Bukan Menantu Sampah

Bukan Menantu Sampah
Nasehat


__ADS_3

Ajeng duduk di ruangan psikiater yang menanganinya. Tubuhnya bergetar dan napasnya tersengal-sengal ketika ia memulai ceritanya. Dia mengulangi apa yang telah terjadi pada hari itu, ketika dia diculik di depan kampus tempatnya mengajar.


"Sa-ya, saya sedang menunggu teman saya untuk pulang bersama, tapi tiba-tiba ada mobil yang berhenti di depan saya. Orang-orang di dalam mobil itu menarik saya masuk dan membekap mulut saya. Sa-ya, saya tidak bisa bergerak, dan mereka membawa saya ke tempat yang tidak saya kenal," ucap Ajeng.


Ajeng tidak bisa menahan air matanya ketika ia menceritakan lebih lanjut tentang pengalaman traumatis nya. Dia berbicara tentang bagaimana ia disiksa dan disiksa oleh para penculiknya selama beberapa jam, dan betapa ia merasa benar-benar tak berdaya hingga tak sadarkan diri.


Wajah Abiyasa merah menahan amarahnya, mendengar semua cerita yang dikatakan oleh istrinya. Sedari awal ketemu setelah penculikan, Ajeng tidak mau bercerita dengannya.


"Sa-ya, saya merasa benar-benar terisolasi dan tak berdaya. Sa-ya tidak tahu apa yang akan terjadi pada saya, dan sa-ya merasa sangat ketakutan," kata Ajeng sambil mencubit tangannya erat. Dia merasa gugup.


Abiyasa, duduk di sampingnya dan menggenggam tangannya erat-erat. Dia mencoba memberikan dukungan yang ia sebisanya, karena dia tahu persis bagaimana perasaan istrinya saat ini.


"Saya sangat khawatir tentang apa yang akan terjadi pada istri saya ketika dia dikabarkan menghilang saat itu. Saya juga pernah merasakan rasa takut seperti ini sebelumnya," ucap Abiyasa.


Mereka berdua datang ke psikiater untuk mencari bantuan untuk mengatasi dampak traumatis yang dialami Ajeng. Psikiater itu mencoba untuk menenangkan Ajeng dan memberikan teknik-teknik relaksasi dan meditasi untuk membantunya mengatasi kecemasannya.


"Trauma seperti yang dialami Ajeng bisa sangat sulit diatasi, dan mungkin akan memerlukan waktu yang cukup lama untuk sembuh sepenuhnya," kata psikiater itu.


Ajeng masih sangat terpengaruh oleh pengalamannya dan mengalami mimpi buruk dan kecemasan yang tak terkendali. Dia sudah mencoba untuk berbicara dengan Abiyasa, sebagai suami dan orang terdekatnya, tetapi ia merasa sulit untuk mengungkapkan perasaannya.


"Sa-ya, saya merasa tidak nyaman saat menceritakan apa yang telah terjadi pada saya, dan kadang-kadang saya merasa bahwa orang-orang tidak mengerti bagaimana rasanya menjadi korban kejahatan seperti ini," ucap Ajeng dengan rasa cemas.


Psikiater itu mendorong Ajeng untuk terus berbicara tentang pengalamannya, meskipun itu bisa sulit untuk dilakukan. Dia memberikan dukungan dan saran tentang cara terbaik untuk menghadapi kecemasan dan rasa takut yang mungkin terus muncul.


"Ada banyak cara untuk mengatasi trauma, dan saya akan membantu Anda menemukan teknik yang terbaik untuk membantu Anda sembuh secara emosional," kata psikiater itu.

__ADS_1


Ajeng menangis lagi saat ia berbicara dan menceritakan kembali tentang kejadian yang menimpa dirinya saat itu.


Setelah mendengarkan cerita Ajeng tentang pengalamannya yang traumatis, psikiater mengambil tindakan dan memberikan nasehat yang tepat agar Ajeng merasa lebih aman dan mendapatkan bantuan yang dia butuhkan untuk sembuh dari trauma tersebut.


Psikiater mendengarkan dengan empati dan memahami bagaimana perasaan Ajeng saat ini. Dia memastikan bahwa Ajeng merasa didengar dan dipahami, sehingga dia merasa lebih nyaman untuk membicarakan pengalamannya.


Psikiater juga memberikan rasa aman dan menenangkan pada Ajeng, sehingga dia merasa lebih tenang dan bisa meredakan kecemasannya. Psikiater memberikan bantuan melalui teknik relaksasi atau meditasi, yang bisa membantu Ajeng merasa lebih rileks dan santai.


Setelahnya, Psikiater mengajarkan teknik koping yang berguna bagi Ajeng dalam mengatasi perasaan cemas dan ketakutan yang terus muncul. Teknik koping ini bisa berupa teknik pernapasan atau teknik visualisasi, yang dapat membantu Ajeng untuk mengurangi stres dan memperkuat rasa kepercayaan dirinya.


