
Tubuh Khanza melemas, entah apa yang dirasakannya saat ini. Gadis polos itu seakan ketagihan dengan rasa yang tadi.
Kini, ia mulai berani. Khanza mulai memimpin, gadis itu mulai menyentuh tubuh suaminya walau dibantu oleh Rubby. Rubby menarik tubuh Khanza agar posisi gadis itu berada di atasnya. Jubah masih belum terlepas sempurna, hanya bagian depan yang sudah terlihat.
Rubby sedikit meremas bukit itu dengan kedua tangannya. Khanza yang malu-malu tapi mau, matanya merem melek merasakan itu. Khanza membantu melepas kaos oblong yang dipakai suaminya.
"Buat aku lebih mencintaimu, Khanza." Rubby menarik tubuh istrinya agar dada mereka saling menempel mencari kehangatan. Disaat tubuh itu saling menempel, Rubby melepas jubah handuk itu hingga Khanza dalam keadaan benar-benar polos.
Gadis itu meraih selimut untuk menutup sebagian tubuhnya. Tentu ia sedikit malu, tapi sayang Rubby tak membiarkan tubuh itu tertutup. Hasrat yang ia tahan kini sudah tidak dapat lagi dibendung.
Sejenak, ia merubahkan posisi Khanza. Rubby membuka celananya sendiri, sedangkan Khanza, ia menutup matanya karena belum berani melihat kepemilikan suaminya. Khanza masih menutup matanya, namun Rubby menarik tangan Khanza untuk menyentuh bagian area terlarangnya.
Deg
Jantung Khanza benar-benar berdebar ketika Rubby berhasil membuat tangan Khanza menggenggam miliknya.
"Alamak besar sekali. Apa itu muat?" Otak Khanza mulai menerawang jauh, belum apa-apa ia sudah keringatan, dengan matanya yang masih terpejam Khanza mulai memainkan benda suaminya tapi masih Rubby yang memberi arahan. Menaikturunkan tangan Khanza secara perlahan di bagian miliknya.
Rubby yang sudah berpengalaman tentu mengajari Khanza banyak hal di malam pertamanya. Tepatnya ini masih siang karena Rubby sudah tidak tahan.
Waktu menunjukkan pukul 14.30, meraka bermain cukup lama. Rubby lebih dulu memanjakan istrinya agar Khanza tidak tegang. Dan lihat, gadis itu sepertinya ingin kembali merasakan sensasi bergelinjar.
Khanza menyesap bibir Rubby. Tentu pria itu sangat bahagia mendapat balasan dari Khanza walau masih kaku tapi Rubby memahaminya. Lama semakin lama, Rubby mulai hilang kendali. Ia membalikkan posisi Khanza hingga akhirnya Khanza yang berada di bawah tubuh suaminya.
Dengan rakus, Rubby menciumi tubuh istrinya dari wajah turun ke leher, turun lagi di gunung kembar. Turun semakin turun, hingga Rubby mengehtikannya di sesuatu tempat yang ada rimbanya, rumput hitam yang hanya beberapa helai saja.
Terus menciumanya sampai Khanza meremas seprai kuat-kuat.
"Mas ... Geli," kata Khanza. Geli-geli tapi sedep.
Setelah puas bermain di hutan rimba, Rubby mulai memasang kuda-kuda. Pria itu sudah sangat on, siap menancapkan kepemilikannya di area terlarang istrinya.
Rubby mencobanya, namun gagal. Benteng itu terlalu kokoh, tak cukup sekali Rubby menerobosnya.
"Susah sekali, Za. Punyamu sangat kecil." Rubby terus memaksanya untuk masuk ke dalam sana.
"Mas, sakit," keluh Khanza.
"Tapi ini belum masuk loh, Za. setengahnya aja belum," kata Rubby. "Kamu tahan ya? Ini pasti sakit."
Rubby meraih tangan Khanza agar berpegangan, ia jadikan bahunya untuk Khanza berlindung.
__ADS_1
"Hentikan Mas jika Mas menyakitimu." Khanza mengangguk.
Sedikit-sedikit, Rubby mendorongnya agar kepemilikannya masuk dengan sempurna. Khanza terus merintih menahan sakit yang luar biasa.
"Aaaa ..." Teriak Khanza ketika Rubby berhasil menjebol benteng pertahanan Khanza.
Khanza menangis merasakan perih di bawah sana, darah segar mulai membasahi seprai. Khanza mencengkram bahu Rubby hingga meninggalkan bekas cakaran di sana.
Perlahan, Rubby menggoyangkan pinggulnya maju mundur.
"Mas, pelan-pelan. Itu sakit, Mas."
Rubby mengalihkan rasa sakit yang diderita istrinya. Ia kembali mencium bibir Khanza, Khanza mulai menikmati pergerakan di bawah sana. Sakit bercampur nikmat.
