Bukan Menantu Sampah

Bukan Menantu Sampah
Kejutan Besar


__ADS_3

Setelah mendapatkan penolakan dari Aji, Indra merasa perlu untuk melaporkan masalah ini pada Abiyasa, pemilik saham terbesar di perusahaan yang sebenarnya. Dalam pertemuan mereka, Indra menyampaikan rencananya untuk mengubah beberapa peraturan perusahaan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi.


"Begini, Mas Abi. Saya ingin membicarakan sesuatu yang penting denganmu. Sesuai dengan permintaan Mas Abi, saya juga sudah menyampaikan usulan tersebut pada pak Aji dan pak Rian. Tapi keduanya memberikan sambutan yang berbeda." Indra mulai membahas tentang Aji dan juga Rian.


"Hemmm, begitu ya."


"Menurut Mas Abi, apa yang sebenarnya direncanakan oleh pak Rian? Saya merasa jika ini ada yang tidak beres." Indra mencurigai ada sesuatu yang terjadi pada Rian, sehingga mendukungnya.


Abiyasa termenung sejenak memikirkan hal tersebut. "Aku memahami kekhawatiran mu, Indra. Aku yang ingin kamu melakukan sesuatu untuk mengubah rencana. Ini harus dipercepat," kata Abiyasa.


Setelahnya, Abiyasa memberikan arahan kepada Indra mengenai rencana yang dia miliki. Ini terkait dengan indentitas dirinya di depan umum nanti.


"Baik, Mas Abi. Saya akan merancang beberapa rencana untuk perubahan tersebut. Jika pak Aji setuju atau tidak, saya akan melaksanakan semua secepatnya."


"Aku bisa memahami kekhawatiran mu, Indra. Sebagai pemegang saham terbesar, aku memiliki kewenangan untuk memutuskan perubahan apa pun yang perlu dilakukan di perusahaan. Kamu tenang saja." Abiyasa tetap bersikap seperti biasanya, tenang dan tidak bisa ditebak.


"Saya hanya butuh dukungan untuk melakukan perubahan ini. Saya berharap bahwa dengan kehadiran dan terbukanya semua ini, kita bisa membawa perubahan positif bagi Mas Abi dan juga perusahaan."


Abiyasa menepuk pundak Indra beberapa kali, kemudian berkata. "baiklah. Aku akan segera keluar sesuai dengan identitas yang asli."


Indra merasa lega setelah mendengar keputusan Abiyasa. Dengan demikian, dia akan bekerja bersama Abiyasa secara nyata dan langsung tanpa sembunyi-sembunyi lagi. Sebab pemegang saham terbesar di perusahaan. Dia menyadari bahwa dengan dukungan Abiyasa, rencananya untuk mengubah beberapa peraturan perusahaan bisa terlaksana dengan baik. Dia berharap bahwa perubahan yang diusulkannya bisa membawa manfaat yang lebih besar bagi perusahaan dan karyawan kedepannya, sehingga pada saat Abiyasa menjadi pemimpin perusahaan semuanya sudah berjalan dengan baik.

__ADS_1


***


Setelah mendapatkan dukungan dari Abiyasa, Indra berusaha untuk mengadakan pertemuan dengan Aji dan Rian untuk membahas rencana perubahan perusahaan. Namun, Aji tetap bersikeras menolak rencana tersebut. Dia merasa bahwa perusahaan sudah berjalan dengan baik dan tidak perlu ada perubahan. Namun, setelah Indra mengatakan bahwa Rian menyetujui pertemuan tersebut, Aji terpaksa mengikuti.


"Terima kasih, Pak Rian dan Pak Aji. Saya, Indra Herlambang, akan memperkenalkan seseorang yang sebenarnya adalah pemilik saham terbesar di perusahaan ini." Indra berjaya dengan sengaja menjeda kalimatnya.


Indra ingin melihat bagaimana reaksi Aji maupun Rian saat mendengar perkataannya. Dan terbukti, keduanya sama-sama mengerutkan keningnya mendengar perkataannya yang tadi.


Pada saat pertemuan para petinggi perusahaan, dengan Indra yang menyebutkan bahwa ada seseorang yang akan diperkenalkan, Abiyasa tiba-tiba masuk ke dalam ruangan dan memperkenalkan dirinya sebagai pemilik 40% saham di perusahaan. Aji dan Rian yang sebelumnya meremehkan Indra menjadi terkejut dan terdiam melihat kehadiran Abiyasa.


"Halo, saya Abiyasa. Saya ingin memperkenalkan diri sebagai pemilik saham terbesar di perusahaan ini, dengan total kepemilikan saham sebesar 40% dari keseluruhan yang ada."


