
Abiyasa duduk di samping ranjang tempat Ajeng berbaring, dia meletakkan ponselnya di meja kecil di samping tempat tidur dan memulai pijatan lembut di punggungnya Ajeng. Dia menyampaikan kata-kata penuh kasih sayang dan kehangatan di telinga Ajeng, mengalihkan pikirannya dari peristiwa traumatis yang dialami Ajeng beberapa waktu yang lalu.
"Sayang, kamu harus tenang, aku di sini bersamamu, kamu aman," ucap Abiyasa dengan lembut.
Ajeng merespon pijatan dengan napas yang lebih dalam dan perlahan-lahan merasa lebih santai. Abiyasa mengubah pijatannya ke leher dan bahu istrinya, menghilangkan ketegangan dan menyelesaikan pijatannya dengan menggosokkan lotion beraroma terapi yang harum ke kulit lembut istrinya yang mulai merasa lebih rileks.
"Bagaimana perasaanmu, sayang? Apakah kamu merasa lebih baik sekarang?" tanya Abiyasa masih dengan memijat pelan.
Ajeng mengangguk dengan senyum tipis di bibirnya, merasakan kenyamanan dan kebahagiaan yang dibawakan oleh kehadiran suaminya, Abiyasa. Dia tahu bahwa dia selalu bisa mengandalkan suaminya untuk mendukung dan menjaganya dalam situasi apapun, sama seperti sekarang ini.
Abiyasa mencium lembut kening Ajeng. "Kamu bisa tidur dengan nyaman sekarang, sayang. Aku akan selalu di sini untukmu."
Ajeng merespon dengan tersenyum dan memejamkan mata, merasakan ketenangan yang membawa dirinya ke dalam tidur yang nyenyak. Abiyasa meletakkan tangannya di atas panggung tangan Ajeng yang lembut dan duduk di sampingnya, mengawasi tidurnya dengan penuh cinta dan kasih sayang.
Cup
"Tidurlah yang nyenyak, sayang."
Abiyasa mengecup kening Ajeng lebih lama, setelah Ajeng terlelap dalam tidur nyamannya.
Setelah Ajeng tidur, Abiyasa mengambil ponselnya kembali. Dia mengecek pekerjaan Indra, yang dia tugaskan keluar kota untuk menemukan pamannya, Rian, yang kabur bersama Elok.
Sebenarnya Elok pernah memberi tahu Abiyasa, jika dia sendiri menyadari bahwa dia telah terlibat dalam kegiatan yang salah dan tidak bermoral, yaitu berpacaran dengan atasannya sendiri, yaitu Rian. Padahal sebenarnya dia mencintai Abiyasa..
Elok merasa bahwa dia telah terjebak dalam perangkap yang rumit dan tidak tahu bagaimana menyelesaikannya.
Di satu sisi, Elok mencintai Abiyasa dan merasa dekat dengannya, tetapi di sisi lain dia tidak dapat mengabaikan kewajibannya untuk membantu Rian. Dia merasa terikat dengan hubungan yang rumit antara kepercayaan, kewajiban, dan cinta.
__ADS_1
Elok sulit membuat keputusan dalam situasi di mana nilai-nilai yang berbeda saling bertentangan. Dan Abiyasa sudah pernah menasehati Elok, supaya pergi meninggalkan pamannya yang memiliki kepribadian ganda.
Tapi situasi seperti ini, seringkali tidak ada jawaban yang benar atau salah yang jelas. Setiap pilihan yang dibuat memiliki konsekuensi yang kompleks dan berpotensi berbahaya. Elok harus mengambil keputusan yang sulit dan menimbang dengan cermat risiko dan manfaat dari setiap pilihan yang tersedia, meskipun ada beberapa nasehat yang sebenarnya dia benarkan. Namun, tetap saja setiap dia ingin merealisasikannya, dia kesulitan sendiri.
***
Hari ini Ajeng mengajak Abiyasa pergi ke makam mamanya, setelah dia bisa menguasai diri dan emosinya. Dia ingin memintakan maaf mamanya pada Abiyasa atas semua kesalahan yang dilakukan oleh mamanya selama ini.
Abiyasa mengerti betul betapa sulitnya bagi Ajeng untuk meminta maaf pada dirinya dan berhadapan dengan kenangan masa lalunya. Maka dia berusaha memberikan dukungan pada Ajeng.
