
Untung saja Abiyasa sudah mengetahui tentang rencana Endang dan Rian, sehingga pada saat Endang datang ke kantornya lagi dengan membawa dua cup minuman dingin yang katanya jus buah naga, Abiyasa tentunya semakin waspada. Satu dari minuman tersebut sudah dipastikan jika bercampur dengan racun.
Namun, untung saja Abiyasa mengetahui rencana mereka sehingga berusaha untuk menghindar dari jus yang beracun tersebut
"Ini jus naga, Abi. Bagus untuk kesehatan, ayo minumlah!" Endang memberikan satu gelas jus tersebut pada Abiyasa supaya segera diminumnya.
"Baiklah. Tapi, bolehkah Abiyasa minta tolong?" Abiyasa mulai masuk dalam sandiwara Endang.
"Minta tolong apa?" tanya Endang tidak sabar.
"Tolong panggil office boy di dapur, aku membutuh air putih."
Abiyasa sengaja meminta Endang agar keluar dari ruangannya, berharap agar jus yang ada ditangannya Endang ditinggalkan di atas meja tamu ruangannya supaya dia bisa mengganti posisi jus naga tersebut.
"Baiklah, tapi jangan lupa jus buah naga itu di minum." Abiyasa mengangguk saja.
Setelah beberapa saat kemudian, Endang sudah kembali ke dalam ruangan Abiyasa. Dia melihat menantunya itu meminum jus buah naga yang tadi dia letakkan di atas meja kerjanya Abiyasa, sehingga dia tersenyum senang. Merasa jika usahanya untuk menyingkirkan Abiyasa berhasil.
Endang sendiri kemudian memutuskan untuk meminum jus buah naga miliknya, yang ada di atas meja tamu di depan meja kerjanya Abiyasa. Namun, ternyata jus naga tersebut sudah berpindah posisi karena dipindahkan Abiyasa sendiri, sehingga rencana jahat tersebut malah berbalik menimpa Endang sendiri, dan dia jatuh tak sadarkan diri setelah meminum racun yang sudah dicampur ke dalam jus buah naga tadi.
Saat Abiyasa mengetahui hal ini, dia merasa sangat terkejut dan khawatir. Tapi dia juga tersenyum senang, kemudian memutuskan untuk segera mengambil tindakan dan membawa Endang ke rumah sakit.
Setelah sampai di rumah sakit, Endang dilarikan ke ruang gawat darurat dan mendapat perawatan medis yang intensif. Abiyasa merasa sangat kesal dengan sikap dan perilaku mama mertuanya. Dia berharap Endang bisa pulih kembali dan memberikan pengakuan dan kesaksian.
Beberapa saat kemudian, dokter memberitahu Abiyasa bahwa Endang sudah mulai pulih dan tidak dalam bahaya lagi. Dia merasa lega dan berterima kasih atas bantuan para dokter yang telah menyelamatkan nyawa Endang.
__ADS_1
"Terima kasih, dokter. Saya sangat berterima kasih atas segala bantuannya untuk menyelamatkan nyawa mama Endang."
Dokter menganggukkan kepalanya. "Tidak ada masalah, Abiyasa. Kami hanya melakukan tugas kami untuk menyelamatkan nyawa orang yang membutuhkan pertolongan medis. Semoga mama mertumu bisa pulih sepenuhnya dan menjadi sehat kembali."
"Terima kasih, dok."
Setelah beberapa saat di rumah sakit, Endang bisa diselamatkan oleh tim medis. Abiyasa menemani Endang hingga Endang membuka matanya karena sadar.
"Mama Endang, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu mencampur racun ke dalam meminum tersebut?" tanya Abiyasa setelah Endang sadar dan berbaring di rumah sakit.
"A-ku, Mama tidak ingin... maafkan mama, Abiyasa. Tapi ternyata rencanaku malah berbalik menimpa diriku sendiri. Huhuhu..."
"Aku tidak percaya kamu melakukan hal seperti itu, Mama Endang. Kamu hampir saja membunuh dirimu sendiri. Aku harus segera membawa kamu ke kantor polisi, karena kamu berusaha membunuhku!"
"Maaf, Abi. Maafkan Mama, huhuhu..."
Abiyasa yang tidak tahu apa-apa menyerahkan tas kecil milik mama mertunya. Tapi ternyata Endang segera membuka tas miliknya, kemudian mengambil foto berukuran sangat kecil dan segera meminum cairan yang berada di dalamnya.
