Bukan Menantu Sampah

Bukan Menantu Sampah
Perubahan


__ADS_3

"Abi... Makan yang benar! Yang bersih. Awas kalau gak bersih!"


Endang yang merasa pusing, melampiaskan kemarahannya itu dengan uring-uringan pada Abiyasa. Padahal semua itu karena Bram belum ketemu. Dia juga tidak berani mencari tahu atau bertanya pada istrinya Bram, karena Endang justru merasa takut jika dia yang dituduh menyembunyikan Bram. Dia bahkan tidak pernah menyangka jika Bram sudah memiliki istri dan anak. Padahal selama ini Bram sudah dia biaya dengan uang yang sangat banyak.


"Kenapa kamu tega sekali, sayang."


"Huhuhu... sekarang kamu di mana?"


Kini Endang merasa kecewa dan sedih saat mengetahui bahwa kekasihnya itu telah menyembunyikan fakta, bahwa dia telah menikah dan memiliki anak. Endang merasa dikhianati oleh kebohongan Bram dan merasa tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan untuk menghadapi situasi ini. Dia merasa kesepian dan sedih karena merasa telah kehilangan kekasih yang sangat dia cintai.


'Mertua gila. Dia yang salah sendiri, aku yang kena batunya!' Abiyasa mengerutu dalam hati.


Tapi bukan Abiyasa jika tidak bisa berperan sebagai seorang idiot yang menyakinkan, karena peran ini sudah dijalaninya selama bertahun-tahun dengan sangat baik.


Endang yang sedang berpikir tentang apa yang harus dilakukannya selanjutnya, tidak menghiraukan Abiyasa lagi.Dia sibuk dengan pikirannya sendiri tentang Bram dan Bram saja. Tidak ada waktu untuk berpikir yang lain.


Kegundahan hati Endang lebih parah lagi, karena dia tidak mau menghubungi istrinya Bram. Dia takut jika istrinya Bram akan menuduhnya sebagai orang yang menyembunyikan Bram dari keluarganya.


"Hhhh... "


Tanpa sada Endang membuang nafas kasar saat teringat dengan Bram lagi. Dia mengalami emosi yang berbeda-beda selama beberapa hari setelah mengetahui kebenaran tentang Bram. Dia merasa sangat marah dan kesal pada Bram karena telah membohonginya selama ini. Namun, di sisi lain, dia juga merasa sedih dan kehilangan karena merasa bahwa dia kehilangan sosok kekasih yang sangat dia sayangi.


"Abi. Apa menurutmu Bram punya pacar baru?" tanya Endang tanpa sadar.


Pertanyaan ini tentunya membuat Abiyasa terkejut, tapi sedetik kemudian Abiyasa sadar jika mama mertuanya itu hanya sedang berbicara tanpa meminta jawaban, khas orang-orang yang sedang galau.


Abiyasa hanya memiringkan kepalanya, melihat bagaimana keadaan mama mertuanya yang sedari tadi bergumam seorang diri dengan pandangan mata yang kosong.


Karena rasa kecewanya, Endang jadi mulai penasaran dengan keberadaan Bram yang menghilang. Dia jadi berpikir bahwa Bram memiliki kekasih baru.

__ADS_1


Setelah mengetahui kenyataan bahwa Bram telah menikah dan memiliki anak tanpa memberitahunya, Endang merasa kecewa dan sedih dengan kebohongan ini. Dia merasa telah dikhianati oleh kebohongan Bram dan merasa tidak tahu lagi bagaimana harus menghadapi perasaannya yang kecewa.


"Dia saja berbohong padaku, pada istrinya juga. Apa mungkin Bram punya pacar baru yang lebih kaya, lebih cantik dan lebih segalanya daripada aku?"


Ternyata, seseorang yang sedang kecewa bisa memiliki banyak pemikiran yang berbeda-beda dengan segala perkiraan dan praduga-praduga yang menjadi pertanyaan-pertanyaan atas kecurigaan mereka. Sama seperti Endang, yang akhirnya berpikir jika Bram memiliki kekasih baru atau mungkin ada sesuatu yang lain, lebih penting sehingga menyebabkan dia menghilang.


"Huwaaa... aku bisa gila dan bodoh seperti kamu, Abi! Huhfff..."


Endang sudah berusaha mencari tahu kebenaran tentang keberadaan Bram dengan mencari informasi dari teman-temannya. Dia bertanya-tanya apakah ada yang tahu tentang keberadaan Bram atau ada yang tahu tentang kehidupan pribadi Bram selama ini.


