
"Indra, kita laksanakan planing ke 2 sekarang. Kita tidak ada banyak waktu," perintah Abiyasa agar dikerjakan oleh Indra.
"Siap, Mas Abi."
Indra sudah menyusun segala sesuatunya, sesuai dengan permintaan Abiyasa. Indra juga yang menjalankan perusahaan milik Alex, yang sekarang sudah menjadi milik Abiyasa. Dan sekarang, mereka ingin memonopoli perusahaan Aji. Perusahaan yang sebenarnya miliknya Abiyasa juga, tapi dikuasai oleh Aji.
Karena saat ini dia sedang berada di kantor perusahaan yang sebelumnya milik Alex, Indra menghubungi Aji melalui panggilan telepon agar lebih mudah dan cepat.
Tut tut tut
"Halo, ada apa kamu menghubungi aku sepagi ini?"
"Hahaha.. Pak Aji. Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu. Aku telah memperhatikan beberapa masalah di perusahaan mu dan aku berpikir bahwa perlu ada perubahan untuk beberapa peraturan untuk memperbaikinya."
"Siapa kamu berani-beraninya memerintah ku? Apa yang kamu maksud dengan perubahan peraturan? Apakah kamu berencana untuk membuat aturan baru?"
"Ya, aku pikir beberapa peraturan perusahaan harus diperbarui agar lebih efektif dan efisien. Aku ingin memastikan bahwa perusahaan kita tetap berjalan dengan baik."
"Cuihhh! Maaf, tapi saya pikir itu tidak etis. Perusahaan kita? Jangan bermimpi kamu, Pak Indra! Saya justru khawatir bahwa rencana yang kamu usulkan akan merugikan perusahaan dan karyawan ku. Saya menyarankan kamu untuk tidak melakukan hal ini. Jangan pernah ikut campur dalam urusan perusahaan ku!"
"Hahaha... Saya mengerti kekhawatiran mu, Pak Aji. Tapi saya yakin bahwa perubahan ini akan membantu kita untuk menjadi lebih baik. Saya ingin memberikan saran tentang cara terbaik untuk menerapkan perubahan tersebut. Apa Anda yakin tidak mau mendengarkan saran saya ini?"
"Saya tidak bisa membantumu dalam hal ini. Dan, saya tidak akan pernah peduli dengan rencanamu. Jadi, lupakan apapun yang kamu rencanakan!"
"Baiklah, terima kasih atas pendapatmu. Saya berharap Anda tidak akan menyesali semua keputusan yang Anda ambil saat ini."
"Ck! Menyusahkan!"
Klik
__ADS_1
Telepon diputus secara sepihak oleh Aji yang sedang jengkel dan marah pada Indra, sebab Aji menganggap Indra sebagai pengkhianat dan menusuknya dari belakang.
Aji, kakaknya Abiyasa, dengan tegas menolak tawaran Indra dan menyebutnya sebagai tindakan yang tidak bermoral. Aji memperingatkan Indra bahwa upayanya dapat merugikan kedudukannya sebagai pemilik perusahaan dan mengancamnya. Bahkan Aji mengintimidasi Indra dengan kata-kata kasar dan perilaku yang tidak menyenangkan.
Sementara itu, Rian yang juga dihubungi oleh Indra, mencoba untuk melunak. Dia memberikan tanggapan yang berbeda dengan Aji. Rian menyetujui rencana perubahan peraturan yang diajukan oleh Indra. Dia bahkan menawarkan bantuan untuk membantu Indra dalam melakukan perubahan tersebut.
Rian berpendapat bahwa upaya Indra adalah langkah yang tepat untuk membantu perusahaan dan memperbaiki kondisi kerja yang tidak kondusif. Dia juga mengajak Indra untuk merencanakan ide-ide perubahan tersebut secepatnya.
Indra memang langsung memutuskan untuk mencari Rian, mencoba untuk mengadu domba antara Aji dengan Rian.
"Jadi seperti itu, Pak Rian."
"Hemmm, saya rasa itu cukup baik dan efisien. Tapi kenapa Aji menolaknya?"
"Saya kurang tahu, Pak Rian. Tapi pak Aji terang-terangan dengan tegas menolaknya. Mungkin beliau merasa terancam dan memang tidak menyukai saya."
