
Mawar berada dalam kungkungan suaminya. Sejenak mereka saling menatap, cinta dikeduanya begitu terlihat dari mata masing-masing.
Dion menyentuh bibir istrinya menggunakan ibu jarinya, bibir mungil, mata indah, hidung mancung. Dion sampai berpikir apa gadis ini keturunan arab? Ia begitu penasaran akan hal itu. Karena Dion tidak pernah bertanya mengenai kedua orang tuanya.
"Mas, apa aku terlihat aneh?"
Dion menggeleng. Apanya yang aneh, wanita itu begitu sempurna di matanya. Tanpa membalas pertanyaan Mawar, ia langsung mencium bibir mungil itu. Lidahnya meminta masuk ke dalam sana, pria itu menggigit bibir istrinya, sampai Mawar membuka mulutnya.
Bibir itu saling berpaut, Mawar mulai bisa membalasnya. Dion senang tak terkira, pria itu melepaskan bibirnya sejenak lalu berpindah ke leher. Menyesapnya meninggalkan bekas merah di sana. Tangan yang sudah meraba gunung kembar, bermain dengan ujungnya.
Mawar melenguh mendapat sentuhan itu.
"Mas." Mawar sendiri menggigit bibirnya sendiri, ada sensasi di bawah sana.
Dion terus melanjutkan aksinya tanpa jeda, hingga ia terus merambatkan ciumannya ke belahan dadanya, membenamkan wajahnya di sana. Mencumbu gunung itu dengan rakusnya.
Mawar sedikit nyeri karena suaminya itu menghis*pnya kuat-kuat. Mawar sedikit memukul pundak suaminya.
"Sakit, Mas," keluhnya.
Dion begitu lincah, pria matang sepertinya seharusnya sudah memiliki keturunan, dan ini malah baru menikah. Jelas pria itu sudah menginginkannya, merasa bangga mendapatkan daun muda dan ori.
Tangan Dion sudah bermain di bawah sana, sedangkan Mawar, gadis itu sudah seperti cacing kepanasan. Geli, nikmat bercampur menjadi satu.
"Mas ...." Mawar merasakan sesuatu di bawah sana, entah itu apa? Gadis itu tahunya ada rasa yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata.
Dion menarik kaki jenjang istrinya, agar kedua kakinya terbuka lebar. Pria itu mulai berselam dengan kapal selamnya.
"Mas." Mawar merasa sakit ketika kapal itu mulai terbenam. Ujungnya saja belum masuk. Wanita itu sudah mengaduh.
"Susah sekali, Mawar." Dion terus berusaha menjebol pertahanan itu, detik, menit, jam. Dion tak mampu melakukannya, ia tak tega melihat istrinya terus mengaduh.
Padahal, Dion sudah benar-benar on. Namun begitu susah masuk ke dalam. Kapal selam yang digunakan pria itu mulai menambahkan tenaganya, malam ini harus berhasil. Ia jadi teringat akan obat yang diberikan oleh Rubby.
__ADS_1
Nampak berpikir sejenak, apa ia membutuhkan obat itu? Pria itu menggeleng, kasian Mawar kalau sampai ia meminum obat itu. Akhirnya ia mencoba sekali lagi, dan akhirnya, kapal itu berselam.
Cairan merah membasahinya. Mawar memeluk tubuh itu kuat-kuat, ia menahan sakit yang memang hanya merasakan itu satu kali dalam seumur hidupnya.
Isak tangis Mawar terdengar. Dion menjeda sesi itu, namun tanpa melepaskan kapalnya. Ia mengusap air mata bahagia istrinya.
"Boleh Mas meneruskannya?" Mawar mengangguk pelan, ingin menolak pun percuma. Itu hanya akan menimbulkan masalah di malam pengantinnya, apa pun itu ia harus menjadi istri yang baik, walau merasakan pedih di bawah sana Mawar mencoba tersenyum.
"Lakukan sesuka hatimu, Mas. Semuanya milikmu," bisik Mawar lembut.
Dion mulai mendayu perahunya, berlayar di laut yang tak seberapa dalamnya. Menikmati laut sempit itu, hingga mengeluarkan kucuran keringat karena mendayu, perlahan tapi pasti, pria itu akhirnya akan bertepi di tempat yang paling indah.
Keduanya menikmati indahnya surga dunia.
"Mawar, istriku. Terimakasih sudah menjaga dan memberikannya untukku." Karena sudah mencapai puncaknya, pria itu pun ambruk di samping istrinya.
