Bukan Rahim Pengganti

Bukan Rahim Pengganti
Bab 100


__ADS_3

"Papa." Air mata Jihan langsung runtuh, bagaimana sang papa berada di sini? Sedangkan ia saja tak memberitahukan pernikahannya dengan Bayu.


"Aku yang memintanya ke sini, kamu senangkan?" ujar Bayu.


Jihan langsung menggenggam tangan Bayu, meremasnya dengan lembut. "Terimakasih, terimakasih sudah membuatnya hadir di hari spesialku." Sumpah! Ia tidak membayangkan sama sekali akan kedatangan sang papa.


Bayi dan Jihan pun menghampiri pak penghulu yang sudah duduk berdampingan papa Jihan, saksi sekaligus wali. Tapi ia tak melihat sang mama di sana, kemana wanita yang sudah melahirkannya itu? Apa dia tak merestui pernikahannya?


Jihan dan Bayu duduk di depan pak penghulu secara berdampingan. Lalu ada seorang wanita datang menghampiri, membawa kain putih yang akan menjadi penutup kepala mereka berdua. Setelah kain itu menempel di kepala mereka, ijab pun langsung dilaksanakan.


Tangan papa Jihan terulur ke depan dan Bayu menerima uluran tangan itu.


"Bayu Wiranata."


_"Saya."_


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya yang bernama Jihan Mahira Kuncoro Binti Surya Kuncoro dengan mas kawinnya berupa kalung 50 gram dan seperangkat alat shalat, tunai.” Surya mengguncang tangan Bayu.


“Saya terima nikah dan kawinnya Jihan Mahira Kuncoro Binti Surya Kuncoro dengan mas kawin tersebut, tuuunai,” ucap Bayu lantang dalam satu kali tarikan napas.


Surya menolehkan kepalanya pada saksi, “Sah?”


“Saaaaahhh,” sahut saksi yang terdiri satu orang itu yang tak lain adalah pengurus masjid di sana.


"Alhamdulillah."


Penghulu pun mengucapkan doa setelah selesainya ijab qobul tersebut. Semua yang berada di sana menadahkan tangan dan mengaminkannya.


Selesai itu, Bayu pun langsung menyematkan cincin di jari manis sang istri, begitu juga Jihan. Ia meraih tangan suaminya dan mengecupnya, san suami mencium keningnya. Hingga nampak kebahgiaan didiri mereka.


Jihan dan Bayu sungkem kepada papa Jihan. Ia sendiri menangis di dalam pelukan itu.


"Terimakasih, Pa. Papa sudah hadir di pernikahanku," ucap Jihan.


"Maafkan Papa juga ya, sayang. Papa juga mewakili kata maaf dari Mamamu, dia tidak bisa ikut karena sedang sakit."

__ADS_1


"Sakit," ulang Jihan.


"Hmm," jawab papa. "kamu tidak perlu khawatir, Mama hanya demam biasa," sambungnya kemudian.


Lalu, Jihan pun menggeserkan tubuhnya memberi ruang pada Bayu agar suaminya itu melakukan apa yang ia lakukan kepada sang papa.


"Jaga Jihan, Papa minta bahagiakan dia," ujar pria paruh baya itu pada Bayu yang kini sudah menjadi menantunya.


"Tentu," jawab Bayu mantap. "Selagi aku hidup, aku tak akan membiarkan istriku menderita," ucapnya tegas.


Setelah menikahkan putrinya, Surya langsung kembali ke Jakarta malam itu juga. Meski Jihan sempat melarangnya, Surya tetap kekeh pada pendiriannya yang ingin kembali pulang, merasa kasihan pada sang istri yang tengah terbaring sakit.


"Papa hati-hati, ya? Aku akan kembali setelah urusan suamiku selesai di sini," kata Jihan pada sang papa yang tengah menaiki mobilnya.


Pengantin baru itu pun kembali ke hotel setelah sang papa benar-benar pergi dari pandangannya. Setibanya di hotel, Jihan langsung mengganti bajunya, begitu juga Bayu. Setelah mengganti baju, tiba-tiba saja, Jihan merasa sakit di bagian perutnya. Awalnya ia kira hanya keram, namun menit berikutnya, ia langsung memekik kesakitan.


"Aww," pekik Jihan.


"Kamu kenapa, sayang?" Dengan cepat, Bayu menghampirinya.


