Bukan Menantu Sampah

Bukan Menantu Sampah
Terbatas


__ADS_3

Saat tiba di rumah Indra, Aji yang dalam keadaan terikat menjadi terkejut dan mulai memberontak ketika menyadari bahwa dia berada dalam keadaan seperti seorang tahanan. Dia mulai melawan dan berusaha melarikan diri. Dia terus berteriak dan memaki-maki adiknya, Abiyasa, yang sudah membawanya ke sini.


"4nj19 loe, Abi!"


"Lepas!"


Indra dan anak buahnya segera bertindak untuk menangkap Aji dan menempatkannya di ruangan khusus yang dirancang untuk tawanan. Mereka memakai kunci ganda dan mengunci pintu dan jendela secara ketat untuk memastikan Aji tidak bisa kabur.


Saat Aji memberontak dan marah-marah di ruangan tahanan di rumah besar Indra, dia mengeluarkan kata-kata yang kasar dan penuh emosi. Dia terus berteriak dan mengumpat adiknya, Abiyasa, dan juga Indra dan anak buahnya yang membawa dia ke sini.


"Loe semua br3ngs3k! Sialan!"


"Aku tidak salah! Lepaskan cepat, atau kalian akan menanggung akibatnya!"


"Abi, loe pengecut!"


"Kalian semua akan membusuk di dalam penjara jika tidak membiarkan aku pergi. Cepat lepaskan!"


Aji berkata bahwa dia tidak bersalah dan dia merasa dikhianati oleh adiknya yang membawanya ke sini. Dia mengancam akan melaporkan Abiyasa dan Indra ke polisi jika tidak segera dilepaskan.


"Tolong! Tolong lepaskan!"


"Sial! kalian semua br3ngs3k!"


Kata-kata Aji penuh dengan amarah dan kebencian. Dia merasa tidak adil dan tidak mau bertanggung jawab atas apa yang telah dia lakukan. Dia terus berteriak dan memaki-maki siapa saja yang berada di sekitarnya, membuat situasi semakin tegang dan sulit untuk dihadapi.


Aji juga meminta bantuan dari orang-orang yang ada di luar sana untuk membantunya kabur dari tempat itu.

__ADS_1


Situasi menjadi sangat tegang dan memerlukan ketenangan dan kehati-hatian. Indra dan anak buahnya terus berjaga-jaga dan memastikan Aji tidak akan kabur atau mencoba melawan. Abiyasa sendiri merasa sedih dan kesal dengan perilaku kakaknya yang membunuh istrinya sendiri.


Mereka akan terus memantau Aji dengan ketat sampai situasinya stabil dan aman. Setelah itu, mereka akan mempertimbangkan tindakan selanjutnya yang harus diambil terhadap Aji.


Baik Abiyasa maupun Indra hanya tersenyum tipis mendengar perkataan Aji yang sedang emosi. Mereka ingin mempermainkan perasaan Aji dengan semua kemarahannya.


Abiyasa melihat ke arah Indra dan berkata dengan tenang, "Dia masih belum tenang, ya? Kita harus membuatnya tenang dulu sebelum memulai permainan. Ini akan lebih menyenangkan."


Indra mengangguk setuju dan berkata, "Iya, mas Abi. Saya sudah mempersiapkan segalanya. Saya pikir saya bisa menanganinya. Kita akan mengekstrak semua informasi yang kita butuhkan dari dia sebelum menyerahkannya ke polisi."


Ketika melihat Aji yang marah-marah dan terus berteriak, Abiyasa dan Indra hanya tersenyum tipis. Mereka sadar bahwa Aji sedang mengalami emosi yang tinggi dan mereka ingin memanfaatkan situasi tersebut untuk mengontrolnya dan mengekstrak informasi yang mereka butuhkan.


Abiyasa tersenyum dan mengangguk setuju, "Baiklah, saya percayakan semuanya padamu Indra, tapi aku tidak mau menyerahkan dia ke tangan polisi. Dia bisa dengan mudah lepas dengan jaminan dan perlindungan."


Mereka lalu mulai berbicara dengan suara yang lebih tenang dan membiarkan Aji meredakan emosinya. Setelah beberapa saat, Aji akhirnya tenang dan mereka mulai melakukan apa-apa yang mereka inginkan untuk memberikan pelajaran pada Aji.


Di luar rumah, anak buahnya Indra yang berjaga-jaga di sekitar rumah mencoba untuk menunjukkan penampilan dan situasi yang biasa-biasa saja, seolah-olah tidak terjadi apa-apa yang mencurigakan.


Mereka memakai pakaian yang biasa-biasa saja, seperti pakaian kasual dan kemeja, dan tidak mengenakan seragam atau pakaian yang mencolok. Mereka juga berbicara dengan suara yang tidak terlalu keras dan tidak terlihat bergerak terlalu banyak, sehingga tidak menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.