Sedangkan Mawar, wanita yang sudah tak suci lagi itu langsung memejamkan matanya, wanita itu lemas tak berdaya. Menahan rasa perih di bawah sana.
Dion sedikit mengangkat tubuhnya, ia melihat ke arah seprai yang ada bercak berwarna merah, bibirnya mengulum senyum lalu melihat ke arah istrinya. Pria itu masih merasa bahwa ini hanya mimpi, menyentuh Mawar untuk memastikan bahwa ini bukan mimpi. Tubuh itu berwujud, sudah dipastikan ini bukan mimpi.
***
Di tempat lain.
Bayu yang frustrasi akan Alisia, pria itu tengah meneguk minuman beralkhol. Bahkan dokter sudah melarang untuk tidak menkomsumsi minuman itu, namun usahanya merasa sia-sia. Istri yang ia perjuangkan, malah mengkhianatinya.
Dari kejauhan, Jihan memperhatikan pria yang kini tengah mabuk itu. Jihan memang sengaja mengikuti Bayu dari acara pesta pernikahan Dion dan Mawar. Karena ia merasa khawatir akan pria itu.
Merasa hutang budi, Jihan pun membuntutinya dan benar saja, apa yang dikhawatirkan terjadi. Sampai ada seorang wanita yang mencoba menggodanya, tidak ingin itu terjadi, Jihan menghampiri Bayu dan langsung mengusir wanita itu.
"Bu Jihan, apa benar kamu Bu Jihan?" Bayu setengah sadar, karena mabuknya memang tidak terlalu parah.
"Iya, ini aku. Stop memanggilku dengan sebutan Ibu, aku sudah bukan atasanmu."
__ADS_1
"Kenapa ada di sini? Apa kamu mau minum juga?" tawar Bayu.
"Aku tidak minum, aku ke sini memang mengikutimu."
"Mengikutiku?"
Jihan mengangguk.
"Apa ada masalah dengan istrimu sampai dia mengkhianatimu? Aku lihat kamu tidak pernah bermain perempuan."
"Mana mungkin aku bermain perempuan, Jihan. Istriku saja meninggalkanku karena aku tak berdaya. Tidak bisa menapkahi batin istriku!" Bayu menggerutu pada dirinya sendiri. Betapa tidak bergunanya dia, bahkan ia sudah berjuang demi kesembuhannya agar bisa memuaskan istrinya di atas ranjang. Tapi pria itu tak berdaya.
Kata dokter kesembuhan itu ada jika ia dibantu oleh rangsangan dari pasangannya. Bahkan dokter mengatakan, Bayu mulai sembuh dari penyakitnya, karena ia sudah menjalani berbagai pengobatan, namun pria itu tidak percaya. Mau tahu dari mana ia sudah sembuh? Ia belum pernah mencobanya setelah berobat kemarin ke luar negri.
Alisia tidak memberikan kesempatan padanya, bahkan sepulang berobat, ia sudah tak melihat istrinya di rumah. Istrinya seakan jijik melihatnya, dan itu membuatnya begitu kalut. Tidak lagi percaya akan namanya cinta.
Bayu kembali meneguk minumannya, Jihan sudah melarangnya. Bahkan ia mengambil gelas yang sedang di pegang oleh Bayu. Tidak mempan, Bayu langsung meneguknya dari botol. Cairan beralkhol itu tak tersisa, Bayu benar-benar mabuk.
Jihan membantu Bayu bangkit dari tempat duduknya, ia merasa kasihan melihat kondisi Bayu. Untung ia tak mengalami hal seperti ini saat Rubby menceraikannya, hanya satu kesalahan yang benar-benar bodoh. Ia pernah mengakhiri hidupnya demi laki-laki yang sudah tak lagi mencintainya.
Karena sahabatnya ia bisa bangkit dari keterpurukannya. Ia mengakui Dion sudah berhasil membuatnya sadar, cinta memang tak harus memiliki. Jihan kembali hidup normal seperti biasanya.
Kini ia mengantarkan Bayu pulang menggunakan mobil pria itu. Untuk mobil yang ia kendarai, bisa besok ia ambil kemari.
Dengan susah payah, Jihan membawa tubuh itu ke dalam mobil.
***
"Hati-hati, Bayu." Jihan berhasil mengantar pria itu pulang dan mengantarnya sampai kamar.
Bayu langsung menarik tangan Jihan dan menghempaskannya di atas kasur, pria itu masih mabuk berat sehingga ia mengira wanita yang bersamanya bukan Jihan.
"Alisia, aku akan memuaskanmu malam ini."
__ADS_1
Jihan beringsut mundur ketakutkan.
berambung.