
Kebakaran di rumah merupakan suatu bencana yang dapat menyebabkan kerusakan fisik dan psikologis yang cukup besar bagi pemilik rumah dan keluarganya. Selain itu, bencana kebakaran juga dapat menyebabkan kerugian materiil dan immateriil yang signifikan. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengetahui penyebab kebakaran tersebut agar dapat mencegah terjadinya kejadian serupa di masa yang akan datang.
Dalam kasus kebakaran ini, seperti biasanya, Abiyasa meminta bantuan pada Indra untuk menyelidiki kasus kebakaran yang terjadi di rumah mertuanya. Dia yakin ada pihak tertentu yang merencanakan ini, sebab dari kemampuannya melihat suatu kejadian, ada sesosok pria menyelinap masuk ke dalam rumahnya melalui loteng dan melakukan sesuatu hingga kebakaran tersebut terjadi seperti konsleting listrik dari kabel atap rumahnya Endang.
Abiyasa duduk di ruang tamu dan menunggu kedatangan Indra, sambil memikirkan kasus kebakaran yang terjadi di rumah mertuanya. Dia merasa yakin bahwa ada pihak tertentu yang merencanakan kebakaran itu, sebab dari kemampuannya melihat suatu kejadian, ada sosok pria yang menyelinap masuk ke dalam rumahnya melalui loteng dan melakukan sesuatu yang menyebabkan korsleting listrik dari kabel atap rumah.
Siang harinya Abiyasa kedatangan Indra yang ingin memberikan laporan jika apa yang menjadi kecurigaan Abiyasa benar adanya mengenai seseorang yang sudah membakar rumah Endang. Melalui beberapa cctv yang ada dan juga petunjuk awal titik api, bisa disimpulkan bahwa kebakaran tersebut memang sudah direncanakan oleh seseorang.
"Belum bisa dipastikan siapa sosok pria itu, Mas Abi. Tapi pihak kepolisian sedang berusaha untuk mengidentifikasi orang tersebut," terang Indra yang datang ke apartemen, setelah membuat janji temu.
Tak lama kemudian, Indra tiba di rumah Abiyasa dengan membawa beberapa dokumen dan bukti-bukti yang telah ditemukan dalam penyelidikan kasus kebakaran tersebut. Abiyasa menyambut Indra dengan ramah, lalu menanyakan bagaimana perkembangan penyelidikan kasus tersebut, dan Indra memberikan penjelasan dengan analisa yang sesuai dengan petunjuk.
Indra mengatakan bahwa setelah melakukan penyelidikan intensif, pihak kepolisian telah menemukan beberapa petunjuk dan bukti yang menunjukkan bahwa kebakaran itu memang direncanakan dengan sengaja. Ada beberapa CCTV yang merekam kejadian di sekitar rumah Abiyasa, termasuk sebuah CCTV yang merekam sosok pria yang menyelinap masuk melalui loteng.
Abiyasa langsung tertarik dengan informasi tersebut dan bertanya lebih lanjut kepada Indra. "Siapa yang direkam oleh CCTV itu? Apa dia sudah bisa diidentifikasi?" tanya Abiyasa dengan penuh harap.
Abiyasa kemudian memutuskan untuk menghubungi pengacaranya untuk membicarakan langkah-langkah selanjutnya yang akan diambil untuk menyelesaikan kasus ini. Dia berharap, kasus kebakaran ini bisa segera terungkap dan pelakunya bisa ditangkap dengan cepat.
Abiyasa mengangguk-angguk mendengar penjelasan Indra, lalu meminta Indra untuk terus memantau perkembangan kasus tersebut. "Terima kasih sudah bekerja keras dalam menangani kasus ini, Indra. Aku sangat menghargai upaya dan usahamu dalam menyelidiki kasus ini," ujarnya.
Indra tersenyum dan mengatakan bahwa dia akan melakukan apa saja demi Abiyasa. "Sama-sama, Mas Abiyasa. Saya akan terus bekerja keras untuk membantu apapun yang bisa saya lakukan," ucap Indra.
__ADS_1
Tak lama kemudian Indra pamit, dia harus kembali ke kantor. "Saya kembali ke kantor dulu, Mas Abi."
Setelah Indra pergi, Abiyasa merenungkan kembali kasus kebakaran tersebut. Dia merasa semakin yakin bahwa ada pihak tertentu yang berusaha merusak hidupnya dan keluarganya. Namun, Abiyasa juga merasa lega bahwa kasus tersebut sedang ditangani oleh pihak kepolisian, dengan cepat.
