Bukan Menantu Sampah

Bukan Menantu Sampah
Kepergian Elok


__ADS_3

Aji menerima pesan dari pamannya, melalui kurir yang bisa dipercaya.


Dear Aji,


Paman tahu situasi mu sulit dan paman ingin membantumu keluar dari masalah ini. Paman memiliki beberapa rencana yang mungkin dapat membantumu. Pertama, kamu bisa membayar suap pada beberapa penegak hukum untuk membebaskan pamanmu ini untuk sementara waktu. Atau, kamu bisa meminta bantuan dari beberapa orang yang kuat di luar penjara. Paman akan mengatur semuanya dengan baik, meskipun paman berada di dalam penjara. Paman tahu ini melanggar hukum, tetapi paman tidak peduli. Tidak ada cara lain untuk keluar dari masalah besar ini.


Paman harap kamu dapat mempertimbangkan rencana-rencana ini dengan baik dan memilih yang terbaik untukmu. Jangan ragu untuk meminta bantuan jika kamu membutuhkan bantuan dari paman. Paman tetap ada di pihakmu.


Salam, Pamanmu, Rian.


Aji merasa tertarik untuk bergabung dengan pamannya, ini karena disebabkan oleh faktor psikologis. Aji merasa tergantung dan selalu percaya pada pamannya dan merasa bahwa pamannya adalah satu-satunya orang yang dapat membantunya dalam hidup.


Di lain pihak, Elok yang sudah tidak mau lagi berbuat sesuatu untuk mencelakai Abiyasa, akhirnya memberitahukan semuanya pada Abiyasa, jika pamannya akan melakukan balas dendam padanya.


Elok berharap agar Abiyasa waspada dan Elok juga ingin kembali ke luar negeri agar tidak terlibat dalam permasalahan keluarga Abiyasa yang dia cintai.


Elok memutuskan untuk menghubungi Abiyasa untuk memberitahunya tentang rencana balas dendam Rian yang baru saja dia ketahui setelah pulang dari lapas. Dia merasa sangat khawatir tentang apa yang akan terjadi pada Abiyasa, karena dia tahu betapa kejamnya Rian.


Mereka berdua bertemu disebuah restoran yang tidak jauh dari kantor, meskipun sebenarnya sekarang bukanlah waktunya untuk istirahat. Tapi Abiyasa menyempatkan diri untuk bertemu dengan Elok.


"Halo Elok, apa kabar?"


Abiyasa menyapa Elok yang sudah berada di tempat mereka membuat janji temu.


"Hai mas Abi, aku baik-baik saja. Duduklah."


Abiyasa tersenyum mendengar perkataan Elok yang masih tetap hangat dengannya, meskipun Elok tahu jika dia tidak mungkin bisa membalas perasaan yang sedari dulu Elok miliki untuknya.


"Aku ingin memberitahumu tentang sesuatu yang mungkin akan mengancam keselamatanmu, mas Abi."


Mendengar perkataan Elok barusan, membuat kening Abiyasa mengernyit heran sekaligus bertanya-tanya.

__ADS_1


"Apa itu? Aku harap itu bukan tentang hal yang buruk, Elok."


Elok mengeleng beberapa kali. Dia juga tersenyum kecut mengingat bahwa apa yang akan dia sampaikan ini adalah kabar buruk.


"Maaf mas Abi, itu yang aku maksud. Pak Rian akan melakukan sesuatu yang sangat berbahaya, dan aku takut kamu akan menjadi korban kejahatannya yang... ah kamu bisa bayangkan sendiri bagaimana pamanmu itu."


"Apa yang dia rencanakan? Bisakah kamu memberi tahu?" tanya Abiyasa penasaran.


Elok menghela nafas panjang terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Abiyasa padanya.


"Hhh... Dia sedang merencanakan sesuatu yang sangat besar. Dia ingin membalas dendam padamu dengan cara apa pun yang dia bisa. Elok khawatir bahwa dia mungkin akan melakukan sesuatu yang sangat berbahaya. Mas Abi harus berhati-hati."


Mendengar peringatan yang diberikan oleh Elok, Abiyasa membuang nafas panjang.


"Hahhh... Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana aku bisa menghentikan rencana paman?" tanya Abiyasa, yang tentunya tidak perlu sebuah jawaban.


"Yang terbaik adalah, mas Abi tetap waspada dan menghindari beberapa kejadian yang kemungkinan diciptakan oleh pak Rian."


Abiyasa menganggukkan kepalanya paham dengan apa yang dikatakan oleh Elok. "Terima kasih banyak Elok. Aku sangat menghargai peringatan mu dan aku akan selalu berhati-hati "


"Aku hanya ingin membantu, mas Abi. Aku merasa sangat bersalah tentang semuanya dan aku harap kamu bisa memaafkan ku suatu hari nanti."


Abiyasa mengelengkan kepalanya. "Kamu tidak bersalah, Elok. Apa yang harus aku maafkan darimu? Aku maklum, karena kamu hanya terjebak dalam situasi yang sulit dan rumit ini. Aku berharap kamu akan menemukan kebahagiaanmu di luar sana."


