Bukan Menantu Sampah

Bukan Menantu Sampah
Kebakaran Dan Cemburu


__ADS_3

Asap hitam tebal dan nyala api yang tinggi terlihat di seluruh rumah. Api dapat terlihat di beberapa titik di dalam atau di sekitar ruangan yang ada di rumah Endang.


"Uhuk uhuk uhuk!"


"Mas... Mas Abi!"


"Uhuk uhuk uhuk..."


Ajeng tidak bisa bersuara lagi hingga jatuh di depan pintu kamarnya. Dia baru saja keluar, bermaksud ingin pergi ke dapur.


"Ajeng, Ajeng!"


Bau asap yang sangat kuat tercium sampai ke dalam kamar, di mana Abiyasa sedang tertidur. Padahal tadi dia menunggui Ajeng yang sudah tertidur setelah minum obat.


Abiyasa panik dengan keadaan kamarnya yang gelap karena banyaknya asap yang tidak diketahui berasal dari mana.


"Ajeng! Huk uhuk uhuk..."


Abiyasa berteriak-teriak, mencari keberadaan Ajeng yang sudah tidak ada di dalam kamar. Dia mencarinya dengan panik.


Dugh


Kaki Abiyasa menabrak tubuh Ajeng yang tergeletak di lantai, depan kamar. "Ajeng."


Di luar rumah justru sudah mendengar bunyi sirene dari mobil pemadam kebakaran yang tiba di tempat, karena penjaga perumahan yang memanggil mereka.


Orang-orang yang tinggal di sekitar rumah Endang berkumpul untuk melihat apa yang terjadi, dengan wajah-wajah khawatir.


"Di rumah ini masih ada Ajeng dan suaminya."


"Iya, mereka berdua pasti sedang tertidur pulas setelah kejadian Ajeng kemarin malam."

__ADS_1


"Wah, kasian sekali. Semoga saja mereka berdua bisa diselamatkan tim pemadam kebakaran."


Sebagian dari tetangga rumah, sudah ada yang tahu bagaimana keadaan Abiyasa yang sebenarnya lewat video yang viral kemarin. Tapi ada juga yang tidak tahu, tapi tidak tahu membicarakannya. Sekarang yang menjadi persoalan adalah rumahnya Endang kebakaran pada tengah malam, sedangkan penghuni rumah, Ajeng dan Abiyasa dalam keadaan sedang beristirahat setelah kejadian penculikan kemarin.


Tim pemadam kebakaran sedang bekerja, berusaha dengan cepat untuk memadamkan api dan menyelamatkan orang yang terjebak di dalam rumah.


Srooottt... srooottt...


Suara air yang keluar dari selang di beberapa titik api, terlihat mengerikan. Rumah Endang seakan-akan telah dikepung si jago merah tanpa celah, yang bisa dijadikan jalan keluar untuk penghuni yang ada di dalamnya.


"Hati-hati. Ada dua orang yang terjebak di dalam rumah, sesuai dengan informasi dari warga."


"Ayo tim, selamatkan korban secepatnya."


Keadaan rumah yang terbakar sangatlah berbahaya, terutama masih ada dua orang yang berada di dalamnya. Api dengan cepat menyebar dan merusak struktur bangunan, mengeluarkan asap yang berbahaya, serta memicu ledakan atau kebakaran lainnya.


Dua orang berada di dalam rumah yang terbakar, harus segera mencari cara untuk keluar. Namun, dalam situasi seperti ini tidaklah mudah. Abiyasa dan Ajeng pastinya menghadapi rintangan yang sulit untuk diatasi seperti pintu atau jendela yang terkunci atau terhalang api dan asap.


Kondisi di dalam rumah yang terbakar sangat gelap, asap tebal membuat sulit untuk melihat atau bernafas. Di tambah lagi dengan padamnya aliran listrik. Abiyasa panik dan merasa terjebak, karena tidak mungkin bisa keluar sendiri. Tapi jika membawa Ajeng yang sedang dalam keadaan pingsan juga tidak bisa leluasa. Dia berusaha untuk tetap tenang dan mencari cara untuk keluar secepat mungkin.


Abiyasa mengangkat tubuh ajeng ala bridal style untuk dibawa keluar. Dia harus berusaha secepatnya keluar dari rumah agar tidak tertimpa reruntuhan bangunan rumah yang dilalap api.


***


Elok datang ke apartemen yang ditempati oleh Abiyasa. Dia merasa khawatir dengan keadaan Abiyasa, saat mendengar berita tentang keadaan rumah Abiyasa yang terbakar. Dia mendengar berita ini dari pamannya Abiyasa, Rian.


