
"Mbak, Mbak gak apa-apa 'kan?" tanya Mira tepat di depan pintu toilet yang lokasinya tidak jauh dari meja tempat para tamu yang berkunjung.
"Mbak, Mbak Jihan dengar saya 'kan?" tanya Mira kembali.
"Iya, Mira. Saya baik-baik saja," sahut Jihan dari dalam toilet.
Karena posisi Bayu tidak berubah, dengan jelas ia mendengar suara itu. Suara yang dulu sering ia dengar ketika ia datang ke kantor Rubby. Ia yakin kalau itu adalah Jihan yang ia maksud.
"Jihan." Bayu menghampiri arah toilet.
"Maaf, Tuan. Ini toilet perempuan, tolet laki-laki di sebelah sana." Tunjuk Mira.
Namun Bayu tak menggubrisnya, pria itu malah hendak mengetuk pintu toilet tersebut. Belum pintu itu diketuk, seorang wanita muncul dari sana sembari mengusap bibirnya yang basah.
"Jihan," lirih Bayu.
Betapa terkejutnya ia ketika melihat pria itu. Jihan hendak pergi dari sana dan meninggalkan Bayu. Tapi sayang, langkahnya terhenti kala Bayu mencekal lengannya.
"Lepas!" pinta Jihan.
"Aku tidak akan melepaskanmu! Kita perlu bicara," ujar Bayu.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan," sergah Jihan seraya melepaskan tangannya yang digenggam oleh Bayu.
Tiba-tiba mata Jihan berkunang, ia menyentuh kepalanya yang terasa berat. Seketika wanita itu pingsan, dengan cepat Bayu menangkap tubuhnya agar tidak terjatuh.
Mira yang bingung menajdi panik, sebenarnya siapa laki-laki ini? Apa jangan-jangan bosnya hamil? Pikir Mira.
Di cafe menjadi ramai karena pingsannya Jihan menjadi pusat perhatian.
"Tuan, mau di bawa kemana Mbak Jihan?" tanya Mira.
Bayu tidak mempedulikan pertanyaan karyawan Jihan, ia akan membawanya ke rumah sakit, ia tidak ingin terjadi sesuatu pada calon anaknya.
"Ada apa, Mira?" tanya Anan.
"Mbak Jihan dibawa orang itu, tadi Mbak Jihan pingsan," jelas Mira.
"Ya sudah biarkan saja, mungkin mereka saling mengenal. Sebaiknya kita layani pengunjung." Mira dan Anan pun kembali bekerja.
***
__ADS_1
Bayu mendampingi Jihan, ia tak meninggalkan wanita itu sedetik pun. Dokter terus memeriksanya, bahkan Bayu meminta tidak keluar dari ruangan itu.
"Bagaimana, Dok?" tanya Bayu ketika dokter sudah selesai memeriksanya.
Dokter menghela napas, ia tahu apa yang dialami pasien. Walau Jihan terlihat ceria di depan kedua karyawannya, ternyata wanita itu menyembunyikan kepedihan yang ama dalam.
"Pasien terlalu banyak pikiran, saya minta kepada Anda sebagai suami, tolong! Jaga hati dan perasaannya. Kejadian ini sering dialami oleh pasien yang sedang hamil," ucap dokter.
Tadinya Bayu ingin membantah perkataan dokter, bahwa ia bukan suaminya. Tapi, Jihan mengandung anaknya, ia harus ikut bertanggung jawab apa pun yang terjadi pada wanita itu.
"Iya, Dok. Sebisa mungkin saya akan menjaganya."
"Baiklah kalau begitu saya permisi keluar, tunggu saja sampai istri Anda sadar. Tidak akan lama, kok." Dokter pun berlalu.
Bayu menghampiri Jihan dan ikut mendudukkan tubuhnya di tepi branker. Menatap wajah itu lekat-lekat, sungguh! Ia merasa kasihan pada wanita itu. Cobaan dalam hidupnya silih berganti, ia juga ikut menyakitinya.
"Jihan, maafkan aku." Ucapnya dengan wajah tertunduk.
Beberapa menit kemudian, Jihan pun mulai membuka matanya. Ia menyentuh kepalanya yang masih terasa pusing, mencoba bangun dari tidurnya.
Bayu yang tahu akan hal itu langsung membantu Jihan mendudukkan tubuhnya. Ingin rasanya Jihan menepis tangan Bayu, namun ia tak bisa seakan ada dorongan yang kuat untuk tidak melakukan itu.
