
Kini mereka berempat sarapan barsama. Zira tak henti-hentinya melirik ke arah anaknya, ada haru membuatnya menitikkan air matanya. Tak disangka, ia dipertemukan kembali dengan anaknya.
Disaat Zira menitikkan air matanya, Hazel melihatnya. Lalu, pria itu menggenggam tangan istrinya. Ia pun melihat ke arah di mana mata Zira tertuju. Mereka melihat Khanza yang sedang makan, tentu Khanza dan Rubby tidak tahu kalau mereka tengah diperhatikan oleh kedua orang tuanya.
Tak lama, Zira dan Hazel pun melanjutkan sarapannya sampai selesai.
"Rasa masakannya sama persis dengan masakan Khanza," ucap Rubby seusai makan.
"Oh, ya?" jawab Hazel.
"Khanza pasti mewarisi itu dari Mamanya, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya," kata Rubby lagi.
Zira tersenyum, walau mereka terpisah tetap saja tak meninggalkan kesamaannya, yang sering dilakukan seorang ibu, pasti sering juga dilakukan anaknya juga. Zira jadi ingin tahu, dengan siapa Khanza tinggal selama ini? Tentu ia akan berterimakasih sekali karena sudah merawat Khanza hingga sebesar ini.
"Za, pertemukan Mama dengan orang yang sudah membesarkanmu," pinta Zira.
"Tentu, Ma. Aku akan kenalkan Mama dengan mereka, mereka menyayangiku dan merawatku dengan baik," jawab Khanza. Tapi pada kenyataannya, istri dari Seno kurang memperlakukan Khanza dengan baik. Khanza sengaja tidak mengatakan itu agar ibunya tidak merasa bersalah karena tak bisa merawatnya semasa kecilnya.
Karena makan sudah selesai, mereka pun berpisah. Khanza dan Rubby lebih dulu meninggalkan ruang makan. Mereka menuju taman belakang, di mana ada bunga-bunga bermekaran di sana. Selama Khanza tinggal bersama orang tuanya, Khanza menghabiskan waktunya di sana. Ia merawat bunga-bunga itu hingga tanaman di sana terlihat lebih indah dan bagus.
Rubby baru tahu kalau istrinya itu menyukai tanaman bunga, karena selama mereka tinggal bersama rumah tangga mereka tak seperti rumah tangga yang lainnya. Rubby terpaksa harus tinggal bersama orang tuanya, tentu itu pasti membuat Khanza tidak sebebas tinggal di rumah sendiri.
Rubby melihat senyum istrinya, wanita itu nampak bahagia.
"Mas, sini?" ajak Khanza seraya melambaikan tangannya ke arah suaminya. Dan Rubby pun menghampiri istrinya lebih dekat.
"Ini semua kamu yang menanamnya?" tanya Rubby. Rubby juga ikut menyentuh dan mencium bunga-bunga itu.
__ADS_1
"Bukan, Mas. Aku hanya ikut merawatnya, ini semua Mama yang menanamnya," jawab Khanza. "Aku tinggal di sini baru dua Minggu, Mas. Menanam bunga tak semudah menanam perasaan, perasaan bisa dengan mudah tumbuh." Ucap Khanza sembari tersenyum dan menyentuh tangan suaminya yang sedang menyentuh bunga.
"Ceritanya kamu sindir, Mas?" Rubby merasa ucapan Khanza mengarah padanya, karena perasaan Rubby tumbuh dengan cepat kepada wanita yang kini sudah menjadi istrinya.
"Memangnya, Mas merasa?" tanya Khanza.
"Iya, karena Mas mencintaimu dengan perasaan. Dan perasaan itu tumbuh dengan sendirinya," jawab Rubby. "Za ...?" Rubby meraih tangan istrinya lalu mengecupnya.
"Iya, Mas," jawab Khanza.
"Mas mau ajak kamu pindah dari sini, kamu tidak keberatan 'kan?" Rubby sengaja bertanya terlebih dulu, karena ia bisa mengerti diposisi istrinya yang baru bertemu dengan kedua orang tuanya, tentu Khanza pasti masih ingin menghabiskan waktu bersama orang tuanya.
"Aku ikut kemana pun kamu pergi, Mas. Sebagai istri yang baik, aku akan patuh dengan keputusanmu." Khanza memeluk tubuh suaminya.