Tapi mereka juga tidak ada yang tahu secara pasti. Mereka kebanyakan hanyalah teman-teman yang ada pada saat suka saja, jadi tidak terlalu peduli dengan hal-hal yang bersifat pribadi. Apalagi jika sedang kesusahan seperti sekarang ini.


"Abi! Makannya cepat dikit! Mama mau pergi."


"Dasar tidak berguna! Kapan kamu mati? Biar Ajeng aku nikahkan lagi dengan konglomerat."


Abiyasa lagi yang kena dampak dari kemarahan Endang yang sedang emosi, dengan mengungkit rencana Endang yang masih ingin menjadikan anaknya sebagai umpan agar bisa mendapatkan uang dari para menantunya, atau calon menantunya yang menginginkan Ajeng.


'Dasar mama saja yang gila! Kenapa menjadikan anaknya barang dagangan? Ini sama seperti mempromosikan Ajeng, padahal Ajeng jelas-jelas sudah memiliki suami.'


Geram juga Abiyasa mendengar perkataan mama mertuanya yang kasar.


Brakkk


Clek clek clek


Abiyasa terkejut saat Endang menutup pintu rumah, kemudian menguncinya dari luar. Ternyata mama mertuanya itu sudah keluar dari rumah dan seperti biasa, Abiyasa akan di kunci dari luar supaya tidak bisa pergi kemana-mana.


"Huhfff..."

__ADS_1


Sekarang Abiyasa bebas melakukan apa saja di dalam rumah, tanpa harus berperan sebagai seorang yang idiot.


Pertama-tama Abiyasa mengirim pesan kepada Indra, bahwa dia sudah free. Jadi Indra bisa bebas melakukan panggilan telpon dengannya untuk membuat laporan-laporan.


Tapi sebelum Indra benar-benar menghubunginya, Abiyasa mengirim pesan kepada Ajeng yang sedang bekerja.


Jangan lupa makan siang dan beristirahat. Jika sudah waktunya untuk pulang, segera pulang ke rumah. T**idak perlu mampir-mampir.


Sebuah pesan singkat yang sederhana, tapi mampu membuat Abiyasa kembangkan senyumnya yang tidak pernah diberikan pada orang lain, selain senyuman bodohnya.


Selama ini, Abiyasa memang tidak pernah mengirim pesan atau menghubungi Ajeng. Tapi karena saat ini Ajeng sudah tahu kebenaran tentang keadaan dirinya, Abiyasa mulai merubah perlakuannya pada Ajeng sedikit demi sedikit.


"Semoga dia suka."


Setelah berhasil mengirim pesan pada sang istri, Abiyasa mengecek beberapa email yang masuk dari Indra, sekalian menunggu panggilan telepon dari Indra juga.


Beberapa saat kemudian, ada notifikasi pesan yang masuk. Abiyasa berpikir bahwa pesan tersebut adalah dari Indra, yang akan memberikan kabar jika tidak bisa menelpon. Tapi kenyataannya pesan tersebut justru pesan balasan dari Ajeng.


"Ternyata dia mau membalas pesanku."


Pesan tersebut dibuka dan dibaca Abiyasa. Selesai membaca, senyum kembali terbit di wajah Abiyasa yang tampak sangat berbeda dari biasanya.


Aku sedang free, mas Abi. Tidak ada kelas, tapi memang belum sempat makan. Mas Abi sendiri sudah makan?


Setelah ini Abiyasa berjanji pada dirinya sendiri, jika dia akan selalu rutin mengirim pesan pada Ajeng. Mengingatkan agar beristirahat dan tidak melupakan makan siangnya.


Ada rasa bahagia yang dirasakan oleh Abiyasa, karena ternyata Ajeng merespon pesannya. Dia mengakui bahwa Ajeng tidak lagu jutek dan sedikit berubah sejak kejadian kemarin itu.


"Semoga saja kedepannya nanti akan lebih baik, dan Ajeng tidak akan menjadi target dari orang-orang yang sebenernya menginginkan aku untuk dihabisi."

__ADS_1


Apa yang dikatakan oleh Abiyasa ini tidak semuanya salah, sama seperti yang dilakukan oleh Yayan. Karena sebenarnya Yayan menargetkan dirinya untuk dihabisi, bukan Ajeng. Semua yang sudah terjadi pada Ajeng hanya pengalihan Yayan saja.


__ADS_2