
Tempuh yang dilalui Jihan dan Bayu cukup melelah mereka berdua. Mereka langsung memesan kamar hotel setibanya di sana. Bayu memesan dua kamar , tapi Jihan melarangnya.
"Cukup satu saja, aku inginnya malam ini kita langsung menikah," ujar Jihan.
Bayu membulatkan kedua matanya. "Malam ini?" tanya Bayu tak percaya.
"Iya, malam ini. Apa kamu keberatan? Bukankah lebih cepat lebih baik?"
"Tapi aku belum ada persiapan, Jihan. Belum lagi membeli cincin."
"Itu bisa menyusul, aku ingin meresmikan hubungan ini. Surat-surat juga bisa menyusul, bukan?"
"Ah, baiklah kalau begitu. Aku terserah kamu saja."
Akhirnya, Bayu pun memesan satu kamar sesuai keinginan Jihan. Bayu menyentuh dadanya yang tiba-tiba berdegub begitu kencang. Kakinya seakan tidak berpijak saking bergetarnya tubuhnya itu.
"Kamu gak apa-apa 'kan?" tanya Jihan, wanita itu melihat tangan Bayu begitu bergetar ketika ia menerima kunci dari receptionis hotel.
"Aku hanya tidak percaya kalau kamu ingin secepatnya kita menikah. Ini di luar ekspektasiku."
"Kamu ini seperti orang yang belum pengalaman saja, bukankah ini pernikahanmu yang kedua?"
"Iya, memang kedua. Tapi kamu yang pertama," ujarnya dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Ah, aku lupa itu," bisiknya.
Mereka berdua pun menuju kamar yang mereka pesan. Setibanya di kamar, Jihan langsung merebahkan tubuhnya di sana. Entah kenapa, ia merasa tubuhnya merasa kaku dan pegal-pegal. Ia memijat tangannya sendiri dengan posisi masih rebahan.
Bayu pun menghampirinya dan langsung meraih tangannya.
"Sini, aku pijat."
Jihan tersenyum mendapatkan perlakuan manis dari calon suaminya itu. Sudah lama ia tak mendapatkan kasih sayang dari seorang pria. Terakahir kali ia mendapatkan itu dari Rubby, itu pun ia sering menolaknya karena kesibukannya di dunia modelnya.
"Gimana? Apa sudah enakan?" tanya Bayu.
__ADS_1
"Hmm, sekalian dong, kakinya juga," pintanya.
Dengan senang hati Bayu lakukan itu. Ia belum pernah semesra ini dengan Alisia, istrinya lebih dulu kecewa akan kekurangannya.
"Kamu pria hangat, kenapa Alisia menyia-nyiankanmu?" ucapnya sambil memperhatikan pria yang kini sedang fokus memijat kakinya itu dengan lembut.
"Mungkin bukan jodoh," jawab Bayu, hanya kata itu yang ia katakan. Meski Alisia salah, ia tak menjelekkan wanita itu di depan calon istrinya. Yang lalu biarlah berlalu, itu prinsipnya.
"Aku harap, kamu pria terakhir yang mengisi hidupku," ucap Jihan.
Bayu pun menghentikan pijatannya sejenak, menatap wajah itu lekat-lekat. Tak menyangka ia akan berjodoh dengan mantan bosnya. Tatapannya buyar ketika ponsel miliknya berbunyi. Bayu langsung mengangkatnya tanpa beranjak dari tempatnya.
"Ya, Tuan. Iya, saya temui beliau sekarang," jawabnya pada sambungan telepon itu.
"Ji, aku pergi dulu ya? Kamu baik-baik di sini. Kalau butuh sesuatu hubungi pihak hotel saja."
"Hmm, kamu hati-hati."
Bayu mengecup kening Jihan sebelum pergi, disaat bibir itu menempel di keningnya, Jihan memejamkan kedua matanya merasakan dari kecupan itu sendiri.
"Aku pergi sekarang." Ucap pria itu setelah melepaskan bibirnya dari kening itu, lalu mengusap pipinya dengan lembut.
"Sekalian aku siapkan untuk acara nanti malam." Pria itu sedikit berteriak dengan ucapannya karena ia mengucapkannya sembari berjalan mundur.
"Iya," jawab Jihan berteriak pula. Hingga Bayu sudah tidak lagi terlihat, Jihan sendiri baru kembali masuk ke dalam.
