
Nona Anna yang sedang sedih dengan penolakan Abi, memutuskan untuk meminum minuman keras di Bar Hotel.
"Mas Abi... Kenapa kamu menolakku? Apakah aku kurang cantik? Padahal aku mengira hubungan kita selama 2 tahun ini sudah sangat dekat! Tapi ternyata, semua itu hanya perasaanku saja..."
Anna bergumam dengan keras di depan bartender yang hanya melihat Anna dengan ekspresi datar.
Gelas demi gelas Anna minum tanpa mempedulikan keadaannya lagi. Saat akan meraih gelas ke sepuluh, tiba-tiba saja tangan Nona Anna dihentikan seseorang.
"Nona Anna, hentikan semua ini. Jika Nona terus minum, nanti Nona akan mabuk."
Melihat orang yang menghentikannya, Nona Anna terlihat sedikit kecewa. "Oh, itu kamu Ndra... Aku kira Mas Abi yang datang."
"Mas Abi sedang berduka, tidak mungkin dia ke sini." Indra memberikan alasan yang logis, karena dia juga baru datang setelah menyelesaikan urusannya di Rumah Sakit.
"Lalu mengapa kamu ke sini? Apakah mas Abi memerintahkan mu datang melihat keadaanku yang menyedihkan ini?" tanya Nona Anna penasaran dan menginginkan perhatian dari Abiyasa.
"Mas Abi tidak memberikan tugas maupun perintah padaku untuk menemani Nona Anna. Ini atas inisiatifku sendiri. Aku hanya tidak bisa meninggalkan Nona Anna sendirian."
Ya, begitulah memang Indra. Dia adalah tipe orang yang tidak bisa meninggalkan seorang wanita yang sedang kesusahan. Bahkan setahun yang lalu, Indra pernah menolong seorang wanita amnesia di pinggir jalan. Tanpa peduli dengan identitasnya, Indra tetap menolong wanita itu dan merawatnya hingga membaik, yang kemudian mereka saling jatuh cinta sehingga wanita tersebut kini telah menjadi istrinya.
Anna melambaikan tangannya dan berkata dengan maksud mengusir. "Cepat pulang sana, aku yakin Ella sudah menunggu."
"Aku sudah menghubungi istriku bahwa mungkin aku tidak bisa pulang malam ini. Jadi aku akan menemanimu di sini sampai kamu kembali ke kamar," jawab Indra datar tanpa ekspresi.
"Terserah kamu saja." Setelah mengatakannya, Nona Anna tetap minum minuman keras yang ada di gelasnya lagi.
Indra berusaha menghentikannya, tapi Nona Anna tetap memaksa untuk minum. Akhirnya, Indra terpaksa duduk dan menemani Nona Anna minum di bar.
Awalnya, Indra hanya ingin minum sedikit saja, namun tanpa sadar Indra telah minum lebih banyak dari Nona Anna.
Setengah sadar, Indra membawa Nona Anna yang juga sedang mabuk kembali ke kamarnya, kamar Nona Anna, yang terletak di lantai tertinggi hotel ini.
__ADS_1
Setibanya di kamar, Nona Anna yang sedang mabuk tiba-tiba membuka pakaiannya yang ternyata sejak tadi tidak mengenakan pakaian dalam sama sekali.
Di eropa, hal semacam ini memang hal yang lumrah bagi siapa saja.
Di depan Indra, kini terpampang tubuh dengan kulit yang putih bersih, dengan lekukan tubuhnya yang indah dan juga dua gunung puncak everest.
Melihat keindahan maha karya seni yang ada di depannya, Indra menelan ludahnya. Walau mabuk, dia tetap mempertahankan insting laki-lakinya, meskipun sebenarnya dia sudah berusaha untuk mengabaikan. Tapi pada kenyataannya tetap tidak bisa.
Seketika itu juga, Indra langsung memeluk tubuh Nona Anna dan menyerangnya dengan ganas tanpa mendapat penolakan.
Muuch
"Ughhh..."
Di bawah pengaruh alkohol, Indra dan Nona Anna terlibat dalam sebuah momen intim yang penuh gairah. Bibir mereka bersatu dengan penuh kehangatan dan intensitas.
Dalam keadaan yang semakin memanas, Indra dengan kuat menggerakkan tubuh Nona Anna ke atas tempat tidur, menunjukkan keinginan yang tak terbendung. Tangan-tangan mereka berdua saling menjelajahi tubuh satu sama lain, menciptakan sensasi yang mengguncang dan menghangatkan. Dalam permainan mereka, Indra dengan penuh semangat mengenali dan memuaskan Nona Anna.
