
Abiyasa berusaha untuk menenangkan istrinya, Ajeng, yang merasa cemburu setelah menerima kiriman video dari seseorang yang tidak dikenal, yang berisi tentang Abiyasa dan Elok. Video tersebut menunjukkan Abiyasa dan Elok sedang berbicara dengan intim dan bahkan saking berpelukan, tetapi Abiyasa telah memberikan penjelasan bahwa itu adalah pelukan perpisahan karena Elok akan pergi ke luar negeri.
Namun, meskipun Abiyasa berusaha untuk menjelaskan situasi ini kepada Ajeng dan meyakinkannya bahwa dia hanya mencoba memberikan semangat untuk Elok sebagai teman masa kecil, Ajeng masih merasa cemburu dan marah-marah. Kemungkinan besar, Ajeng merasa terancam dan tidak nyaman dengan hubungan Abiyasa dan Elok, bahkan jika hubungan tersebut hanya bersifat persahabatan.
Ternyata Ajeng cukup sulit untuk dihadapi karena rasa cemburunya.
Abiyasa kesulitan, karena ini berkaitan dengan emosi yang sangat kuat dan sulit untuk diredakan. Abiyasa harus tetap sabar dan berusaha untuk memahami perasaan Ajeng, sambil terus memberikan penjelasan dan meyakinkannya bahwa hubungannya dengan Elok hanya bersifat teman.
"Mas Abi. Maafkan aku. Aku mengerti perasaanmu. Tapi aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku sangat mencintaimu dan tidak ingin kehilanganmu."
Ajeng akhirnya melunak dalam pelukan Abiyasa. Dia bicara dengan suara rendah, masih dengan sesenggukan menahan rasa sedih dan bersalah, karena telah menuduh Abiyasa dengan tuduhan yang tidak seharusnya.
"Dan aku juga sangat mencintaimu, sayang. Kamu adalah segalanya bagiku."
Cup cup cup
Abiyasa berkali-kali mengecup kening istrinya, memberikan rasa nyaman ketenangan dan kekuatan cinta yang dia miliki untuk Ajeng.
Akhirnya mereka kembali baikan dan berpelukan layaknya seorang suami istri. Mereka berdua menciptakan suasana yang romantis untuk membuat sebuah hubungan yang lebih baik dan tidak saling curiga.
"Mas Abi, jangan diulang lagi ya."
Perkataan Ajeng yang meminta sebuah kepastian, membuat Abiyasa gemas dengan tingkah laku istrinya yang sedang manja. Rasa cemburu yang tadi ditunjukkan adalah sebuah gambaran tentang rasa cinta dan takut kehilangan seseorang yang dia cintai.
"Tentu saja, sayang."
Setelah berbicara dan saling mendengarkan dengan baik, Abiyasa dan Ajeng akhirnya berhasil mengatasi masalah mereka. Keduanya sepakat untuk lebih terbuka dan jujur dalam berkomunikasi dan menciptakan hubungan yang lebih kuat dan sehat.
__ADS_1
Setelah membicarakan segala hal yang membuat Ajeng merasa tidak nyaman, Abiyasa berusaha untuk memperbaiki situasi dengan cara yang romantis.
"Mau pergi jalan-jalan, atau makan di luar?" tanya Abiyasa, setelah ajeng benar-benar sudah bisa menguasai emosi dan perasaannya.
Dia berinisiatif untuk mengajak Ajeng pergi jalan-jalan atau makan malam di restoran yang diinginkannya, dengan suasana yang intim dan penuh cinta.
"Mau. Tapi jangan yang biasanya ya?"
"Sippp. Kamu yang tentukan saja."
Akhirnya mereka berdua memilih pergi kesebuah restoran yang cukup jauh dari apartemen mereka, kemudian memilih makanan yang disukai masing-masing dan saling berbagi cerita tentang banyak hal.
Setelah makan malam, Abiyasa membawa Ajeng ke taman yang indah dan romantis di pusat kota. Dia membawa bunga dan lilin untuk menciptakan suasana yang lebih romantis. Mereka berdua berbicara tentang masa lalu mereka dan kenangan-kenangan indah yang mereka miliki bersama.
Abiyasa menunjukkan rasa sayang dan perhatiannya pada Ajeng dengan memberikan bunga dan berbicara dengan kata-kata yang penuh kasih.
"Sayang. Kamu harus percaya padaku, bahwa tidak ada wanita manapun yang bisa mengalihkan perhatianku darimu."
