
"Hahaha... akhirnya aku bebas! Terima kasih, terima kasih!"
Rian bersorak kegirangan sambil mengucapkan terima kasih pada pengacaranya dan tim. Dia juga menyalami Hakim ketua dan anggota.
"Saya benar-benar tak bisa mempercayainya! Ini adalah keajaiban! Terima kasih kepada semua yang telah mendukung saya!"
Rian mengungkapkan ketidakpercayaannya dan berterima kasih kepada para pendukungnya juga. Dia kegirangan setelah berhasil memenangkan bandingnya dan mendapatkan kebebasan.
Banding yang diajukan Rian telah berhasil membalikkan keputusan sebelumnya, yang menempatkan dirinya dalam tahanan untuk menghadapi konsekuensi hukum.
"Yes! Aku benar-benar bahagia saat ini. Terima kasih kepada hakim dan pengacara saya yang tak kenal lelah!"
Rian, sekali lagi menyampaikan rasa syukur dan mengucapkan terima kasih kepada hakim dan pengacaranya.
"Ini adalah momen yang saya tunggu-tunggu. Terima kasih kepada sistem peradilan yang adil dan semua orang yang membantu saya dalam proses ini!"
Rian menyatakan kegembiraannya dan mengucapkan terima kasih kepada sistem peradilan dan semua yang membantu untuk bisa bebas.
"Saya merasa seperti terbebas dari beban dunia! Terima kasih kepada keluarga, teman-teman, dan semua orang yang mempercayai saya. Kita berhasil!"
Rian merayakan kebebasannya dan berterima kasih kepada orang-orang yang mempercayainya, termasuk teman-teman dan colega yang ikut datang menyaksikan jalannya persidangan kali ini.
Kemenangan Rian dalam banding tersebut membuatnya merasa sangat gembira dan bersorak kegirangan. Sorak sorai tersebut berupa teriakan kebahagiaan, tepuk tangan, dan reaksi emosional yang kuat, yang dirasakan Rian. Dia merasa lega karena beban hukum yang dia hadapi telah terangkat, dan masa depannya kini tampak lebih cerah dengan semua rencana yang sudah disusun.
Dalam momen kegembiraannya itu, Rian juga mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada semua hakim yang memutuskan kasusnya dan para pengacaranya yang membela dan mendukungnya sepanjang proses hukum tersebut. Ucapan terima kasih ini menunjukkan penghargaan Rian atas kerja keras dan dedikasi mereka dalam mencapai hasil yang diinginkan.
Sayangnya, Rian tidak tahu jika apa yang terjadi saat ini memang disengaja Abiyasa. Keponakannya yang menjadi lawannya dipersidangan. Abiyasa justru ingin memberikan pelajaran pada pamannya itu secara langsung setelah dinyatakan bebas.
__ADS_1
Abiyasa tersenyum dengan sinis, melihat ke arah pamannya yang sedang bersorak kegirangan. "Lihatlah, dia begitu bahagia setelah bandingnya berhasil. Dia bahkan mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang telah membantunya."
"Ya, pak Rian terlihat sangat senang. Apakah dua tidak sadar jika mas Abi memang sengaja mengalah?" tanya Indra.
"Tidak sekarang. Biarkan dia menikmati kegembiraannya sesaat. Aku ingin memberikan pelajaran padanya secara langsung, yang akan membuatnya lebih kaget."
Sebuah twist yang kompleks dalam kasus hukum Rian, karena Abiyasa, memang sengaja. Dan itu tidak disadari oleh siapapun dari pihaknya Rian.
Motivasi Abiyasa untuk mengalah karena ketidaksepakatan pribadi dengan pamannya, keinginannya untuk mengungkap kebenaran, atau bahkan motif lain yang belum diketahui oleh pamannya sendiri. Dia secara sengaja memainkan peran sebagai pihak lawan Rian yang mengalah dalam persidangan, dengan maksud memberikan efek dramatis dan mengajarkan pamannya sebuah pelajaran untuk terapi shock atau kejutan yang tak terduga dikemudian hari.
"Bagaimana, apa yang mas Abi rencanakan untuk kedepannya? Apa yang akan kita lakukan?" tanya Indra pada Abiyasa.
Abiyasa tersenyum tipis penuh arti. "Aku akan menunggu saat yang tepat. Ketika dia merasa aman dan tenang, aku akan menghadapinya dan memberikannya pelajaran yang tidak pernah dia sangka-sangka sebelumnya."
Indra hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan. Dia tahu jika apa yang dikatakan dan dilakukan Abiyasa, pasti akan terjadi dan dia akan mengikutinya.
