
"Pada saat Anda melakukan tindakan tersebut, apakah Anda telah melihat dampak jangka panjang dari tindakan tersebut?" tanya jaksa pada Rian.
Rian memberikan menjawab, "Saya tidak berpikir terlalu jauh tentang itu. Saya hanya berusaha untuk mempertahankan posisi saya di perusahaan."
Hakim kemudian memberikan kesempatan kepada pengacara dari pihak perusahaan untuk mengajukan pertanyaan.
"Anda bekerja di perusahaan ini selama berapa lama?" tanya pengacara dari pihak perusahaan.
Rian menjawab, "Saya telah bekerja di perusahaan ini lebih dari 20 tahun."
"Dalam 20 tahun tersebut, apakah Anda pernah menerima perintah atau arahan dari pimpinan perusahaan untuk melakukan manipulasi data keuangan?" tanya pengacara.
Rian menjawab, "Tidak, saya tidak pernah menerima perintah seperti itu."
"Jadi, apakah tindakan tersebut dilakukan atas inisiatif Anda sendiri?" tanya pengacara.
Rian mengangguk, "Ya, saya melakukan tindakan tersebut atas inisiatif saya sendiri."
Abiyasa terus mengikuti jalannya persidangan dengan penuh perhatian. Ia melihat bagaimana setiap saksi memberikan keterangannya dan bagaimana jaksa penuntut mencoba membuktikan kecurangan yang dilakukan oleh Rian. Abiyasa mempertimbangkan setiap detail dan mencoba untuk memahami perspektif masing-masing pihak yang terlibat dalam kasus tersebut.
Persidangan berjalan dengan lancar hingga Abiyasa dipanggil sebagai saksi. Ia berjalan ke depan dengan percaya diri dan siap untuk memberikan kesaksiannya. Jaksa penuntut memberikan pertanyaan yang jelas dan tajam. Abiyasa menjawab dengan tenang dan jujur, tanpa ada yang disembunyikan.
Abiyasa memberikan bukti dan fakta yang jelas tentang tindakan kecurangan yang dilakukan oleh Rian. Dia memperjelas setiap detail yang ada dan menunjukkan bahwa Rian telah melanggar kode etik perusahaan. Abiyasa memberikan kesaksian yang jujur dan obyektif, meskipun Rian adalah pamannya sendiri.
Setelah Abiyasa memberikan kesaksiannya, persidangan berlanjut dengan saksi-saksi lain dan pembuktian yang lebih lanjut.
Setelah beberapa jam persidangan, hakim kemudian menutup persidangan dan memberikan waktu kepada pihak kejaksaan dan pengacara dari pihak perusahaan untuk menyiapkan pleidoi masing-masing.
"Pak Abiyasa, apakah Anda yakin bahwa Anda telah memberikan kesaksian yang jujur dan benar di persidangan hari ini?" tanya pengacara dari pihak perusahaan.
Abiyasa menjawab, "Ya, saya yakin bahwa saya telah memberikan kesaksian yang jujur dan benar di persidangan hari ini."
"Pertanyaan terakhir, apakah Anda berharap agar Rian mendapat hukuman yang adil atas perbuatan-perbuatan yang sudah dilakukan?" tanya pengacara perusahaan memastikan.
__ADS_1
Pertanyaan tersebut bukan tanpa sebab, karena Rian merupakan komisaris perusahaan dan telah bekerja selama lebih dari 20 tahun. Selain itu, Rian sendiri adalah paman dari Abiyasa, adik satu-satunya dari almarhum ayahnya Abiyasa sendiri.
"Ya. Ini adalah pelajaran yang paling ringan untuk paman."
Pihak pengacara mengangguk paham dengan maksud perkataan Abiyasa.
Sekarang, waktunya sidang dimulai lagi. Abiyasa, yang duduk di bangku penonton, terlihat muram melihat pamannya duduk di kursi terdakwa. Namun, dia tetap berusaha untuk mempertahankan profesionalitasnya sebagai saksi dari pihak perusahaan.
Di sisi lain, Rian terlihat tegar di atas kursi pesakitan. Dia menyadari bahwa kesalahannya telah terbongkar dan tidak bisa lagi disembunyikan. Namun, ia tidak menunjukkan penyesalan atau rasa bersalah terhadap perbuatannya. Sebaliknya, ia terlihat tenang dan menghadapi proses persidangan dengan tegas.
Akhirnya, hakim memberikan keputusan bahwa Rian bersalah dan dijatuhi hukuman penjara serta denda yang besar.
Abiyasa merasa lega bahwa keadilan telah terpenuhi dan kasus kecurangan yang dilakukan oleh pamannya sudah terbongkar. Dia merasa bahwa karyawan dan pemegang saham perusahaan bisa merasa tenang dan percaya bahwa perusahaan mereka dijalankan dengan baik.
"Selamat, Abi. Kamu berhasil membawa paman sejauh ini."
Rian menjabat tangan Abiyasa, tapi hal ini justru membuat Abiyasa sangat terkejut dengan apa yang dia lihat.
