Bukan Rahim Pengganti

Bukan Rahim Pengganti
Bab 67


__ADS_3

"Tolong ... Tolong ..." Mawar yang tidak bisa berenang hanya mampu minta tolong.


Dion yang mendengar itu langsung menghampiri ke arah kolam renang. Dion sudah mengira kalau itu pasti Mawar. Dion menepuk keningnya sendiri, lalu dengan cepat ia berlari.


Dion melihat Mawar di kolam itu. Mawar masih minta tolong, untung gadis itu tidak pingsan karena kejadiannya belum terlalu lama. Pria itu langsung turun untuk menolong Mawar yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.


"Uhuk, uhuk, uhuk ..." Mawar dan Dion menepi ke tepi kolam, mereka berdua basah kuyup. Asisten di rumah itu pun menghampiri mereka di sana karena tadi sempat mendengar ada yang minta tolong.


"Duh, Den ... Kenapa bisa basah-basahan?" tanya asisten yang baru saja tiba.


"Ambilin handuk, Bi. Cepat!" titah Dion.


Si bibi malah menatap ke arah Mawar, baru kali ini ia melihat adik majikannya itu mengajak seorang perempuan ke rumah ini.


"Bi! Cepat dong, Bi!" kesal Dion, tahu dia sudah kedinginan si bibi malah masih diam di tempat.


Si bibi pun terkesiap, ia langsung berlari bergegas mengambil handuk untuk mereka berdua. Setelah kepergian asisten itu, Dion mengeluarkan suaranya.


"Kamu ngapain main di tepi kolam? Untung saya datang lebih cepat, kalau tidak bisa lain ceritanya. Kalau gak bisa berenang jangan deket-deket kolam renang!" Jantung Dion sudah hampir copot ketika tahu Mawar nyebur tadi.


Mawar rasa Dion memarahinya, gadis itu pun jadi menangis. Mawar terisak, ia juga tidak tahu bakal begini jadinya.


"Sudah, jangan menangis," kata Dion.


Tak lama dari situ si bibi datang membawa dua handuk di tangan dan langsung memberikannya pada mereka yang sudah kedinginan.


"Ajak dia masuk, Bi," kata Dion pada si bibi. "Kamu bawa bajukan?" tanya Dion pada Mawar. Mawar pun mengangguk.


Dion lebih dulu beranjak pergi meninggalkan dua wanita itu. Sedangkan Mawar diantar oleh si bibi ke kamar untuk mengganti bajunya yang sudah basah.


"Non, ini kamarnya. Non bisa ganti baju di sini," kata si bibi.


"Bi, jangan panggil, Non. Panggil aja Mawar, saya hanya bawahan Pak Dion, kok," kata Mawar.


"Oh, gitu ya? Bibi panggil Neng aja, Neng pasti asalnya dari Bandung iya, 'kan?" tanya bibi.


Mawar hanya mengangguk, lalu masuk ke dalam dan untuk segera mengganti bajunya, karena tubuhnya sedikit mengigil.


Di kamar lain, Dion sudah mengganti bajunya. Ia sudah terlihat tampan malam ini, ia akan menemui Jihan. Dion keluar dari kamar, ia tak melihat siapa pun di sana. Akhirnya, ia pun pergi tanpa pamit.


***

__ADS_1


Di kediaman Rubby dan Khanza.


Orang tua Rubby baru saja tiba. Sementara di dalam rumah, Khanza dan Zira sedang menyiapkan makan malam untuk menyambut kedatangan orang tua Rubby serta menyambut kebahagiaan yang dirasakan oleh pasangan yang akan menjadi ayah dan ibu itu.


Laras dan suaminya masuk ke dalam, sebulumnya mengetuk pintu terlebih dulu. Dan Rubby yang membukakan pintu, karena ia tahu kalau orang tuanya sudah sampai. Rubby memberi salam kepada kedua orang tuanya, di susul oleh Hazel, ia berjabat tangan dengan besannya itu.


"Silahkan duduk," ucap Hazel kepada Anggoro dan istrinya.


Laras celingak-celinguk mencari keberadaan menantu kesayangannya itu.


"By, Khanza di mana? Mama gak melihatnya?" tanya mama Rubby.


"Di dapur, Ma. Lagi masak, menyiapkan makan malam," jawab Rubby.


Laras menggelengkan kepalanya, anaknya itu tidak peka atau apa sih? Masa istrinya dibiarin masak sendiri, mana lagi hamil pula, pikir Laras. Akhirnya, Laras menyusul khanza ke dapur. Dan ternyata, ia melihat Khanza dibantu oleh mamanya. Ia juga melihat Khanza rertawa lepas, mereka memasak sembari bersendau gurau.


kata Rubby ada benarnya juga, kasian Khanza kalau mereka terpisah lagi. Laras akhirnya mengikhlaskan Khanza tinggal di komplek elit ini.