Jihan terus mengelus-elus perutnya yang entah kenapa tiba-tiba merasakan sakit yang amat luar biasa. Dengan siaga, Bayu langsung menggendong istrinya. Ia akan membawanya langsung ke rumah sakit saat itu juga.


"Kita ke rumah sakit sekarang." Tanpa menunggu jawaban dari istrinya, Bayu segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar hotel.


Di dalam mobil.


Sesekali, Bayu melirik ke arah istrinya yang kini duduk tepat di sebelahnya. Jihan tengah memejamkan kedua matanya, Bayu sendiri tahu, kalau sang istri tengah merasakan sakit di bagian perutnya. Diamnya, berusaha menguatkan diri dari rasa sakit yang ia derita.


Tak tega melihat sang istri, Bayu menambahkan kecepatan laju mobilnya.


"Kamu tahan, sebentar lagi kita sampai." Saking paniknya, ia tak melihat situasi jalan. Tidak melihat ketika kucing tengah melintas tepat di depannya, dan hampir saja ia menabraknya. Mobil itu pun terhenti seketika, hingga tubuh Jihan nyaris saja tersungkur.


"Mas ... Hati-hati, kamu jangan panik. Aku tidak apa-apa, kok," ucap Jihan.


Bayu tahu istrinya itu tengah berbohong, terlihat jelas wajahnya yang pucat menahan sakit di bagian perutnya.

__ADS_1


"Iya, maaf." Bayu pun melanjutkan perjalanannya kembali. Hingga akhirnya mereka pun sampai di rumah sakit terdekat.


Pria itu turun dari mobil terlebih dulu, setelah itu baru ia membuka pintu sebelahnya yang berada Jihan di dalamnya. Menggendong wanita itu dan membawanya ke dalam rumah sakit. Bayu terkejut ketika melihat darah yang menempel di kursi.


"Darah" Bayu sengaja tak memberitahukan istrinya, ia takut Jihan tambah syock. Semoga saja kandungannya baik-baik saja, doa Bayu.


"Sus, Suster," teriaknya setibanya di dalam.


Dua suster datang menghampiri sembari mendorong branker ke arah Bayu. Bayu pun merebahkan sang istri di sana.


"Maaf, Tuan. Tuan tidak bisa masuk," ucap suster setibanya di ruang UGD. Suster pun menutup pintu hingga Bayu tak bisa lagi melihat istrinya.


Bayu mondar-mandir di depan pintu UGD, pria itu begitu cemas. Takut kenapa-kenapa pada sang istri dan calon bayinya.


"Ya Tuhan ... Selamatkan keduanya, jangan ambil salah satu di antara mereka."


Beberapa saat kemudian, suster muncul dari pintu UGD disusul oleh dokter. Bayu langsung saja bertanya mengenai kondisi sang istri.


"Bagaimana, Dok? Bagaimana dengan kondisi mereka?"


"Tuan, tenang. Istri Anda tidak apa-apa."


"Tidak apa-apa bagaimana? Saya sendiri melihat darah itu. Ayo, Dok jelaskan," cecar Bayu dengan tidak sabarnya.


"Iya, istri Anda memang mengalami pendarahan. Tapi kandungannya cukup kuat, calon bayi Anda baik-baik saja. Istri Tuan kecapean, kalau boleh saya sarankan harus banyak-banyak istirahat. Jangan terlalu sering naik kendaraan," jelas dokter.


"Apa saya bisa menemuinya sekarang?"


"Bisa, tapi istri Anda sedang tidur pengaruh obat yang saya berikan. Tuan jangan mengganggunya, biarkan istri Anda istirahat."


Bayu pun mengangguk, lalu dengan cepat menemui istrinya di dalam sana. Berjalan secara perlahan, ia takut mengganggunya. Menarik kursi, ia pun duduk tepat di sampinganya. Menatap wajah yang kini tengah terlelap. Baru ia berjanji akan menjaganya, namun siapa duga, musibah datang secara tiba-tiba.


Bayu meraih tangan istrinya, menggenggamnya, menciumnya. Mengelus-elus tangan itu dengan lembut.


"Aku yakin, kamu pasti baik-baik saja, sayang. Maaf, maafkan aku yang tak bisa menjagamu," sesalnya. Karena memang sudah larut, kantuk pun menyerang. Hingga tak terasa ia terus menguap dan akhirnya ia pun tertidur dengan posisi terduduk dengan kepala tersandar di sisi branker.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2