"Ma, apa itu?" tanya Abiyasa cepat, saat melihat endang meminum cairan asing tersebut.
Endang akhirnya mati, setelah meminum cairan yang berada di dalam botol kecil tadi. Ternyata isinya adalah racun yang lebih mematikan dibanding dengan erat jump yang tadi dicampur ke dalam jus buah naga.
Ajeng menangis begitu tiba di rumah sakit. Dia bertanya pada Abiyasa dan menyalahkan suaminya atas kematian mamanya.
"Ini semua salahmu, Mas Abiyasa! Mamaku mati karena ulah mu! Aku tidak akan pernah memaafkan mu!"
__ADS_1
Ajeng tidak memaafkan Abiyasa yang akhirnya menjadi tersangka utama dalam kasus kematian Endang. Abiyasa dituduh telah meracuni Endang, ibu mertuanya sendiri. Padahal Endang sendiri yang meminum racun tersebut.
Endang jatuh sakit parah dan dilarikan ke rumah sakit setelah meminum racun yang seharusnya ditujukan untuk Abiyasa. Namun, sayangnya kondisi Endang yang sudah membaik justru semakin memburuk saat dia meminum racun yang lebih mematikan, yang pada akhirnya membuatnya meninggal dunia.
Ajeng, putrinya Endang, merasa sangat sedih dan tidak mampu menerima kenyataan bahwa mamanya telah meninggal dunia. Dia merasa sangat terpukul dan kesedihan yang mendalam menyelimuti hatinya. Ajeng menyalahkan Abiyasa atas kematian mamanya karena merasa bahwa Abiyasa telah melakukan tindakan jahat dengan meracuni mamanya, sebab selama ini mamanya memang selalu terlihat jahat dengan Abiyasa.
Abiyasa sendiri merasa sangat terkejut dan terpukul oleh kematian Endang. Dia merasa sangat sedih dan tidak dapat membayangkan betapa sulitnya situasi ini bagi Ajeng. Namun, ketika dia mendengar bahwa dia dituduh sebagai tersangka utama dalam kasus kematian Endang, dia merasa sangat tidak adil.
Abiyasa: "Aku tidak melakukan apapun yang bisa membahayakan nyawa mama Endang. Aku tidak akan pernah melakukan tindakan jahat seperti itu. Tolong, jangan tuduh aku tanpa bukti yang cukup."
Namun, sayangnya, keadaan menjadi semakin buruk bagi Abiyasa. Dia dijadikan tersangka utama dalam kasus kematian Endang dan harus menghadapi proses hukum yang panjang dan melelahkan. Dia merasa sangat kecewa dan frustrasi karena dianggap bersalah atas sesuatu yang tidak pernah dilakukannya.
Ajeng juga tidak percaya dengannya.
Abiyasa: "Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Aku merasa sangat tidak adil dan kecewa. Saya berharap semua ini bisa segera berakhir dan saya bisa membuktikan bahwa saya tidak bersalah."
Namun, sayangnya, meskipun Abiyasa bersikeras bahwa dia tidak bersalah, keputusan akhir tetap berada di tangan pengadilan nantinya. Proses hukum yang panjang dan melelahkan akan membuat Abiyasa merasa semakin tertekan dan frustasi. Dia berharap bahwa kebenaran akan segera terungkap dan dia bisa membuktikan bahwa dia tidak bersalah.
Sebelum pihak kepolisian menjemputnya, Abiyasa menghubungi Indra supaya membawa rekaman video cctv yang ada di ruangannya. Dia yakin jika rekanan cctv tersebut bisa menjadi salah satu bukti yang cukup besar, yang membuktikan bahwa dia tidak bersalah.
Abiyasa juga meminta kepada pihak keamanan rumah sakit untuk mengecek rekaman cctv yang berada di ruangan rawat inap mamanya. Dia tahu jika ruangan VVIP di rumah sakit ini dilengkapi dengan keamanan kamera cctv.
"Aku akan buktikan sendiri, bahwa aku tidak bersalah."
Abiyasa siap untuk dimintai keterangan oleh penyidik dan pihak lainnya, seandainya sampai ditangkap oleh polisi karena dia merasa benar dan bukti-bukti yang ada akan memberikan jawabannya.
__ADS_1
"Paman Rian harus menerima semua konsekuensi dari apa yang dilakukannya sekarang!" gumam Abiyasa dengan geram.