Bukan Menantu Sampah

Bukan Menantu Sampah
Perasaan Yang Seharusnya


__ADS_3

"Aku harus mengendalikan diriku. Ini hanya rasa kagum biasa, bukan? Jangan sampai perasaanku mengganggu hubungan profesional kami."


Situasi ini terjadi di dalam kamar hotel setelah Nona Anna berpisah dengan Abiyasa. Dia merasa terpesona oleh sosok Abiyasa yang masih single dan menarik, meskipun mereka baru beberapa kali bertemu dalam konteks kerja. Rasa kagum ini membuat Nona Anna merasa malu terhadap perasaannya sendiri. Dia mengeleng beberapa kali, mencoba menghilangkan perasaan yang berbeda di dalam hatinya.


"Tapi bagaimana jika Abiyasa juga merasakan hal yang sama? Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin merusak kesempatan kerjasama kita."


Nona Anna kembali bergumam seorang diri, merasakan rasa yang berbeda di dalam hatinya yang tiba-tiba muncul tanpa permisi.


"Baiklah, ini hanya perasaan sementara. Aku harus tetap fokus pada pekerjaan dan memisahkan antara perasaan pribadi dan hubungan profesional."


Dalam situasi ini, Nona Anna berusaha untuk menghadapi dan mengatasi perasaannya sendiri. Dia menyadari bahwa menjaga sikap profesional dan memisahkan perasaan pribadi adalah yang terpenting dalam hubungan mereka sebagai rekan bisnis. Meskipun ada rasa kagum yang muncul, Nona Anna berusaha untuk mengesampingkannya demi menjaga kesempatan kerjasama yang baik dengan Abiyasa.


"Sudahlah, jangan dipikirkan terlalu dalam. Aku harus melupakan perasaan ini dan tetap menjaga sikap profesional di depan Abiyasa. Itu yang terbaik untuk kita berdua."


Nona Anna berusaha mengabaikan perasaannya sendiri agar tidak mempengaruhi kerja sama bisnisnya.


***


Di apartemennya, Abiyasa juga melamun sendiri. Dia membayangkan apa yang dia lakukan bersama Nona Anna tadi saat makan malam. Dia menggeleng cepat karena merasa jika dia terbawa suasana saja. Dia masih yakin jika hatinya belum bisa lepas dari mendiang istrinya yang baru saja meninggal dunia, yaitu Ajeng.


"Apa yang aku lakukan? Aku masih merasa bersalah karena merasakan kegembiraan dan ketertarikan saat bersama Nona Anna. Ini terlalu cepat. Huhfff..."


"Aku harus mengingatkan diriku sendiri bahwa hatiku masih terikat dengan istriku yang telah pergi. Aku belum siap untuk membuka diri terhadap perasaan baru."


Situasi ini terjadi di apartemen Abiyasa setelah dia pulang dari mengantar Nona Anna ke hotel. Abiyasa duduk sendirian dalam keheningan, merenungkan perasaan dan pikiran yang muncul setelah waktu yang mereka habiskan bersama. Dia membayangkan momen yang mereka lalui saat makan malam tadi, tetapi dengan cepat dia menggelengkan kepala karena merasa terbawa suasana dan menyesali perasaannya yang sekarang ini.


Abiyasa merasakan campuran antara kegembiraan dan rasa bersalah. Di dalam hatinya, dia masih merasa terikat dengan kehilangan mendiang istrinya yang baru saja meninggal dunia. Meskipun ada ketertarikan dan rasa nyaman yang dia rasakan saat bersama Nona Anna, dia menyadari bahwa hatinya belum sepenuhnya siap untuk membuka diri terhadap perasaan baru.

__ADS_1


"Nona Anna adalah seorang wanita yang menarik dan menyenangkan, tapi aku harus memisahkan antara persahabatan kita dan perasaan yang lebih dalam."


"Mungkin ini hanya kesepian yang membuatku terbawa suasana. Aku tidak ingin menyakiti Nona Anna atau merusak hubungan kerja kita karena perasaanku yang belum jelas."


Dalam situasi ini, Abiyasa menyadari bahwa perasaannya masih terikat dengan istri yang telah meninggal. Dia berusaha menjaga jarak emosional dan tidak mengizinkan dirinya terlalu terbawa suasana dengan Nona Anna.


Abiyasa memprioritaskan proses penyembuhan diri dan memberikan penghormatan pada hubungan masa lalu yang dia miliki. Dia memahami bahwa waktu yang tepat untuk membuka diri terhadap perasaan baru belum tiba, dan dia ingin menjaga hubungannya dengan Nona Anna sebagai rekan kerja yang baik dan profesional.


