
Setelah kabar tentang kepemilikan saham Indra menyebar, Aji segera mengadakan rapat darurat dengan seluruh anggota dewan direksi perusahaan. Elok, Rian, dan beberapa anggota dewan direksi lainnya hadir dalam rapat tersebut, termasuk Indra yang ternyata juga datang.
Situasi di dalam ruangan terasa tegang. Suasana rapat terasa berbeda dari biasanya. Setiap orang terlihat cemas dan waspada, tidak seperti suasana rapat biasa yang penuh dengan diskusi yang santai dan ide-ide segar.
Setelah sesi pembukaan dan pengenalan, Aji langsung membuka topik tentang kepemilikan saham Indra yang baru saja ditemukan. Dia menyampaikan bahwa Indra memiliki 30% saham perusahaan yang sama seperti Rian, sedangkan dia sendiri 30%. Jadi Abiyasa hanya memiliki 10% dari total jumlah saham yang menjadi modalnya sebagai anggota keluarga, karena dia adalah adiknya Aji seorang.
Semua orang di ruangan terlihat kaget dan kebingungan. Rian memandang Indra dengan tatapan tajam, sementara Indra tampak tenang dan tidak terpengaruh oleh situasi di ruangan tersebut.
"Maaf, Pak Indra. Tapi, bagaimana caranya Anda memiliki 30% dari saham di perusahaan ini? Karena sebelumnya, 30% dari saham tersebut di miliki oleh beberapa orang investor."
Saat Aji mengajukan pertanyaan kepada Indra tentang kepemilikan sahamnya, Indra dengan santai menjawab, "Saya mendapatkan saham tersebut melalui sebuah investasi beberapa bulan yang lalu. Awalnya saya ditawari seorang teman dan saya bahkan tidak tahu jika itu adalah perusahaan miliknya Pak Aji."
Namun, Rian tidak puas dengan jawaban Indra dan langsung menuduh Indra melakukan hal yang tidak benar.
"Jangan-jangan kamu membeli saham tersebut secara tidak sah, Pak Indra. Kami butuh penjelasan yang jelas dan transparan tentang bagaimana kamu mendapatkan saham tersebut," ujar Rian dengan suara yang tinggi.
Suasana rapat benar-benar tegang dan cemas. Beberapa anggota dewan direksi yang lain juga tampak memandang Indra dengan curiga dan keingintahuan mereka.
Namun, Indra tetap tenang dan memberikan penjelasan dengan baik. Dia menjelaskan bahwa dia telah membeli saham tersebut melalui investasi yang sah beberapa bulan yang lalu dan memiliki semua dokumen dan bukti yang diperlukan untuk membuktikan kepemilikan sahamnya.
"Saya bisa membuktikannya." Indra menjawab tetap dalam keadaan tenang.
Setelah mendengarkan penjelasan Indra, suasana rapat mulai membaik dan anggota dewan direksi yang lainnya juga percaya, apalagi Indra memang membawa dokumen-dokumen yang dia sebutkan tadi.
__ADS_1
Tapi Rian dan Aji masih merasa tegang, namun setidaknya diskusi dan perdebatan bisa berjalan dengan lebih teratur.
Ketika rapat selesai, suasana di dalam ruangan terasa sedikit lega, namun masih ada ketidakpastian tentang masa depan perusahaan yang telah dipegang oleh orang luar dengan presentasi yang sama seperti pemiliknya sendiri.
Sebenarnya Aji marah karena kepemilikan saham perusahaan yang seharusnya menyebar malah terkumpul di tangan Indra. Dia takut jika kepemilikan saham hanya dimiliki oleh satu orang, maka perusahan akan dimonopoli oleh orang tersebut. Dan ini adalah Indra orangnya. Aji mulai waspada terhadap Indra yang dianggapnya sebagai ancaman besar, padahal sebelumnya dia begitu antusias untuk bisa bekerja sama dengan Indra.
Rapat telah usai, tapi masih ada tiga irang di dalam ruangan meeting yang tadi. Aji duduk di kursi paling depan ruangan, menatap tajam ke arah Rian dan Indra yang juga masih ada di dalam bersama dengannya. Wajahnya terlihat merah padam, menunjukkan kekesalan dan kemarahannya yang memuncak.
"Apa artinya perusahaan ini bagi kalian berdua?" tanya Aji dengan nada tegas.
