Bukan Menantu Sampah

Bukan Menantu Sampah
Pertimbangan


__ADS_3

Ketika Rian mendapat kunjungan dari pengacaranya, dia merasa campur aduk antara kecewa dan senang. Dia senang karena akhirnya ada seseorang yang mengunjunginya dan membawa kabar mengenai kasusnya, namun di sisi lain, ia juga kecewa karena bukan Aji atau Elok yang datang. Rian yang berdiri di samping tempat tidurnya, menatap pengacaranya dengan tatapan tajam dan cemas.


"Selamat siang, Pak Rian," sapa pengacara tersebut seraya membuka tasnya dan mengeluarkan berkas-berkas yang terlihat cukup tebal. "Saya minta maaf karena baru bisa datang sekarang."


"Sudah lama sekali saya menunggu kabar dari luar," kata Rian dengan nada yang terdengar lemah. "Saya pikir yang datang adalah Aji atau Elok. Apa kabar mereka?"


Rian yang mendapatkan kunjungan dari pengacaranya, kemudian pengacaranya memberitahu Rian bahwa kasusnya masih bisa diajukan banding ke pengadilan yang lebih tinggi. Rian merasa lega mendengar kabar tersebut, setidaknya dia memiliki harapan untuk bisa keluar dari penjara lebih cepat. Namun, di saat yang sama Rian juga merasa kecewa karena tidak mendapatkan kabar dari Elok.


Rian bertanya kepada pengacaranya tentang Elok dan mengungkapkan kecemasannya. Pengacaranya tidak bisa memberikan informasi yang pasti tentang keberadaan Elok, tapi dia memberikan saran kepada Rian untuk tidak terlalu tergantung pada orang lain. Pengacaranya mengatakan bahwa Rian harus belajar untuk mandiri dan memikirkan masa depannya sendiri, tanpa harus bergantung pada seseorang.


"Maaf, Pak Rian. Saya tidak tahu apa kabar mereka," jawab pengacara itu sambil membuka salah satu berkas. "Tapi saya membawa kabar baik mengenai kasus Anda. Kami mengajukan banding atas putusan pengadilan dan kami akan berjuang sekuat tenaga untuk memenangkan kasus ini."


Mendengar nasihat tersebut, Rian merasa tertampar. Dia menyadari bahwa selama ini dia terlalu tergantung pada Elok dan mengabaikan keadaannya sendiri. Rian mengambil kesimpulan bahwa dia harus berubah dan belajar untuk mandiri.


"Terima kasih atas nasihatnya, Pak," kata Rian.


"Pada akhirnya, kebahagiaan dan masa depanmu adalah tanggung jawab mu sendiri," jawab pengacara.


Rian merasa tersadar dari lamunan dan memutuskan untuk mengikuti saran pengacaranya. Dia akan memikirkan masa depannya sendiri dan tidak terlalu tergantung pada orang lain. Dia mengambil keputusan untuk fokus pada kasusnya dan mencoba untuk mengajukan banding atas putusan pengadilan.


Mendengar kabar tersebut, Rian merasa sedikit lega. Setidaknya ada kabar baik mengenai kasusnya. Ia mulai tertarik pada pembicaraan pengacaranya dan ingin mengetahui lebih lanjut mengenai rencana banding tersebut.


"Bagaimana prospeknya, Pak?" tanya Rian. "Apakah ada harapan untuk menang?"


"Kami percaya ada kesalahan dalam putusan pengadilan sebelumnya," jawab pengacara itu. "Kami telah menyiapkan argumen yang kuat dan kami yakin bisa memenangkan kasus ini. Namun, tentu saja, ini tidak akan mudah. Kami harus memperkuat bukti dan mengumpulkan saksi-saksi baru untuk menguatkan argumen kami."


Rian merasa lega mendengar hal tersebut. Ia tidak kehilangan harapan dan mulai merasa sedikit lebih tenang. Kemudian, ia mulai bertanya lebih banyak mengenai proses banding dan berbagai hal lain yang terkait dengan kasusnya.


"Saya sangat berterima kasih atas kerja keras Anda," ucap Rian kepada pengacaranya setelah percakapan panjang mereka. "Saya harap Anda bisa memenangkan kasus ini."


Percakapan antara Rian dan pengacaranya berlanjut tentang rencana dan strategi dalam mengajukan banding. Rian merasa lebih tenang dan yakin bahwa dia bisa keluar dari penjara lebih cepat.

__ADS_1


"Pak Rian, saya akan berjuang sekuat tenaga untuk memenangkan kasus ini," jawab pengacara itu. "Anda harus tetap tenang dan percaya pada kami. Kami akan memberikan yang terbaik untuk Anda."


Setelah pengacara itu meninggalkan sel, Rian merenung dan berpikir tentang rencana selanjutnya. Dia masih saja penasaran dan ingin mengetahui apa yang terjadi di luar penjara dan ingin tahu kabar dari Aji atau Elok. Ia mulai berpikir untuk mencoba meminta bantuan pada sipir atau tahanan lainnya agar bisa menghubungi mereka. Namun, ia tahu itu tidak mudah.


Rian berharap bisa keluar dari penjara dan membalas dendam pada Abiyasa. "Lihat saja, Abi! Aku tidak akan melepas mu begitu saja."


Rian tidak tahu jika Elok telah pergi ke luar negeri untuk menghindarinya. Rian masih berpikir jika Elok sedang mendapatkan masalah tanpa dirinya.


"Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia tidak pernah datang?"


Rian terus merenungkan tentang Elok. Dia merasa bingung, kenapa Elok bisa menghilang begitu saja dan tidak memberikan kabar sama sekali. Rian merasa tidak mungkin Elok meninggalkannya begitu saja tanpa memberikan alasan yang jelas. Dia mencoba untuk mengingat kembali momen terakhir mereka bertemu.


