
Aji mengingat kembali moment-moment tersebut dengan bahagia. Tapi di saat dia ingat dengan semua kejahatannya selama ini pada Abiyasa, karena keserakahannya, dia merasa sedih. Apalagi adiknya itu justru memaafkan dirinya dan tidak memiliki pemikiran jahat untuk membalas dendam setelah menyekapnya.
Brakkk
"Kami itu tidak berguna, Abi!"
"Sebaiknya kamu mati saja! Kenapa harus menyusahkan!"
Aji ingat bagaimana perlakuannya terhadap Abiyasa, sebab dia selalu kasar dan lebih banyak memaki-maki adiknya jika melakukan kesalahan. Padahal saat itu, Abiyasa bodoh dan idiot juga karena ulahnya.
Brukkk tug dug
"Dasar adik tidak berguna!"
"Pergi kamu! Enyah dari hadapanku!"
Sedangkan Abiyasa, hanya diam menunduk atau dengan tampang bodohnya pergi meninggalkan dirinya yang sedang marah. Aji tidak pernah melihat Abiyasa menangis ataupun mengeluarkan air mata di depannya saat dia sedang marah-marah seperti itu.
Hal ini membuat Aji semakin kesal karena Abiyasa seperti orang yang tidak pernah bisa memiliki perasaan khusus atau merespon dengan perasaannya yang tertekan dengan ekspresi marah, kesal atau sedih maupun tersenyum. Wajah Abiyasa tetap sama, datar.
Aji mengalami emosional yang kompleks, saat dalam keadaan tidak sadar karena operasi. Di satu sisi, dia mengingat kembali momen-momen bahagia bersama Abiyasa saat mereka kecil, yang memberikan kegembiraan dan kehangatan dalam pikirannya. Namun, di sisi lain, Aji merasa sedih ketika dia menyadari semua kejahatannya pada Abiyasa yang disebabkan oleh keserakahannya.
Perasaan sedih muncul karena Aji menyadari bahwa dia telah melakukan hal-hal yang tidak pantas atau menyakitkan terhadap saudaranya. Keserakahannya telah merugikan hubungan mereka dan menciptakan jarak antara mereka. Rasa sedih ini terjadi karena Aji menyadari bahwa tindakan-tindakan tersebut telah menggoreskan luka pada hubungan mereka, serta merugikan Abiyasa.
Namun, keadaan semakin memperburuk perasaan Aji ketika dia menyadari bahwa Abiyasa, dengan hati yang baik, telah memaafkannya dan tidak memupuk rasa dendam atau niat jahat terhadapnya. Aji merasa bersalah dan sedih karena menyadari bahwa dia tidak pantas mendapatkan maaf dan belas kasihan dari Abiyasa setelah semua yang dia lakukan.
Emosinya silih berganti, merasakan kebahagiaan ketika mengingat momen bahagia bersama saudaranya, namun juga rasa sedih dan penyesalan atas tindakan-tindakan buruk yang dia lakukan. Rasa bersalah dan keinginan untuk memperbaiki hubungan dengan Abiyasa menguasai pikirannya. Tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan keadaannya yang sekarang.
'Abi. Maafkan, aku. Maafkan, kakak.'
Aji mengucapkan permintaan maafnya di alam bawah sadar, karena sedang dalam keadaan tidak bisa melakukan apa-apa.
***
__ADS_1
Di luar ruang operasi, Abiyasa juga merasa sedih dan khawatir dengan keadaan kakaknya. Dia juga mengingat semua moment tentang dirinya dengan kakaknya, bagaimana mereka berdua bisa hidup berbahagia waktu kecil bersama keluarga lengkap. Tapi yang lebih menyedihkan adalah saat Abiyasa ingat dengan keadaan Aji yang sudah menyadari semua kesalahannya selama ini, dengan menjadi sosok yang baik dan tidak berkelakuan buruk lagi.
"Kak, Aji."
Flashback saat Aji sadar dengan semua kesalahannya.
Saat Aji baru saja dibebaskan Abiyasa dari ruangan yang digunakan untuk isolasi, Aji sudah sadar akan semua kesalahannya selama ini. Dia berada dalam kondisi yang lebih baik dan stabil. Abiyasa duduk di sampingnya, yang tertunduk sambil mengusap air matanya beberapa kali.
Abiyasa mengusap-usap punggung kakaknya yang duduk dengan posisi membungkuk.
"Kak Aji, akhirnya kamu menyadari kesalahan-kesalahan yang lalu. Aku sangat khawatir denganmu jika dalam keadaan seperti kemarin terus. Bagaimana perasaanmu sekarang?"
Aji mendongak, menatap Abiyasa dengan ekspresi menyesal.
Brukkk
Aji cepat memeluk Abiyasa, dengan air mata yang berderai penuh dengan penyesalan yang dia rasakan.
"Adikku tercinta, aku minta maaf atas semua kesalahanku selama ini. Aku menyadari betapa jahatnya aku telah berlaku jahat padamu. Kamu tidak pantas mendapatkan perlakuan itu dari kakakmu yang tidak tahu malu ini. Hiksss..."
Aji melepaskan pelukannya, menatap Abiyasa dengan ekspresi penuh penyesalan.
Abiyasa juga menatap Aji dengan campuran antara kelegaan dan harapan. "Kak, aku juga merasa lega bahwa kamu sudah sadar. Tetapi, yang lebih penting bagiku adalah bahwa kamu telah menyadari kesalahanmu dan berubah. Aku sangat merindukan hubungan yang baik denganmu, sama seperti waktu kita kecil."
