Bukan Rahim Pengganti

Bukan Rahim Pengganti
Bab 69


__ADS_3

"Apa Mas Dion yang melakukan ini?" tanya Mawar pada dirinya sendiri.


Mawar turun dari tempat tidurnya secara perlahan, ia tak ingin mengganggu tidur atasannya itu. Dan akhirnya, Mawar pergi tanpa membangunkan pria yang telah menjaganya selama ia sakit tadi.


Mawar keluar dari kamar tamu, tanpa diketahui Mawar, ada sepasang mata yang melihatnya. Siapa lagi kalau bukan Laras si pemilik rumah tersebut.


"Ehem." Suara itu mengejutkan Mawar, Mawar langsung membalikkan tubuhnya dengan cepat. Karena tadi ia sedang menutup pintu dengan sangat hati-hati, agar tidak menimbulkan suara.


Setelah Mawar membalikkan tubuhnya, Mawar langsung menjerit.


"Aaaa ... Ada hantu," teriak Mawar sambil memejamkan kedua matanya.


"Apa kamu bilang? Hantu! Kamu pikir saya hantu?" Laras tidak terima kalau ia dikira hantu. Laras tengah memakai masker wajah, ceritanya biar kulit wajahnya tetap kencang dan tidak kisut.


Mendengar suara, Mawar pun membuka matanya. Pelan tapi pasti, Mawar tetap saja takut melihat wajah Laras sampai ia kembali memejamkan matanya.


"Saya bukan hantu, Mawar. Saya menusia," kata Laras.


Tunggu, dari mana dia tahu namanya? Pikir Mawar.


"Anda tahu saya, Nyonya?" tanya Mawar.


"Tentu, saya pemilik rumah ini," jawab Laras. "Memangnya kamu sudah tidak demam lagi?"


"Anda juga tahu saya sakit? Kita 'kan belum ketemu sebelumnya," ucap Mawar.


"Tadi saya sempat mengecek keadaanmu, ngomong-ngomong kamu mau kemana? Ini masih malam."


"Saya keluar hanya ingin ke dapur mengambil minum," Jawab Mawar dengan jujur.


"Kenapa tidak nyuruh pacarmu? Dionnya mana?" tanya Laras kemudian.


"Tidur, Nyonya di dalam. Tu--." Belum Mawar melanjutkan ucapannya, Laras segera masuk ke kamar yang di tempati Mawar barusan. Padahal ia ingin mengatakan kalau Dion itu bukan pacarnya, tapi sayang Mawar tidak bisa menjelaskannya karena Laras keburu pergi. Mawar hanya bisa menghela napas.


Brak


Pintu langsung dibuka oleh Laras, ternyata benar Dion sedang tidur. Laras pun langsung membangunkan adik iparnya itu, Laras tidak segan-segan membangunkan Dion.

__ADS_1


Laras menepuk bahu Dion cukup keras sampai Dion terbangun seketika. Dion terkejut ada yang membangunkannya dengan cara seperti itu.


"Ada apa, Mbak?" tanya Dion ketika siapa tahu orang yang telah membangunkannya. Dion tidak bisa marah pada Laras, karena Laras bisa lebih marah jika ada yang bersikap tidak sopan padanya.


"Pacar sakit ya diurus dong, Dion ...," kesal Laras. "Pacarmu bisa pergi kalau kamu tidak perhatian padanya. Mau sampai kapan jadi bujang lapuk, hah?"


Dion melirik ke arah Mawar, gadis itu ternyata sudah bangun.


"Apa lirik-lirik?" tanya Laras ketika ia tahu Dion melirik ke arah Mawar. Karena Mawar tepat berada di belakang Laras. "Cepat ke dapur ambilkan minum untuk Mawar!" Perintah Laras bagai perintah raja Dion tidak bisa membantah.


Dengan gontai, ia berjalan melewati tubuh Laras dan Mawar. Mawar jadi merasa kasihan pada Dion, akhirnya ia menyusul Dion ke dapur.


"Nyonya, saya permisi dulu," pamit Mawar. Mawar pun melipir pergi.


***


"Mas, gak usah repot-repot," kata Mawar ketika melihat Dion mengambil gelas yang hendak di isi air minum.


"Kamu kira ini untukmu, saya juga haus karena terus diomelin Mbak Laras," celetuk Dion.


Mawar jadi tak enak hati pada atasannya itu.