***
Endang yang baru saja datang dari luar kota langsung datang ke apartemen dan menampar Abiyasa dengan memaki-maki. Dia berpikir bahwa kebakaran di rumahnya terjadi karena keteledoran Abiyasa yang dia anggap bodoh.
Plak
Abiyasa yang kaget dengan tindakan Endang langsung mundur beberapa langkah. Wajahnya terlihat pucat dan terkejut dengan tindakan yang dilakukan oleh Endang. Sedangkan Ajeng yang melihat kejadian ini langsung menghampiri Abiyasa untuk memberikan dukungan.
Ajeng mencoba untuk tenang, meskipun marah dan kesal juga dengan mamanya yang tidak sabaran, ingin menjelaskan bahwa mereka, khususnya Abiyasa, tidak tahu apa-apa mengenai kebakaran yang terjadi di rumahnya. Namun, Endang tidak mendengarkan penjelasan anaknya dan terus memaki-maki Abiyasa.
"Sudahlah, Ma. Tenang dulu. Kita bisa bicarakan masalah ini dengan baik-baik," ucap Ajeng mencoba untuk menenangkan situasi.
"Tidak ada yang bisa dibicarakan lagi! Aku tidak mau dengar alasan apapun dari kalian berdua. Dia sudah merusak rumahku," balas Endang dengan nada tinggi, tangannya menunjuk ke arah wajah Abiyasa.
Abiyasa merasa sedih dan kesal dengan situasi ini. Dia merasa bahwa dia tidak bersalah dan tidak tahu apa-apa mengenai kebakaran tersebut. Namun, dia juga merasa kesal dengan sikap Endang yang langsung menyalahkan dirinya tanpa memberikan kesempatan untuk memberikan penjelasan.
"Sudahlah, Ma. Mari kita bicarakan masalah ini dengan tenang. Kita bisa mencari solusi yang terbaik untuk semua pihak," ucap Ajeng mencoba untuk menenangkan mamanya.
__ADS_1
Namun, Endang tetap tidak mau mendengarkan penjelasan Ajeng dan malah terus memaki-maki. Situasi semakin memanas dan akhirnya Ajeng mengusir mamanya dari apartemen mereka.
"Ma, tolong tenang. Kita bisa mencari solusi yang terbaik untuk semuanya. Tapi, jika kamu tetap marah dan tidak mau mendengar penjelasan, tolong pergi dari sini," ucap Ajeng dengan nada tegas.
"Dasar tidak berguna! kamu juga, Ajeng. Bela saja suamimu yang bodoh itu!"
Endang akhirnya keluar dari apartemen mereka dengan geram dan masih memaki-maki Abiyasa. Abiyasa dan Ajeng hanya bisa saling berpandangan sedih dan tidak bisa melakukan apa-apa lagi untuk menghentikan Endang.
"Bagaimana bisa dia mengusirku?"
Endang kebingungan sendiri setelah keluar dari apartemen Abiyasa. Dia tidak tahu di mana dia hanya tinggal. "Ke mana aku sekarang ini? Bram tidak ada, bahkan keberadaannya saja tidak aku ketahui sampai sekarang."
Dalam kebingungannya, Endang berencana untuk menghubungi Rian, pamannya Abiyasa untuk meminta bantuan. Dia berpikir bahwa kebakaran di rumahnya itu adalah ulahnya Abiyasa, jadi pihak keluarga Abiyasa harus bertanggung jawab untuk memberikan tempat tinggal untuknya.
"Ya. Mereka harus bertanggung jawab."
Tapi sebelum benar-benar menghubungi Rian, Endang mengetuk pintu apartemen Abiyasa terlebih dahulu. Dia ingin berbicara dengan Ajeng, minta bantuan pada anaknya untuk menghubungi Rian. Setidaknya, jika Ajeng yang meminta apartemen Rian tidak akan keberatan. Sebab apartemen tersebut akan menjadi tempat tinggal Abiyasa juga, sebagai keponakannya Rian sendiri.
"Eh, tapi apartemen ini, yang sekarang ditempati Ajeng dan Abiyasa punya siapa?" tanya Endang pada dirinya sendiri. Dia bingung karena tadi tidak sempat bertanya.
"Ah, yang penting aku minta pertanggungjawaban pihak keluarga Abiyasa untuk diberi tempat tinggal."
__ADS_1