***
Endang mengundang teman-teman arisannya untuk berkumpul di apartemen yang sekarang dia tempati.
Teman-temannya Endang tentu saja kagum dengan apa yang diperlihatkan Endang, apalagi Endang juga bilang jika apartemen ini sekarang sudah menjadi miliknya sebagai hadiah atas kerugiannya yang kehilangan bangunan rumahnya.
"Gimana, kalian puas dengan apartemenku? Bagus kan?" tanya Endang pamer.
"Wah, bagus banget! Apa gak sayang sih, kalau dijadikan tempat tinggal kami seorang?" temannya yang berdandan menor menyahuti.
"Iya nih, enak banget tinggal di sini. Udah kayak hotel bintang lima," puji yang lainnya.
Endang tersenyum penuh arti. "Iya dong, kan Rian itu besan yang sukses dan kaya. Dia punya banyak apartemen di kota ini. Jadi aku dikasih yang ini untuk tempat tinggal. Rumahku juga mau di bangun dengan megah, lebih bagus dari yang kemarin."
__ADS_1
"Kalo gitu, bisa beli makanan yang enak-enak dong buat kita semua?" tantang salah satu dari mereka dengan senyuman yang manis.
Mereka akhirnya meminta Endang untuk mentraktir makan dengan memesan makanan secara online dengan jumlah yang banyak dan mahal-mahal karena Endang memang tidak masak untuk menjamu mereka. Hanya ada beberapa kue dan camilan yang menemani mereka berbincang-bincang sedari tadi.
Endang tersenyum canggung. "Ya udah deh, aku pesen online food. Ta-pi kalian yang bayar ya, biar aku transfer setelah ini."
Teman-temannya saling pandang mendengar jawaban yang diberikan oleh Endang barusan.
"Oke, kita pesan yang mahal-mahal ya. Kalian suka makan sushi gak? Ini sushi enak banget nih sesuai dengan komentar mereka yang sudah pernah beli."
"Boleh juga sih, tapi jangan terlalu banyak ya. Nanti tagihannya membengkak." Endang merasa khawatir. Dia pusing dengan tagihan online food yang dipesan teman-temannya jika seperti ini.
Endang yang sebelumnya sedang memamerkan kemewahan apartemen yang dia tinggali, tiba-tiba mendapat permintaan dari teman-temannya untuk memesan makanan secara online. Meskipun awalnya merasa tidak enak hati untuk menolak permintaan teman-temannya, namun Endang akhirnya mengiyakan permintaan tersebut dengan sedikit ragu-ragu tapi juga merasa gengsi jika menolaknya.
Dia memesan makanan dengan jumlah yang banyak dan mahal-mahal melalui aplikasi online food delivery. Endang merasa sedikit gugup dan khawatir karena dia tidak pernah memesan makanan dalam jumlah yang sebanyak itu. Namun, dia berusaha untuk tetap tenang dan mengikuti permintaan teman-temannya.
"Iya iya, tenang aja Endang. Apa perlu kita-kita bayar sendiri-sendiri juga?" tantang mereka dengan sindiran pedas.
"Eh, emhhh... tidak usah."
Setelah makanan tiba, Endang dan teman-temannya menikmati hidangan tersebut dengan lahap. Mereka terlihat sangat menikmati makanan yang dipesan oleh Endang. Namun, ketika Endang mendapat tagihan online food tersebut, dia kaget melihat jumlahnya yang cukup besar.
Endang merasa sedikit pusing dan tidak tahu harus bagaimana. Dia merasa khawatir jika harus membayar tagihan tersebut sendiri karena harga makanan yang dia pesan sangat mahal. Namun, dia juga tidak tega untuk meminta teman-temannya untuk membayar tagihan tersebut karena dia merasa sudah mengiyakan permintaan mereka tanpa berpikir panjang.
Endang akhirnya memutuskan untuk membayar tagihan online food tersebut dengan harapan teman-temannya bisa membalasnya nanti di lain waktu, meskipun harus menguras isi dompetnya. Dia berharap agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi di kemudian hari nanti.
'Kapok aku jika mereka terus bersikap dan berperilaku seperti ini.' Gerutu Endang di dalam hatinya.
Setelah makanan datang, Endang terkejut melihat jumlah tagihan yang cukup besar. Dia mulai merasa pusing dan khawatir dengan keuangan pribadinya.
__ADS_1