
Di area toilet perempuan tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa wanita berlalu lalang di dalam sana. Rubby masih memantau dari arah luar, ia terus mondar-mandir.
Rubby akhirnya menghubungi Khanza lewat ponsel, panggilan itu tersambung tapi Khanza tak kunjung menjawab. Terus menghubungi istrinya, dan ia mendengar suara nada dering yang biasa digunakan Khanza.
Rubby masuk ke toilet wanita, hingga ada beberapa perempuan yang berteriak karena Rubby masuk begitu saja.
"Hey, Anda salah masuk toilet!" Omel ibu-ibu sembari memukul tubuhnya dengan tas yang digunakan ibu-ibu itu.
Rubby tak menggubris, ia malah mencari di mana sumber nada ponsel itu. Hingga matanya berhasil menangkap benda pipih yang bergetar.
"Ini milik Khanza." Rubby meraih benda pipih yang tergeletak di atas lantai. Rubby bahkan hampir membuka setiap pintu toilet satu persatu. Hingga terjadi kegaduhan di dalam toilet tersebut.
Kalau tidak ada security, mungkin Rubby sudah habis digebukin masal, karena masih penasaran, ia terus mencari Khanza.
"Pak, apa Bapak melihat seseorang yang mencurigakan di sini?" tanya Rubby pada security. Security itu menggelengkan kepalanya. Ia tidak tahu apa yang terjadi di toilet karena security ia pun kebelet, akhirnya setengah jam yang lalu ia tak berada di sana.
"Istri saya hilang, Pak! Saya hanya menemukan ini di dalam sana." Ucap Rubby sembari memperlihatkan ponsel milik Khanza dan menunjuk ke arah toilet.
"Kita coba cek lewat cctv, mari Tuan, ikut saya?" ajak security itu.
Rubby pun mengekor dari arah belakang security. Disaat itu pula, Laras melihat Rubby berjalan bersama security. Penasaran apa yang sudah terjadi? Laras pun memanggil anaknya.
"By," panggil Laras. Perempuan itu langsung beranjak dari tempatnya, ia mengikuti Rubby karena Rubby tak kunjung menghentikan langkahnya.
Rubby dan Security sampai di ruangan cctv disusul Laras yang juga baru sampai.
"Ada apa, By? Khanza mana?" Laras baru sadar bahwa Khanza tidak ada.
"Khanza hilang, Ma ..." Rubby begitu panik dan Laras pun ikut shock. Harusnya tadi ia menemani Khanza ke toilet. Apa boleh buat, ini sudah terjadi menyesal pun percuma.
Rubby menatap layar monitor itu dengan serius. Ia melihat Khanza masuk ke dalam toilet, hingga menit berikutnya. Seorang wanita pun masuk ke dalam dengan pakaian serba hitam, dan wanita itu memakai topi. Hingga wajah wanita tersebut tidak terlihat, sebelum wanita itu masuk ia celingak-celinguk terlebih dulu.
Tak lama dari situ, Khanza sudah tak sadarkan diri. Terlihat jelas wanita itu sedikit kesusahan menarik Khanza keluar dari dalam toilet. Hingga seorang pria datang dan membantu membopong tubuh Khanza.
__ADS_1
Rubby mengepalkan tangannya, siapa yang sudah berani menculik istrinya? Siapa wanita itu? Rubby tak mengenalinya sedikit pun. Sepertinya mereka sudah merencanakan ini dengan matang.
"By, siapa yang sudah menculik Khanza?" tanya Laras dengan bibir bergetar.
"Mana Rubby tahu, Ma! Kenapa Mama ajak Khanza kemari?" tanya Rubby.
"Kamu menyalahkan Mama?" Laras merasa Rubby sudah menyalahkannya, mungkin ini tidak akan terjadi kalau Laras tak mengajaknya. Mungkin itu yang dipikiran Rubby sekarang. Pikir Laras.
"Bukan gitu, Ma ... Setidaknya Mama bilang dulu sebelum berangkat tadi. Mungkin aku bisa menyuruh seseorang untuk menjaga kalian."
"Tuan dan Nyonya lapor polisi saja, dan rekaman cctv ini bisa jadi bukti," usul security tadi.
Security itu ada benarnya, berdebat dengan sang mama pun percuma. Ini tidak akan menyelesaikan masalah. Akhirnya Rubby memilih pergi, ia akan ke kantor polisi sekarang juga.