Mendengar perkataan adiknya, air matanya justru semakin deras. "Aku benar-benar menyesal, Abi. Aku berharap bisa mengulang waktu dan tidak pernah melakukan semua itu. Tapi aku berjanji, mulai sekarang aku akan menjadi kakak yang baik untukmu. Aku ingin memperbaiki hubungan kita dan menjadi seseorang yang kamu banggakan."
Abiyasa tersenyum hangat mendengar janji yang diucapkan oleh Aji padanya.
"Kak, kamu tidak perlu meminta maaf terus-menerus. Aku tahu bahwa setiap orang pernah membuat kesalahan. Yang penting adalah kita bisa belajar dari kesalahan kita dan berubah. Aku sangat menghargai kata-katamu dan komitmenmu untuk menjadi lebih baik."
Aji menganggukkan kepalanya dengan menahan isakan tangisnya. "Terima kasih, Abi. Aku akan melakukan segala yang aku bisa untuk membuktikan bahwa aku berubah. Aku ingin membangun hubungan yang kuat dan penuh kasih denganmu. Bisakah kamu memberiku kesempatan untuk memperbaikinya?"
Cepat Abiyasa mengangguk dan menyahut. "Tentu, Kak. Aku sangat ingin kita bisa memiliki hubungan yang lebih baik. Aku juga ingin melihatmu tumbuh menjadi sosok yang baik dan menghadapi masa depan bersama dengan baik. Kita dapat memulai dari sini, membangun kepercayaan satu sama lain."
__ADS_1
Aji dan Abiyasa saling tersenyum, merasakan kelegaan dan harapan akan masa depan yang lebih baik dengan bangun hubungan yang lebih hangat sebagai saudara.
Suasana haru sangat terasa saat Aji meminta maaf dan berubah. Apalagi Abiyasa menerima permintaan maaf kakaknya, dengan penerimaan dan harapan Abiyasa untuk bisa membangun hubungan yang lebih baik dengan kakaknya.
Keharuan begitu terasa dengan berbagai emosi mereka, yang berkomitmen untuk saling mendukung dan memperbaiki hubungan mereka. Dengan komunikasi terbuka, kesempatan untuk memaafkan, dan tekad untuk berubah, mereka memulai langkah pertama dalam perjalanan menuju rekonsiliasi dan pemulihan hubungan mereka.
Flashback off.
Abiyasa juga ingat saat tadi, bagaimana kakaknya yang menjadikan dirinya sebagai tameng untuknya saat pamannya, yaitu Rian, yang datang menyerangnya dengan pisau lipat yang tajam. Aji sedih sekaligus marah pada pamannya.
Abiyasa mengeram kesal menahan amarah, suaranya gemetar saat berbicara dengan kakaknya saat perjalanan menuju ke rumah sakit. Dia mengajak Aji bicara, supaya kakaknya tetap dalam keadaan sadar.
"Kak. Aku tidak akan membiarkan paman lolos!" geram Abiyasa dengan kesal.
Ingat kejadian tersebut, Abiyasa bertekad untuk memberikan pelajaran yang setimpal pada pamannya. Dia tidak akan membiarkan Rian hidup dengan tenang.
"Kak, aku sangat marah melihat apa yang telah dilakukan oleh paman. Dia adalah orang yang seharusnya melindungi kita, bukan menyakiti kita. Bagaimana dia bisa begitu kejam?"
Sayangnya, Aji justru mendengar semua perkataannya dengan sangat baik. Aji menyadari kemarahan Abiyasa. Dia berbicara dengan terputus-putus, mencoba untuk menenangkan adiknya.
"A-dikku, a-ku tahu betapa sulitnya untuk menahan amarahmu saat mengingat kejadian itu. T-etapi, marah tidak akan membawa kita ke mana-mana. Yang terpenting sekarang adalah kita fokus pada pemulihan dan memperbaiki keadaan."
Abiyasa menoleh sebentar, kemudian kembali fokus pada setir dan menatap lurus ke depan. Dia mengambil napas dalam-dalam untuk menenangkan diri.
"Hemmm... Kak, kamu benar. Aku tidak ingin membiarkan amarah menguasai diriku. Tetapi, sulit bagiku untuk melupakan apa yang telah dilakukan oleh paman. Rasanya seperti pengkhianatan yang tak termaafkan. Aku pasti menghukumnya!"
"A-ku, a-ku mengerti perasaanmu, Abi. T-idak ada yang bisa menghapus apa yang telah terjadi, tetapi kita memiliki kendali atas bagaimana kita meresponnya. K-ita bisa memilih untuk memaafkan atau melanjutkan hidup dengan rasa marah yang membebani kita. B-ukankah, k-amu bisa memaafkan aku?"
Abiyasa mengangguk perlahan. "Aku tahu bahwa membawa rasa marah ini tidak akan membantu kita. Tetapi, rasanya sulit untuk memaafkan paman setelah apa yang dia lakukan padamu, dan pada kita selama ini. Mungkin aku butuh waktu untuk melalui proses ini, memaafkan dia yang sepertinya sangat mustahil."
"A-bi, a-ku tidak meminta kamu untuk memaafkan dengan segera. Setiap orang memiliki waktu yang berbeda dalam menghadapi dan memaafkan peristiwa traumatis seperti ini. Y-ang penting adalah kita berdua saling mendukung dan menjaga kekuatan kita bersama."
"Terima kasih, Kak. Aku beruntung memiliki kakak sepertimu yang selalu ada untukku. Aku akan mencoba menemukan cara untuk mengatasi rasa marah ini dan fokus pada pemulihan kita bersama."
__ADS_1
Abiyasa terus berkata-kata, mengajak Aji untuk berkomunikasi karena keadaannya yang semakin melemah.