"Sudahlah, tidak usah dipikirkan. Mbak Laras memang begitu orangnya, kamu jangan sakit hati kalau Mbak Laras berkata pedes." Dion memberitahukan sikap Laras pada Mawar, agar Mawar tidak sakit hati jika Laras berkata sesuatu yang mungkin menyinggung perasaanya.


"Iya, Mas," jawab Mawar.


Dion mengambil gelas yang lain, lalu mengisinya dengan air minum.


Setelah itu ia memberikannya pada Mawar.


"Nih, kamu haus 'kan?" Dion memberikan gelas tersebut, dan Mawar pun menerima.


"Saya duluan, habis ini kamu langsung tidur. Biar besok kita bisa kembali ke Bandung," kata Dion. Mawar pun mengangguk, dan melihat kepergian Dion dari dapur.


Mawar minum, setelah itu ia kembali ke kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya kembali. Rasa pusing di kepalanya masih pengap, ia harus bener-bener tidur malam ini, biar besok tubuhnya kembali vit.


Mawar melihat Dion tengah berada di sofa, pria itu tidur di sana. Karena kamar tamu ia yang menempatinya.

__ADS_1


"Apa tidak ada kamar lain di rumah ini?" batin Mawar.


Bukannya tidak ada kamar lain, Dion lebih memilih tidur di sofa karena takut Laras kembali memarahinya, karena sofa di sana itu cukup dekat dengan kamar yang di tempati Mawar. Kalau terjadi sesuatu pada Mawar, ia orang petama yang menolongnya.


Mawar pun masuk ke dalam kamar, tapi gadis itu kembali keluar. Ia membawakan bantal dan selimut, berniat memberikannya pada Dion.


"Mas," panggil Mawar.


"Apa sudah tidur? Cepat sekali," batinnya.


Karena tidak ada respon dari Dion, Mawar berinisiatif menyelimuti tubuh Dion dengan selimut yang ia bawa. Dan bantal itu sebagai tumpuan kepala Dion. Ketika Mawar mengangkat kepalanya, ia melihat wajah Dion cukup dekat.


Baru kali ini, Mawar melihat wajah Dion dengan hanya beberapa sentimeter. Bahkan hembusan napas pria itu sampai di wajah Mawar. Mawar pun berhasil menempatkan kepalanya di atas bantal. Setelah itu selesai, Mawar kembali ke kamar.


Setibanya di kamar, Mawar menyentuh dadanya sendiri. Ia bersandar di belakang pintu. Ketika ia menyentuh dadanya, ada getaran yang tidak biasa.


"Kenapa aku jadi deg-degan begini?" Posisi Mawar masih berdiri dan bersandar di belakang pintu. Dadanya benar-benar bergemuruh. Tidak ingin berpikiran yang macam-macam, ia pun memilih untuk merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Semoga detak jantungnya kembali normal ketika bangun tidur nanti.


Sementara Dion, pria itu belum tidur. Bahkan ia tahu apa yang dilakukan Mawar padanya, ia juga tahu kalau tadi Mawar sempat memandangi wajahnya beberapa detik. Dion melihat itu semua dengan kepala matanya sendiri. Dion melek sedikit untuk melihat Mawar.


Sesudah itu, ia pun tidur. Karena besok niatnya akan segera kembali ke perusahaan.


Keesokan harinya.


Di kediaman Rubby.


Rubby yang sudah bangun lebih dulu tapi tetap pada tempatnya. Ia terus memandangi wajah imut istrinya. Pipinya mulai cabi, bibirnya merah merona tanpa lipstik. Karena Khanza memang jarang memakai make up.


Walau pun begitu, Rubby lebih suka Khanza apa adanya. Tanpa make up saja, Khanza sudah terlihat manis dan menggemaskan.


"Mas, jangan jahil," ucap Khanza. Ternyata Khanza pun sudah terjaga dari tidurnya, ia hanya sedikit malas bangun pagi ini. Karena cuaca di luar sedikit mendung, cuaca begini enaknya bergulung selimut di dalam kamar bersama suami tercinta.


Rubby terus mengganggu istrinya, ia berikan ciuman di setiap wajah Khanza. Sampai pada akhirnya, Khanza pun membuka matanya. Tatapan mereka saling terkunci, pada akhirnya Khanza mengucapkan sesuatu pada suaminya.


"I love you," bisik Khanza di telinga Rubby.


Sampai Rubby berdesir karena hembusan napas Khanza.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2