Rubby semakin mencintai istrinya, ia tidak salah memilih Khanza sebagai istrinya. Usianya yang masih terbilang remaja, tapi ia mampu bersikap dewasa. Umur memang tidak menjadi jaminan untuk menjadi dewasa. Khanza begitu jauh dengan istri pertamanya Rubby.
"Terimakasih sudah menjadi istri yang patuh pada suami." Rubby tak kalah erat memeluk istrinya.
Rubby mengusap pipi Khanza yang kini sudah mulai cabi. Mengusapnya dengan lembut, lalu mencium pipi itu dengan gemas. Aksi mereka tak luput dari pandangan seseorang.
Zira melihat itu dari kejauhan, bahkan wanita itu kembali menumpahkan air matanya. Baru juga tinggal bersama, kini ia harus berpisah lagi dengan anaknya. Meski tak rela, ia tetap harus merelakannya. Anaknya itu sudah menikah, tentu suaminya pasti akan membawanya keluar dari rumah yang kini dihuninya.
Zira dikejutkan dengan kedatangan suaminya yang tiba-tiba dari arah belakang, Zira pun lalu menoleh ke arah suaminya. Hazel melihat pipi Zira yang basah.
"Kamu kenapa menangis, Ma?" tanya Hazel, Hazel menghapus air mata Zira, ia tak ingin lagi melihat istrinya menangis. Dulu, mungkin Hazel tidak peduli dengan tangisan istrinya. Tapi sekarang, Hazel tidak aka membiarkan itu terjadi kembali. Penderitaan Zira sudah cukup.
"Khanza akan pergi, Mama kehilangan dia lagi." Zira terus melihat ke arah Khanza dan Rubby yang terlihat sedang bersendau gurau.
__ADS_1
Haruskah Hazel melakukan sesuatu agar anaknya tidak pergi dari rumah ini? Hazel akan melakukan apa pun itu demi istrinya.
"Apa Papa harus melarang mereka untuk tidak keluar dari rumah ini, Ma?" Hazel minta pendapat dari istrinya.
Zira pun menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin mencampuri rumah tangga anaknya. Ia ingin melihat anaknya bahagia. Seorang ibu akan melakukan apa pun demi kebahagiaan anaknya, seorang ibu rela tersiksa dengan rindu karena harus berjauhan dengan anaknya. Seperti apa yang akan dilakukan Zira kepada putri semata wayangnya.
"Kalau begitu, Mama jangan menangis," kata Hazel.
Zira pun akhirnya terpaksa menunjukan senyumnya kepada suaminya. Meski tidak ikhlas, tapi ia harus melakukannya. Zira pun memilih untuk pergi dari sana, ia membiarkan Khanza menikmati masanya bersama suaminya. Hazel pun mengikuti kemana istrinya pergi.
Sedangkan Khanza dan Rubby, mereka tidak tahu akan kehadiran Zira tadi dan wanita itu sampai menangis karena mereka berdua.
"Kapan rencana Mas mengajakku pindah?" tanya Khanza.
"Secepatnya, Mas mau cari rumah siap huni. Mas juga akan mencarinya sekitar sini biar kamu tetap bisa bertemu dengan Mamamu setiap hari."
Khanza tersenyum mendengarnya, suaminya itu pengertian sekali. Tanpa diminta, Rubby sudah tahu apa yang harus dilakukannya. Ia juga tidak ingin memisahkan Khanza dengan ibunya. Rubby tahu bagaimana perasaan istrinya.
"Terimakasih, Mas," ucap Khanza.
Karena matahari mulai naik ke permukaan bumi, Khanza muerasa matahari itu mulai menyinari tubuhnya. Ia sedikit kepanasan, akhirnya Khanza mengajak suaminya masuk ke dalam rumah. Ia juga ingat kalau suaminya belum ganti baju dari semalam.
"Mas, aku pinjamkan baju Papa untukmu. Aku rasa ukuranmu sama dengan Papa," kata Khanza setibanya di dalam.
"Jangan bilang kalau umurnya juga sama dengan Papa!" kata Rubby. Rubby sedikit sensitif jika istrinya itu mulai membandingkannya dengan pria matang sepertinya.
"Ish ... Pikiranmu itu selalu mengarah kena umur, umurmu 'kan memang tidak jauh dari Papa, Mas. Jangan menolak tua," cibir Khanza. "Sudah ah, aku ke kamar Mama dulu, mau ambil baju untukmu." Khanza pun pergi menuju kamar mamanya. Setibanya di sana Khanza mendengar pembicaraan kedua orang tuanya.
__ADS_1
_
Bersambung.