
"Abiyasa, kau pikir kau bisa lolos begitu saja? Aku sudah mempersiapkan diri dengan baik, dan saatnya kau merasakan apa yang kau perbuat padaku!"
"Kau telah menghina dan merugikan aku dengan keputusan-keputusanmu yang tak berguna. Nyatanya aku bebas, dan kali ini, aku tidak akan membiarkanmu lolos begitu saja."
Rian terus bergumam seorang diri pergi dari kantor pengadilan. Dia tersenyum puas dengan kemenangannya kali ini.
"Aku akan memastikan bahwa keputusan-keputusan burukmu yang ingin menghancurkan ku akan kembali menghancurkan mu!"
Rian sudah mempersiapkan diri untuk membalas dendam pada Abiyasa.
"Aku telah mengumpulkan bukti-bukti yang menunjukkan kedustaan atas semua tuduhan yang kamu lakukan padaku. Aku akan menuntut balik!"
"Kau pikir kau bisa bersembunyi dari kebenaran? Tidak ada tempat untuk bersembunyi bagi penjahat kecil sepertimu, Abiyasa. Hahaha..."
Indra tertawa sendiri di dalam mobilnya. Dia memang sudah mempersiapkan segala sesuatunya, dengan mobil yang sudah dibawakan oleh pengacaranya juga. Kini, Rian akan segera pulang dan istirahat dengan nyaman dan tenang. Dia pikir akan segera merealisasikan rencananya, membuat perhitungan dengan Abiyasa.
"Rencanaku untuk balas dendam tidak hanya tentang melukaimu secara fisik, tetapi juga menghancurkan segala hal yang kau bangun dengan usahamu sendiri. Aku akan merusak karirmu, reputasi mu, dan membuat hidupmu menjadi neraka. Tunggu pembalasanku!"
"Ingatlah, Abiyasa! Dendam masa lalu ini adalah sumber kekuatanku. Dan kali ini, aku akan menggunakan ikatan keluarga ini untuk menghancurkan mu. Kau tidak akan pernah bisa lepas dari rencanaku kali ini."
Tapi dia juga tidak tahu, jika Abiyasa telah mempersiapkan diri untuk melawannya. Bahkan, Abiyasa sudah mempersiapkan sejak mendengar jika Rian, pamannya Abiyasa sendiri, mengajukan banding dan diterima. Kemenangan banding yang diajukan oleh Rian, merupakan salah satu rencana Abiyasa untuk rencananya yang lain.
***
Keesokan harinya, di kantor.
Rian datang ke kantor dan meminta posisinya kembali seperti dulu. Abiyasa tentu saja tidak mau memberikan kedudukan yang sama lagi untuk dipegang pamannya.
__ADS_1
"Paman Rian, sudah cukup! Aku tidak bisa lagi membiarkanmu merusak hidupku. Kau telah membuatku sengsara sejak kecil!"
Abiyasa berkata demikian, karena dia tahu jika pamannya inilah penyebab dari semua kesengsaraan yang dia alami dulu.
"Sengsara? Jangan berpura-pura menjadi korban di sini, Abiyasa! Aku hanya mencoba mendidikmu dan membuatmu menjadi pribadi yang lebih baik!" Dengan tenang, Rian mencoba untuk mengambil hati Abiyasa.
Rian memang telah mempersiapkan diri untuk membalas dendam pada Abiyasa. Sementara Abiyasa sendiri juga sudah menyusun rencana untuk melawannya.
Kemenangan banding yang diperoleh Rian sebenarnya merupakan bagian dari rencana yang lebih besar yang telah dipersiapkan oleh Abiyasa. Di saat Abiyasa mendengar tentang banding yang diajukan oleh Rian, dia langsung memanfaatkan situasi ini untuk merancang rencananya sendiri.
Rencana Abiyasa ada beberapa langkah yang tidak diketahui oleh Rian. Abiyasa telah merencanakan nya dengan sangat baik, dan dia siap untuk menghadapi semua rencana pamannya.
"Mendidik? Kau menyebutnya sebagai mendidik? Kau telah meracuni otak kak Aji sehingga ia membenciku. Kau telah menghancurkan hubungan kami, dan aku tidak akan membiarkanmu melanjutkannya!" tegas Abiyasa.
Rian tersenyum sinis mendengar perkataan Abiyasa yang mengungkit-ungkit apa yang sudah dia lakukan sejak dulu.
"Hehhh, kau itu tidak tahu apa-apa! Aji menyadari siapa dirimu yang sebenarnya, seorang pengecut yang tidak pantas menjadi bagian dari keluarga kami. Aku hanya membantu membuka matanya!"
Rian tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Abiyasa. "Hahaha... Manipulasi? Kau memanggilku manipulator? Kau yang selalu memanfaatkan situasi ini untuk mendapatkan simpati dan dukungan dari orang lain. Kau tidak akan pernah bisa melawan diriku, Abiyasa! Hahaha..."
