
"Maumu apa, Jihan? Bukankah kamu tidak ingin memiliki keturunan dariku? Jadi tidak ada yang salah jika Mas menikah lagi bukan?"
Rubby langsung saja membahas pada intinya, kini tidak ada lagi yang harus ia sembunyikan. Jihan sudah tahu pernikahannya dengan Khanza.
"Aku mau Mas menceraikan wanita itu, aku sudah siap Mas memiliki anak," jelas Jihan.
"Kenapa baru sekarang kamu siap? Mas tidak mungkin menceraikannya." Rubby kekeh dengan keinginannya yang harus tetap mempertahankan Khanza.
"Justru Mas yang akan menceraikanmu. Bukankah setelah kita berpisah nanti kamu bisa bebas dengan dunia modelmu."
"Mas ... Kenapa kamu tega, Mas? Apa kesalahanku begitu patal sehingga rumah tangga kita yang menjadi korban? Aku gak nyangka, Mas. Pelet apa yang digunakan wanita itu sampai Mas tega melepas aku?"
Jihan yang tadinya tenang, kini wanita itu menumpahkan air matanya juga. Ini diluar ekspektasi Jihan, ia kira Rubby bakal nurut padanya. Jihan tetap tidak ingin bercerai dari Rubby.
"Mas, 'kumohon jangan lakukan itu. Sebelum Mas mengenal wanita itu, Mas tidak pernah melukai hatiku. Tapi sekarang, kamu tega melakukan ini padaku." Isak Jihan semakin terdengar.
Rubby melihat kearah istrinya itu. Ia juga tidak menyangka bahwa rumah tangganya akan seperti ini. Tapi ini sudah kehendak yang maha kuasa, Tuhan bisa membalikkan hati seseorang dengan mudah, yang awalnya cinta kini berubah menjadi benci.
Rubby bukan benci pada orangnya, ia benci karena sikapnya. Sebelum menjadi model, Jihan wanita lembut dan penurut, tapi sekarang Jihan bahkan berani mencoba mengakhiri hidupnya.
Tidak ingin di dengar oleh orang lain, Rubby pun menenangkan Jihan, bagaimana pun Jihan masih istrinya. Wanita itu mungkin belum bisa menerima kenyataan bahwa Rubby mulai berpaling darinya. Rubby memeluk Jihan, ia juga merasa kasihan pada wanita itu.
"Jihan, Mas minta tolong padamu. Jangan libat Khanza dengan masalah kita, ini bukan salahnya. Mas yang sudah menciptakan kerumitan ini." Akhirnya, Rubby mengakui bahwa ini juga salahnya. Bukan sepenuhnya salah Jihan, andai ia tegas pada istrinya untuk tidak mengizinkan Jihan terjun ke dunia model, tentu semuanya tidak akan seperti ini.
Rubby mengerti di posisi Jihan, wanita mana yang tak emosi jika tahu suaminya mendua? Rubby mengelus punggung Jihan dengan lembut, ia hanya ingin wanita itu tenang dan tidak berbuat macam-macam.
__ADS_1
"Aku hanya tidak ingin bercerai, Mas," ucap Jihan tiba-tiba. "Aku mencintaimu, aku memang salah, Mas. Tapi selama ini aku selalu mencoba setia padamu. Salahku hanya satu, aku egois tidak memikirkan keinginanmu yang ingin memiliki keturunan."
Rubby mendengar itu menjadi gamang, tapi selama ada Khanza di hatinya, Rubby tidak peduli lagi akan karier Jihan yang ingin terus menjadi model. Ia pikir, Jihan akan selamanya menjadi model. Namun pada kenyataannya, Jihan malah ingin mengakhiri kariernya begitu saja. Tapi Rubby tahu betul akan kecintaan Jihan dengan dunia modelnya. Apa ucapan Jihan serius akan mengakhiri semuanya?
"Kenapa Mas diam saja? Apa tidak ada kesempatan untukku memperbaiki semuanya? Aku janji tidak akan menyakiti istrimu, tapi aku mohon, Mas. Mas jangan menceraikanku, aku rela dimadu, Mas."
Walau sakit, Jihan mencoba menerima nasibnya. Lalu bagaimana dengan Rubby? Apa pria itu akan memberi kesempatan pada Jihan? Terus, nasib Khanza bagaimana? Apa dia akan selamanya menjadi madu? Hanya Rubby yang tahu akan bagaimana nasib rumah tangganya.
