
Rubby menghampiri Khanza di atas panggung. Sedangkan para tamu undangan melihat sepasang sejoli itu dari bawah sana.
Laras dan suaminya pun melihat itu, ada haru dan bahagia. Anaknya kini sudah kembali bertemu dengan istrinya.
Rubby sudah ada di depan Khanza. Ia melihat genangan air mata di mata wanita itu. Entah kenapa ada dorongan yang membuat Rubby ingin menyentuh wajahnya, padahal ia belum begitu ingat akan Khanza.
"Mas," ucap Khanza disaat Rubby menyentuh wajahnya. Khanza sedikit bingung di sini, kenapa suaminya itu tak memeluknya hanya untuk sekedar melepas rindu.
Rubby terus mengingat siapa wanita ini? Hingga ia merasakan nyeri itu kembali menerpanya. Namun ia tahan itu, karena ia ingin tahu siapa wanita ini.
"Mas, ini aku istrimu." Khanza menyentuh tangan Rubby dan menggengamnya.
Rubby memejamkan kedua matanya, bayangan tentang Khanza muncul dalam ingatannya.
"Khanza istriku." Rubby langsung memeluk istrinya.
Tangis Khanza pecah, ia kira suaminya melupakannya begitu saja.
"Iya, Mas. Ini aku." Khanza tak kalah erat memeluk suaminya.
Sedangkan Laras, wanita paruh baya itu ikut memeluk suaminya dari samping. Baru kali ini ia meneteskan air matanya kembali setelah beberapa tahun silam. Menangis karena bahagia.
"Pa, Mama bahagia melihat Rubby kembali bersatu."
"Papa juga, Ma." Anggoro melingkarkan tangannya di pinggang istrinya.
Khanza dan Rubby melepaskan diri dari pelukkan itu, mereka menyadari akan keberadaannya yang dilihat banyak orang. Mereka saling tatap, tersimpan kerinduan di mata mereka.
"Maafkan, Mas. Mas tidak bisa menjagamu dengan baik."
"Kita ambil hikmahnya saja, Mas. Dari kejadian ini, aku bertemu dengan kedua orang tuaku."
__ADS_1
Hazel mendekatkan diri ke arah Khanza dan Rubby. Ia menyentuh kedua pundak anak dan menantunya.
"Pa, ini suamiku. Aku mencintainya, Papa merestui kami 'kan, Pa?" Khanza takut papanya tidak merestui pernikahan mereka, karena kemarin Hazel sempat membahas bahwa Rubby yang sudah memiliki istri, tanpa sepengatuan mereka padahal Rubby sudah resmi bercerai dengan Jihan, istri pertamanya.
"Jaga putriku dengan baik. Jadikan dia wanita satu-satunya dalam hidupmu!" kata Hazel pada Rubby, ia tidak ingin putrinya di madu. Bukan egois, ia hanya ingin menjaga nama baik keluarga dan putrinya. Hazel tidak ingin Khanza di cap sebagai perusak rumah tangga orang, walau itu pada kenyataannya.
"Pa," protes Khanza. Khanza di sini tidak menuntut apa pun dari Rubby ia tak meminta untuk di jadikan wanita satu-satunya. Sesama wanita, tentu ia tak ingin menyakiti hati istri pertama suaminya. Walau ia sudah menyakiti Jihan, setidaknya ia masih bisa berbagi kasih.
"Hanya Khanza wanita satu-satunya dalam hidupku. Terimakasih sudah memberikan kepercayaan padaku untuk menjaga Khanza," jawab Rubby pada papa mertuanya.
Air mata Khanza berlinang, ia begitu terharu mendengar penuturan suaminya.
"Za, hanya kamu satu-satunya istriku. Mas sudah resmi bercerai dengan Jihan."
Tak peduli dengan pasang mata yang melihat mereka di atas panggung. Sebagian para tamu undangan melihat keharuan mereka, dan ada juga yang melihat itu biasa saja. Karena mereka tidak tahu apa yang terjadi dalam rumah tangga mereka.
Bagi Hazel ini sudah cukup, ia percaya pada Rubby yang kini sudah menjadi suami dari anaknya. Karena semua sudah jelas, Hazel mempersilahkan para tamu undangan menikmati hidangan yang ada. Tak lama dari situ, ia pun dari panggung disusul oleh Khanza dan Rubby.