Sekarang keduanya pergi ke makam mamanya Ajeng, Endang, di sebuah pemakaman umum yang tidak terlalu jauh dari rumahnya yang saat ini sedang dalam masa pembangunan setelah peristiwa kebakaran beberapa saat yang lalu.
Sampai di sana, Abiyasa membiarkan Ajeng untuk duduk di dekat makam mamanya sambil memberikan ruang dan waktu yang dibutuhkan untuk mengenang dan menyampaikan permintaan maafnya. Dia berdiri di belakang Ajeng dengan sikap yang tenang dan penuh perhatian.
"Maafkan aku, Mas Abi," ujar Ajeng dengan suara lirih dan menangis pelan.
"Jangan khawatir, sayang. Aku sudah memaafkan mu dan kamu juga harus memaafkan dirimu sendiri," kata Abiyasa lembut, sambil mengelus rambut istrinya.
Ajeng menoleh ke arah Abiyasa dan mengucapkan terima kasih dengan senyum kecil. Dia kembali fokus ke arah pusara mamanya, kemudian mengucapkan beberapa kata untuk berdoa untuk mamanya.
"Mas Abi, aku ingin meminta maaf atas semua kesalahan dan kekhilafan mamaku yang pernah menyinggung perasaanmu, dan semua kata-kata kasarnya selama ini. Maafkan mamaku, maafkan dia." Ajeng meminta maaf atas nama mamanya.
Abiyasa tersenyum mendengar permintaan maaf Ajeng untuk Endang. "Sayang. Aku sudah memaafkan semua kesalahan mama Endang dan semua yang pernah terjadi. Yang terpenting sekarang adalah kita memperbaiki hubungan kita dan berusaha untuk saling menghargai satu sama lain."
"Terima kasih, mas Abi. Aku benar-benar merasa bersalah dan ingin memperbaiki semuanya. Aku janji tidak akan ada lagi kesalahan yang sama terjadi. Maafkan mamaku." Sekali lagi Ajeng meminta maaf atas nama Endang.
Abiyasa tersenyum. "Janjimu sudah cukup, sayang. Sekarang, kita berdoa untuk arwah mamamu. Semoga dia tenang di sana dan kita bisa meneruskan hidup kita dengan baik-baik saja."
__ADS_1
Keduanya kemudian berdoa bersama-sama di depan pusara Endang, memohon ampunan atas nama endang supaya Endang bisa lebih tenang di alamnya sana.
"Aku selalu ada untukmu, Ajeng. Kapanpun kamu butuhkan aku, aku akan selalu ada di sampingmu."
Abiyasa menggenggam kedua tangan istrinya, memberikan semangat dan dukungan supaya Ajeng tidak merasa sendiri.
Di depan pusara mamanya, Ajeng kembali memintakan maaf secara langsung atas nama mamanya kepada suaminya.
"Hiksss hiks hiks... maafkan mama, mas Abi."
Abiyasa memeluk Ajeng untuk menenangkan. Dia tidak mau Ajeng goyah dan mengalami tekanan lagi seperti kemarin-kemarin. Dia mulai berbicara tentang kenangan masa lalu dan bagaimana mereka bisa membangun masa depan yang lebih baik bersama-sama, tanpa harus mengenang masa-masa sulit mereka yang telah berlalu.
"Kita akan bersama-sama untuk masa depan kita. Aku janji akan selalu ada untukmu."
Abiyasa berjanji untuk selalu mendukung dan membantu Ajeng untuk melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalunya. Dia ingin Ajeng tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang lebih kuat dan percaya diri.
Dalam perjalanan pulang, Abiyasa dan Ajeng saling berpegangan tangan. Abiyasa memberikan senyum hangat dan mengucapkan kata-kata yang menguatkan untuk Ajeng.
"Apakah kamu mau pergi ke suatu tempat terlebih dahulu, sayang?" tanya Abiyasa, mencoba mengalihkan perhatian Ajeng supaya tidak bersedih hati.
"A-ku, aku tidak mau kemana-mana, mas Abi."
Mendengar jawaban yang diberikan oleh istrinya, Abiyasa justru memiliki inisiatif untuk mengajak Ajeng ke tempat yang menurutnya bisa menenangkan.
"Ikut aku, ya?"
*** Yeeee... kemana Abiyasa mengajak Ajeng???
__ADS_1