
Elok kembali ke kantor setelah selesai dengan urusannya bersama dengan Abiyasa. Dia menemukan Rian yang sedang berwajah tegang karena beberapa dokumen yang dia simpan hilang. Elok menyapa dengan lembut, berusaha untuk menenangkan pikiran kekasih sekaligus atasannya itu. Padahal sebenarnya Elok juga takut seandainya dia ketahuan menyetujui permintaan Abiyasa untuk membuka kedok Rian yang curang sebagai komisaris perusahaan Aji.
Tapi Rian kesal dan marah-marah pada Elok tanpa memberikan penjelasan tentang kemarahannya sehingga Elok kembali ke meja kerjanya sendiri. Membiarkan Rian untuk pusing dengan kelakuannya yang mulai terendus oleh Abiyasa, keponakannya Rian sendiri.
Elok mencoba mendekati Rian yang sedang duduk di meja kerjanya dengan wajah tegang. "Pak Rian, apa yang terjadi? Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Elok dengan lembut.
Rian mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Elok. Wajahnya terlihat pucat dan tegang. "Tidak, aku tidak baik-baik saja," jawabnya singkat.
Elok merasa sedikit gugup karena dia tidak tahu bagaimana cara menenangkan Rian. Namun, dia mencoba untuk tetap tenang dan fokus. "Bagaimana aku bisa membantumu?" tanya Elok dengan suara rendah.
Rian menghela nafas berat. "Beberapa dokumen penting hilang dari meja kerjaku dan aku tidak tahu bagaimana cara mengatasinya," katanya.
Elok merasa lega karena sekarang dia tahu apa yang terjadi pada Rian. Dia mencoba untuk memberikan dukungan dan kepercayaan pada Rian. "Jangan khawatir, kita akan menyelesaikan masalah ini bersama-sama. Aku akan membantumu mencari dokumen yang hilang," kata Elok dengan lembut.
Rian terlihat sedikit tenang mendengar ucapan Elok. Dia tersenyum kecil pada Elok dan mengucapkan terima kasih. "Terima kasih, Elok. Aku benar-benar menghargai bantuan mu," ujarnya.
Elok tersenyum dan memberikan dukungan lebih lanjut pada Rian. "Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja. Kita harus tetap tenang dan fokus untuk menyelesaikan masalah ini," kata Elok dengan lembut.
Rian merasa lega mendengar ucapan Elok. Dia merasa bahwa dia tidak sendirian dalam menghadapi masalah ini. Dia juga merasa bahwa dia memiliki seseorang yang bisa dia percayai dan berbicara dengannya ketika dia membutuhkan dukungan.
Rian yang merasa sangat tertekan dan bingung setelah mengetahui beberapa dokumen penting yang hilang dari meja kerjanya. Dia merasa sangat frustasi dan tidak tahu harus berbuat apa untuk menyelesaikan masalah ini. Selain itu, dia juga merasa khawatir bahwa hilangnya dokumen ini akan membahayakan perusahaannya. Rian merasa kesal dan ingin melepaskan emosinya pada seseorang.
__ADS_1
Elok menghela nafas berat ketika dia kembali ke meja kerjanya sendiri. Dia merasa sedikit tersinggung dengan ketegangan Rian yang tiba-tiba tanpa memberikan penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Namun, Elok tidak ingin mengambil tindakan tergesa-gesa. Dia tahu bahwa Rian sedang mengalami stres karena beberapa dokumen yang hilang, dan dia tidak ingin menambah masalah dengan sikapnya yang defensif.
Rian melihat Elok, kekasihnya sedang duduk di meja kerjanya. Dia merasa tergoda untuk mengajak Elok bermain-main agar dia bisa melampiaskan emosinya pada Elok. Rian tidak berpikir panjang dan langsung menghampiri Elok.
"Elok, apa kamu mau bermain-main dengan aku?" tanya Rian dengan suara agak cepat dan terkesan memaksa.
Elok terkejut dengan permintaan Rian karena biasanya mereka tidak bermain-main di kantor. Dia melihat ke arah Rian dan merasa sedikit bingung. "Maaf, apa maksudmu?" tanya Elok dengan wajah heran dan tegang.
Rian melihat wajah heran Elok dan merasa agak gugup, tapi dia tidak bisa berhenti. Dia kemudian menjelaskan maksudnya. "Aku ingin mengalihkan pikiranku sebentar dari masalah di kantor ini. Aku ingin bermain denganmu agar aku bisa melepaskan emosiku pada sesuatu yang menyenangkan," ujarnya dengan tersenyum penuh arti.
