Bukan Rahim Pengganti

Bukan Rahim Pengganti
Bab 23


__ADS_3

Rubby turun dari mobil, ia melihat Jihan dari kejauhan. Sepertinya istrinya itu marah padanya, karena Rubby pun merasa sudah membohonginya dan mengkhianati pernikahannya sendiri. Rubby ingat betul janjinya pada Jihan sewaktu setelah mengucapkan ijab kobul. Bahwa ia akan setia pada Jihan.


Namun pada kenyataannya takdir berkata lain. Rubby begitu karena sikap Jihan sendiri, Jihan yang memulai kekacauan ini. Perlahan, Rubby melangkahkan kakinya. Walau terasa berat tapi ia harus tetap menemui Jihan.


Pertama kali yang Rubby lakukan, ia mencium kening Jihan seperti biasa. Ia belum bisa jujur akan pernikahannya dengan Khanza.


"Mas, kamu dari mana saja sih? Mbak Santi bilang kalau Mas sudah beberapa hari ini tidak ada di rumah. Mas pergi kemana? Tidur di mana?"


Pertanyaan dari Jihan membuat Rubby balik bertanya.


"Kamu sendiri kemana? Aku tidak mengizinkanmu pergi, bukan?"


Pertanyaan Rubby membuat Jihan tak berkutik, ia diam seribu bahasa.


"Lagian, percuma di rumah juga kalau tidak ada istri. Mending aku cari hiburan di luar sana!"


Rubby pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, ia melewati tubuh Jihan begitu saja. Padahal Rubby sedang tidak enak pikiran, ia memikirkan Khanza istri kecilnya.


Sedangkan Jihan, ia melihat kepergian suaminya dengan nanar, melewati dirinya begitu saja. Tak biasanya Rubby begini, Jihan semakin penasaran. Apa yang terjadi pada Rubby belakangan ini?


Jihan menyusul suaminya. Rubby sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur, Jihan pun menghampirinya dan ikut merebahkan diri di samping Rubby. Karena posisi Rubby membelakanginya, Jihan pun memeluknya dari belakang.


"Mas, kamu masih marah ya sama aku? Aku minta maaf, Mas. Aku sudah keterlaluan." Jihan mengeratkan pelukkannya pada Rubby.


Tapi sayang, Rubby melepaskan tangan Jihan. Tahu begitu, Jihan langsung beranjak dari kasur. Ia pindah posisi, sekarang Jihan sudah ada di hadapan Rubby. Jihan berlutut meminta maaf pada suaminya.


"Mas ... Aku minta maaf, aku sadar aku salah, Mas. Tidak bisakah kamu memaafkanku?" lirih Jihan dalam tangisan.


Rubby pun bangkit, ia meraih tubuh Jihan agar istrinya itu tak berbuat demikian.


"Bangunlah, Jihan. Kamu tidak perlu merendahkan dirimu hanya untuk mendapatkan maaf dariku. Aku sudah memaafkanmu, tapi sepertinya rumah tangga kita tak sehangat dulu." Rubby beranjak dari tempatnya, ia menatap ke arah luar lewat jendela.


"Apa maksudmu, Mas? Kenapa bilang seperti itu?" Jihan menghampiri Rubby, kini ia tepat ada di belakangnya suaminya. Jihan merasa ada yang ganjal dengan ini. Bukankah selama ini Rubby tidak pernah marah padanya?


Jihan memeluknya kembali dari belakang.

__ADS_1


"Mas ... Maafkan aku." Jihan tak patah arang untuk mendapatkan maaf tulus dari Rubby. Kali ini, Jihan tak membiarkan Rubby melepaskan pelukkannya.


"Ku mohon, Mas," lirih Jihan.


"Tidurlah, Jihan. Ini sudah malam, kamu pasti cape sudah pemeotretan."


"Sama kamu, Mas tidurnya?"


Mau tak mau Rubby menemani Jihan tidur, bukannya apa-apa. Rubby ingin memastikan keadaan Khanza di sana, ia akan melihat Khanza lewat cctv yang terpasang di sana.


Jihan tidur dalam keadaan memeluk Rubby. Rubby tidak bisa lepas dari pelukkan itu, sedangkan Jihan, ia mulai memberikan kehangatan yang selama ini diinginkan oleh Rubby.


"Tidurlah," ucap Rubby.


"Aku kangen, Mas ..."


"Tapi aku ngantuk, Jihan," tolak Rubby.


"Kamu kenapa sih? Jangan marah terus, aku sudah berhenti jadi model. Aku akan fokus mengurus rumah tangga kita, Mas."