***
Di apartemen.
Khanza yang sedari tadi tidak dapat memejamkan matanya, wanita itu terus membolak-balikkan tubuhnya di kasur. Mencari kenyamanan agar bisa memejakan matanya.
Mungkin sudah terbiasa akan kehadiran Rubby disetiap malamnya, jadi Khanza tidak bisa tidur dengan nyenyak. Khanza juga terus kepikiran, sampai sekarang Rubby belum menghubunginya. Apa yang sebenarnya terjadi? Pikiran yang terus bergelayut, membuat Khanza beranjak dari tempat tidur.
Mie instan pun habis ia lahap. Setelah itu, Khanza bergegas kembali ke kamar mencoba untuk tidur. Tetap seperti tadi ia masih belum bisa tidur. Tidak bisa tidur karena belum ada kabar dari suaminya, buktinya perutnya sudah terisi pun Khanza masih melek.
Akhirnya ia putuskan untuk bertanya kabar melalui pesan singkat lewat ponsel.
"Mas, kamu sedang apa?" Pesan terkirim, namun masih centang warna abu-abu.
Dan itu cukup membuat hati Khanza sedikit tenang walau masih belum ada balasan. Khanza masih terus menunggu balasan dari suaminya, hingga lima belas menit pun berlalu. Khanza masih terus melihat pesan itu, sudah dibaca apa belum?
Dilihatnya, centang itu berubah sudah menjadi biru, namun Rubby tidak membalasnya. Khanza jadi kecewa, dengan kesal ia pun membantingkan ponselnya sendiri ke atas kasur. Lalu ia berusaha untuk tidur.
__ADS_1
***
Rubby sudah gatal, tangannya ingin membalas pesan dari Khanza. Namun ia tetap harus menjaga wanita yang kini ada di sampingnya. Bukan tidak peduli pada Khanza, Rubby hanya tidak ingin membuat Jihan kembali emosi, satu-satunya cara agar Jihan tenang, Rubby tidak dulu membahas Khanza. Ia akan mencari waktu yang pas untuk membicarakan masalah ini dengan Jihan.
Jihan masih hilang kendali, Rubby takut Jihan berani mencelakai Khanza mungkin dengan begini, Jihan masih bisa dikendalikan. Pikir Rubby. Posisi yang sedari tadi berpelukan membuat Rubby susah bergerak. Jihan tidak melepaskan pelukkan itu sama sekali, ia malah mengajak Rubby untuk tidur.
"Mas, jangan main ponsel terus, kita tidur yuk?" ajak Jihan yang sudah mulai tenang, bahkan Jihan meraih ponsel yang di sedang di genggam oleh Rubby dan meletakkannya di atas nakan.
Mau tak mau, akhirnya Rubby pun ikut tidur di branker. Karena branker cukup luas sehingga Jihan dan Rubby tidur bersama.
Keesokan harinya, Jihan bangun lebih awal. Waktu menunjukkan pukul 05.30, ia pun melihat Rubby yang masih terlelap. Tubuh Jihan sepertinya sudah vit, hanya luka di tangan yang belum mengering.
Setengah jam kemudian, Rubby pun terbangun, ia tak melihat Jihan di sampingnya. Mendengar suara air dari kamar mandi, Rubby pun kini tahu di mana istrinya berada.
Rubby beranjak dari branker, lalu ia duduk di sofa. Tak lama dari situ, pintu kamar mandi pun terbuka. Melihat Jihan kesusahn karena membawa tiang infus ke dalam kamar mandi membuat jiwa rasa kasihan Rubby ingin membatunya.
"Kamu sudah bangun, Mas?" tanya Jihan kala Rubby menghampirinya.
"Hmm," jawab Rubby tanpa ekspresi.
Ada rasa peduli dari Rubby membuat Jihan berpikir, masih ada sisa cinta untuknya. Jihan kembali membaringkan tubuhnya di atas branker, dan dokter pun kini datang memeriksa pasiennya.
"Dok, saya sudah merasa sehat. Saya mau pulang saja," pinta Jihan. Diangguki oleh Dokter.
Akhirnya, Jihan pun pulang dari rumah sakit hari ini juga.
__ADS_1
Bersambung.