Bukan Rahim Pengganti

Bukan Rahim Pengganti
Bab 88


__ADS_3

Lelah tapi bahagia, itulah yang dirasakan pasutri baru itu. Sedari tadi mereka terus mengembangkan sebuah senyuman kepada tamu yang ikut memberikan ucapan selamat kepada mereka.


Ada waktu senggang sedikit, Dion pergunakan itu untuk iseng-iseng berhadiah pada istrinya.


"Mas ... Mas nakal!" Tangan Dion yang tak henti-hentinya menggerayangi punggung sampai pinggang Mawar, dan itu membuat gadis yang masih ting-ting itu merasa geli sendiri.


"Mas gak sabar," bisik Dion di telinga istrinya. Mawar semakin mendesir dibuatnya.


Beberapa jam kemudian, tamu mulai undur diri satu persatu. Kini hanya menyisakan keluarga inti saja, sebelum pergi sang nenek memeluk cucunya begitu erat, seakan berpisah untuk selamanya.


"Nenek jangan sedih, aku akan sering berkunjung," kata Mawar, gadis itu mengusap lembut pipi keriput itu sembari menciumnya.


Dion ikut menitikkan air matanya kala melihat sang nenek, ia tak tega memisahkan nenek dari cucunya. Hingga ia berpikir akan mengajak nenek untuk tinggal bersamanya kelak, namun tidak untuk sekarang. Ia butuh waktu berdua bersama sang istri.


"Nenek jangan khawatir pada Mawar, aku akan menjaganya sepenuh jiwa dan ragaku!" ucap Dion mantap.


Nenek pun tersenyum mendengarnya, semoga mereka hidup bahagia sampai akhir hayat, doa nenek pada sang pengantin.


"Baik-baik ya, Neng. Patuh sama suami," pesan nenek.


"Iya, Nek." Ucap Mawar sembari menoleh ke arah suaminya. "Aku akan patuh jika suamiku menyayangiku dan tidak menyakitiku!"


"Ya sudah, Nenek sama yang lain pulang dulu." Nenek serta keluarga yang lain pun undur diri dari pesta yang sudah usai itu.


Begitu juga dengan keluarga Dion, mereka langsung saja pamit. Untuk Rubby dan Khanza, mereka tak ikut pulang ke rumah. Rubby putuskan untuk bermalam di hotel ini juga, calon ayah itu sangat khawatir akan istrinya. Sudah cukup larut jika pulang ke rumah.


"Yon, kamu perlu ini." Rubby memberikan sesuatu pada Dion.


"Itu apa, Mas?" tanya Mawar, wanita itu melihat Rubby memberikan sesuatu padanya.


"Obat pegel," jawab Dion.


Karena memang polos, Mawar percaya saja akan hal itu. Karena semua pada pulang, bahkan pihak WO sudah mulai merapihkan semuanya, Dion dan Mawar pun menuju kamar mereka. Dion sudah menyiapkan semuanya untuk malam pertama mereka.


Mawar melihat kamar yang sudah dihias sedemikian rupa menatapnya dengan takjub. Wanita itu tidak bisa berkata selain tersenyum bahagia, seperti mimpi. Yang biasanya ia melihat seperti ini hanya dalam film-film. Tapi sekarang ia merasakannya sendiri, dan begini rasanya. Sungguh-sungguh bahagia.


Sedangkan Dion, pria itu langsung menutup pintu. Tak lama, ia pun menyusul Mawar masuk lebih dalam ke dalam sana. Pria itu memeluknya dari belakang, mencium pundak istrinya.

__ADS_1


Mawar pun langsung menoleh dan membalikkan tubuhnya, hingga mereka saling behadapan, kening beradu, tatapan terkunci. Dan hidung saling menempel saking mancungnya.


"Kamu bahagia menjadi istriku?"


Mawar menggelengkan kepalanya sampai Dion dibuat melongo. Kenapa wanita itu tak bahagia? Apa yang membuatnya tidak bahagia.


"Belum bahagia karena aku belum jadi milikmu seutuhnya," bisik Mawar.


Dion tersenyum setelah Mawar mengatakan itu padanya. Seperti mendapat lampu jihau, Dion langsung menggendong istrinya ala bridel style.


"Mas, turunin."


Perlahan, pria itu merebahkan tubuh mungil itu di kasur berukurang king size. Kelopak bunga Mawar bertebaran di atas sana. Seperti namanya, bunga Mawar akan selalu tercium wangi. Begitu pun dengan gadis itu, Dion menyukai aromanya.