"Ma, sebaiknya Mama pulang. Aku juga tidak mau terjadi sesuatu pada Mama," titah Rubby.
Akhirnya, Rubby dan Laras pun berpisah. Laras langsung pulang sesuai perintah dari Rubby. Sedangkan Rubby, pria itu langsung ke kantor polisi melaporkan kejadian yang telah menimpa istrinya.
"Apa Anda punya musuh?" tanya polisi pada Rubby. Rubby menggelengkan kepalanya, ia merasa tak memiliki musuh.
Hanya saja, ia sedang ada masalah dengan Jihan. Tapi Jihan tak mungkin melakukan semua ini, hingga Rubby berkesimpulan. Apa ibunya Khanza ada dibalik semua ini? Kalau benar, ia akan mencarinya sendiri ke tempat di mana ibunya Khanza bekerja.
Ia menyerahkan masalah ini pada pihak yang berwajib, tapi ia tak membicarakan masalah ibunya Khanza. Bagaimana pun perempuan itu mertuanya, ia hanya ingin menjaga perasaan istrinya.
Akhirnya Rubby pun keluar dari kantor polisi. Ia akan menemui Seno lebih dulu, mungkin pria itu tahu di mana ibunya Khanza bekerja. Rubby langsung berangkat ke kediaman Seno.
Tak membutuhkan waktu lama bagi Rubby sampai di rumah Seno, karena Rubby mengendari mobilnya bak pembalap lihai.
Pria itu langsung mengetuk pintu rumah Seno setibanya di sana. Seno pun keluar membukakan pintu, pria paruh baya itu sedikit terkejut dengan kedatangan Rubby ke rumahnya.
Rubby langsung diajak masuk oleh si pemilik rumah.
"Pa, kedatangan saya kemari ingin menanyakan di mana ibunya Khanza bekerja?"
__ADS_1
Seno mengerutkan kedua alisnya hampir menyatu, ada apa menantunya itu tiba-tiba menanyakan keberadaan ibunya Khanza? Pikir Seno.
"Setahu Papa, ibunya Khanza bekerja di club xx. Tapi kamu hati-hati. Di sana di jaga ketat, Papa saja tidak berani datang kesana sendirian," kata Seno. "Tunggu, untuk apa nak Rubby menanyakan ini? Apa terjadi sesuatu pada Khanza?" tanya Seno lagi.
"Khanza hilang, saya yakin ibunya Khanza sudah mencium keberadaan anaknya," jelas Rubby.
"Bagaimana bisa Khanza hilang?" tanya Seno tak percaya. "Apa kejadian kemarin membuat semua orang tahu tentang Khanza? Sampai terdengar di telinga wanita itu," tebak Seno.
Rubby pun akhirnya berpikir ke arah situ. Ya, mungkin memang benar pertengkarannya dengan Jihan membuat semua orang jadi tahu dari wanita mana Khanza dilahirkan.
"Kalau begitu saya pamit, Pa." Rubby pun pergi dari rumah Seno.
Kini tinggal mencari cara, bagaimana caranya Rubby datang menemui ibunya Khanza tanpa ada orang yang curiga. Akhirnya Rubby memiliki ide, ia akan datang nanti malam dan berpura-pura menjadi pelanggan sambil mencari tahu keberadaan Khanza.
Karena ibunya Khanza tidak mungkin melepaskan anaknya begitu saja. Yang Rubby takutkan, wanita itu tak memandang Khanza sebagai anaknya dan menjadikan Khanza sebagai wanita penghibur di sana.
Rubby harus mencari teman untuknya agar bisa menaninya ke club xx itu.
"Wira, ya Wira bisa membantuku," ucap Rubby sendiri sembari menyetir.
Rubby akhirnya menghubungi Wira dan mengajaknya ke club xx. Tentu Wira antusias diajak ke sana oleh Rubby.
Hingga malam pun tiba.
Rubby janjian terlebih dulu dengan Wira, karena Wira tidak tahu apa rencana Rubby mengajaknya datang ke club xx.
"Aku kira kamu tidak memiliki wanita lain, By," kata Wira setelah mendengarkan cerita temannya itu.
"Ini beda ceritanya, aku tidak sama seperti denganmu yang hobinya main perempuan. Dia istriku, aku harus bisa menyelamatkannya," jelas Rubby.
"Ah ... Baiklah, kita harus gerak cepat! Ayo?" ajak Wira.
Bersambung.
__ADS_1