
"Apa, Dok? Sesar?" tanya Bayu.
"Iya, Tuan. Nyonya Jihan tidak bisa melahirkan dengan normal, usianya sudah rentan hampir menginjak kepala empat. Itu resikonya sangat tinggi," ujar dokter.
"Ya sudah, Dok. Lakukan yang terbaik untuk istri saya, selamatkan mereka berdua."
"Tentu, kami akan berusaha sebisa mungkin." Karena sudah mendapat persetujuan dari suami pasien, Dokter pun langsung menyiapkan ruang untuk operasi yang akan dilakukan Jihan.
Sementara diruangan lain, Mawar sudah kesakitan. Wanita itu sudah pembukaan tujuh, namun sang suami belum juga datang. Mawar ditemani Laras, wanita parih baya itu terus memberikannya semangat dan mengusap-usap bagian bokongnya.
"Ah Tante, sakit." Mawar terus meringis. "Di mana Mas Dion?" Gadis itu ingin ditemani suaminya. Tak lama kemudian, mucullah pria yang diharapkan Mawar.
"Mas," ucap Mawar, wanita itu tersenyum melihatnya.
"Maaf, Nyonya. Karena suaminya sudah datang, Anda boleh keluar. Di sini tidak boleh lebih dari satu orang yang menemaninya," ujar suster pada Laras.
Laras yang mengerti pun langsung keluar dari ruangan persaslinan itu, karena Mawar berada di ruangan bersalin biasa bukan diruang operasi seperti Jihan, jadi Dion bisa menemani sang istri melahirkan.
Seketika, Laras teringat Jihan. Bagaimana pun, wanita itu pernah menjadi menantunya. Tidak ada kata mantan menantu, lantas ia pun mencari keberadaan Jihan. Ia pun akhirnya berpapasan dengan wanita itu.
Jihan tengah berada di atas branker di dorong menuju ruang operasi.
"Jihan," panggi Laras.
Jihan pun menoleh ke arah sumber, dilihatnya sang mertua di sana. Ia pun meminta suster untuk berhenti sebentar.
"Mama," ucap Jihan.
Laras pun dengan cepat menghampiri wanita itu. Mengusap perutnya dengan lembut. "Semoga kalian selamat, doa Mama menyertai kalian," ujar wanita paruh baya itu.
Jihan pun tersenyum mendengarnya, tidak ada dendam di antara mereka. Yang lalu biarlah berlalu.
"Terimakasih atas doanya, Ma."
"Kamu harus berjuang, Mawar juga tengah berjuang melahirkan bayinya. Kalian berdua akan melahirkan," ujarnya kembali.
"Maaf, Nyonya. Nyonya Jihan harus segera masuk ruang operasi," kata suster.
"Ah iya, silahkan." Laras melihat kepergian Jihan yang ditemanai suaminya di sana, mengantarnya hanya depan pintu.
"Mas yakin kamu bisa," kata Bayu sebelum Jihan masuk ke ruangan itu. "Mas nunggu di sini," ujarnya kembali.
"Iya, Mas. Aku berjuang demi anak kita, demi kebahagiaan kita." Mereka pun berpisah.
Bayu menunggu di luar, hatinya yang tak karuan. Jantungnya pun ikut berdebar, bagaimana pun sang istri tengah memperjuangkan hidupnya demi melahirkan sang buah hati.
__ADS_1
Sementara Dion, ia pun sama cemasnya. Ia sendiri menyaksikan sang istri tengah berjuang, melihatnya kesakitan. Dan itu membuatnya merasa bersalah. Dion terus mencoba menenangkan sang istri, membisikan ayat-ayat suci di telinga istrinya.
Tak lama kemudian, suara tangisan bayi pun terdengar. Tangis Mawar dan Dion pecah, terharu mendengar tangisan itu begitu kencang.
"Mas, anak kita," kata Mawar sambil melihat ke arah suaminya.
"Waahh ... Selamat ya, Tuan, Nyonya. Anak kalian berjenis laki-laki," ujar dokter.
Seketika, Mawar tersenyum mendengar jenis kelamin yang sangat ia inginkan. Disaat USG pun ia meminta pada dokter untuk tidak memberitahukan jenis kelaminnya, karena Mawar takut kecewa. Tapi doanya terkabul. Betepa bahagianya mereka sekarang.
Suster meletakan bayi itu tepat di dada sang mama, mencari sesuatu untuk dihisapnya. Mawar tersenyum melihat anaknya yang lucu, hilang sudah rasa sakit yang ia alami, air mata tergantikan dengan kebahagiaan.
Karena melahirkan dengan normal, Mawar oun segera dipindahkan ke ruangan rawat biasa, beserta bayinya. Laras yang berada di luar sana nampak antusias, menyambut bayi itu yang ia anggap sebagai cucunya sendiri.
