Bukan Rahim Pengganti

Bukan Rahim Pengganti
Bab 93


__ADS_3

"Harusnya aku dapat menstruasi Minggu kemarin, kenapa sekarang belum dapet juga," ucap wanita yang tengah muntah-muntah itu, yang tak lain adalah Jihan.


"Jangan-jangan ..." Ia menutup mulutnya yang menganga dengan telapak tangannya. "Aku harus periksa dan memastikannya."


Sudah satu bulan ini, ia tak lagi menekuni dunianya di dunia modelnya. Modal nekad, ia pergi dari rumah dan membuka usaha sendiri. Ia membukan cafe kecil-kecilan. Dan memiliki dua karyawan. Satu laki-laki dan satunya lagi perempuan.


Masih tinggal di kota yang sama, ia hanya mencari suasana baru dalam hidupnya. Ia juga tahu Bayu sering datang ke rumahnya yang dulu, ia tahu lewat cctv yang tersambung dengan ponselnya.


Ia lebih memilih membiarkan Bayu, ia tidak ingin menjadi masalah dalam rumah tangganya. Jihan juga tidak tahu kalau Bayu sudah resmi bercerai dengan Alisia.


Kini ia bersiap-siap akan pergi ke rumah sakit. Ia akan memeriksakan dirinya, apa dugaannya itu benar bahwa ia tengah hamil?


"Mira, Anan. Saya pergi keluar sebentar," pamit Jihan pada kedua karyawannya. Kedua karyawannya pun mengangguk.


Dengan cemas dan hati yang tak karuan ia menyetir mobilnya sendiri. Jihan pergi ke spesialis kandungan seorang diri. Bagaimana kalau ia hamil? Hamil tanpa sosok suami yang menemaninya.


Mungkinkah ini karma baginya? Ia sendiri pun sampai menitikkan air matanya. Terus menghapus cairan bening yang keluar dari pelupuk matanya.


"Walau tanpa Papa, Mama akan mencintaimu, sayang." Ucapnya sembari mengelus perutnya, mesti ia sendiri belum yakin akan kehamilannya.


Akhirnya, ia pun sampai di rumah sakit. Rumah sakit bersalin. Ia masuk ke dalam sana dan mendaftar sesuai aturan di sana. Kini ia sedang menunggu antrian sambil memainkan ponselnya.


Dari kejauhan, ada yang melihatnya.


"Aku tidak salah lihat 'kan, itu betul Jihan."


Dion menajamkan pandangannya. Meski wanita itu melakukan penyamaran dengan menggunakan kacamata hitam serta selendang untuk menutup kepala dan wajahnya, Dion hapal betul wanita itu.


"Sedang apa dia di sana?" Dion begitu penasaran.


"Mas lihat siapa sih?" tanya Mawar.


"Mas lihat Jihan di sana," jawab Dion seraya menunjuk tempat duduk yang di duduki wanita tadi.


"Sedang apa dia di sana? Itu 'kan ruang Dokter kandungan, Mas," kata Mawar lagi. Dan kebetulan, ia pun akan memeriksakan dirinya yang sudah telat datang bulan.

__ADS_1


Tadinya Dion ingin menyapanya, tapi sayang, nama Jihan keburu dipanggil untuk masuk ke dalam sana.


"Apa mungkin Mbak Jihan hamil, Mas?"


Dion hanya mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban. Terakhir ia melihatnya ya pas di pesta pernikahannya, sudah satu bulan pula ia tak bertemu dengan temannya itu.


"Kalau pun Mbak Jihan hamil, berarti dia sudah menikah, Mas. Apa Mas tidak tahu kalau dia sudah menikah?" tanya Mawar dengan raut wajah yang bingung.


"Kita tunggu dia keluar, Mas juga penasaran dan takut salah orang." Sambil menunggu antrian, Dion dan Mawar duduk di kursi tunggu.


Sementara di dalam sana, Jihan tengah terbaring. Ia sedang melakukan USG dan hasilnya memang benar ia hamil, usia kandungannya menginjak tiga Minggu.


Meski tidak ada suami di sisinya, Jihan menerima kehadiran calon buah hatinya. Setidaknya ia tidak sendirian. Semenjak ia bercerai dengan Rubby, orang tuanya kecewa padanya bahkan kedua orang tuanya tak lagi peduli padanya. Tidak ada tempat berlindung untuknya.