Abiyasa dan Ajeng menempati apartemen yang telah disediakan oleh Indra, atas permintaan Abiyasa, pasca kebakaran rumah Endang kemarin malam.


Elok datang untuk mengecek keadaan Abiyasa setelah mendengar kabar tentang kejadian tersebut. Namun, Ajeng yang istrinya Abiyasa, merasa cemburu dengan kedekatan Elok dan tidak bisa berbuat apa-apa karena dirinya sedang sakit dan terbaring di tempat tidur untuk memulihkan diri.


Elok bertanya pada Abiyasa dengan memperhatikan dan memegang beberapa anggota tubuh Abiyasa untuk mengeceknya.

__ADS_1


"Mas Abi, apa kamu tidak apa-apa? Aku sangat khawatir tentang keadaanmu setelah aku mendengar tentang kebakaran di rumah."


Abiyasa tersenyum tipis mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Elok. Teman masa kecilnya. "Terima kasih sudah datang, Elok. Aku baik-baik saja, tapi rumah mertuaku rusak parah karena kebakaran itu."


"Syukurlah. Aku senang mendengarnya, Mas Abi. Ta-pi... tapi aku khawatir tentang keadaanmu. Benar tidak ada yang terluka?" Elok masih tetap melihat dengan teliti satu persatu dari anggota tubuh Abiyasa.


Kedekatan Elok ini membuat Ajeng merasa cemburu, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa karena terbaring di tempat tidur untuk memulihkan kondisinya yang memang banyak luka akibat terjebak dalam rumahnya yang terbakar, serta kondisinya yang memang belum stabil pasca penculikan dua hari kemarin itu.


"Terima kasih banyak, Elok. Saya benar-benar menghargai perhatian mu ini. Tapi aku benar-benar tidak kenapa-kenapa. Aku hanya perlu waktu untuk menemani Ajeng, karena dia butuh waktu banyak untuk istirahat setelah kejadian itu."


Abiyasa tahu jika Ajeng cemburu, tapi dia justru membalas perkataan elok yang perhatian padanya dengan penuh perhatian juga. Dia senang menggoda dan mengetahui bahwa Ajeng merasakan rasa cemburu, karena itu tandanya Ajeng mulai memiliki perasaan dan rasa cinta untuk dirinya.


Elok tersenyum tipis mendengar jawaban yang diberikan oleh Abiyasa. "Tentu saja, Mas Abi. Aku juga prihatin dengan kejadian yang terjadi pada Mbak Ajeng."


Mata Elok melirik ke arah Ajeng yang pura-pura tidak melihatnya. Elok tersenyum canggung, karena dia seakan-akan sedang mencari perhatian suami orang.


"Terima kasih, kamu sudah menyempatkan diri untuk datang menengokku." Abiyasa tetap merespons perhatian Elok dengan penuh perhatian juga. Dia bahkan merasa senang karena mengetahui bahwa Ajeng merasakan rasa cemburu, karena menurutnya itu tandanya Ajeng mencintainya.


Apalagi tadi, Elok datang dengan membawa bunga dan makanan untuk Abiyasa ke apartemennya. Elok juga memegang tangan Abiyasa ketika berbicara dengannya, terlihat begitu penuh perhatian.


"Ya sudah kalau begitu, Mas Abi. Elok pamit dulu. Jangan sungkan untuk menghubungi dan meminta bantuan Elok jika ada sesuatu yang terjadi." Elok akhirnya pamit pulang.


"Ya, terima kasih atas kunjungan dan perhatiannya Elok."


Elok bahkan tidak cangung dan sungkan untuk mencium pipi Abiyasa saat berpamitan. Hal ini membuat Ajeng semakin terbakar api cemburu, meskipun dia berusaha untuk tetap bersikap biasa saja.


Akhirnya Ajeng mendiamkan Abiyasa, sejak Elok pulang, sedangkan Abiyasa sendiri diam saja karena sibuk dengan urusannya bersama dengan Indra melalui email. Tapi Ajeng berpikir bahwa Abiyasa tidak peka dengan sikapnya itu.


'Huh, baru juga mendapat ciuman di pipi udah lupa.' Ajeng geram dan mengerutu dalam hati.


Tapi raut wajah Ajeng yang masam dengan bibir mengerucut tidak luput dari perhatian Abiyasa, yang akhirnya tersenyum samar dengan menggelengkan kepalanya beberapa kali melihat bagaimana keadaan Ajeng yang sedang diliputi oleh rasa cemburu.

__ADS_1


'Dasar tidak peka!'


Ajeng kembali berkata pada dirinya sendiri, kesal karena berpikir bahwa Abiyasa tidak peka pada perasaannya.


__ADS_2