***
Di kantor, Bayu terlihat sibuk mengurus pekerjaanya di sana. Ia juga sempat menemui tuan Abraham yang akan bekerja sama dengan cabang Anggoro Group yang berada di kota kembang tersebut. Karena sudah tidak di pegang lagi oleh Dion, rencananya Rubby akan menyerahkan kepercayaannya pada Bayu.
Bayu cukup cerdas mengenai bisnis itu, Rubby yakin bahwa Bayu bisa mengelola perusahaannya di sana.
Hingga jam kantor pun selesai, Bayu langsung menuju masjid yang berada di kota Bandung tersebut. Rencananya ia akan melaksanakan ijab qobulnya di sana. Ia mendatangi pihak masjid dan meminta izin.
Setelah semua itu selesai, ia sendiri langsung pergi ke toko perhiasan. Membeli cincin pernikahannya untuk dikenakan Jihan dan ia sendiri setelah selesai akad.
__ADS_1
Sesudah membeli cincin, Bayu merogok ponselnya sendiri ketika ia masih berada di dalam toko perhiasan itu. Pada sambungan itu ia meminta seseorang menyusulnya ke sana untuk menjadi saksi di acara pernikahannya nanti. Tak lupa ia juga membeli kebaya untuk Jihan.
"Ok, semuanya sudah siap. Aku harus langsung ke hotel," ucap Bayu sendiri pada dirinya.
Dalam perjalanan menyuju hotel, Bayu melihat toko bunga yang berada di pinggir jalan. Ia pun menepikan mobilnya di sana, membeli bunga untuk ia berikan pada calon istrinya tersebut. Walau acara sederhana, tapi ia ingin momen ini berkesan untuknya juga Jihan.
"Mbak, saya pilih bunga yang ada di atas itu." Tunjuk Bayu pada bunga Mawar yang terlihat sudah cantik dan rapih.
Si penjual pun mengambil buket bunga tersebut dan memberikannya pada Bayu yang hendak membeli bunganya.
Bayu mencium aromanya begitu dalam, ia yakin Jihan pasti menyukainya.
Lantas, ia pun membayar bunga itu, setalahnya ia sendiri langsung masuk kembali ke dalam mobilnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore, ia harus lebih cepat sampai. Karena acara akan dimulai jam delapan malam.
Pas sampai hotel, ia langsung menuju kamarnya sendiri dan menyembunyikan bunga di belakang tubuhnya, memberi kejutan pada wanita pujaannya. Mengetuk pintu tersebut hingga muncul sosok wanita yang kini menjadi pilihan hidupnya. Belum menjadi istri saja, Jihan sudah menunjukkan rasa hormatnya.
Mencium punggung tangan calon suaminya tersebut. Ia akan memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi.
Bayu pun tersenyum melihat sikap Jihan yang hangat, ia mengusap lembut pucuk rambut wanita itu dan memberikan bunga yang sempat ia beli tadi. Bayu berlutut dengan satu kaki sembari meraih tangan wanita itu.
"Maukah kamu menjadi istri? Menjadi ibu dari anak-anakku?"
Jihan sendiri terharu, matanya sudah berkaca-kaca. Jika ia berkedip sudah dipastikan air mata itu pasti terjatuh. Tak lama ia pun mengangguk, menerima lamaran pria tersebut.
Setelah mendapat anggukkan, Bayu mencium tangan Jihan. Tak peduli dengan pasang mata yang melihat aksinya, karena ia lakukan itu tepat diambang pintu.
"Kamu siap-siap sekarang," ucap Bayu. Tak lupa iaa juga memberikan paperbag yang ia bawa. "Kamu pakai ini, pasti akan terlihat cantik."
Jihan meraih paperbag tersebut lalu menuju kamar mandi, ia akan mengenakan baju itu di sana. Jihan muncul dari balik pintu, Bayu yang melihatnya langsung terpana.
"Cantik."
Jihan berjalan menuju meja rias, ia memoles wajah sendiri di sana. Sedangkan Bayu, ia juga tengah bersiap. Mengenakan jas yang warnanya sepadan dengan kebaya yang Jihan kenakan. Warna putih simbol dari sucinya pernikahan mereka.
***
__ADS_1
Bayu dan Jihan turun dari mobil tepat di depan masjid. Setibanya di dalam, Jihan melihat seseorang di sana. Ia tak percaya orang itu hadir dipernikahannya.
Bersambung.