Tak terasa cairan bening terjatuh begitu saja dari pelupuk matanya. Dokter pun melihatnya menangis, seperti memikul beban, apa jangan-jangan wanita ini hamil tanpa suaminya? Pikir dokter itu. Kebetulan sang dokter yang sibuk jadi tidak mengenali siapa pasiennya itu.


"Nyonya, Nyonya harus banyak istirahat dan jangan stres," ucap dokter. "Kalau bisa setiap bulan kontrol kandungan, biar bayi dan Ibunya juga sehat," sambung dokter lagi.


"Iya, Dok. Sebisa mungkin saya akan selalu happy. Ya sudah kalau begitu, saya permisi, Dok." Karena memang sudah selesai dengan pemeriksaannya, dokter pun mengizinkannya keluar.


"Jihan," panggil Dion seraya menarik tangannya.


Jihan pun menoleh karena ia hapal betul dengan suara itu.


"Di-dion," jawab Jihan dengan terbata, betapa terkejutnya ia bertemu dengannya di sini.


"Kamu hamil?" tanya Dion to the point.


"Mmm, aku ... Aku hanya melakukan USG biasa. Perutku sering keram jadi aku periksa," jawabnya bohong.


Dengan percayanya, Dion tak lagi mencurigai akan kedatangannya ke sini. Ia juga tahu kalau Jihan mempunyai masalah dengan perutnya.


"Mbak Jihan sakit?" timpal Mawar.


Jihan pun menoleh ke arah Mawar.

__ADS_1


"Hmm," jawab singkat dari Jihan. "Maaf ya, Dion. Aku ada urusan, aku harus pergi sekarang." Jihan pun langsung berlalu dari hadapan pasurti itu.


Niat hati, Dion ingin mencegahnya. Tapi nama Mawar di panggil oleh suster.


"Mas, giliranku." Mawar begitu antusias.


Mereka pun masuk ke dalam ruangan dokter.


"Selamat siang, Tuan, Nona," sapa dokter. "Silahkan duduk," imbuhnya lagi.


Setelah itu, pemeriksaan pun di mulai dari tes pack. Dan hasilnya pun garis dua, tidak begitu percaya, Dion meminta USG. Dan USG pun menyatakan memang benar, Mawar hamil dan usianya tiga Minggu.


"Selamat ya, Tuan. Kandungannya sudah masuk tiga minggu," kata dokter. "Sama, sama pasien yang barusan, dia juga usia kandungannya tiga Minggu," sambung dokter.


Dion mengerutkan alisnya, bukannya pasien yang baru keluar itu Jihan. Jadi wanita itu berbohong padanya. Setahunya, wanita itu tidak sedang dekat dengan siapa-siapa. Penasaran akan pasangannya, ia pun bertanya pada dokter.


"Kebetulan, Dok. Yang barusan keluar itu masih teman saya, hanya saja kami jarang bertemu. Kalau boleh tahu siapa nama ayah anak yang sedang di kandungnya?"


"Pasien tidak mengatakan siapa namanya, saya juga tidak menanyakan ayah dari calon anak itu. Melihat raut wajahnya saya tidak berani menanyakan akan hal itu, Tuan. Lagian, itu 'kan sangat privasi."


"Jadi, Mbak Jihan bukan sakit, Mas. Tapi hamil?" Mawar ikut tak percaya akan berita itu. Tapi ia percaya karena ia tahu dari dokternya langsung.


"Sepertinya iya," jawab Dion.


"Lalu siapa Ayah dari anak yang di kandungnya?" ucap Mawar sendiri dan sangat pelan, tapi cukup terdengar di pendengaran suaminya.


Dion dan Mawar keluar dari ruangan itu, Mawar menenteng hasil USG-nya. Calon ibu muda itu sangat bahagia, apa lagi ketika ia melihat anak Khanza yang begitu tampan. Ia jadi ingin memiliki anak laki-laki.


Sementara Dion, pria itu terus memikirkan Jihan. Wanita itu hamil tanpa suami, apa yang sudah terjadi padanya? Ia hapal betul seperti apa Jihan itu, dia tidak mungkin melakukan perzinahan, apa jangan-jangan ia korban pemerkosaan? duga Dion.


"Mas, kamu kenapa?" tanya Mawar ketika ia melihat suaminya diam saja. "Mas gak seneng dengan kehamilanku?" Seketika wajahnya cemberut.


"Ish ... Ngomong apa kamu ini? Tentu Mas bahagia. Mas hanya memikirkan Jihan, siapa ayah dari calon anaknya?"


"Bagaimana pun, dia teman Mas dari dulu," sambungnya lagi.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2