Psikiater memberikan arahan atau mendorong Ajeng untuk terus berbicara tentang pengalamannya, sehingga ia bisa mengungkapkan perasaannya dan meredakan ketakutannya. Psikiater juga memastikan bahwa Ajeng merasa aman dan terlindungi, serta memotivasi Ajeng untuk menghadapi rasa takutnya dengan cara yang sehat.


Psikiater memberikan arahan atau saran terapi untuk Ajeng, seperti terapi perilaku kognitif atau terapi bicara, yang dapat membantunya memperkuat rasa kepercayaan dirinya dan mengatasi perasaan takut yang terus muncul. Terapi ini juga dapat membantu Ajeng memperoleh strategi koping yang efektif dalam menghadapi situasi yang sulit dan memperkuat kesehatan mentalnya.


***


Dua hari kemudian, Abiyasa kembali membawa Ajeng dengan datang ke tempat spikiater untuk terapi selanjutnya.


"Halo, pak Abiyasa. Terima kasih telah menemani ibu Ajeng hari ini. Saya ingin berbicara dengan Anda tentang bagaimana Anda dapat membantu Ajeng merasa lebih aman dan nyaman di rumah."


Spikiater tersebut berbicara secara pribadi dengan Abiyasa, di saat Ajeng mendapatkan terapi lain dari asistennya.


"Tentu saja, dokter. Saya sangat prihatin dengan keadaan istri saya dan ingin melakukan yang terbaik untuk membantunya."


Dengan senang hati, Abiyasa menerima apapun nasehat dan saran yang akan diberikan oleh spikiater agar bisa dipraktekkan di rumah.

__ADS_1


"Saat ini, ibu Ajeng masih merasakan rasa takut dan trauma setelah mengalami kejadian yang sangat traumatis. Ini adalah waktu yang sangat sulit baginya, dan ia sangat membutuhkan dukungan dan bantuan ekstra dari Anda sebagai suaminya."


Abiyasa menganggukkan kepalanya. "Saya siap melakukan apa pun yang diperlukan untuk membantu Ajeng. Apakah ada hal yang spesifik yang dapat saya lakukan untuk membantunya merasa lebih aman dan nyaman di rumah?" tanyanya kemudian.


Psikiater terseyum hangat dan memberikan arahan. "Ya, sebenarnya ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan. Pertama, pastikan bahwa lingkungan di sekitar ibu Ajeng merasa aman dan terlindungi. Pastikan bahwa pintu dan jendela terkunci dengan baik, dan pastikan bahwa ada lampu yang cukup untuk menerangi rumah. Hal ini bisa membantu ibu Ajeng merasa lebih aman dan nyaman."


"Baik, saya akan segera memastikan bahwa lingkungan di sekitar rumah kami aman dan terlindungi." Abiyasa menyanggupi arahan yang diberikan oleh Psikiater.


Spikiater kembali melanjutkan saran yang akan diberikan kepada Abiyasa. "Selain itu, pastikan bahwa ibu Ajeng merasa didukung dan terlindungi oleh Anda. Jangan pernah meninggalkan ibu Ajeng sendirian, terutama di malam hari. Jika Anda tidak bisa berada di sampingnya setiap saat, pastikan bahwa ia memiliki nomor telepon darurat yang dapat ia hubungi jika ia merasa tidak aman."


Abiyasa mengangguk-angguk mengerti dengan apa yang dikatakan oleh spikiater tersebut, demi kebaikannya Ajeng.


"Saya akan memastikan bahwa Ajeng selalu merasa didukung dan terlindungi oleh saya. Saya juga akan memberinya nomor telepon darurat yang dapat ia hubungi jika ia merasa tidak aman."


"Terakhir, pak Abi. Pastikan bahwa Anda selalu memperhatikan perasaan ibu Ajeng dan mendengarkan ketika ia ingin berbicara. Jangan mencoba untuk memaksa dia untuk bicara, tetapi jangan pula menghindar jika ia ingin berbicara tentang pengalamannya."


Abiyasa kembali menganggukan kepalanya mengerti dengan apa yang dikatakan oleh spikiater tersebut.


"Saya memahami, dokter. Saya akan selalu memperhatikan perasaan Ajeng dan siap mendengarkan ketika ia ingin berbicara."


"Sangat baik, pak Abiyasa. Saya tahu bahwa ini adalah waktu yang sulit bagi Anda dan ibu Ajeng, tetapi dengan dukungan dan bantuan Anda, ibu Ajeng akan dapat pulih dari trauma yang dialaminya. Jangan ragu untuk menghubungi saya jika Anda memerlukan bantuan atau nasihat tambahan."


"Terima kasih, dokter. Saya sangat menghargai bantuan dan nasihat Anda. Saya akan melakukan yang terbaik untuk membantu istri saya pulih dari trauma yang dialaminya."


Setelah semuanya selesai, Abiyasa mengajak Ajeng pulang ke rumah. Ajeng tidak pernah mau mampir ke mana pun, jika mereka sedang keluar rumah untuk pergi berobat. Bahkan sejak kejadian itu, Ajeng memang tidak pernah pergi kemana-mana. Mengajar ke kampus juga tidak. Dan pihak kampus memahami situasi dan kondisi Ajeng, sehingga memberikan izin.

__ADS_1


__ADS_2