
"Iya, pak Aji. Hehehe... bagaimana, bos?"
Ternyata pria yang menolongnya adalah Ruhian. Pria yang sering dimintai tolong Aji dalam setiap aksinya untuk melakukan sesuatu pada Abiyasa. Dia lega karena akhirnya Ruhian telah kembali.
Setelah menyelamatkan Aji dari para pria misterius yang menyeretnya, Ruhian akhirnya kembali ke rumah Aji. Aji menyambutnya dengan senyum lebar dan langsung menawarkan minuman keras untuk merayakan kehadiran Ruhian.
"Akhirnya kamu kembali, Ruhian. Apa kabar selamat ditempat persembunyian?" tanya Aji dengan senyum lebar.
"Baik-baik saja, Pak Aji. Saya siap melakukan apa saja untuk Anda," jawab Ruhian sambil meminum minuman yang ditawarkan Aji.
Aji menatap Ruhian dengan serius. "Saya butuh bantuanmu lagi, Ruhian. Kamu tahu kan, ada satu orang yang harus dihapuskan dari hidupku," ujarnya.
"Siapa itu, Pak Aji?" tanya Ruhian.
"Abiyasa, adikku," jawab Aji dengan dingin. "Dia selalu menghalangiku dan membuatku selalu kesulitan. Aku ingin dia pergi dari dunia ini untuk selamanya."
Aji memang meminta Ruhian untuk segera kembali karena ada pekerjaan yang akan diberikan, yaitu menghabisi Abiyasa. Rencana yang sama seperti rencananya yang dulu, tapi selalu gagal. Jadi untuk saat ini, Aji tidak mau ada kebakaran lagi.
Ruhian tentu saja menyetujui permintaan Aji dengan senang hati, yang penting bonusnya lebih banyak dari yang kemarin dulu.
Ruhian tertawa tertawa mendengar penjelasan yang diberikan oleh Aji padannya. "Hahaha... Jadi, saya akan melakukan yang sama seperti yang kita rencanakan sebelumnya?"
Aji mengangguk. "Ya, tapi kali ini tidak ada yang boleh mengganggu, apalagi sampai gagal. Saya akan memberikan bonus yang lebih besar kali ini."
Ruhian menatap Aji tajam. "Saya akan melakukan pekerjaan ini, tapi Anda harus memberi saya informasi yang lebih banyak tentang Abiyasa. Saya harus tahu lebih banyak tentang musuh saya, tidak seperti dulu. Bahkan mengharuskan saya harus pergi jauh hanya untuk bersembunyi."
"Ck! Waktu itu kamu yang ceroboh. Lalu, apa yang kamu ingin tahu sekarang?" tanya Aji.
"Segala sesuatu tentang kehidupan Abiyasa yang sekarang. Siapa teman-temannya, di mana dia biasa pergi, di mana dia tinggal saat ini. Saya butuh informasi yang cukup untuk membuat rencana yang lebih baik," jelas Ruhian layaknya seorang profesional.
Aji mengangguk. "Saya akan memberikan informasi yang tentunya kamu butuhkan. Tapi, pastikan Abiyasa tidak tahu kalau saya yang meminta ini. Jadi, kamu harus rapi."
__ADS_1
Ruhian mengangguk dan menegaskan, "Tentu saja, Pak Aji. Saya akan melakukannya dengan hati-hati."
Malam itu, Ruhian dan Aji membicarakan lebih banyak tentang rencana mereka untuk menghapus dan menyingkirkan Abiyasa dari hidup Aji. Ruhian mendapatkan informasi yang ia butuhkan dan bersumpah akan menghabisi Abiyasa dalam waktu dekat.
Bag bag bag
"Tenang. Pak Aji tunggu saja, semua pasti beres di tangan Ruhian!"
Ruhian berkata dengan pongah, sambil menepuk dadanya sendiri sebanyak tiga kali dengan penuh kebanggaan.
***
Beberapa hari kemudian, Ruhian menemukan Abiyasa sedang berjalan-jalan sendirian di sebuah taman. Ruhian memutuskan untuk mengambil kesempatan ini untuk membunuhnya, sesuai dengan rencana yang sudah ditentukan.
Dia mengejar Abiyasa dan menyerangnya dengan kejam. Abiyasa mencoba melawan, tetapi Ruhian terlalu kuat dan terlatih untuknya. Akhirnya, Abiyasa jatuh ke tanah dan Ruhian mengambil pisau untuk membunuhnya.
Bug bag bug
Jleb
"Arghhh..."
Namun, sebelum Ruhian bisa menyerangnya lebih banyak, tiba-tiba Indra muncul dan menyerang Ruhian dari belakang dengan sebuah batu besar. Ruhian terjatuh, dan cepat Indra menolong Abiyasa yang sudah terkapar bersimbah darah.
Indra membawa Abiyasa ke rumah sakit, berharap supaya bisa menyelamatkan hidupnya Abiyasa.
Setelah mendapat serangan yang tidak disangka-sangka sebelumnya, Abiyasa mengalami cedera pada kepala dan perutnya. Luka-luka ini cukup serius membuatnya teringat dengan kejadian di masa lalu saat dia kecelakaan dan membuatnya koma.
