
Hari-hari Jihan bersama Bayu, tepatnya setelah kepergian Alisia. Hidup mereka menjadi tentram dan damai, keceriaan dan kebahagiaan menemani hidup mereka. Hingga tak terasa waktu begitu cepat berlalu, kandungan Jihan pun sudah menginjak delapan bulan dua minggu. Hanya tinggal menunggu beberapa hari lagi menuju persalinan.
"Mas, kmau sudah siap?" tanya Jihan yang melihat suaminya sudah terlihat rapi dengan setelan jasnya. Ia berjalan menghampiri sang suami yang tengah berada di depan cermin, dengan perutnya yang sudah membesar membuatnya sedikit susah untuk bergerak?
Bayu lebih dulu menghampirinya dan langsung mencium perut buncit itu.
"Papa berangkat kerja dulu ya, sayang. Jaga Mama, jangan membuatnya susah ya, anteng-anteng di dalam perut." Beberapa kali ia membenamkan bibirnya di sana.
"Sayang, Mas berangkat kerja dulu. Kalau ada apa-apa, kamu langsung hubungi ya?"
Jihan mengangguk, lalu mereka pun berjalan ke depan rumah, sang istri meraih tangan suaminya. Mencium punggung tangannya.
"Mas hati-hati ya di sana," ucap Jihan setelah melepaskan tangannya.
Bayu mencium kening sang istri, dan ia pun berlalu menuju kantor. Jihan masuk kembali ke dalam rumah, ia melakukan senam hamil di rumah dengan cara mengikuti yang ia putar melalui telvisi.
Sedangkan Bayu, pria itu selalu ceria. Merasakan kebahagiaan yang tiada tara. Ia pun sampai di kantor, seharunya ia memiliki jabatan penting di kantor cabang Bandung. Namun, karena sang istri tengah hamil, ia menolak untuk bertugas di sana.
Ia tak ingin memisahkan Jihan dengan orang tuanya, mungkin jika Jihan sudah melahirkan, Bayu akan mengelola perusahaan yang ditugaskan Rubby padanya. Sang bos sudah percaya akan kemampuan karyawannya itu. Berkat kegigihan dan kejujuran Bayu, ia sampai dititik sukses.
"Bayu, jika Jihan sudah melahirkan nanti saya harap kamu bisa menerima tugas dariku," kata Rubby setibanya Bayu di ruangannya.
"Iya, Tuan. Akan saya laksanakan," jawab Bayu dengan mantap. Ia juga harus bekerja lebih ektra agar sang istri tidak ikut bekerja. Meski Jihan hanya mengelola cafe, tapi ia tidak ingin membuat istrinya melakukan pekerjaan. Biarkan karyawannya yang mengelola, dan sang istri tidak perlu ikut berkecimpung.
Rubby terpaksa harus mondar-mandir antara Jakarta-Bandung. Ia tak mudah mempercayai orang, sedangkan Dion. Pria itu memilih membuka usaha sendiri, sempat melarang namun pria itu tetap keras kepala. Akhirnya, sang kaka memberinya modal untuk usahanya itu.
Hidup bahagia bersama keluarganya masing-masing.
***
"Ma, kenapa ya, akhir-akhir ini. Putra sering rewel? Padahal gak kenapa-kenapa, dia gak mau lepas dari gendonganku, Ma," curhat Khanza pada sang mama.
"Kamu sudah periksa ke Dokter?" tanya Zira.
__ADS_1
"Sudah, Ma. Kata Dokter tidak ada masalah, biasanya Putra antengnya sama Mas Rubby. Tapi akhir-akhir ini gak mau sama dia, yang ada tambah rewel."
"Entah mitos atau apa, Mama juga kurang tahu itu. Kata orang tua jaman dulu kalau anak seusia Putra rewel tanpa gejala apa-apa, biasanya akan mempunyai adik," celetuk sang mama.
"Masa sih, Ma. Aku kan ikut KB, mana mungkin hamil lagi," bantah Khanza.
"Mungkin lagi manja saja, Za."
"Semoga saja, Ma. Aku belum siap kalau hamil lagi. Putra masih kecil, usianya saja baru tujuh bulan," jawab Khanza.