"Oh ... Tampannya cucu Oma." Begitu gemasnya perempuan itu ketika melihat bayi merah itu.
Setibanya di ruangan, Dion langsung mengadzani anaknya. Setelah itu, yang lain ikut menyusul ke rumah sakit, seperti Khanza dan yang lainnya.
"Sayang, anaknya lucu ya? Mas, jadi pengen punya dede bayi lagi," bisik Rubby di telinga Khanza.
"Ish ... Putra masih kecil, Mas. Aku belum siap," ujarnya. Rubby pun tertunduk lesu, padahal pasti lucu memiliki anak yang jarak usianya berdekatan seperti anak kembar. Namun, sepertinya ia harus mengubur keinginannya itu untuk menambah momongan dalam dekat ini.
"Oh iya, By. Jihan juga berada di sini, dia mau melahirkan. Tapi melalui sesar," kata Laras.
"Mama belum tahu, tadi sih, pas Mama bertemu dia baru masuk ruang operasi."
"Aku sudah tahu, Ma. Tadi Bayu izin padaku," sahut Rubby.
***
Bayu yang terus mondar-mandir di depan ruang operasi mendapati sang atasan menghampirinya.
"Tuan, di sini?" tanya Bayu.
"Bagaimana? Apa operasinya berjalan lancar?"
Bayu menggelengkan kepalanya, ia belum tahu hasilnya karena sedari tadi dokter mau pun suster belum ada yang keluar dari dalam sana.
"Semoga semuanya baik-baik saja ya?" Rubby menepuk bahu Bayu.
"Iya, semoga saja, Tuan. Apa Tuan sengaja datang kesini?" tanya Bayu kemudian.
"Saya ke sini karena istri Dion juga melahirkan."
"Betulkah? Lalu, bagaimana? Apa mereka selamat?"
__ADS_1
"Alhamdulilah, mereka selamat. Mawar kan masih muda, jadi dia bisa melahirkan normal."
Hati Bayu jadi was-was. Padahal, operasi sudah sejak tadi dilakukan. Semoga saja mereka selamat. Terlihat jelas kekhawatiran Bayu.
"Kamu berdoa saja, semoga semuanya baik-baik saja," kata Rubby. Pria itu pun merasakan kekhawatiran yang sama, takut terjadi sesuatu pada mantan istrinya tersebut. Bagaimana pun, ia merasa kasihan pada Bayu jika terjadi sesuatu pada Jihan dan anaknya.
Tak lama dari situ, orang tua Jihan datang dan bertemu Rubby di sana.
"Ma, Pa," sapa Rubby. Jalinan hubungan yang cukup baik di antara mereka, tidak ada dendam sedikit pun setelah usainya rumah tangganya dengan Jihan. Karena orang tua Jihan menyadari bahwa anaknya yang salah.
"Bagaimana, Bayu?" tanya Surya sang mertua padanya.
"Kita berdoa saja, semoga operasinya berjalan dengan lancar," jawab Bayu.
"Sing sabar ya, nak." Mama Jihan mengusap lembut punggung menantunya itu.
Karena sudah ada orang tuanya Jihan, Rubby pun undur diri dari hadapan mereka. Ia kembali menemui Khanza yang masih berada di ruangan Mawar. Setibanya di sana, ia melihat Khanza tengah memijat pelipisnya sendiri. Dengan segera, ia menghampiri.
"Kamu kenapa, sayang?" tanya Rubby.
Pertanyaan Rubby mengalihkan orang yang berada di sana menjadi menoleh ke arahnya.
"Iya, Za. Kamu kenapa?" tanya Laras kemudian, padahal tadi Khanza baik-baik saja.
"Gak tahu, nih. Tiba-tiba kepalaku pusing," jawab Khnaza. Ia masih memijat-mijat keningnya.
"Sebaiknya kita ke Dokter, bagaimana?" usul Rubby.
Khanza merasa ini hanya pusing biasa, dan ia pun menolak diperiksa. Rubby pun tidak memaksa.
"Sebaiknya kalian pulang saja, kasian Putra di tinggal lama-lama," titah Anggoro.
Dan akhirnya, Rubby dan Khanza pun memilih pulang ke rumah. Di perjalanan pulang, Khanza semakin pusing. Perutnya pun terasa mual.
"Kita ke Dokter ya?"
"Tidak, Mas. Aku gak apa-apa."
Disaat itu pula Khanza melihat tukang rujak, ia meminta suaminya untuk menghentikan mobilnya.
"Mas, aku pengen itu." Khanza menunjuk tukang rujak.
"Rujak?" tanya Rubby.
Bersambung.
__ADS_1