Namun, meskipun mereka mencoba untuk tidak mencurigakan, mereka tetap waspada dan siap untuk menghadapi situasi apapun yang terjadi. Mereka memperhatikan setiap gerakan dan suara yang muncul di sekitar rumah, serta memperhatikan setiap orang yang datang atau pergi dari wilayah perumahan tersebut.


Dalam situasi ini, mereka harus berusaha untuk tetap tenang dan menjaga penampilan mereka yang seolah-olah tidak ada apa-apa, namun tetap siap untuk menghadapi situasi apapun yang bisa terjadi.


***


Di tempat lain, di dalam penjara, Rian merasakan rasa cemas yang tidak biasanya. Dia menantikan kedatangan Aji, yang katanya akan datang untuk memberikan kabar dan laporan tentang keberhasilan rencana mereka yang akan menghancurkan Abiyasa. Tapi nyatanya Aji tidak datang-datang.

__ADS_1


Rian memutuskan untuk mencoba meminta izin pada sipir untuk meminjam ponsel, agar dia bisa mencoba menghubungi Aji atau Elok. Dia berjalan mendekati pintu besi yang dijaga ketat oleh seorang sipir.


"Dik, bolehkah saya meminjam ponsel untuk beberapa menit?" tanya Rian dengan sopan pada seorang sipir yang berjaga.


Di dalam penjara, Rian merasakan rasa cemas yang tidak biasanya. Dia merasa tidak tenang karena menantikan kedatangan Aji, yang seharusnya memberikan kabar dan laporan tentang keberhasilan rencana mereka untuk menghancurkan Abiyasa. Namun, sampai saat ini Aji belum juga datang.


Begitu juga dengan Elok yang hanya sekali saja datang menjenguknya.


Rian mulai bertanya-tanya dalam hatinya, apakah rencananya bersama dengan Aji tersebut gagal atau ada sesuatu yang terjadi pada Aji sehingga dia tidak bisa datang. Dia berusaha untuk mengingat kembali rencana yang sudah dibuat dan mencari tahu apakah ada sesuatu yang salah atau kekurangan dalam rencana tersebut. Dia juga bertanya-tanya dalam hatinya, apakah dia dan timnya sudah melakukan yang terbaik atau ada hal-hal yang mereka lewatkan dan bisa berakibat fatal pada rencana tersebut.


Sipir itu menatap Rian dengan tajam dan menggelengkan kepalanya. "Maaf, Pak. Aturan penjara kami tidak memperbolehkan penghuni untuk menggunakan ponsel di dalam sel. Anda tahu itu."


Rian merasa kecewa mendengar jawaban tersebut. Dia merasa terjebak di dalam penjara, tidak dapat berkomunikasi dengan dunia luar. Dia berjalan mundur ke tempat tidurnya dan duduk di atas kasur yang keras. Rian merenung dalam-dalam, mencoba untuk menenangkan dirinya dan menghilangkan rasa cemas yang terus menerus menghantuinya.


Rian merasa sangat kecewa dan kesal ketika sipir menolak permintaannya untuk meminjam ponsel. Dia merasa terjebak di dalam penjara dan tidak bisa berkomunikasi dengan siapa pun di luar sana. Rian menggigit bibirnya dengan marah dan mengernyitkan keningnya, merenung tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya. Dia merasa frustasi dan putus asa, karena tidak dapat mengontak Aji atau Elok untuk mengetahui perkembangan terbaru.


Rian merasa seperti dia terperangkap dan tidak ada jalan keluar dari situasi ini. Dia ingin sekali keluar dari penjara dan menemukan cara untuk membalas dendam pada Abiyasa dan anak buahnya.


"Aku bisa memberikan apa yang kamu inginkan," rayu Rian dengan tersenyum ramah.


"Untuk hari ini, rasa rasa tidak perlu. Tidak tahu besok-besok."


Jawaban sipir membuat Rian membuang nafas panjang. "Hahhh..."


Rian merasa semakin khawatir dan cemas ketika hari semakin malam dan Aji masih belum juga datang. Dia berpikir bahwa ini bisa menjadi sebuah tanda buruk, dan mungkin rencana tersebut sudah berakhir dengan kegagalan. Namun, di saat yang sama dia masih ingin berharap bahwa Aji akan datang dengan kabar yang baik dan berhasil dalam rencana tersebut.


Rian merasa sangat terbatas dalam kemampuan dan aksinya karena terjebak di dalam penjara. Dia hanya bisa menunggu dan berharap yang terbaik.

__ADS_1


Keesokan harinya, saat Rian mendapat kunjungan dari seseorang, dia sangat senang dan berpikir bahwa orang tersebut adalah Aji atau Elok, tapi ternyata orang lain. Tapi dia juga senang karena ternyata orang itu adalah pengacaranya yang akan memberikan laporan tentang pengajuan banding atas putusan pengadilan atas kasusnya.


"Aku sudah sangat menunggu kedatangan Anda, pak." Rian tersenyum senang.


__ADS_2