Abiyasa membuang nafas kasar. "Hahhh! Seharusnya aku tidak akan membiarkan paman bebas dan kembali meracuni kehidupanku lebih jauh. Paman ingin berperang? Paman sudah menemukannya! Aku akan melawan paman dengan segala yang aku punya, dan aku akan membuktikan bahwa aku lebih kuat daripada paman yang sekarang!"
"Cuihhh! Kamu akan menyesal, Abi!"
Setelah memaki Abiyasa, Rian keluar dari ruangan Abiyasa. Dia ingin menenangkan dirinya sendiri dengan menghubungi Elok. Sudah lama dia tidak mendapatkan kabar dari mantan sekretarisnya, yang merangkap sebagai kekasih gelapnya juga.
****
__ADS_1
Di kamar apartemennya, Aji duduk sendirian di ruang tamu yang hening. Wajahnya dipenuhi oleh ekspresi penuh penyesalan. Matanya terlihat lelah dan terisi dengan rasa sedih yang mendalam.
Aji mengingat suasana rumahnya yang dulu, saat masih kecil bersama dengan Abiyasa, yang penuh tawa dan kehangatan. Dan kini dia hanya bisa merasakan hampa dan kehancuran dalam ingatan.
Kesalahan yang pernah dilakukan oleh Aji terhadap adik dan keluarganya menjadi beban berat yang ia rasakan. Ia merasa seperti telah merusak kepercayaan dan menyebabkan kerusakan yang sulit diperbaiki. Rasa penyesalan itu memenuhi hatinya dengan berat, dan ia berharap bisa mengulangi waktu untuk memperbaiki semua yang telah terjadi.
"Betapa jahatnya aku..."
Aji mengingat saat-saat di masa lalu ketika ia tidak memberikan perhatian yang cukup kepada adiknya. Ia terlalu sibuk dengan pekerjaan dan semua keinginan pamannya, yang mengatakan bahwa semua itu untuk masa depannya. Dia melupakan adiknya, Abiyasa, mengabaikan, bahkan membuatnya selalu terluka.
Kini Aji menyadari bahwa dia telah kehilangan momen-momen berharga itu tidak akan pernah bisa dikembalikan.
Tidak hanya itu, Aji juga menyadari bahwa kesalahannya telah merusak hubungannya dengan keluarganya. Ia telah melakukan tindakan yang tidak patut atau tidak bertanggung jawab, yang mengakibatkan kepercayaan keluarganya hilang.
Semua itu membuat Aji merasa sangat menyesal dan berharap bisa mengubah masa lalunya yang sangat jahat.
"Haahhh... Abi, maafkan aku."
Aji merasakan kehampaan yang mendalam di dalam dirinya. Ia merindukan senyum Abiyasa sewaktu masih kecil, yang dulu ceria dan keluarga yang penuh kehangatan. Rasa penyesalan yang membebani pikirannya membuatnya berjanji untuk memperbaiki segala kesalahan yang telah ia lakukan. Ia ingin mendapatkan kembali kepercayaan adiknya, dan menghadirkan kebahagiaan kembali dalam kehidupan mereka.
"Aku akan perusahaan menjadi pribadi yang lebih baik. Abiyasa tidak pernah membenciku, sedangkan aku..."
Namun, Aji juga menyadari bahwa penyesalan itu tidak cukup. Ia harus bertindak dan berkomitmen untuk mengubah dirinya dan memperbaiki hubungan yang rusak. Aji bersumpah untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih peduli, dan lebih bertanggung jawab. Ia akan meluangkan waktu untuk mendengarkan dan menghargai adiknya, serta memberikan perhatian yang pantas untuk Abiyasa. Satu-satunya saudara kandungnya.
Saat ini, Aji sedang berada dalam proses memulihkan hubungannya dengan Abiyasa. Ia sadar bahwa memperbaiki kesalahan masa lalu adalah sebuah perjalanan yang membutuhkan waktu, dedikasi, dan kesabaran. Namun, dengan tekad dan kerja keras yang kuat, Aji berharap dapat membangun kembali ikatan yang pernah terputus dan mengembalikan kebahagiaan dalam keluarganya yang hancur.
"Abi sangat baik. Dia bahkan tidak memberikan aku hukuman apapun apa semua yang sudah aku lakukan. Dia benar-benar berhati malaikat."
__ADS_1
"Lebih baik, saham yang dulu aku melimpahkan pada paman Rian, aku serahkan pada Abiyasa untuk dikelola dia secara penuh. Aku juga sudah tidak ingin terlibat dalam urusan kantor."
Aji yang merasa sangat menyesal atas kesalahan-kesalahan yang telah dilakukannya dalam mengelola perusahaan mereka. Ia merasa bahwa dirinya tidak mampu lagi untuk memimpin dan membesarkan perusahaan dengan baik. Sebagai bentuk rasa penyesalan dan harapan untuk memperbaiki segala kerusakan yang telah terjadi, Aji memutuskan untuk memberikan semua kepemilikan saham perusahaan kepada Abiyasa.