Elok merasa agak ragu untuk mengikuti permintaan Rian karena situasi yang sedang tidak menyenangkan. Namun, dia memahami bahwa Rian membutuhkan sesuatu untuk mengalihkan pikirannya dari masalah. Elok mengangguk dan menyetujui permintaan Rian dengan tersenyum.
"Baiklah, mari kita mainkan ini sebentar untuk mengalihkan pikiranmu," kata Elok dengan lembut, membuat Rian langsung beraksi.
Situasi yang terjadi pada Rian membuatnya mengalami tekanan yang cukup besar dan dia membutuhkan sesuatu untuk mengalihkan pikirannya sebentar. Meskipun Elok awalnya agak ragu, dia akhirnya setuju untuk bermain dengan Rian agar bisa membantunya melepaskan emosi dan mengatasi situasi yang sedang sulit. Ini menunjukkan bahwa dukungan dan kehadiran seseorang yang dipercayai sangat penting dalam menghadapi situasi yang sulit dan stres.
Tanpa ada keraguan, Elok membuka celana Rian. Di sana, terlihat adik kecil Rian yang sudah menegang masih terkulai lemas. Elok lalu memegangnya dan menggerakkan tangannya ke atas dan ke bawah berulang kali, membuat Rian mengerang nikmat.
Perlahan tapi pasti, adik kecil milik Rian berdiri tegak dengan volume yang bertambah. Mendapat stimulasi hebat dari tangan Elok, Rian yang dalam kondisi emosi mendadak menjambak rambut Elok untuk menyalurkan rasa nikmat yang dirasakannya.
Bak gayung bersambut, Rian langsung menciumi Elok dengan sangat beringas. Di saat yang sama, Elok mulai membuka kemeja yang dikenakan Rian dan membuangnya ke sembarang arah. Dan Rian masih duduk di kursi kebersamaannya.
__ADS_1
Untung saja ruangan komisaris perusahaan ini ada di lantai tersendiri dan tidak ada yang bisa mengakses ruangan ini selain Rian, Elok dan Aji. Jadi mereka berdua bisa tenang tanpa takut adanya gangguan-gangguan yang tidak diinginkan.
Kini Rian benar-benar tidak mengenakan apa-apa. Ryan juga tidak tinggal diam begitu saja. Dituntun oleh h4str4t laki-lakinya yang sudah memuncak, dia mulai melucuti pakaian kerja Elok.
Kini Elok juga sudah tidak berbusana. Dua buah pepaya berukuran besar tampak menggantung dengan bebas dan tampak indah di mata Rian yang sudah berkabut.
Tangan Rian kemudian mulai memegang-megang pepaya Elok dengan beringas. Bukannya merasa sakit, Elok malah sangat menikmatinya.
Elok berkali-kali mengerang keenakan. Tapi suara tersebut tidak bisa keluar dengan bebas karena Rian terus menciumnya dengan kasar dan beringas.
Tangan Elok yang memegang adik kecil Rian kembali melakukan apa-apa yang bisa membuat Rian bertambah semangat. Gua Elok juga sudah benar-benar basah, meminta dan memohon pada Rian untuk segera memasukinya.
Tanpa basa-basi, Rian langsung menghujam gua Elok dengan adik kecilnya yang sedari tadi berdiri dengan kokohnya.
"Aahhh…"
"Pelan-pelan sayang…" pinta Elok yang sedikit kewalahan menghadapi Rian kali ini m
Tentu saja Rian tidak peduli. Dia terus memompa tubuh Elok dengan cepat dan kasar, membuat Elok kesakitan tapi juga menikmatinya. Apalagi ini adalah permainan mereka yang pertama kalinya di dalam kantor.
"Aahhh..."
__ADS_1
Elok terus menerus mengerang keenakan. Dia sangat menikmati permainan ini. Dan anehnya, stamina Rian yang sedang marah dan emosi sangat besar. Mereka terus melakukannya berkali-kali dalam kurun waktu tiga jam lamanya.
Elok sudah tidak sanggup lagi dan terkulai lemah di atas sofa ruangan Rian. Tadi mereka pindah dari kursi kerja ke sofa, agar lebih leluasa. Sementara Rian terlihat mengatur nafasnya yang masih memburu, begitu juga dengan Elok yang terkulai lemas.