Sedikit demi sedikit, Dion menurunkan res seleting gaun bagian belakang yang dipakai Mawar. Bibir saling bertautan tubuh saling menempel, membuat Dion dibakar api gairah.


Perjaka tua itu kini melepas masa lajangnya, dan sebentar lagi ia bukan perjaka lagi. Akan mencoba menikmati indahnya surga dunia. Mesti sering pacaran dan beberapa kali ganti pasangan, tak membuat Dion berani melakukan dan memberikan perjakanya pada wanita lain.


Gadis beruntung itu adalah Mawar yang kini sudah menjadi istri sahnya.


"Mas ...," lenguh Mawar ketika Dion melepaskan tautannya dan berpindah ke leher jenjang istrinya.


Karena res seleting gaun itu sudah terbuka, Dion langsung melepasnya. Hingga terlihat bungkusan yang menutup gunung indah istrinya. Ketika Dion akan membenamkan wajahnya di dua gundukan itu, dengan seketika, Mawar menghentikannya.


"Kenapa?" tanya Dion.


"Aku belum mandi, Mas. Boleh aku membersihkan tubuhku lebih dulu."


Dion menghembuskan napasnya berat, harus ditunda karena ia juga menyadari tubuhnya pun begitu lengket karena keringat.


"Kita mandi bareng kalau begitu." Dion langsung beranjak dari tempatnya dan membantu Mawar berdiri, ia menelan salivanya dengan kasar, seperti orang kehausan karena merasa ada di gurun pasir.


Tanpa permisi, Dion mengusap buah dada wanita itu dengan sangat lembut. Jantung Mawar sudah hampir mau copot, gadis itu begitu bergetar.


"Rilex, sayang," bisik Dion. Dion pun menuntun Mawar ke arah kamar mandi.


"Aku mandi sendiri saja ya, Mas?"

__ADS_1


"Kenapa?"


"Malu."


"Ish ... Kenapa mesti malu, kita 'kan sudah suami istri sekarang. Katanya mau patuh pada suami, membahagiakan suami itu pahalanya besar."


"Mandi bareng, Mas sudah bahagia memangnya?"


Dion mengangguk, lalu ia tak ingin lagi membahas yang lain. Yang ia inginkan saat itu memcumbu istrinya.


Dion membuka sisa pakain yang menempel di tubuh Mawar. Gadis itu langsung menghalangi area terlarangnya dengan kedua tangannya satu-satu. Satu di bawah, satu lagi di atas.


Dion terkekeh melihatnya, pria itu pun meraih tangan kedua Mawar, dan mengalungkannya di lehernya.


"Mas curang."


"Curang apanya?" tanyanya sembari menaikturunkan kedua alisnya.


"Aku sudah melepasnya, kenapa Mas belum?"


"Bantu Mas melepas semuanya."


Awalnya ragu dan takut, karena dituntun oleh Dion, Mawar pun membantu membuka pakain yang masih melekat di tubuh suaminya, hingga keduanya sama-sama polos. Pria menggendong tubuh istrinya yang polos itu ke dalam bath up, ia pun ikut masuk ke dalam sana.


Mandi bersama, Dion tidak tinggal diam. Pria itu menjelahkan tangannya le seluruh tubuh istrinya serta menciumnya tak terlewat sedikit pun. Posisi Mawar berada di depan suaminya. Dion bermain dengan mainan barunya, yakni gunung kembar dan hutan rimba.


Sedangkan Mawar, tak dipungkiri ia pun menikmatinya. Ada rasa aneh dalam tubuhnya, pikiran dan gerak tubuhnya tidak sinkron. Ucapannya ingin menolak, tapi tubuhnya berkata lain. Seolah meminta lebih.


Tahu istrinya ada alergi udara atau dingin, Dion menyudahi pemanasan dalam bath up. Dia akan melancarkan aksinya di atas kasur, memberikan kehangatan pada istrinya.


Pria itu membopong tubuh itu kembali, dengan tautan yang tak ia lepaskan sejak bibir itu saling menempel. Dan sepertinya, Mawar sudah mulai bisa bermain dengan bibir itu.


Mawar terkejut, ketika melihat milik suaminya sudah berdiri tegak. Sedangkan tadi posisi Dion berada di belakang, ia tahu sajak tadi. Tapi bari kali ini ia melihatnya.


"Besar sakali, apa itu cukup," batin Mawar. Sektika, ada rasa takut yang menjalar.


Dion langsung saja menindihnya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2