Bukan Menantu Sampah

Bukan Menantu Sampah
Naik Darah


__ADS_3

Sementara itu, Alex yang sudah merasa mengeluarkan uang banyak untuk usahanya mendapatkan Ajeng, meminta pertanggungjawaban pada Endang. Dia menagih Endang yang tadinya sudah membuat kesepakatan untuk menyerahkan Ajeng untuknya.


Biasanya, Alex yang menekuni dunia usaha, selalu membuat pertimbangan dengan matang setiap langkah yang diambil untuk meminimalkan resiko kegagalan. Namun, terkadang dalam kehidupan nyata, ada keputusan yang diambil tanpa mempertimbangkan dengan baik resiko yang akan ditanggung.


Semua dilakukan Alex karena sudah terlanjur tergiur dengan kecantikan dan tubuh Ajeng.


Karena keinginannya itulah yang membuat Alex mengeluarkan banyak uang untuk mendapatkannya, dengan meminta bantuan Endang sebagai mamanya Ajeng.


"Sial! Br3ngs3k!"


"Semua gagal! F*uck!"


Alex benar-benar marah dan jengkel dengan keadaannya yang sekarang. Dia tidak lagi memiliki banyak uang sehingga bisa melakukan apa saja dengan apa yang diinginkannya. Bahkan Bram, teman sekaligus pacarnya Endang juga menghilang tanpa jejak, membuat Endang juga mencari-cari keberadaan Bram dengan bertanya padanya.


Nomor Yang Anda hubungi Sedang tidak aktif


"Ah, sial! Lo kenapa sih, Bram, bego! Bram, di mana Lo, anjirr! Masa ilang gitu aja sih?!"


Setiap ingin menghubungi Bram, nomor ponsel milik Bram tidak aktif.


"Gue hubungi Endang aja dulu. Dia harus bertanggung jawab atas semua kegagalan rencanaku bersama Ajeng."


Akhirnya Alex menghubungi Endang, meminta pada mamanya Ajeng supaya segera menemuinya saat ini juga. Alex tidak mau mendengar alasan apapun dari janda yang ganjen dan suka berondong.


Tak butuh waktu lama, Endang sudah datang menemui Alex di tempat yang sudah disepakati sebelumnya.


"Maaf, Lex. Aku belum bisa membujuk Ajeng."


Sebelum Alex bertanya, Endang sudah mengucapkan permintaan maaf pada Alex karena tidak berhasil membujuk Ajeng supaya menerima Alex.


"Ummm, saya merasa kecewa dan juga rugi besar karena Ajeng tidak mau hubungan denganku. Padahal aku sudah mengeluarkan banyak uang untuk usaha ini dan aku merasa aku telah dibohongi olehmu."


Endang tidak berani menatap ke arah Alex yang sedang marah-marah. Beberapa hari sejak Bram menghilang, Endang memang tidak membujuk ajeng lagi karena tidak fokus.

__ADS_1


"Maafkan saya, Alex. Saya tidak bermaksud untuk mengecewakanmu. Namun, saya sudah memberikan kamu kesempatan untuk mendekati Ajeng. Saya tidak bisa memaksanya untuk menjalin hubungan denganmu jika dia tidak tertarik." Endang memberikan alasan supaya tidak disalahkan.


"Cuihhh! Kamu lupa jika sudah membuat kesepakatan dengan saya untuk menyerahkan Ajeng untukku. Kamu harus bertanggung jawab atas kesepakatan tersebut, atau kamu harus mengganti ganti rugi dari uang yang kamu terima!"


Endang semakin bingung mendapatkan pilihan yang sulit. "Saya mengerti perasaanmu, Alex. Namun, saya akan berusaha lagi Beri saya waktu, ya?"


"Hahhh..."


Alex membuang nafas kasar mendengar permintaan Endang. Dia sudah terbiasa dengan janji-janji seperti ini.


"Tapi saya sudah mengeluarkan banyak uang untuk usaha ini. Bagaimana kamu bisa menjamin bahwa Ajeng setuju?" tanya Alex meminta kepastian dari usaha Endang.


"Maaf, Alex. Saya tidak tahu lagi harus melakukan apa. Apa yang bisa berusaha lagi," ucap Endang meminta maaf lagi.


"Lalu, di mana Bram?' tanya Alex menanyakan keberadaan Bram yang tidak ada kabarnya.


"Saya juga tidak tahu, Alex. Saya sudah pernah bertanya padamu waktu itu.Tapi sampai sekarang dia tidak ada kabar."


Alex telah mengeluarkan banyak uang untuk mendapatkan Ajeng, namun ternyata Ajeng tidak mau diajak menjalin hubungan. Alex merasa kecewa dan menganggap bahwa ia telah dibohongi oleh Endang.


Endang bingung dengan apa yang diminta Alex, sedangkan dia juga belum menemukan keberadaan kekasihnya.


