Bukan Rahim Pengganti

Bukan Rahim Pengganti
Bab 44


__ADS_3

Disaat Laras teriak-teriak, Rubby santai saja menyikapinya. Pria itu sudah biasa mendapati sang ibu yang suka seperti itu.


Kesal karena tidak ada respon, Laras kembali memanggilnya namun kali ini Khanza juga ikut memanggil suaminya.


"Rubby ..."


"Mas ..."


Panggilan itu di dengar oleh Rubby, karena Khanza juga ikut memanggilnya, akhirnya Rubby menghampiri kedua wanita itu yang sudah memanggilnya secara bersamaan.


"Apa, Ma?" tanya Rubby yang baru saja tiba di hadapan Laras juga Khanza.


"Lihat tv!" titah Laras. Tapi sayang, tv keburu iklan.


"Lihat iklan, untuk apa lihat iklan?" tanya Rubby.


"Bukan disuruh lihat iklan, Mas ... Ada berita Mbak Jihan tadi di tv," seru Khanza.


"Itu sudah biasa, Khanza. Jangan kaget kalau ada berita di tv tentang dirinya," jawab Rubby.


"Jihan masuk rumah sakit, Rubby!" kesal Laras pada Rubby yang tak kunjung mengerti.


"Jangan becanda, Ma! Jihan baik-baik saja. Bahkan semalam aku masih menemaninya tidur," kata Rubby , namun wajahnya terlihat panik.


"Mama benar, Mas. Aku lihat sendiri Mbak Jihan di dorong pake branker di rumah sakit. Sepertinya Mbak Jihan tidak sadarkan diri."


Rubby bergegas ke kamar setelah mendengar penuturan Khanza. Ia harus ke rumah sakit sekarang juga, mungkin Jihan butuh dirinya.


Menit berikutanya, Rubby kembali. Ia sudah siap berangkat.


"By, Mama ikut!"


"Aku juga, Mas," kata Khanza.


Akhirnya mereka bertiga pergi ke rumah sakit, di luar rumah ada papanya Rubby. Pria itu terheran-heran, mau pada kemana mereka sudah kompak begitu? Pikir Anggoro.


Laras pun tidak lihat kiri kanan, jadi ia tak melihat keberadaan suaminya yang sedang menyiram tanaman. Rubby dan yang lainnya sudah masuk mobil. Rubby siap melajukan mobilnya.


"Kamu tahu memangnya, Jihan di bawa ke rumah sakit mana?" tanya sang mama pada putranya yang kini sedang menjadi sopirnya.


"Kita ke rumah sakit terdekat dulu saja, Ma," jawab Rubby tanpa menoleh ke arah belakang yang di mana ada Laras di sana.


Butuh empat puluh lima menit sampai di rumah sakit, akhirnya mereka pun sampai di sana. Rubby lebih turun dari mobil, ia langsung ke meja receptionis menanyakan apa ada nama Jihan sebagai pasien di sana?

__ADS_1


Mendengar jawaban suster yang bertugas di sana, Rubby pun akhirnya tahu di mana Jihan berada. Rubby meraih tangan Khanza agar istrinya itu ikut dengannya. Tak lupa Laras pun mengekor dari arah belakang.


Akhirnya Rubby pun sampai, ia melihat Dion di sana. Ada Santi juga sang asisten rumah tangganya. Dion sedang berbincang dengan dokter, karena baru saja dokter keluar dari ruangan UGD.


"Apa Anda suaminya?" tanya dokter pada Dion.


Belum Dion menjawab, Rubby lebih dulu menjawabnya.


"Saya suaminya, Dok," kata Rubby, pria itu menghampiri dokter dan Dion.


Dokter pun beralih menghadapi Rubby.


"Istri Anda operdosis, Nyonya Jihan terlalu banyak meminum obat penenang. Untung masih bisa ditangani, tapi pasien masih belum sadar," jelas dokter. Setelah mengatakan itu dokter pun pergi.


Dion menatap keponakannya itu dengan kesal, apa lagi ia melihat Rubby yang menggeggam tangan seorang gadis.


Sedangkan Rubby berpikir, kenapa bisa Dion yang membawa Jihan ke rumah sakit. Banyak pertanyaan Rubby pada omnya itu, dari semalam Dion juga menghubunginya. Bahkan tidak jelas, Dion menghubunginya hanya sekedar ingin tahu sedang apa dirinya? Apa jangan-jangan, Dion ingin tahu kabarnya Jihan? Pikir Rubby


Kemudian dua pria itu saling tatap, tatapan Rubby menuntut penjelasan. Sedangkan Dion, ia malah ingin menghajar keponakannya itu. Bisa-bisanya Rubby berselingkuh sampai Jihan prustrasi bahkan sampai mengkonsumsi obat penenang secara berlebihan.