Mereka berdua pun melakukan berbagai macam permainan di bawah pengaruh alkohol karena tidak sadarkan diri hingga kelelahan dan akhirnya sama-sama ketiduran tanpa mengetahui secara pasti apa yang terjadi pada mereka berdua.
Pagi hari, di kamar hotel Nona Anna.
"Umm, ini..."
Indra yang baru saja terbangun, mendapati dirinya melihat langit-langit kamar yang tidak familiar untuknya.
Saat indra menoleh ke kanan, ia mendapat tubuh telanjang Nona Anna tidur dengan nyenyak di sampingnya. Raut wajah bahagia tercetak di wajah putih mulus tersebut.
Saat mengecek kembali tempat tidurnya, Indra melihat bercak darah. "Ini... Apa yang sudah aku lakukan!"
Indra duduk dengan cepat di tepi tempat tidur dengan raut wajah yang penuh penyesalan dan kekhawatiran. Ia memegang kepalanya dengan satu tangan, mencoba untuk mencerna apa yang terjadi semalam.
__ADS_1
"Umhhh..."
Nona Anna menggeliat dan membuka matanya. Dia terkejut mendapati seorang laki-laki ada di tempat tidurnya dengan tubuh yang masih tidak mengenakan apa-apa.
"K-amu... "
Indra menoleh mendengar suara Nona Anna. Dengan suara terbata-bata, Indra mencoba untuk menenangkan gadis yang semalam baru saja dia ambil kehormatannya.
"Nona Anna, a-ku... aku benar-benar minta maaf atas apa yang terjadi semalam. A-ku tak bisa mempercayai bahwa aku bisa melakukan hal seperti itu."
Nona Anna, segera duduk saat sadar jika laki-laki tersebut adalah Indra. Dia duduk di tempat tidur dengan tubuhnya terbungkus selimut, menangis dengan mata yang merah dan memegangi wajahnya yang dipenuhi rasa malu dan sedih.
Suasana ini membuat mereka berdua kebingungan dan emosional. Ada rasa kejutan, penyesalan, dan rasa malu dalam wajah Indra dan Nona Anna.
Indra, dengan pandangan menyesal mencoba untuk meminta maaf, berusaha menjelaskan apa yang terjadi semalam. Namun, Nona Anna terlalu sedih dan terkejut untuk bisa mendengarkan penjelasan Indra saat ini.
Nona Anna yang baru saja bangun tidur, terkejut dengan apa yang terjadi pada mereka. Keduanya mengalami semuanya, semalam, karena pengaruh alkohol yang membuat mereka tidak sadar akan tindakan yang seharusnya tidak mereka lakukan. Indra merasa menyesal dan meminta maaf kepada Nona Anna yang sedang menangis sambil menutupi wajahnya karena merasa terkejut, marah, dan sedih karena keperawanannya telah diambil.
Sambil menangis dan menutupi wajahnya, Nona Anna menggeleng beberapa kali tidak percaya dengan apa yang terjadi semalam.
"Bagaimana bisa, Indra? Bagaimana kamu bisa melakukan ini padaku? Aku merasa hancur dan tidak berarti sama sekali." Nona Anna tidak pernah percaya bahwa sesuatu yang berharga, yang selama ini dia jaga hilang begitu saja tanpa dua sadari.
Indra menunduk dalam penyesalan. "Aku tidak tahu, Nona Anna. Aku benar-benar menyesalinya. Aku tidak berniat melukaimu. Pengaruh alkohol membuatku kehilangan kendali diri dan aku melakukan sesuatu yang sangat bodoh. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri."
Ada rasa sakit yang mendalam dan perasaan kehilangan yang dirasakan oleh Nona Anna, sementara Indra berusaha untuk mau minta dan mengungkapkan penyesalannya.
Dengan nada marah, Nona Anna berteriak tidak terima dengan semua ini.
"Ini tidak bisa dihapus, Indra. Kamu telah merenggut kep3rawan4nku, sesuatu yang sangat berharga bagiku. Bagaimana aku bisa mempercayaimu lagi setelah ini?" tanyanya dengan wajah merah padam karena marah.
"Aku mengerti, Nona Anna, dan aku tidak bisa menyalahkanmu jika kamu tidak ingin memaafkanku. Tapi, tolong dengarkan penjelasanku. Aku tidak tahu bagaimana hal ini bisa terjadi. Aku benar-benar menyesal dan berjanji tidak akan pernah mengulangi kesalahan ini."
__ADS_1
***
Weeeehhhhh... Piye iki gaesss?