Setelah mereka berdua sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing, Endang memulai pembicaraan lagi tapi tidak seperti yang diinginkan oleh Alex.


"Alex, maaf saya belum bisa menemukan kekasih saya. Saya benar-benar kebingungan tentang keberadaannya."


"Bisalah kamu membantuku menemukan Bram, Alex?" Endang justru memberikan beban pencarian kekasihnya pada Alex, sehingga membuat Alex murka.


"Bagaimana mungkin kamu tidak bisa menemukannya? Bukankah kamu yang bertanggung jawab atas kekasihmu sendiri? atau, semua hanya sandiwara kalian agar tidak aku cari-cari?!"


"Tidak. Saya sudah mencoba mencarinya di mana-mana dan tidak ada hasilnya. Saya merasa sangat terbebani dengan situasi ini."


Alex menyahut cepat. "Ini tidak adil, Endang. Kamu seharusnya bertanggung jawab atas kekasihmu sendiri. Bagaimana mungkin kamu membebani saya dengan tugas yang bukan tanggung jawab saya?"

__ADS_1


Endang mulai menangis. "Hiksss... Saya benar-benar tidak tahu lagi harus melakukan apa. Saya butuh bantuanmu untuk menemukannya."


"Tidak, Endang. Saya sudah merasa cukup kecewa dengan kamu, juga Bram. Kamu tidak bisa membebani saya dengan tugas yang seharusnya bukan tanggung jawab saya. Pergilah ke kantor polisi sana!"


"Saya minta maaf, Alex. Saya benar-benar tidak tahu harus melakukan apa. Ta-pi..."


"Sudahlah, Endang. Saya tidak ingin membicarakan hal ini lagi. Saya sudah kecewa dan marah dengan kamu." Alex berdiri, hendak meninggalkan Endang. Tapi mendengar permintaan maaf dari janda ganjen itu dia kembali duduk dengan kasar.


"Maafkan saya, Alex. Saya tahu saya salah dan saya benar-benar minta maaf." Endang ucapkan permintaan maaf untuk yang kesekian kalinya.


Alex frustasi sehingga meraup wajahnya sendiri dengan kasar. Dia marah dan kecewa pada Endang dengan semua kebohongan yang dilakukan Endang mengenai Ajeng, ditambah lagi dengan permasalahan Bram.


"Kenapa kamu berbohong padaku, Endang? Kenapa kamu membuat kesepakatan dengan saya jika kamu tidak bisa memenuhi janjimu?" Alex bertanya dengan masalah yang sama.


"Saya tidak bermaksud berbohong, Alex. Saya memang mencoba mencarinya, tapi dia menghilang begitu saja dan saya tidak tahu harus melakukan apa lagi."


Perbincangan mereka berdua semakin memanas, membuat Alex merasa frustasi dan tidak tahan lagi dengan kebohongan yang dilakukan Endang mengenai Ajeng. Tanpa sadar, Alex mulai meraih wajahnya sendiri dengan kasar dan mulai marah pada Endang.


"Agrhhh..."


"Itu tidak masuk akal, Endang. Ini gila! Kalian berdua sudah menipuku." Alex menatap tajam ke arah Endang.


Situasi ini menjadi semakin rumit ketika Endang tidak menemukan kekasihnya dan justru memberikan beban pencarian kekasihnya pada Alex. Endang merasa kebingungan dan merasa tidak dapat membantu Alex lagi, sedangkan Alex menjadi semakin marah karena merasa dipermainkan dan dibebankan tugas yang seharusnya bukan tanggung jawabnya.


"Saya minta maaf, Alex. Saya..."


"Sudah cukup! Aku sudah muak dengan semua kebohongan mu, Endang. Kamu tidak bisa terus membebani aku dengan semua masalahmu sendiri." Alex memotong kalimat endang yang belum selesai.


Endang menunduk dengan rasa ketakutan. "Aku mengerti, maaf Alex. Saya benar-benar minta maaf atas semua kesalahan ini."


"Kamu pikir dengan minta maaf akan menghapus semua masalah ini? Tidak, Endang. Aku sudah lelah dengan semua ini. Aku tidak tahu harus melakukan apa lagi." Alex masih kesal.


"Aku tahu, Alex. Saya benar-benar menyesal dan akan berusaha untuk membujuk Ajeng dan menemukan Bram."

__ADS_1


"Sudah terlambat, Endang. Aku sudah cukup dengan semua ini. Aku tidak ingin berbicara lagi. Tinggalkan aku sendiri!"


Alex semakin naik darah dengan semua permasalahannya. Perusahaanya bangkrut dan menjadi pengangguran, dengan hidup mengandalkan uang tabungan yang tidak seberapa lagi. Sedangkan teman-teman yang dulu dekat dengannya pergi satu persatu, termasuk Bram.


__ADS_2