Rian terlihat kaget dengan pertanyaan tersebut, sementara Indra hanya tersenyum sinis. Aji melanjutkan, "Sudah jelas di aturan perusahaan bahwa kepemilikan saham harus tersebar dan tidak boleh terkonsentrasi di satu orang atau kelompok tertentu. Tapi saya kaget dan kecewa saat mengetahui bahwa 30% saham perusahaan berada di tangan, Pak Indra."
Rian mencoba membela diri, "Aji, aku tidak tahu tentang kepemilikan saham Indra. aku juga merasa kecewa dan tidak setuju jika kepemilikan saham hanya terkonsentrasi di satu orang."
Indra hanya tersenyum sinis dan berkata, "Saya tidak melanggar aturan. Saya hanya memanfaatkan kesempatan yang ada. Jangan salahkan saya kalau kalian tidak bisa mengambil kesempatan yang sama."
Aji semakin marah mendengar jawaban Indra. "Ini bukan masalah kesempatan! Ini masalah moralitas dan etika bisnis. Jika kepemilikan saham terkonsentrasi di satu orang, maka perusahaan akan terancam oleh kepentingan individu yang tidak selalu sama dengan kepentingan perusahaan."
Rian mencoba menenangkan situasi, "Tenang, Aji. Kita bisa mencari solusi bersama. Bagaimana jika kita membeli kembali saham yang dimiliki Indra?"
Indra hanya tertawa, "hahaha... Harga saham yang saya miliki sudah sangat tinggi. Kalian tidak akan bisa membeli kembali dengan harga yang sama seperti saat saya membelinya." Senyum Indra begitu memuakkan di mata Aji dan Rian.
Sekarang Rian geram dan memandang Aji dengan tajam, "Kau tidak bisa membiarkan Indra terus menguasai saham perusahaan kita. Kita harus melakukan sesuatu sebelum terlambat."
__ADS_1
Seketika suasana menjadi semakin tegang dan penuh dengan ketidakpastian. Aji dan Rian terlihat gelisah, mencoba mencari solusi untuk masalah yang dihadapi karena merasa terancam. Namun, Indra terlihat sangat percaya diri dan merasa memiliki posisi yang kuat dalam perusahaan. Situasi ini membuat Aji semakin khawatir dengan masa depan perusahaan yang ia kelola dan kembangkan selama bertahun-tahun.
***
Di tempat lain, Endang sedang berkumpul bersama teman-teman arisannya di apartemen yang dia tinggali. Dia sedang pamer dengan semua kemewahan apartemen tersebut pada teman-temannya padahal sebenarnya dia hanya numpang sementara saja, sebab apartemen ini adalah milik Rian.
Puk puk puk
"Ini kursinya mahal sekali," ujar Endang dengan menepuk-nepuk sofa yang sedang dia duduki.
"Lukisan itu bahkan berharga ratusan juta."
Endang sedang duduk di ruang tamu apartemen mewahnya Rian. Ia memamerkan semua barang-barang mewah yang ada di apartemen tersebut pada teman-teman arisannya yang datang berkunjung. Endang membanggakan bagaimana apartemen ini adalah miliknya dan bahwa dia telah membeli semuanya dengan uang hasil kerjanya sendiri. Dia sudah tidak lagi terpuruk seperti saat kebangkrutan almarhum suaminya.
"Kalian lihat deh ini lemari pakaian, harganya jutaan rupiah, dan tas Hermes ku ini, bisa nggak kalian bayangkan berapa harganya?" ujarnya sambil tersenyum bangga.
Teman-teman Endang hanya terdiam dan tidak merespon dengan antusias. Salah satu temannya menatap Endang dengan tatapan tajam dan berkata, "Kamu bilang ini apartemen kamu? Ini bukan milik pak Rian, pamannya menantumu itu?"
Endang terkejut mendengar pernyataan temannya. Ia tahu bahwa temannya sudah mengetahui bahwa apartemen ini bukan miliknya, namun ia tidak menyangka temannya akan mengungkit-ungkitnya di depan orang banyak.
"Wah, aku kira kalian nggak tahu. Ya memang ini milik Rian tapi dia izinkan aku tinggal sementara di sini. Aku juga bayar sewa kok," jawab Endang dengan nada membela diri.
Teman-teman Endang hanya mengangguk-anggukkan kepala mereka dengan acuh tak acuh. Mereka tahu bahwa Endang hanya mencoba untuk membanggakan dirinya dan seolah-olah memiliki semua kemewahan yang ada di apartemen tersebut, padahal kenyataannya tidak demikian.
__ADS_1