"Mau tidak mau kalau sudah kehendak Tuhan mau bagaimana lagi? Anak itu rezeki, Khanza. Kamu tidak bisa memilih." Sang mama mencoba menasehati putri satu-satunya itu. "Tapi Mama seneng kalau kamu hamil lagi, biar Putra Mama yang rawat," sambungnya kembali.
"Ah, Mama ... Mas Rubby bisa ngamuk kalau Putra tinggal sama Mama."
***
Sementara di rumah Dion.
Karena perutnya yang sudah besar, ia sudah tak bisa bepergian jauh.
"Huh." Mawar tarik napas, mencoba menenangkan perasaannya yang mulai berpikir, 'apa ini rasanya mau melahirkan?'
Tak lama kemudian, rasa sakit itu mengilang. "Kontraksi palsu lagi ini," katanya sendiri sembari berjalan ke depan rumah. Merasa jenuh, ia pun menyirami tanaman bunga yang ia tanam sendiri.
"Duh, kok sakitnya malah sering terjadi sih." Mawar terus mengusap-usap perutnya.
Mendengar suara deruman mobil, ia pun menoleh dan meletakan selang yang ia pegang. Melihat siapa yang datang.
"Tante," ucap Mawar.
"Sayang, kamu sedang apa?" tanya Laras. Sampai sekarang pun, Mawar memanggilnya dengan sebutan tante, bukan mbak seperti suaminya. Inginnya Laras, Mawar itu memanggilnya mama bukan tante. Tapi, Mawar merasa canggung.
"Kok, tambah sakit ya," kata Mawar.
__ADS_1
"Apanya yang sakit, sayang?" tanya Laras, ibu paruh baya itu lebih cepat menghampiri Mawar.
"Kontraksi palsu lagi, Tante. Tapi ini lebih sering." Mawar terus meringis.
Laras melihat ke arah belakang bagian bokong wanita itu, terlihat nampak basah.
"Sepertinya kamu mau melahirkan, sebaiknya kita ke Dokter sekarang. Tante gak mau terjadi sesuatu nantinya, kita pergi sekarang," ajak Laras.
"Tapi-."
"Sudah ... Tidak ada tapi-tapian, kita berangkat!" Karena panik, Laras sampai tidak membawa perlengkapan untuk Mawar. Dan mereka pun segera berangkat, Mawar dituntun oleh Laras masuk ke dalam mobil dibantu pak supir.
Di dalam mobil, Mawar terus meringis kesakitan. Sedangkan Laras, ia terus mencoba menghubungi Dion. Tersambung, namun tak kunjung diangkat.
"Kemana sih anak itu?" gerutu Laras yang kesal pada adik iparnya itu. "Istri mau lahiran juga malah susah dihubungin."
"Tante jangan marah sama Mas Dion, tadi pagi dia sempat tidak akan berangkat, Mas Dion juga mengkhawatirkan Mawar. Tapi aku sendiri yang mengatakan jangan terlalu mengkhawatirkanku."
Laras hanya bisa menghela napas dengan panjang, keras kepalanya Mawar sampai Dion tidak bisa membantah perkataannya.
"Pak, tolong cepat sedikit," kata Laras pada pak supir. Ia begitu khawatir melihat Mawar yang terus mengeluarkan keringat, ia tahu bahwa Mawar tengah merasakan sakit. Gadis itu cukup kuat, pikirnya.
Sampailah mereka di rumah sakit, sesampainya di sana, Laras pun melihat keberadaan Jihan yang tengah terduduk di kursi roda.
"Apa dia juga mau melahirkan?" tanyanya sendiri.
Karena memang usia kandungan mereka sama, jadi tak heran bagi Laras. Mawar pun di bawa masuk ke dalam ruang persalinan. Laras kembali menghubungi Dion, akhirnya ...
"Kamu ke rumah sakit sekarang, Mawar mau lahiran." Tanpa menunggu jawaban, Laras langsung menutup sambungan itu karena ia ingin menemani Mawar di ruangan sana.
Sementara Jihan, ia pun dilarikan ke rumah sakit setelah melakukan senam hamil tadi di rumahnya. Tiba-tiba perutnya merasa keram, dengan cepat ia mengubungi suaminya. Hingga sampailah mereka di rumah sakit.
Bersambung
__ADS_1