Bukan Rahim Pengganti

Bukan Rahim Pengganti
Bab 74


__ADS_3

Ketika Dion menelusuri jalanan di ibu kota, netra matanya menangkap sesosok yang dicarinya. Tak peduli di luar masih hujan, Dion turun dari mobilnya dan melepas jaket yang ia kenakan lalu menarik tangan seorang gadis yang selama beberapa hari ini selalu bersamanya.


Ketika Dion berhasil membawa Mawar masuk ke dalam mobilnya, pria itu tak segan mengeluarkan unek-uneknya.


"Kamu senang jika saya selalu dimarahi Mbak Laras!" sentak Dion.


Mawar terheyak, kalau tahu bakal begini Mawar lebih memilih berteduh dan berdesak-desakan dengan orang yang tak dikenalinya sama sekali. Dari pada bersama Dion membuat hatinya semakin sakit, Mawar yang tak pernah mendapatkan bentakan dari siapa pun kini ia hanya bisa menundukkan wajahnya. Tak berani menatap Dion atau mengelak ucapan pria itu.


"Maaf, Mas." Hanya kata maaf yang keluar dari mulut Mawar.


"Lain kali jangan seperti ini! Buat orang repot saja!" celetuk Dion yang tak memikirkan perasaan Mawar sama sekali.


Dion uring-uringan bukan karena marah pada Mawar. Pria itu kesal pada Jihan karena Jihan memposting sebuah poto bersama laki-laki lain, bahkan Jihan tahu kalau Dion menyukainya tapi Jihan tak mempedulikan persaannya. Sampai Mawar yang kena imbasnya, Dion melampiaskan kemarahannya pada Mawar.


Sadar akan ucapannya, Dion tak lagi bersuara. Ia melirik ke arah Mawar yang masih menunduk. Mawar menyeka air matanya tanpa diketahui oleh Dion bahwa gadis itu tengah menangis. Mawar menangis dalam diam.


Dion langsung melajukan mobilnya, di perjalanan, Mawar sempat bersin-bersin. Gadis itu memang tak bisa jika kedinginan terlalu lama. Mobil yang dikendarai Dion pun berhenti, ia menepikan mobilnya tepat di depan apotik. Dion turun dari mobil, ia pergi ke apotik membeli obat untuk Mawar.


Dion kembali masuk ke dalam mobil seusai membeli obat. Karena jalanan cukup macet jadi mereka terjebak di tengah-tengah kemacetan. Tanpa disadari oleh Dion, ternyata Mawar tertidur.


Dion melihat Mawar, dan menyingkirkan rambutnya yang tergerai menutupi wajah cantik Mawar.


"Maafkan aku, Mawar," kata Dion yang masih memandangi wajah Mawar.


Tak lama dari situ, jalanan mulai lancar sehingga mobil yang dikendarai Dion pun kembali melaju. Tiga puluh menit kemudian mereka sampai dikediaman Anggoro. Laras dan Rubby pun sudah kembali pulang, karena Dion sempat mengerimkan pesan pada Rubby kalau Mawar sudah ketemu dan kini tengah bersamanya.


Dion melihat Mawar masih tertidur, merasa bersalah karena sudah melampiaskan kemarahannya, Dion pun turun dari mobil lebih dulu tanpa membangunkan Mawar. Pria itu membuka pintu mobil sebelah tempat duduk gadis itu, ia menggendong Mawar masuk ke dalam rumah.


Laras langsung menyambut kedatangan Dion dan Mawar.


"Kalau mau marah nanti saja, aku harus membawa Mawar ke kamar," celetuk Dion yang tengah melintas di hadapan Laras.


Laras memutar matanya dengan jengah, kalau tak melihat Mawar, mungkin Laras sudah menjewer telinga Dion seperti anak kecil. Laras membuntuti langakah Dion sampai ke dalam kamar. Tak ada yang bersuara di sana, karena takut membangunkan Mawar.

__ADS_1


"Sebaiknya Mbak ganti baju Mawar, bajunya basah," kata Dion yang sudah berhasil mendaratkan tubuh Mawar di atas ranjang. Dion pun langsung pergi karena baju yang ia kenakan pun sedikit basah.


***


"Bagaimana bisa Mawar pulang sendiri, hah?" Laras mulai meluncurkan kemarahannya terhadap Dion.


Kini mereka tengah berkumpul di ruang tamu, karena Khanza dan Rubby akan pulang malam ini. Jadi semuanya berniat mengantar Rubby dan Khanza sampai depan rumah.