Pertanyaan yang dilontarkan Bayu tak dapat Jihan jawab, ia tidak tahu harus berkata apa. Mulutnya terasa tercekat, hanya deraian air mata yang mampu mewakili perasaannya. Pertanyaan Bayu seakan bentakan baginya, Sektika Jihan pun terisak.
"Maaf, aku tidak bermaksud membentakmu. Kamu tidak sendirian, ada aku di sini. Aku Ayah dari anak yang kamu kandung." Bayu berkata sembari menatap wajah Jihan yang tertunduk yang sedang menangis.
"Kamu jangan merasa sendirian, Jihan. Aku tidak mungkin membiarkanmu membesarkan anak kita sendirian. Aku akan menikahimu, meski tidak ada cinta diantara kita, kita harus bersatu demi calon anak kita. Apa kamu tega membiarkannya hidup tanpa sosok Ayah."
Jihan mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Bayu. Iya, memang tidak ada cinta. Jihan tidak ingin kembali gagal dalam membina rumah tangganya kelak bersama laki-laki yang ada di hadapannya itu.
Bayu meraih tangan Jihan, ia mencoba meyakinkan wanita itu untuk menerimanya menjadi ayah dari anak yang ia kandung.
"Ku mohon, Jihan. Hilangkan keegoisanmu, buktikan kepada mereka, bahwa kamu bisa menjadi Ibu. Dan aku juga bisa membuktikan pada Alisia bahwa aku bukan laki-laki lemah seperti yang dia kira."
"Kamu memanfaatkan keadaan, Bayu."
"Tidak, aku tidak memanfaatkan keadaan. Bila perlu kita pergi jauh dari sini setelah kita menikah nanti. Aku tidak ingin menyesal dikemudian hari, dia anakku! Aku berhak hidup bersamanya."
"Aku tidak ingin kembali gagal, Bayu. Tidak ada perasaan di antara kita, kita hanya menyakiti diri sendiri. Anak kita nanti yang akan menjadi korbannya. Aku tidak melarangmu menemui anak kita, jika ingin menemuinya temui saja," ucap Jihan sembari memalingkan wajahnya.
Bayu menghela napas dengan berat, Jihan memang keras kepala. Ia akan mencoba membujuknya nanti, mungkin wanita itu butuh waktu untuk menerimanya. Tidak mudah memang menerima orang dalam hubungan yang serius apa lagi tanpa cinta.
__ADS_1
Rumah tangganya yang dipenuhi cinta saja bisa hancur seketika, apa lagi ini? Pikir Bayu. Mungkin seiringnya waktu, Jihan pasti menerimanya.
"Aku rasa, aku sudah baikan. Aku ingin pulang sekarang," pinta Jihan pada Bayu.
"Hmm, baiklah kalau begitu," jawab Bayu. Sebelum mereka kembali pulang, Bayu kembali berucap pada calon ibu dari anaknya itu.
"Jihan, meski pun tidak ada hubungan di antara kita, aku minta kamu jangan menolak perhatianku padamu. Aku lakukan itu demi anakku."
Jihan berpikir sejenak, tak lama ia pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Dan mereka pun keluar dari ruangan itu, Bayu menuntun Jihan berjalan. Bayu mulai memberikan perhatiannya pada wanita itu. Ingin Jihan menolak, tapi ia sudah janji padanya. Lagian, Bayu melakukan itu pasti tidak ingin terjadi sesuatu pada calon anaknya.
***
Beberapa hari kemudian.
Bayu menemui Jihan ke cafe, karena itu menjadi tempat tinggalnya sekarang. Cafe itu pun semakin ramai dari pengunjung.
Bayu tersenyum sumringah, apa lagi ia datang dengan menenteng beberapa paper bag di tangan.
"Sore, Tuan," sapa Anan.
Bayu tersenyum sebagai tanggapan. Ia datang menemui Jihan seusai jam kantor.
"Di mana Jihan?" tanya Bayu pada Mira.
"Di atas, Tuan," jawab Mira.
Bayu pun menaiki anak tangga, ia langsung ke kamar Jihan. Setibanya di sana, ia melihat wanita itu sedang makan rujak.
"Aku sudah bilang jangan makan itu terus, mana ada gizinya buat calon anak kita," omel Bayu.
Hanya rujak yang bisa ditampung oleh Jihan, yang lainnya setelah ditelan pasti keluar semuanya Jiham mendengus kesal.
"Lalu aku makan apa?"
Bayu memberikan susu padanya, sebelum menemuinya Bayu sempat membuatkan susu terlebih dulu untuknya.
Seketika hati Jihan terenyuh, Bayu begitu perhatian padanya.
Bersambung.
__ADS_1