"Mas, aku mau pipis lagi."
"Iya, sayang ... Pipis saja."
Khanza yang tidak tahu apa itu namanya, ia hanya bilang mau pipis ketika akan merasakan hal yang berbeda.
"Kok, pipisnya sedikit ya, Mas?"
Rubby terkekeh, disaat ia sedang serius Khanza malah seolah becanda. Gesekan antar kulit itu semakin cepat dan cepat.
Sepertinya Rubby akan mencapai puncaknya. Tubuh Khanza terguncang sangat hebat. Rubby mempercepat temponya, dan ...
Rubby mengerang, pria itu ambruk di atas tubuh Khanza. Keringat bercucuran di mana-mana, lelah tapi nikmat. Perlahan Rubby menarik kepemilikannya agar terlepas dari bagian bawah istrinya.
Tubuh Rubby ambruk di samping istrinya. Tak lama, ia menarik tubuh Khanza ke dalam dekapannya. Mencium keningnya.
"Terimakasih, sayang. Mas mencintaimu." Rubby mengeratkan pelukkannya.
Khanza pun akhirnya tertidur, beberapa kali ia mencapai puncaknya. Hingga membuat tubuhnya terasa lemas, apa lagi di bagian kakinya seolah tidak ada tenaga sama sekali.
Mereka terlelap bersama, mereka sudah menggapai surga dunia itu secara bersamaan.
Beberapa jam kemudian, Khanza mengerjapkan matanya. Ia masih belum bisa menggerakan tubuhnya, tubuh yang merasa linu apa lagi di bagian bawahnya. Sangat perih.
Khanza ingin bangun tapi tak bisa, ia mau buang air kecil. Mau tak mau, Khanza membangunkan suaminya.
"Mas ..." Khanza mengguncangkan tubuh Rubby.
__ADS_1
"Apa, sayang. Nanti ya beri aku waktu untuk istirahat." Rubby rasa Khanza akan mengajaknya kembali bertempur.
Mendengar jawaban Rubby, Khanza langsung saja mencubit pinggang suaminya, hingga Rubby mengaduh.
"Sakit, Za. Kenapa dicubit?"
"Nyebelin, bangun gak? Bantu aku, Mas." Khanza merengek seperti anak kecil yang tidak diberi jajan.
Rubby akhirnya pun terbangun.
"Apa? Mau apa?" tanya Rubby dengan lembut.
"Bantu ke kamar mandi."
Mendengar itu, Rubby mencari celananya. Ia langsung memakainya dan menggendong tubuh Khanza. Tubuh polos Khanza dibalut dengan selimut yang banyak noda merahnya. Sudah dipastikan itu pasti keluar dari kepemilikan Khanza.
Rubby menurunkan tubuh mungil itu secara perlahan, ia jadi teringat akan masa-masa bersama Jihan. Tidak bisa dipungkiri kedua wanita itu sangat berarti dalam hidupnya.
"Mas keluar saja, aku bisa sendiri sekalian aku mau mandi."
Rubby pun membiarkan istrinya dengan keinginannya, lagian ia juga takut tidak bisa menahan diri. Rubby kasihan pada gadis kecilnya itu, pasti Khanza kesakitan karena miliknya tak sebanding dengan milik Khanza.
Rubby menuju balkon sambil menunggu istrinya selesai mandi. Ia menyalakan rokok dan menghisapnya. Kepalanya pun sedikit menggeleng karena teringat akan kejadian barusan, bibirnya mengulum senyum. Gadis itu sangat lucu.
"Masa bilang mau pipis." Rubby pun tergelak, ia tak menyadari bahwa Khanza sudah ada di belakangnya.
"Menertawakan apa?" Pertanyaan Khanza membuat Rubby terkejut.
Akhirnya, ia pun menoleh dan menghampiri Khanza. Tak lupa mematikan rokok sebelumnya. Rubby memeluk Khanza.
"Mas, bajuku di mana? Jangan disembunyikan."
"Ada, bentar ya, Mas ambilkan." Rubby pun melepaskan pelukkannya dari tubuh Khanza.
Khanza melihat arah kemana suaminya pergi. Rubby keluar dari kamar, pantas saja Khanza tak menemukan bajunya di dalam Kamar. Ternyata Rubby menyimpannya di tempat lain.
Beberapa menit kemudian, Rubby kembali dengan membawakan baju berwarna merah untuk istrinya. Dan langsung memberikannya pada Khanza.
Sebelum Khanza melihat baju itu, Rubby langsung bergegas ke kamar mandi. Ketika sudah ada di dalam, ia mendengar teriakan Khanza.
"Maaasss ..."
__ADS_1
Bersambung.