"Aku harus tetap fokus pada proses penyembuhan diri dan menghormati ingatan istriku. Waktunya belum tepat untuk melibatkan diri dalam hubungan baru. Hahhh..."


Abiyasa menyudahi lamunannya dan gumaman tentang Nona Anna. Dia akan pergi beristirahat, supaya besok bangun dengan pikiran yang kembali jernih.


Tapi baru saja Abiyasa mau beranjak dari tempat duduknya, Abiyasa mendapatkan kabar dari Indra jika Aji berusaha untuk kabur. Untungnya sekarang ini sudah tertangkap dan kini keadaannya sangat memprihatikan.


Abiyasa Menerima telepon dari Indra, yang memberikan kabar tersebut.


..."Mas Abiyasa, aku memiliki kabar buruk. Aji mencoba untuk kabur dari tahanan kami, tetapi dia sudah tertangkap. Sayangnya, keadaannya sangat memprihatinkan."...


..."Apa? Bagaimana bisa dia melakukan itu? Di mana dia sekarang?"...


..."Dia saat ini masih ada di markas dengan penjagaan yang ketat. Kami telah mengambil tindakan untuk memastikan keamanannya, tetapi kondisinya tidak baik. Dokter sedang memeriksanya." ...


..."Sialan! Kak Aji tidak akan pernah berhenti menyebabkan masalah. Aku akan segera ke markas. Pastikan dia mendapatkan perawatan yang diperlukan." ...


..."Tentu, mas Abi. Kami sudah menjaga situasinya dengan ketat. Aku akan menunggu kedatangan mu di sini."...


..."Terima kasih, Indra. Aku sangat prihatin dengan keadaan Aji. Kita harus memastikan bahwa dia mendapatkan perlakuan yang pantas, meskipun dia adalah kakakku yang selalu saja jahat."...

__ADS_1


..."Saya mengerti, mas Abi. Kita akan memperlakukan Aji dengan profesionalisme, tapi juga memastikan keamanan dan penjagaannya." ...


..."Baiklah. Aku akan segera berangkat. Pastikan semuanya tetap terkendali di markas."...


..."Saya akan melakukan yang terbaik, mas Abi. Saya tunggu kedatangannya, mas Abi."...


Klik


Abiyasa merasa khawatir dengan kondisi Aji yang memprihatinkan setelah percobaan kaburnya. Abiyasa merespons dengan emosi campur aduk, merasa kesal dan prihatin pada saat yang bersamaan. Dia menegaskan pada Indra untuk memberikan perawatan yang tepat pada Aji, meskipun Aji telah berperilaku buruk padanya selama ini.


Untungnya Indra menjamin Abiyasa, bahwa situasi di markas sedang terkendali dan mereka akan memperlakukan Aji dengan profesionalisme. Abiyasa mengungkapkan niatnya untuk segera pergi ke markas dan bertemu dengan Aji.


Saat menerima laporan dari Indra tentang Aji yang mencoba kabur dan keadaannya yang memprihatinkan, Abiyasa mengalami beragam perasaan dan konflik emosional di dalam hatinya.


"Semoga kamu baik-baik saja, kak."


Abiyasa merasa khawatir dan juga prihatin atas kondisi Aji, karena bagaimanapun juga Aji adalah kakak kandungnya. Dia tetap memiliki rasa kewajiban dan perhatian terhadap saudaranya yang sedang dalam keadaan kesulitan dan tidak baik-baik saja.


Tapi Abiyasa juga merasa kesal dan frustasi atas tindakan Aji yang mencoba kabur. Aji selalu menjadi sumber masalah dalam hidup Abiyasa dan perilakunya yang tidak baik telah menimbulkan banyak kesulitan bagi keluarga mereka. Rasa kesal dan ketidaksetujuan serta kekecewaan Abiyasa terhadap tindakan kakaknya yang jahat padanya selama ini.


"Tapi, kenapa kamu selaku saja membuat masalah? Apa yang sebenarnya kamu inginkan dalam keadaan seperti ini?"


Di dalam hati Abiyasa, ada konflik emosional antara perasaan prihatin dan rasa kesal terhadap Aji. Perasaannya jadi campur aduk dan kebingungan.


"Arghhh... Kamu memang br3ngs3k, kak Aji!"


Tapi meskipun Abiyasa merasa kesal terhadap Aji, dia juga merasa terikat oleh ikatan keluarga mereka. Abiyasa mencoba memenuhi tanggung jawabnya sebagai saudara dan memastikan Aji mendapatkan perawatan yang pantas, meskipun dia juga sadar akan perlunya melindungi orang lain dari tindakan Aji.

__ADS_1


__ADS_2