"Elok, aku sungguh-sungguh berterima kasih atas kejujuran mu. Aku tahu bahwa tidak mudah untuk memberitahuku tentang rencana paman Rian, apalagi mengingat hubungan kita selama ini," kata Abiyasa dengan suara serak.


Elok tersenyum lembut dan mengangguk. "Tidak ada yang perlu dikatakan, mas Abi. Aku tahu bahwa kita selalu menjadi teman, meskipun terkadang jalan hidup kita berbeda. Aku hanya ingin membantu kamu dan memberitahumu tentang apa yang akan terjadi."


Abiyasa mengangguk, merasa sangat terharu dengan kata-kata Elok. Dia merasa beruntung memiliki teman seperti Elok, yang selalu jujur dan tulus.


"Aku tidak tahu harus berkata apa, Elok. Kamu adalah teman terbaikku sejak kecil. Aku sangat menghargai semua yang telah kamu lakukan untukku."

__ADS_1


Elok tersenyum kembali, tetapi Abiyasa bisa melihat kesedihan di matanya. Dia tahu bahwa Elok juga merasa tersakiti karena harus menghindar dari Abiyasa dan keluarganya yang memusuhi Rian.


"Mas Abi, aku ingin kembali ke luar negeri. Aku tidak ingin terlibat dalam permasalahan keluarga kamu yang berbahaya ini," kata Elok pelan sambil menundukkan wajahnya.


Abiyasa mengangguk dan merasakan rasa sedih di hatinya. Dia merindukan Elok dan berharap bisa bersamanya seperti dulu kala. "Aku mengerti, Elok. Aku juga merindukanmu dan berharap kita bisa bersama seperti dulu kala. Tapi aku menghargai keputusanmu untuk pergi dan jagalah dirimu di sana."


Elok mengangguk dan menatap Abiyasa dengan penuh sayang. "Aku selalu menghargai persahabatan kita, mas Abi. Tidak peduli apa yang terjadi, kamu selalu menjadi teman terbaikku."


Abiyasa merasakan kebahagiaan dalam hatinya saat mendengar kata-kata Elok. Meskipun dia tahu bahwa perpisahan dengan Elok akan menyakitkan, tapi dia juga mengerti bahwa itu adalah keputusan yang tepat untuk melindungi diri Elok.


"Aku akan merindukanmu, Elok," kata Abiyasa lembut. "Tapi aku juga ingin kamu aman dan bahagia, jadi aku mendukung keputusanmu untuk pergi."


Elok tersenyum dan meraih tangan Abiyasa. "Aku akan merindukanmu juga, mas Abi. Dan aku berharap kita bisa tetap menjadi teman baik, meskipun jalan hidup kita berbeda."


Abiyasa tersenyum dan mengangguk. Dia tahu bahwa persahabatan mereka akan selalu ada, meskipun jalan hidup mereka berbeda. Dia berterima kasih atas kejujuran Elok dan berharap dia akan selalu menjadi teman baiknya.


Elok tersenyum senang mendengar jawaban yang diberikan oleh Abiyasa. "Terima kasih, mas Abi. Aku juga berharap yang terbaik untukmu dan keluargamu. Sampai jumpa."


"Sampai jumpa. Hati-hati, Elok."


Mereka berdua berpelukan dengan hangat sebagai bentuk perpisahan sebagai seorang teman yang dekat sedari kecil.


Setelah kepergian Elok, Abiyasa merasa sangat khawatir tentang rencana balas dendam pamannya. Dia tahu bahwa Rian adalah orang yang sangat berbahaya dan tak segan-segan melakukan apa pun untuk mencapai tujuannya.


Abiyasa merasa perlu untuk lebih waspada dan memperhatikan lingkungannya dengan lebih baik agar bisa melindungi dirinya sendiri dan juga Ajeng dari ancaman yang mungkin datang dari pamannya, atau orang-orang yang kemungkinan diutus untuk melakukan sesuatu yang buruk.


Dia merasa sangat bersyukur atas peringatan dan pesan yang disampaikan Elok. Abiyasa juga berharap agar Elok bisa menemukan kebahagiaannya di luar negeri.


Abiyasa sangat menghargai kejujuran Elok dan berterima kasih atas semua keputusan yang diambil oleh teman masa kecilnya itu. Meskipun Abiyasa tidak bisa membalas perasaan Elok, tapi dia tetap menganggap Elok adalah temannya yang paling baik. Bahkan saudara dan keluarganya sendiri justru memusuhinya.


Abiyasa merasa sangat terkejut dan sedih saat Elok mengungkapkan bahwa pamannya Rian berencana untuk membalas dendam padanya. Namun, dia sangat menghargai kejujuran Elok dan merasa beruntung memiliki teman masa kecil seperti Elok.

__ADS_1


Tapi yang tidak diketahui oleh keduanya adalah, saat mereka berdua berbincang-bincang di restoran justru dimanfaatkan oleh seseorang untuk membuat fitnah. Orang tersebut merekam Abiyasa yang sedang berbicara dengan Elok, dan mengirim video tersebut pada Ajeng, istrinya Abiyasa.


"Perfek!"


__ADS_2