaik dalam memberikan perawatan dan bantuan pada saudaranya yang terluka, tetapi penolakan dan kemarahan Aji memperburuk hubungan antara mereka berdua sebagai saudara.


Perkataan Aji kepada Abiyasa tetap saja menggambarkan bagaimana dirinya yang sebenarnya. Kemarahan, penolakan, dan ketidakpuasan yang dirasakannya terhadap Abiyasa. Aji menunjukkan sikap keras dan menolak bantuan serta kehadiran Abiyasa. Dia merasa terancam oleh kehadiran adiknya itu, sehingga merasa tidak membutuhkan bantuan dari saudaranya.


Semua yang Aji katakan mengungkapkan ketidakpercayaan dan rasa tidak setuju terhadap upaya Abiyasa untuk membantunya. Sikap Aji menunjukkan konflik dan hubungan yang tegang, yang sudah ada dalam hubungan mereka jauh sebelum hari ini.


***


"Indra, bagaimana keadaan Aji sebenarnya? Apakah luka-lukanya sudah ditangani dengan baik, tadi?" tanya Abiyasa ragu-ragu.


"Mas Abi, luka-lukanya Aji cukup serius, tapi sudah ditangani oleh tim medis tadi. Mereka memberikan perawatan pertama dan memastikan tidak ada luka yang berbahaya. Namun, Aji menolak bantuan mereka dan bahkan menunjukkan sikap agresif terhadap siapa pun yang mendekatinya. Jadi, ya sebisanya." Indra memberikan penjelasan sekedarnya, karena memang begitu kejadiannya.


Aji membiarkan kakaknya. Dia tidak ingin membantah atau membuat kakaknya itu semakin marah karena dia nekad membantu mengobati luka-luka tersebut.


Jadi, Abiyasa ingin Aji berubah jika tidak berhubungan lagi dengan pamannya.


Abiyasa sudah mempertimbangkan konsekuensi dari Aji yang di tahan di markas Indra. Dia menyadari bahwa intervensinya bisa memicu reaksi yang tidak terkendali dari Aji, terutama jika Aji masih di bawah pengaruh manipulasi dan pengaruh Rian. Rian merupakan sosok yang telah merusak hubungan antara Abiyasa dan Aji selama puluhan tahun. Rian menggunakan manipulasi dan pengaruhnya untuk memicu kebencian Aji terhadap Abiyasa, menciptakan perpecahan di antara mereka.


"Aku khawatir dengan penolakan dan kemarahan yang ditunjukkan oleh Aji. Dia masih terjebak dalam pengaruh pamanku, Rian. Kita harus menjaga agar tidak ada kontak atau pengaruh negatif dari paman Rian ke Aji di sini."


Indra mengangguk mengiyakan. "Saya sepenuhnya setuju, mas Abi. Kami sudah mengambil langkah-langkah untuk memastikan pak Rian tidak dapat menghubungi pak Aji dari dalam penjara. Tetapi kita harus tetap waspada. Pak Rian adalah sosok yang licik, dan dia mungkin mencoba memanipulasi sesuatu dengan cara yang lain."


Abiyasa menghela nafas panjang. "Hhh... Benar, Indra. Kita perlu memperkuat penjagaan di sekitar dan memastikan tidak ada celah bagi paman Rian untuk mempengaruhi atau menyusup ke dalam markas ini. Saya tidak ingin risiko apa pun terjadi pada kak Aji atau pada kita sendiri."

__ADS_1


Meskipun Abiyasa merasa bertanggung jawab untuk membantu saudaranya, dia juga menyadari risiko yang terkait dengan keterlibatannya dengan Aji di dalam markas tersebut. Terlebih lagi, fakta bahwa pamannya, Rian, yang telah meracuni otak Aji sejak kecil, masih memiliki pengaruh yang kuat terhadap Aji, menjadi perhatian utama Abiyasa.


Dalam situasi ini, Abiyasa memutuskan untuk tidak memaksakan kehadirannya pada Aji.


Meskipun dia ingin membantu dan merawat luka-luka Aji, Abiyasa juga menyadari bahwa menempatkan dirinya dalam situasi yang rawan dapat membahayakan keselamatannya sendiri serta rencananya untuk menghadapi pamannya, Rian. Dalam mengambil keputusan ini, Abiyasa menyadari bahwa mengendalikan emosi dan mempertimbangkan strategi jangka panjang lebih penting daripada memenuhi keinginan dirinya sendiri untuk merawat Aji.


Abiyasa ingin memastikan bahwa pamannya, Rian, tidak memiliki akses atau pengaruh lebih lanjut terhadap Aji. Meskipun Rian berada dalam penjara, Abiyasa menyadari bahwa masih ada kemungkinan adanya komunikasi dan manipulasi yang dilakukan oleh pamannya. Abiyasa berkomitmen untuk melindungi dirinya sendiri dan juga Aji dari kejahatan yang terus dilakukan oleh pamannya sendiri, yaitu Rian.


"Saya sudah memerintahkan anak buah saya untuk memperketat keamanan di sini. Tidak ada orang asing yang diizinkan masuk tanpa izin. Kami juga akan memastikan bahwa setiap kunjungan ada keamanan dari pihak perumahan dan itu tetap terjaga dengan baik."


Indra memberikan jaminan keamanan karena perumahan ini juga sangat ketat menjaganya.


"Bagus. Terima kasih atas kerja kerasmu, Indra. Aji adalah saudaraku, meskipun kita memiliki sejarah yang rumit, saya ingin memastikan dia mendapatkan perawatan yang layak di sini. Tetapi pada saat yang sama, kita harus menjaga diri kita sendiri dan memastikan tidak ada kebocoran informasi atau ancaman dari paman Rian."


Indra menganggukkan kepalanya paham dengan perkataan Bos-nya itu. "Saya mengerti, mas Abi. Kami akan melakukan segalanya yang diperlukan untuk melindungi pak Aji dan menjaga keamanan markas ini. Jika ada perkembangan apa pun."


Abiyasa mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan yang diberikan oleh Indra barusan.


"Tentu, Indra. Kita harus tetap berkomunikasi dan berkoordinasi dengan baik. Aku harap kita bisa membantu Aji keluar dari pengaruh paman Rian dan membantunya mendapatkan pemulihan yang tepat. Ini bukan hanya tentang keselamatan kita, tetapi juga tentang membawa kak Aji kembali ke jalur jalan yang benar sehingga tidak ada kebencian lagi di dalam hatinya."


"Saya setuju, mas Ab. Kita akan tetap waspada dan saling mendukung. Kita akan melewati ini bersama dan memastikan pak Aji mendapatkan perawatan yang pantas."


Meskipun Abiyasa membiarkan Aji dalam keadaan yang sulit di markas, kekhawatiran dan perhatiannya tetap ada. Dia hanya ingin saudaranya itu sadar dan tidak lagi membencinya seperti waktu yang lalu.

__ADS_1


__ADS_2