Pada saat itu, Rian merasa hubungannya dengan Elok semakin dekat. Mereka menghabiskan waktu bersama dan berbicara tentang rencana masa depan mereka. Namun, Rian merasa ada sesuatu yang tidak beres ketika Elok tidak merespons pesan-pesannya. Rian mencoba untuk mencari tahu tentang keadaan Elok, tapi tidak ada satupun temannya yang bisa memberikan informasi.


"Haahhh! Awas saja kamu, Elok! Aku tidak akan pernah melepaskan dirimu setelah semua ini selesai."


Rian merasa sangat cemas dan merasa tidak tenang dengan situasi ini. Dia berpikir bahwa Elok mungkin mengalami masalah atau bahkan mengalami kecelakaan. Namun, ketika dia menanyakan hal ini kepada orang-orang yang dikenal Elok, semua orang tidak tahu sama sekali tentang keberadaan Elok. Rian merasa sangat kesal dan marah, dia merasa Elok telah meninggalkannya begitu saja dan membuatnya merasa seperti orang yang tidak penting.


Di tempat lain, Aji sendiri sudah ada di tangan Abiyasa dan Indra. Dia tidak bisa melakukan apa-apa lagi, karena keadaannya yang lemah. Semuanya adalah kesalahannya sendiri yang telah berbuat jahat pada adiknya, yaitu Abiyasa. Bahkan bukan hanya saat ini, tapi sejak mereka masih kecil dulu. Aji yang selalu iri hati pada Abiyasa, kini tidak bisa berbangga hati dengan apa yang biasanya dilakukan untuk mencelakai Abiyasa. Dia hanya bisa diam mendengarkan saja apa yang dikatakan Abiyasa padanya.


"Apa yang kau pikirkan, kak Aji?" tanya Abiyasa sambil menatap tajam ke arah Aji.


Aji hanya diam dan menundukkan kepala. Dia merasa malu dengan semua perbuatannya dan tidak tahu harus berkata apa.


Setelah berhasil membawa Aji ke rumah, Abiyasa dan Indra langsung membawa Aji ke ruangan khusus yang sudah dipersiapkan oleh Indra. Mereka menyuruh anak buah Indra untuk mengamati situasi di sekitar rumah. Abiyasa kemudian duduk di depan Aji yang masih terbaring lemah di lantai.


"Tidak perlu diam saja. Apa kau merasa bangga dengan semua perbuatan mu selama ini?" tanya Abiyasa dengan nada tegas.


Aji masih diam. Dia tahu bahwa semua yang dilakukannya adalah kesalahan dan dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Dan dia siap menanggung semuanya, karena dia tidak merasa menyesal sedikit pun.


Abiyasa melanjutkan, "Kau tidak akan bisa lari dari hukuman mu, kak Aji. Kau harus menerima segala konsekuensi dari apa yang kau perbuat."

__ADS_1


Indra yang berdiri di samping Abiyasa mengangguk setuju. "Betul sekali, mas Abi. Pak Aji harus menghadapi hukumannya."


Aji akhirnya angkat bicara, "Aku tahu semua kesalahanku. Aku tidak bisa lari dari hukuman yang harus aku terima. Aku siap menerima segala konsekuensi dari perbuatan ku. Tapi aku tidak pernah merasa menyesal, hahaha..."


Tawa Aji memenuhi seluruh ruangan. Entah itu tawa bahagia, senang atau penyesalan yang ada di dalam hatinya Aji.


Abiyasa dan Indra hanya bisa tersenyum puas mendengar perkataan dan tawa Aji yang akhirnya menyadari kesalahannya. Mereka tahu bahwa Aji sudah seharusnya mengakui kesalahannya dan menerima hukuman yang pantas. Sayangnya Aji tidak pernah menyesal.


"Aku rasa sudah cukup untuk hari ini. Biarkan saja kak Aji istirahat dulu. Besok kita akan membicarakan langkah selanjutnya," ujar Abiyasa sambil bangkit dari duduknya.


Indra mengangguk setuju dan membantu Abiyasa membawa Aji ke tempat duduk yang telah disiapkan untuknya, yaitu tempat duduk yang tidak ada sandarannya.


"Cuihhh! Aku tidak peduli."


Aji masih bisa bersikap kasar dan meludahi wajah Abiyasa. Membuat Abiyasa emosi.


Bug bug


Dua kali pukulan cukup untuk membuat Aji meringis menahan rasa sakit. Dan Abiyasa melenggang pergi sebelum emosinya bertambah besar.


Setelah mengecek kondisi Aji yang duduk tanpa bisa berbuat apa-apa, Indra kembali ke ruang tengah menyusul Abiyasa.


"Kita harus mempertimbangkan dengan matang apa yang harus kita lakukan selanjutnya," ujar Indra.


Abiyasa mengangguk setuju, "Kita harus memastikan bahwa Aji tidak bisa melarikan diri atau menyakiti orang lain lagi. Kita harus menyelesaikan masalah ini dengan tuntas."


Indra menatap Abiyasa dengan penuh penghargaan, "Saya siap membantu, mas Abiyasa. Kita harus menyelesaikan masalah ini dengan cara yang benar."


Abiyasa tersenyum, "Saya tahu saya bisa mengandalkan mu, Indra."


Mereka berdua kemudian duduk bersama dan membicarakan rencana mereka untuk menyelesaikan masalah dengan Aji secara tuntas. Mereka sadar bahwa tindakan mereka akan berdampak besar pada kehidupan Aji dan orang-orang di sekitarnya. Oleh karena itu, mereka harus mempertimbangkan segala kemungkinan dengan matang sebelum mengambil tindakan yang tegas.

__ADS_1


__ADS_2