Sepertinya Dion mengajak perang dingin pada keponakannya itu, sampai sekarang Dion masih enggan untuk menyapa Rubby.


Laras mulai berucap pada Dion.


"Yon, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu bisa ada di sini juga?" tanya Laras.


Dion yang ditanya malah diam saja, ia juga merasa tidak enak sama kakak iparnya, takut Dion terciduk karena ia memang sengaja pagi-pagi sudah ada di depan rumah Rubby.


Apa lagi alasannya hanya karena ingin melihat Jihan. Karena Dion tahu, Jihan masih istri Rubby. Tentu ia menyembunyikan perasaannya pada istri keponakannya itu.


Melihat gelagat Dion, Laras jadi curiga. Apa jangan-jangan wanita yang dicintai Dion itu Jihan? Berarti kalau begitu, Jihan penyebabnya Kenapa Dion sampai batal nikah? Laras harus mencaritahu tentang ini.


Karena ingin melihat Jihan, Rubby pun masuk ke dalam ruangan Jihan. Tadinya Rubby mengajak Khanza untuk masuk, tapi Laras tidak mengizinkan.


"Kamu saja sendiri ke sana, Mama takut Jihan semakin sakit jika melihat Khanza," jelas Laras.


Akhirnya, Rubby pun masuk ke ruangan istrinya. Pria itu datang seorang diri.


Dilihatnya, Jihan masih memejamkan matanya. Wajahnya terlihat sangat pucat. Rubby menghampiri, ada kursi di samping branker, ia pun mendudukkan tubuhnya di sana.


"Maafkan Mas, Jihan," lirih Rubby.


Menyesal pun percuma, itu tidak akan mengembalikan keadaan seperti semula. Jarum yang menempel di tangan Jihan, dan selang infus yang menggantung, Rubby melihat itu semua.

__ADS_1


"Jihan," panggil Rubby. "Cepatlah sadar," sambungnya lagi.


***


Di luar ruangan, Laras dan Dion juga Khanza tetap berada di posisinya.


Sesekali Khanza menyentuh kepalanya, tiba-tiba wanita itu merasakan pusing. Apa lagi mencium aroma rumah sakit yang bau obat sangat menyengat di penciuman Khanza.


Sementara Laras, ia memperhatikan Khanza dari kejauhan. Karena posisi Laras tidak terlalu jauh dengan keberadaan Khanza. Laras berniat mengajak Dion untuk bicara.


Tapi itu teralihkan karena melihat Khanza yang mulai oleng. Seketika tubuh Khanza ambruk di tempat. Panik, Laras langsung menghampiri menantunya itu.


"Za ... Bangun, Za." Laras menepuk-nepuk pipi Khanza.


"Dion, sini? Kenapa kamu diam saja! Bantu, Mbak!" Laras memanggil Dion dengan nada kesal, kenapa adik iparnya itu tidak peka? Gini-gini juga Khanza istri Rubby, berarti Khanza keponakannya juga.


Dion mendengus kesal, belum apa-apa selingkuhan keponakannya itu sudah merepotkannya. Dion berjongkok, lalu membopong tubuh kecil itu.


"Kenapa tidak panggil Rubby saja sih!" omel Dion. "Biar aku yang menjaga Jihan," keluh Dion lagi. "Merepotkan saja!"


Walau begitu, Dion tetap membantu Khanza. Khanza langsung di tangani oleh dokter setelah Dion membawanya ke IGD.


"Yon, kamu tunggu di sini dulu. Mbak mau panggil Rubby." Laras langsung pergi tanpa menungunggu jawaban dari Dion.


***


Jihan mengerjepkan matanya, wanitu itu mulai sadar. Ia memindai ruangan yang terasa asing baginya. Jihan niat beranjak, namun keburu dicegah oleh Rubby.


"Kamu istirahat saja, jangan banyak bergerak," seru Rubby.


"Aku di mana, Mas?"


"Kamu di rumah sakit."


Tak lama kemudian, Laras datang ke ruangan Jihan. Ia melihat Jihan sudah sadar.


"Ji, kamu sudah sadar?" tanya Laras.


"Mama di sini juga?" tanya Jihan. Dianggukki oleh Laras.


"By, Khanza pingsan." Tanpa sadar, Laras memberitahukan itu di hadapan menantunya.


Rubby yang panik langsung beranjak dan pergi meninggalkan Jihan, Laras pun ikut menyusul.

__ADS_1


Sementara Jihan ...


Bersambung.


__ADS_2