"Ehem." Deheman Laras membuat Khanza dan Zira menoleh ke sumber suara.


Khanza melihat ibu mertuanya tengah berdiri di ambang pintu. Setelah tahu, ia pun langsung menghampiri ibu dari suaminya. Khanza mencium punggung tangan Laras.


"Mama sejak kapan di sini?" tanya Khanza. "Ayo, Ma," ajak Khanza kemudian.


Laras hanya tersenyum menanggapi sapaan dari besannya. "Masak apa, Jeng?" tanya Laras kemudian.


"Kesukaan Mas Rubby, Ma," jawab Khanza sembari tersenyum.


"Menantu terbaik, Mama beruntung punya menantu sepertimu, Za," kata Laras.


"Menantu yang dulu bagaimana memangnya?" tanya Zira. Zira tidak tahu kenapa Rubby lebih memilih anaknya dari pada istrinya terdahulu. Yang Zira tahu, istri Rubby yang dulu adalah seorang model bahkan sangat cantik. Kalau dilihat dari fisik Jihan lebih cantik. Tapi bagi Zira, Khanza cukup manis. Senyumnya membuat semua orang terpikat pada Khanza.


"Mantan istri Rubby tidak baik ya?" tanya Zira lagi.


"Mama," protes Khanza.


"Gak apa-apa kok, Za. Mamamu 'kan mungkin tidak tahu kenapa Rubby memilih bercerai." Karena memang gitu adanya, Zira tidak tahu karena Khanza tidak menceritakan kisah hidupnya bersama suaminya. Bagi Khanza, itu masa lalu suaminya, dan tidak perlu diingat.


Zira kini diam, ia tidak lagi banyak bertanya. Takut Khanza marah padanya. Ia pun memilih fokus kembali pada masakan yang mereka buat.


"Za, cobain ini! Kurang apa?" Zira menyuruh anaknya mencoba hasil masakannya.

__ADS_1


"Sudah pas, Ma," jawab Khanza.


Masakkan pun selesai dibuat. Zira dan Khanza membawa hasil makanannya dan menatanya di atas meja. Dibantu oleh Laras.


Kini semuanya sudah berkumpul di meja makan, mereka semua makan dengan lahap. Karena masakannya memang sangat nikmat.


Makan malam pun selesai, karena sudah cukup larut, Laras dan suaminya pun pamit undur diri.


"Makasih ya, Za atas jamuannya. Mama suka masakkannya. Lain kali kamu main ke rumah Mama," kata Laras sebelum pulang.


"Iya, Ma. Nanti Khanza main ke rumah, bila perlu Khanza nginap di sana."


"Bener ya? Mama tunggu!"


Khanza pun mengangguk dan tersenyum.


Laras dan Anggoro pun mulai meninggalkan rumah anaknya, tak lama mobil pun melaju. Khanza dan yang lainnya melambaikan tangan ke arah mobil yang ditumpangi kedua orang tuanya.


Setelah itu, Hazel dan Zira pun pamit. Mereka tidak ingin mengganggu anak dan menantunya.


"Za, By, Papa dan Mama pulang, ya?" kata Hazel.


"Kenapa buru-buru, Pa, Ma?" tanya Khanza.


"Sudah malam, kalian isitrahatlah. Kasian cucu Mama, dia juga pasti lelah." Ucap Zira sembari menyentuh perut Khanza. "Ya udah, Mama sama Papa pulang." Zira mencium pipi Khanza terlebih dulu. Setelah itu mereka bener-bener pergi dari sana.


Khanza dan Rubby pun masuk ke dalam, mereka akan isitarahat malam ini.


***


Kediaman Anggoro.


Laras dan suaminya baru sampai, mereka langsung masuk ke dalam rumah. Sesampainya di sana, mereka mendengar suara orang yang bersin-bersin.


"Ma, si Bibi sakit?" tanya Anggoro.


Laras menggelengkan kepalanya, setahunya si bibi baik-baik saja. Tak lama kemudian, suara bersin itu kembali terdengar di pendengaran mereka.


"Pa, itu bukan suara si Bibi, deh," kata Laras.


Penasaran, Laras langsung menuju kamar tamu karena sumber suara itu arahnya dari sana. Laras membuka pintu kamar, wanita paruh baya itu sangat terkejut melihat orang asing di rumahnya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2