"Sudahlah, Ma. Mawar 'kan sudah kembali pulang dengan selamat. Mama jangan memarahi Dion terus, Dion 'kan bukan bocah ingusan lagi, Ma," protes Anggoro, pria itu merasa bosan mendengar istrinya mengoceh terus pada Dion.


"Iya, Ma. Sudahlah, gak enak kalau Mawar bangun terus mendengarnya," timpal Rubby.


Karena sudah malam, Rubby dan Khanza pun pamit kepada orang tuanya karena besok Rubby dan istrinya akan berlibur ke Dubai beberapa hari ke depan.


"Yon, aku titip perusahaan, aku percaya padamu," kata Rubby pada Dion. "Oh iya, sepertinya Mawar ikut membantumu di kantor karena Bayu besok izin tidak bisa masuk," sambung Rubby lagi.


"Iya, kalian kalau mau pergi, pergilah sekaran!" usir Dion.


Karena Rubby dan Khanza sudah pulang, Laras dan suaminya pun pergi ke kamar untuk segera beristirahat.


Kini hanya menyisakan Dion di sana, Dion menatap pintu kamar yang di tempati Mawar. Pria itu melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam kamar itu. Dion mendekat diri ke arah Mawar, gadis itu tertidur dengan pulas. Semoga besok Mawar tidak apa-apa dan bisa ikut ke kantor bersamanya besok.


Setelah memastikan keadaan Mawar, Dion pun kembali ke luar meninggalkan Mawar. Setelah kepergian Dion, gadis itu membuka matanya. Ternyata Mawar tidak benar-benar tidur, gadis itu sengaja melakukannya untuk menghindari kemarahan Dion.


Mawar melanjutkan tidurnya kembali, ia mencoba melupakan kejadian hari ini.


Keesokan harinya.


Rubby dan Khanza sudah berada di Bandara, diantar oleh Zira dan Hazel. Orang tua Rubby pun ikut serta mengantar anak-anaknya untuk pergi berlibur.


"Za, kamu hati-hati ya di sana," kata Zira. "By, Mama titip Khanza, jaga dia baik-baik," pesan Zira pada menantunya.


"Iya, Ma. Kami berangkat dulu," pamit Rubby.

__ADS_1


Kedua orang tua Rubby dan Khanza menyaksikan anak-anaknya pergi sampai mereka sudah tak terlihat dari pandangannya masing-masing. Setelah itu, Hazel dan juga Anggoro pun berpisah. Mereka pulang menggunakan mobil masing-masing.


ANGGORO GROUP


Dion dan Mawar sudah berada di ruangannya. Rencananya, mereka akan melakukan meeting dengan karyawan yang lain. Memberitahukan bahwa perusahaan untuk sementara di ambil alih oleh Dion.


"Mawar, apa kamu sudah menyiapkan bahan meetingnya?" tanya Dion yang tanpa menoleh ke arah gadis itu, Dion tengah fokus menatap layar laptop.


"Sudah, Pak," jawab Mawar. Mawar kembali menggunakan kata pormal.


Dion pun menutup laptop, lalu beranjak dari tempatnya. Ia akan ke ruang meeting sekarang juga, diikuti oleh Mawar dari belakang.


Karyawan wanita yang terlihat ganjeng mencoba merapihkan rambutnya, mencoba mencari pusat perhatian dari atasan barunya. Sayang, Dion tidak tertarik sama sekali. Pria itu bersikap dingin ketika berada di tengah-tengah wanita yang sok cantik seperti mereka.


Karyawan itu saling berbisik ketika melihat Mawar.


"Siapa gadis itu? Pacar atau hanya bawahan?" Bisikan itu terdengar di pendengaran Mawar. Ia merasa tidak nyaman dengan kedua karyawan wanita itu.


"Mawar, mana berkasnya?" Dion meminta berkas itu pada Mawar.


"Oh, namanya Mawar." Kedua wanita itu kembali berbisik.


Meeting pun dimulai, Dion memperkenalkan diri pada karyawan di sana. Hingga tak terasa, meeting pun selesai. Dion dan Mawar kembali ke ruangannya.


Semenjak terjadi peristiwa kemarin, Mawar bersikap tak seperti biasanya. Wanita itu lebih banyak diam, hanya percakapan penting saja yang Mawar ucapkan. Selebihnya Mawar fokus pada kerjaannya.


Sampai Dion merasa aneh melihat Mawar, apa gadis itu marah padanya?


Bersambung.


Silahkah berkenan hadir di novel Author yang lain.


__ADS_1


__ADS_2