Bukan Rahim Pengganti

Bukan Rahim Pengganti
Bab 52


__ADS_3

Rubby dan Wira mulai mengendap-ngendap bagaikan maling, mereka mengintai ruangan yang tertutup dengan sempurna itu. Tidak ada celah untuk masuk selain pintu yang dijaga ketat oleh para lelaki bertubuh besar.


Hingga ada pengawal yang curiga akan gerak-gerik Rubby dan Wira. Tapi Rubby tidak menyadari akan kehadirannya yang sudah diketahui oleh mami Rosa. Mami Rosa tahu betul wajah Rubby, wanita itu melihat aksi Rubby dari kejauhan.


"Bereskan pria itu! Dia membahayakan!" geram mami Rosa melihat aksinya Rubby yang seperti pahlawan. "Mereka mau main-main denganku. Jangan harap mereka bisa lolos dan membawa anak itu," kata Rosa sendiri.


Disaat Rubby akan mendekati arah pintu, tiba-tiba ada yang menarik pundaknya dan langsung memukul wajah Rubby.


Bugh


Satu bogeman mendarat sempurna di sudut bibir Rubby, hingga bibirnya mengeluarkan darah segar dan Rubby langsung tersungkur. Dipukul tiba-tiba apa lagi pukulan itu cukup keras membuat Rubby sedikit oleng.


Wira datang mencoba menyelamatkan Rubby, Wira memukul pria besar itu dari belakang. Sayang, pukulan itu tidak mempan sedikit pun. Malah pria besar itu kembali menyerang Rubby.


Buhg, bugh, bugh.


Beberapa kali tonjokan melayang di bagian perut dan wajah Rubby, dan bahkan wajahnya sudah terlihat babak belur. Rubby tumbang, ia tak bisa melawan karena pukulan itu begitu cepat mendarat di tubuhnya.


Wira menghampiri Rubby dan langsung membawa Rubby keluar. Tempat ini terlalu bahaya jika datang hanya berdua, takut keadaan Rubby bertambah parah, Wira langsung membawanya keluar dari tempat jahanam itu. Wira langsung membawa Wira ke rumah sakit.


Hingga setengah jam kemudian, mereka sampai di rumah sakit terdekat. Rubby langsung ditangani dokter, keadaa Rubby cukup parah bahkan tak sadarkan diri.


Wira mencoba menghubungi orang tuanya Rubby, tapi ia urungkan kembali niatnya. Ini sudah malam, orang tua Rubby pasti sudah tidur. Akhirnya hanya Wira yang menemani Rubby malam ini.


Keesokan harinya.


Mami Rosa sudah bersiap-siap. Kebearaadan Khanza sudah tercium oleh suaminya, ia tak akan membiarkan Khanza lolos. Mami Rosa memindahkan Khanza ke tempat yang lebih aman.


"Ma, kita mau kemana?" tanya Khanza saat mami Rosa melepaskan ikatan di tangannya.


"Sudah, jangan banyak bicara! Kamu ikuti saja perintahku!" Rosa menyeret tangan Khanza keluar dari ruangan itu. Karena tarikannya cukup kasar membuat Khanza merasa sakit di pergelangan tangannya.


"Ini sakit, Ma!" Khanza menyentuh tangannya sendiri dengan tangan yang satunya lagi.


Disaat Khanza diseret dengan kasar dan memasukkannya ke dalam mobil, seseorang dari sebrang jalan melihat perlakuan Rosa. Hampir setiap hari ia berada di sana hanya untuk melihat Rosa, apa saja yang dilakukan perempuan itu setiap harinya.

__ADS_1


Dan kali ini, orang itu baru melihat aksi Rosa. Rosa menyeret seorang perempuan, dan itu membuatnya penasaran. Siapa gadis itu? Pikir seorang pria yang bernama Hazel. Hazel adalah orang yang dulu pernah menjalin hubungan dengan Rosa secara diam-diam.


Setelah perselingkuhannya diketahui oleh istrinya, Hazel tidak menerima kata maaf dari istrinya itu, bahkan istrinya yang bernama Zira menyeruhnya untuk menemukan anak gadisnya. Zira tahu hilangnya anak gadisnya itu pasti ada hubungannya dengan Rosa.


Dari situ, Hazel selalu mengintai Rosa. Dititik ini membuat Hazel curiga, apa gadis itu putrinya yang di culik oleh Rosa?


Mobil Rosa mulai melaju, dan Hazel pun mengikutinya. Sayang ... Aksi Hazel yang membututi dari arah belakang diketahui oleh Rosa.