Aji dan Rian terdiam dan terkejut mendengar kabar tersebut. Mereka saling pandang dan bertanya-tanya, sebab tidak menyadari bahwa Abiyasa memiliki saham terbesar di perusahaan ini. Dan mereka tidak pernah menyangka dengan mempertimbangkan pendapat Indra sebelumnya.


Aji dan Rian akhirnya menyadari, jika mereka berdua sedang dipermainkan oleh dua orang yang berada di depannya saat ini.


"A-pa? Apa artinya semua ini?" Aji mulai naik darah. Dia marah karena merasa dipermainkan oleh adiknya sendiri.


"Maaf, Abiyasa. Paman, paman tidak tahu bahwa kamu adalah pemilik saham terbesar di perusahaan ini. Bukannya kamu hanya punya 10% saja?" tanya Rian meminta penjelasan yang lebih.


"Ya, aku juga terkejut. Ini tidak layak dan ilegal!" teriak Aji marah-marah.

__ADS_1


"Kalian berdua tidak perlu panik. Pak Indra bisa menjelaskan semuanya." Abiyasa dengan tenang menyerahkan pada Indra bagaimana dengan penjelasannya.


Akhirnya Indra memberikan penjelasan kepada Aji dan juga Rian tentang maksud Abiyasa yang telah menguasai 40% dari total jumlah saham yang ada di perusahaan ini. Semuanya karena gabungan dari 30% saham yang dibeli oleh Indra, dan 10% dari jumlah saham warisan yang menjadi bagian Abiyasa.


Itulah kecurangan Aji dan Rian selama ini, yang hanya memberikan hak 10% pada Abiyasa. Padahal seharusnya dari warisan keluarga, Abiyasa bisa memiliki 30% sama seperti yang dimiliki oleh Aji.


"Saya sudah mengatakan bahwa, Pak Abiyasa memiliki dukungan terbesar di perusahaan ini. Tapi saya senang bisa memperkenalkan dirinya secara langsung pada kalian." Indra memberikan penjelasan yang tidak pernah bisa dipercaya oleh Aji maupun Rian.


"Terima kasih, Pak Indra. Sekarang, mari kita bicarakan rencana perubahan yang di-usulkan. Apa yang menjadi masalah utama di perusahaan ini?" Abiyasa justru langsung bertanya pada Indra, tanpa peduli dengan keterkejutan kakak dan juga pamannya.


Aji berdiri dengan mulut terbuka, hampir saja bicara. Tapi tangan Abiyasa langsung naik ke atas, memberikan tanda, meminta pada kakaknya supaya duduk kembali dan tidak usah berbicara banyak hal.


Indra akhirnya berbicara, setelah Aji kembali duduk dengan geram. "Saat ini, saya merasa bahwa ada beberapa peraturan dan sistem yang perlu ditingkatkan agar perusahaan bisa berjalan lebih efektif dan efisien. Saya ingin mengubah beberapa hal yang dirasa tidak optimal," terang Indra.


Aji langsung menyela pembicaraan mereka berdua, "Maaf, saya masih tidak yakin bahwa perubahan itu perlu dilakukan. Perusahaan sudah berjalan dengan baik selama ini. Dan kedudukan Abiyasa tetap ilegal di mata hukum dan aturan perusahaan."


Rian juga mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Aji. "Ya, saya setuju dengan Aji. Tidak perlu ada perubahan yang signifikan karena pada kenyataannya selama bertahun-tahun perusahaan tetap berjalan dengan baik."


Abiyasa tersenyum penuh arti. "Namun, sebagai pemilik saham terbesar di perusahaan ini, saya ingin mendengarkan semua pihak dan memastikan bahwa perusahaan bisa berjalan dengan lebih baik. Bagaimana pendapatmu, Pak Indra? Apakah kita perlu survei dan audit lapangan?"


Perkataan Abiyasa ini seperti sebuah senjata yang langsung tertuju pada sasaran. Baik Aji maupun Rian, kedua sama-sama merasa tersindir oleh perkataan Abiyasa tadi.

__ADS_1


"Saya merasa bahwa perubahan ini sangat penting bagi perusahaan Saya sudah mempertimbangkan segala hal sebelum mengajukan rencana ini. Saya berharap bisa mendapatkan dukungan dari semua pihak agar rencana ini bisa terlaksana." Indra menatap kedua orang yang masih dalam keadaan terkejut.


"Ini tidak benar!" Aji berteriak keras dengan amarahnya.


__ADS_2