Ajeng merasa bahagia dan bersyukur karena Abiyasa begitu mencintainya. Dia merasa lebih percaya diri dan tidak lagi merasa cemburu atau curiga pada hubungan Abiyasa dengan teman-temannya. Keduanya merasa semakin dekat dan saling menghargai satu sama lain.
"Tapi, siapa yang sudah mengirim video itu?" tanya Ajeng curiga. Awalnya dia berpikir bahwa itu adalah Elok.
"Tidak, sayang. Elok tidak mungkin melakukan semua itu, lagipula nomor yang mengirim bukan nomer punya Elok."
Ajeng berpikir sebentar tapi tetap tidak menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalam benaknya.
"Tidak perlu khawatir, sayang. Aku akan mencari tahu siapa yang bertanggung jawab atas pengiriman video tersebut."
__ADS_1
Mendengar jawaban yang diberikan oleh suaminya, Ajeng tersenyum lega. Dia tidak mau jika lain waktu ada orang iseng lainnya lagi yang akan membuatnya merasa marah seperti tadi. Dia juga sebenarnya merasa malu karena ketahuan cemburu.
Hubungan mereka berdua kini menjadi lebih baik dan kuat dari sebelumnya. Abiyasa dan Ajeng berhasil mengatasi masalah dan memperkuat hubungan mereka dengan cara yang romantis dan penuh cinta. Mereka saling mendukung dan saling mengasihi, dan bersama-sama menciptakan hubungan yang sehat dan bahagia.
Hal ini karena usaha Abiyasa, yang dapat mengendalikan diri dan mencoba untuk mendengarkan perasaan Ajeng dengan penuh perhatian dan empati, tanpa mencoba untuk membenarkan dirinya atau membuat Ajeng merasa salah. Hal ini dapat membantu Ajeng merasa didengar dan dipahami.
Abiyasa juga berbicara dengan jelas dan jujur tentang situasi antara dia dan Elok. Dia bisa memberikan penjelasan yang konkret dan meyakinkan bahwa dia hanya memiliki hubungan persahabatan dengan Elok dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Selain itu, Abiyasa juga menunjukkan rasa sayang dan perhatiannya pada Ajeng dengan cara yang lebih lembut dan tidak mengeraskan suara saat Ajeng marah.
Abiyasa mengajak Ajeng berbicara secara terbuka dan jujur tentang perasaan mereka masing-masing dan mencari solusi bersama. Ini dapat membantu mengurangi ketegangan dan memperkuat hubungan mereka yang memang seharusnya ada..
Abiyasa juga selalu mengatakan pada Ajeng bahwa dia sangat mencintainya dan tidak akan melakukan apa pun yang akan menyakiti perasaannya. Ini dapat membantu Ajeng merasa lebih aman dan terlindungi di dalam hubungan mereka.
Dengan kelembutan, seorang istri akan mudah untuk dipahami dan meredakan emosi serta amarah karena rasa cemburu yang kadang kala tidak mengedepankan sebuah logika.
***
Di tempat lain, Aji ternyata bisa bertemu dengan pamannya, yaitu Rian, yang sebenarnya sedang menjalani kehidupannya di lapas setelah persidangannya diputuskan.
Tapi karena kekuatan dan kekuasaan Rian, didukung oleh Aji, dia bisa menikmati udara segar dan bebas untuk sementara waktu untuk menyelesaikan beberapa kepentingannya di luar lapas.
Sekarang mereka berdua bertemu di sebuah hotel yang ada tak jauh dari lapas. Mereka berbincang-bincang untuk rencana-rencana yang mereka buat, yaitu sebuah rencana untuk balas dendam pada Abiyasa yang sudah membuat Rian masuk penjara dan juga Aji, yang kini kehilangan kedudukannya di perusahaan.
"Sampai jam berapa paman bisa ada di luar?" tanya Aji memastikan.
"Tenang Aji. Paman bisa kembali sebelum pukul 06.00 pagi. Biasanya, yang 07.00 itu ada pergantian absen untuk siff sipir, jadi paman tidak mau ada masalah untuk sipir yang sudah membantu paman."
__ADS_1
Aji menganggukkan kepalanya paham dengan maksud perkataan yang diucapkan oleh pamannya.
"Jadi, apakah kamu juga sudah memesan beberapa menu makanan penutup untuk kepuasan kita malam ini?" tanya Rian, memastikan pesanannya sudah disediakan oleh Aji.