Kebetulan saat sidang, Abiyasa dan orang-orang yang berkepentingan sebagai seksi ataupun terdakwa diminta untuk tidak membawa atribut apapun, termasuk sarung tangannya Abiyasa sendiri. Jadi dia sedang tidak menggunakan sarung tangan saat berdebat tangan dengan Rian.
***
Abiyasa memejamkan matanya dan mencoba merenungkan kembali kenangan masa lalunya bersama dengan kakaknya, Aji.
Saat itu, dia masih seorang anak kecil yang tidak menyadari bahwa keluarganya sudah terjerat dalam permainan kekuasaan dan uang. Namun, semakin bertambah usianya, Abiyasa semakin merasa bahwa ada yang tidak beres dengan keluarganya.
Abiyasa baru memiliki kekuatan supernaturalnya setelah menikah dengan Ajeng, yaitu dapat melihat masa lalu dan masa depan orang-orang di sekitarnya, meskipun hanya dalam bentuk gambaran yang samar-samar. Kekuatan ini membuatnya merasa tidak nyaman, dan dia mencoba untuk menyembunyikannya dari orang lain dengan mengenakan sarung tangan setiap hari.
Dan sekarang, Abiyasa mengetahui bahwa pamannya, Rian, telah membujuk kakaknya, Aji, untuk menyingkirkan dirinya waktu dulu.
"Aji, kamu tahu kan Abiyasa selalu menjadi kesayangan ayahmu. Dia selalu mendapatkan semua yang dia inginkan dari keluarga. Dia bahkan memiliki kelebihan dengan kecerdasannya. Itu tidak adil untukmu, Aji."
Aji tampak kesal dengan perkataan pamannya, yang memang benar adanya.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan tentang itu, paman?" tanya Aji meminta pendapat Rian.
Rian kemudian memberikan usulan kepada, Aji. "Kamu harus menyingkirkan dia. Kamu tidak bisa membiarkan dia terus mendapatkan semua yang dia inginkan dan menjadi pahlawan keluarga. Kamu tahu kan dia hanya merusak segalanya. Kamu perlu membuatnya keluar dari jalur dan membuat ayahmu melihat bahwa Abiyasa tidak sehebat yang dia pikirkan."
Ternyata, sejak ayah mereka hidup, Aji sudah dicuci otaknya untuk membenci Abiyasa.
"Tapi bagaimana caranya, paman?"
"Paman punya rencana."
Rian meminta Aji untuk mendekat, kemudian berbisik di telinga Aji. Memberitahu pada Aji, tentang apa saja yang harus dilakukan untuk melakukan rencananya.
"Apa yang harus saya lakukan?" tanya Aji masih bingung.
Rian lahirnya kembali memberikan penjelasan secara singkat apa saja yang harus dilakukan oleh Aji.
"Kamu bisa menciptakan situasi di mana Abiyasa melakukan kesalahan besar dan membuat ayahmu kecewa padanya. Kamu bisa memanfaatkan kelemahannya. Dia tidak pernah tahu tentang rencana kita."
Aji mengangguk mengiyakan. "Baiklah, Aji akan melakukan apa-apa yang paman katakan. Tapi, Aji tidak ingin dia terluka parah atau sesuatu yang buruk terjadi padanya."
Saat itu, Aji masih memiliki rasa sayang terhadap adiknya. Dia khawatir tentang keselamatan Abiyasa.
"Tentu saja tidak, Aji. Apa yang kamu lakukan tidak akan melukainya parah atau membahayakan hidupnya. Kamu hanya perlu membuat dia keluar dari kehidupanmu dan membuat ayahmu melihat kelemahan Abiyasa saja."
Rian terus membujuk Aji untuk membantunya menyingkirkan Abiyasa. Aji percaya bahwa Abiyasa telah menjadi favorit ayahnya sejak kecil dan merusak semuanya, sehingga dia bersedia membantu untuk membuat Abiyasa keluar dari jalur dan membuat ayahnya kecewa pada adiknya itu.
Meskipun sebenarnya Aji juga merasa khawatir tentang keselamatan Abiyasa, tapi Rian berhasil meyakinkan dirinya bahwa apa yang dilakukan tidak akan membahayakan keselamatan dan hidup Abiyasa.
Semua yang terjadi padanya sejak dulu ternyata adalah rencana pamannya sendiri, dengan mengunakan tangan kakaknya agar pamannya terlihat bersih dan menyayanginya.
Abiyasa terus merenungkan kenangan itu, memutar-mutar di dalam pikirannya dan mencoba memahami betapa rumitnya kehidupan keluarganya. Dia merasa sangat sedih, dan kecewa karen dikhianati oleh orang-orang yang seharusnya paling ia percayai.
"Aku tidak pernah menyangka jika paman yang telah merancang semua ini."
__ADS_1
Abiyasa mengelengkan kepalanya beberapa kali, tidak percaya dengan apa yang baru saja dia ketahui saat ini.