"Ma, maafkan aku sudah merepotkan kalian," kata Khanza setelah memeluk mertuanya secara bergantian.
"Kenapa harus minta maaf? Kamu tidak salah, sayang. Justru Mama yang harusnya minta maaf, Mama tidak bisa menjagamu waktu itu," kata Laras.
Asyik sedang berbincang karena lama tidak bertemu, Khanza sampai lupa akan keberadaan orang tuanya.
"Ma, Pa. Kita ke sana yuk?" ajak Khanza untuk bergabung dengan kedua orang tuanya.
Hingga kini, kedua orang tua masing-masing sudah berkumpul. Namun, pada saat Khanza berjalan, Rubby langsung menarik tangannya dan membawanya ke tempat yang lebih sepi. Di bawah tangga mereka bersembunyi.
Rubby menatap wajah istrinya karena posisi mereka saling berhadapan. Bahkan Rubby menyentuh bibir istrinya dengan ibu jari miliknya. Jantung Khanza berdegub begitu kencang, padahal ini bukan kali pertama mereka seperti ini.
Rubby rindu akan sosok Khanza yang dulu sering mengisi hari-harinya, dan sekarang ia kembali merasakan itu.
__ADS_1
"Za."
"Iya, Mas."
Posisi mereka masih saling menatap satu sama lain. Tanpa permisi, Rubby mendaratkan bibirnya di bibir ranum Khanza. Ciuman pertama hanya sekilas, karena masih kurang, Rubby kembali mencium istrinya. Ciuman itu sedikit lebih lama hingga ada sedikit permainan di dalam sana.
Rubby melepaskan tautannya karena mereka kehabisan oksigen, napas keduanya tersengal. Merasa napas sudah kembali normal, Rubby hendak menciumnya lagi. Namun kali ini Khanza menahanya, ia langsung membekap mulut suaminya dengan telapak tangannya.
"Kenapa di tahan?" tanya Rubby. "Mas rindu, sayang," sambungnya lagi.
Khanza tidak menjawab, ia malah menarik tangan Rubby agar mereka keluar dari persembunyiannya. Khanza terus menuntun tangan suaminya, ia mengajaknya ke tempat yang lebih aman. Hingga keberadaan mereka sudah berada di dalam kamar milik Khanza.
Tanpa aba-aba Rubby langsung membopong tubuh istrinya ala bridel style, ia membawanya ke tempat tidur. Emang udah dasarnya Rubby tak bisa menahannya jika sudah berada bersama Khanza. Ia langsung nyosor saja bahkan tanpa memberi celah pada istrinya.
Rubby melepaskan tautannya, ia melihat wajah Khanza dalam-dalam. Rubby menyentuh perut Khanza yang mulai membuncit, dilihat tidak terlihat tapi jika disentuh, Rubby bisa merasakan bahwa anaknya yang ada dalam kandungan Khanza sudah mulai tumbuh.
"Apa dia rewel selama Maa tak berada di sampingmu?" tanya Rubby mengenai kandungan istrinya buah dari cintanya.
Khanza menggelengkan kepalanya, kandungannya baik-baik saja. Karena ia selalu happy, Khanza tidak memikirkan hal-hal berat. Karena Hazel selalu menjanjikan manis disetiap ucapannya. Bahkan Hazel membuat acara ini demi mempertemukan Khanza dengam suaminya.
Kebahagiaan Khanza kini sudah lengkap, ia hanya menunggu kelahiran anaknya untuk menyempurnakan kebahagiannya. Khanza melalui hidupnya penuh kepahitan, dan sekarang berbuah manis.
"Za," panggil suaminya.
"Iya, Mas. Ada apa?" Khanza menangkup kedua pipi suaminya dengan gemas, bahkan ia berani mendaratkan bibirnya sekilas di bibir Rubby.
Rubby terkejut mendapati sikap Khanza yang mulai berani padanya, apa lagi Khanza merasa Rubby adalah miliknya sekarang. Hanya Khanza yang mampu membuat Rubby kecanduan akan istrinya.
Tanpa menunggu Khanza siap, Rubby langsung saja memulai aksinya. Dan terjadilah sesuatu di antara mereka.
Entah rindu atau memang doyan, Robby bermain cukup lama hingga Khanza sudah beberapa kali mencapai puncaknya. Dan beberapa menit kemudian, Rubby pun menyusul kenikmatan itu.
__ADS_1
Bersambung.