Waktu itu, cidera yang dialaminya cukup serius ada pada otaknya dan membuatnya koma selama beberapa bulan. Namun, setelah pulih dari koma, Abiyasa masih mengalami kesulitan dalam berbicara dan berjalan. Ia harus melakukan rehabilitasi dan terapi untuk memulihkan kemampuan motorik dan kognitifnya.
Meskipun kondisinya masih belum pulih sepenuhnya, Abiyasa terus berjuang untuk hidup normal dan meraih sukses. Ia terus berusaha belajar dan beradaptasi dengan keadaan barunya, karena saat itu dia harus berperan sebagai orang yang bodoh setelah mendengar pembicaraan kakaknya sendiri, yaitu Aji, yang ternyata menjadi dalang dari kecelakaan yang dialaminya.
__ADS_1
Abiyasa juga merasa sedih dan kecewa dengan sikap kakaknya, Aji, yang selalu iri padanya dan berusaha untuk merugikannya, mencelakainya. Meskipun begitu, Abiyasa tidak ingin membalas dendam dan justru ingin memberikan pelajaran pada kakaknya agar bisa introspeksi dan berubah menjadi lebih baik.
Sekarang, kondisi Abiyasa hampir sama seperti dulu. Abiyasa merasa sedih ketika mengetahui rencana Aji dan Ruhian yang ingin membunuhnya. Ia tidak percaya jika kakaknya terus memiliki pikiran buruk dengannya, namun tetap berusaha tenang dan berpikir jernih. Ia memutuskan untuk mengambil tindakan tegas dan memberikan pelajaran pada kakaknya, Aji, agar bisa berubah dan menyesali perbuatannya.
Meskipun kondisi fisiknya belum pulih sepenuhnya, Abiyasa tetap mempersiapkan diri secara mental dan fisik untuk menghadapi ancaman dari Aji dan Ruhian.
"Apakah dengan cara kasar tidak bisa memberikan peringatan pada kakak? Apakah harus dengan cara yang lembut? Tapi, apakah itu mungkin?" Abiyasa bertanya-tanya sendiri tentang langkah yang harus dilakukan untuk menyadarkan kakaknya.
Abiyasa merasa sedih dan kecewa dengan keadaan yang terjadi padanya secara berulang-ulang, dan itu karena kakaknya sendiri. Ia merasa bahwa semua ini tidak akan terjadi jika kakaknya, Aji, tidak merasa iri dan tidak berusaha merugikannya. Ia berharap kakaknya bisa introspeksi dan berubah menjadi lebih baik, sehingga tidak terjadi lagi kasus serupa di masa depan.
***
Beberapa hari kemudian.
Persidangan Rian, pamannya Abiyasa, telah dimulai. Persidangan tersebut merupakan kasus kecurangan yang dilakukan Rian selama beberapa tahun terakhir terhadap data keuangan perusahaan. Pada persidangan kali ini, Abiyasa hadir meskipun keadaannya masih sakit. Tapi dia harus tetap hadir, karena dia sebagai saksi dari pihak perusahaan. Ia berusaha untuk bersikap adil dan profesional dalam kasus ini, meskipun Rian adalah pamannya sendiri.
Persidangan Rian, pamannya Abiyasa, berlangsung di ruang sidang pengadilan yang ramai. Terdapat beberapa pengacara yang mewakili pihak perusahaan dan beberapa pengacara yang mewakili pihak kejaksaan. Rian, yang merupakan terdakwa dalam kasus ini, duduk di kursi terdakwa di depan hakim. Abiyasa, sebagai saksi dari pihak perusahaan, duduk di bangku penonton.
Hakim memulai persidangan dengan membacakan dakwaan terhadap Rian. Kemudian, pihak kejaksaan diminta untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan terkait dakwaan tersebut.
"Pertama-tama, apakah benar bahwa saudara Rian telah melakukan manipulasi data keuangan di perusahaan selama beberapa tahun terakhir?" tanya jaksa.
Rian menjawab, "Ya, itu benar."
"Apakah Anda menyadari bahwa tindakan tersebut melanggar hukum dan merugikan perusahaan serta para pemegang saham?" tanya jaksa lagi.
Rian mengangguk, "Ya, saya menyadari itu sekarang."
Abiyasa memperhatikan setiap detail yang terjadi di dalam ruangan persidangan. Dia memperhatikan setiap saksi yang dihadirkan, setiap pertanyaan yang diajukan, dan setiap jawaban yang diberikan. Ia ingin memastikan bahwa semua terungkap dengan jelas dan keputusan yang diambil nantinya dapat membuat semua pihak merasa adil.
Sementara itu, Aji tidak hadir dalam persidangan tersebut. Ia tidak ingin terlibat dalam kasus pamannya dan juga karena ia masih memiliki dendam terhadap Abiyasa. Aji merasa bahwa Abiyasa telah mengambil haknya untuk menjadi orang sukses dan membalas dendam pada Abiyasa tetap menjadi prioritasnya kedepannya nanti.
__ADS_1