Indra kembali mengangguk mendengar perkataan Abiyasa yang penuh dengan tekanan emosi, meskipun diucapkan dengan suara yang rendah.
Abiyasa sudah tahu jika pamannya, Rian, ingin merencanakan sesuatu untuk menghancurkan dirinya. Itulah sebabnya, Abiyasa membiarkan pamannya itu untuk bersenang-senang terlebih dahulu sebelum dia membuat perhitungan.
"Indra. Aku ingin kamu menjaga kakakku. Aku hanya memiliki dia sebagai saudara. Aku tidak ingin dia kembali seperti dulu, terpengaruh dengan semua yang dikatakan oleh paman."
"Siap, mas Abi."
Indra menyanggupi permintaan Abiyasa, sama seperti biasanya. Dia tidak akan membuat bantahan, apapun yang diperintahkan dan diminta oleh Bos-nya itu.
Abiyasa, dengan kecerdasan dan wawasannya, telah menangkap rencana Rian untuk mencelakainya tak lama lagi. Rian berniat untuk membalas dendam dengan menghancurkan Abiyasa. Namun untuk sementara waktu ini, Abiyasa memutuskan untuk membiarkan Rian menikmati kegembiraannya sementara, seolah-olah tidak menyadari bahaya yang mengintai.
__ADS_1
Abiyasa akan menggunakan kesenangan Rian sebagai kelemahan atau peluang untuk mengatur perangkap atau mengembangkan strategi bertahan yang lebih baik. Dia ingin mengambil waktu untuk membuat perhitungan yang cermat, menyiapkan langkah-langkah atau rencana yang akan melindunginya saat menghadapi serangan dari Rian.
Abiyasa memilih untuk mengamati dan menunggu momen yang tepat sebelum menghadapi Rian. Dia menyadari bahwa menyerang atau mengungkapkan peranannya sekarang dapat memperburuk situasi dengan memberikan Rian keuntungan. Dengan membiarkan Rian bersenang-senang terlebih dahulu, Abiyasa dapat mengambil inisiatif yang lebih kuat ketika tiba saatnya.
"Hai, Abiyasa! Lihat! Aku bisa bebas, hahaha..." tawa Rian membahana saat dia tentang mendekat ke tempat Abiyasa berada.
"Di mana nyalimu? Kenapa kamu tidak keluarkan kekuasaan mu? Dan itu, si Indra. Hai, apa yang kamu lakukan? Kenapa tidak membantu Bos mu ini?"
Rian mengajukan pertanyaan pada Abiyasa dan Indra, dengan maksud mengejek. Dia ingin bermain-main dengan emosional keduanya, yang membuatnya semakin merasa puas.
"Selamat, paman. Aku turut senang atas kebebasan dan kemenangan paman kali ini."
Sayangnya, apa yang dilakukan Rian tidak mempengaruhi Abiyasa. Dia justru mengucapkan selamat atas keberhasilan pamannya atas banding yang dilakukan. Abiyasa menyerang sisi emosional pamannya dengan cara yang unik. Terbukti, Rian tampak jengkel mendengar ucapan selamat darinya.
"Hehhh, kamu itu hanya bocah ingusan kemarin sore. Tidak bisa melawanku yang sudah banyak malang melintang dalam berbagai keadaan. Aku bisa melakukan apa saja, termasuk untuk menyingkirkanmu!"
Suara Rian tampak seperti orang yang putus asa. Dia memberikan gertakan, berdirinya sendiri yang merasa ketakutan.
"Hehehe... kenapa, paman? Apa paman ragu untuk melihat buktinya?" tanya Abiyasa, mempermainkan perasaan Rian dengan senyumannya yang tidak bisa diartikan.
Melihat tingkah polah Abiyasa, Rian justru semakin geram. Giginya saking gemelutuk, dengan rahangnya yang mengeras. Dia berusaha menahan diri untuk tidak menghajar Abiyasa di tempat, sebab saat ini mereka masih berada di ruangan sidang. Meskipun para hakim sudah meninggalkan tempat, tapi media masa dan bisa keamanan masih berjaga-jaga.
Puk puk puk
"Tunggu saja apa yang akan paman lakukan untukmu, Abiyasa! Keponakan tersayang ku."
Rian berkata demikian, dengan menepuk-nepuk pundak Abiyasa sebanyak tiga kali. Memperlihatkan pada orang-orang, jika dia tidak memiliki dendam pada keponakannya yang sudah membawanya hingga ke titik sekarang ini.
__ADS_1
"Aku pastikan kamu akan hancur, Abiyasa!" ucap Rian sekali lagi, sebelum dia meninggalkan ruang sidang bersama dengan tim pengacaranya untuk merayakan kemenangan mereka.