"Sial!" rutuk Rosa setelah tahu mobilnya diikuti oleh mobil lain dari arah belakang. Rosa mengira mobil yang mengikutinya adalah mobil suami dari Khanza. Padahal bukan, itu mobil Hazel kekasihnya dulu.


"Tambah kecepatan!" titah Rosa pada anak buahnya.


Tak lama, mobil langsung melaju dengan cepat. Jangan sampai anak ini lepas dari genggamannya, pikir Rosa. Mobil Rosa berhasil melewati lampu hijau, detik berikutnya lampu menjadi merah hingga mobil Hazel terjebak di sana dan tidak bisa mengejar mobil Rosa.


***


Di rumah sakit.


Rubby sudah sadar, bahkan kedua orang tuanya sudah menemaninya di rumah sakit.


"Kami sudah menemukan di mana keberadaan Khanza Tante. Ini hasil dari aksi kami yang ingin menyelamatkan istri Rubby dari orang-orang jahat," jelas Wira.


"Orang-orang jahat, apa Khanza memiliki musuh?" tanya papa Rubby.


"Bukan musuh, Pa. Khanza ada di tangan Rosa, ibunya Khanza," kata Rubby.


"Kalau Khanza ada di tangan ibunya, berarti Khanza dalam bahaya, By. Calon cucu Mama bagaimana?" Laras takut kejadian ini berakibat patal. "Telepon polisi, By! Laporkan ibunya Khanza."


"Jangan gegabah Tante, itukan ibunya Khanza tentu Khanza pasti tidak ingin ibunya di penjara. Rubby takut Khanza akan membencinya, Tante," jelas Wira.


"Atur rencana kalau begitu, suruh beberapa orang untuk menyelamatkan Khanza," titah Laras.


"By, hari ini sidangmu dimulai," timpal Anggoro papanya Rubby.


Rubby langsung memijat keningnya sendiri, pria itu serasa pusing. Masalah dengan Jihan saja belum selesai, ditambah lagi sekarang dengan hilangnya Khanza.

__ADS_1


"Wira, kamu maukan membantuku menemukan Khanza? Aku harus menyelesaikan masalahku dengan Jihan." Rubby memohon pada sahabatnya itu.


"Ok, aku akan membantumu. Kamu urus saja masalahmu dengan Jihan, masalah Khanza, biar aku dan anak buahku yang mengurus ini. Lagian ... Ibunya Khanza sudah mengenalmu, dia pasti akan menghidarimu."


"Terimakasih, Wira."


***


Di kota Bandung.


Jihan menerima panggilang sidang pertamanya, ia akan datang hari ini untuk menyelesaikan masalahnya dengan Rubby. Ada benarnya juga kata Dion, ia tidak bisa memaksakan hati seseorang untuk tetap bertahan bersamanya, itu hanya akan menyakitinya sendiri.


Dion menemani Jihan ke Kota, tentu pria itu akan menemani Jihan. Karena ini yang ditunggu-tunggu olehnya. Setelah Jihan resmi bercerai ia tak akan menunggu waktu lagi, Dion akan melamar Jihan jadi istrinya. Diterima atau tidak itu belakangan yang penting Dion sudah berusaha.


Kini Rubby dan Jihan sudah ada di tempat sidang.


Jihan melihat kondisi Rubby yang babak belur, baru kali ini ia melihatnya seperti ini.


"Kamu kenapa, Mas?" tanya Jihan seraya menyentuh luka di sudut bibir Rubby.


"Aku tidak apa-apa, ini hanya luka kecil," jawab Rubby, ia menghalangi tangan Jihan yang ingin menyentuh lukanya.


Jihan merasa sangat khawatir, andai perceraian tidak terjadi, mungkin ia sudah memeluk tubuh yang selama lima tahun dengan setia menemaninya. Kini semuanya hancur karena keegoisannya sendiri.


"Ayo, Mas. Kita selesaikan urusan kita," ajak Jihan.


Rubby melihat tubuh Jihan yang perlahan masuk ke dalam ruang persidangan. Apa Jihan sudah bisa menerima kenyataan? Pikir Rubby. Kalau begitu ia merasa bersyukur bahwa Jihan tak lagi mempersulit keadaan.


Akhirnya Rubby pun masuk ke dalam.


Satu jam kemudian, sidang berjalan dengan lancar. Ketok palu sudah terjadi, Rubby dan Jihan resmi bercerai. Setelah perceraian itu terjadi, Jihan langsung pulang. Walau hatinya terasa sakit, ia mencoba berusaha untuk tegar.


Dion merangkul Jihan dan berjalan meninggalkan Rubby yang masih diam berdiri. Rubby melihat kepergian Jihan bersama Dion.


"Kamu pasti bahagia bersama Dion," kata Rubby sendiri.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2