Jantung Rubby seakan berhenti berdenyut ketika kata-kata itu terucap dari mulut Jihan.


"Semuanya sudah terlambat, Jihan. Aku tidak bisa jadi Rubby yang dulu, jadi milikmu seutuhnya. Ada wanita lain yang membutukanku juga." Namun kata-kata itu tertahan dalam hati, Rubby takut Jihan belum bisa menerima semuanya.


Jihan semakin liar, ia membuka bajunya sendiri. Setelah baju itu terbuka, Jihan menindih tubuh suaminya. Ia memberi apa yang di inginkan Rubby selama ini.


"Aku akan membahagiakanmu malam ini, Mas." Jihan menciumi setiap jengkal tubuh Rubby. Rubby pria normal, tentu mendapatkan serangan Jihan membuat kepemilikannya menegang. Akhirnya pertahanan Rubby rubuh, pria itu terbuai akan sikap Jihan yang mulai menghangat.


Jihan membuka baju Rubby dengan brutal. Wanita itu ingin maaf dari sang suami, dan ini jalan satu-satunya menurut Jihan. Disaat baju itu terlepas, Jihan menyentuh punggung Rubby. Jihan merasakan goresan itu di punggung suaminya. Ia pun penasaran kenapa punggung itu.


"Mas, ini seperti bekas cakaran. Siapa yang melakukan ini?" tanya Jihan, wanitu sedikit menjauh dari tubuh Rubby. "Katakan, Mas ... Jangan diam saja!"


Rubby diam, mana mungkin ia mengatakannya sekarang. Pasti Jihan akan shock dengan ini, Rubby tak bisa menjawab.


"Siapa, Mas? Apa itu cakaran kuku perempuan?" Jihan menangis, ia tak melajutkan pertempuran itu. Jihan masih bertanya akan hal itu.

__ADS_1


"Diam, Mas aku anggap itu sebagai jawaban bahwa Mas sudah tidur dengan wanita lain!"


Dan terbukti, bahwa Rubby terus diam. Dalam hati ia mengakui kesalahannya. Jihan pun kembali memakai bajunya, dan ia mulai pergi meninggalkan Rubby seorang diri. Jihan menangis menerima kenyataan bahwa suaminya sudah mengkhianati perkawinannya.


Jihan pindah kamar, ia putuska untuk tidak tidur dengan suaminya. Hatinya terasa sakit ketika ia tahu bahwa Rubby sudah tidur dengan wanita lain.


"Segitu bencinya kamu, Mas. Sampai kamu tega mengkhianatiku." Jihan menangis sesegukkan.


Tidak bisa membiarkan itu, Rubby menyusul Jihan.


"Jihan ... Buka pintunya?" Rubby memutar-mutar handle pintu sembari mengetuknya tanpa henti. "Kita perlu bicara, Jihan."


"Beri aku waktu, Mas. Aku belum sanggup untuk menerima semua ini, aku tahu aku salah. Tapi bukan berarti kamu begitu, Mas!" sahut Jihan dengan emosi.


Rubby terus membujuk Jihan, namun hasilnya nihil. Ia tahu sikap Jihan, wanita itu susah untuk diajak bicara.


"Ayolah, Jihan. Jangan seperti ini." Rubby tak henti-hentinya membujuk Jihan, hingga pada akhirnya ia menyerah. Ia pun pergi dari depan pintu kamar yang di tempati Jihan sekarang.


Tahu Jihan masih enggan untuk menemuinya Rubby meraih ponselnya yang ada di dalam saku celananya. Ia ingin cepat-cepat melihat keadaan Khanza, Rubby tak melihat Khanza di dalam kamar. Lalu, Rubby mencari keberadaan Khanza lewat cctv itu.


"Kamu di mana, Za?" Rubby mulai panik ketika ia tahu bahwa istrinya itu tidak terlihat disetiap sudut cctv. Rubby terus arahkan ponselnya menghubungkan cctv ke ruangan yang lain.


"Maafkan, Mas." Rubby masih panik, takut istrinya pergi.


***


"Mas ... Kamu di mana?" Khanza terjaga dari tidurnya. Ia mencari keberadaan Rubby karena suaminya tidak ada di sampingnya.


Khanza mulai ketakutan, ia sendirian di vila sebesar ini. Tubuh Khanza merosot, ia terduduk dengan kaki menekuk. Menangis sendirian di sana, ia menelusupkan wajahnya.


"Kamu di mana, Mas? Aku takut." Khanza terus menangis dalam ketakutan.


Pada akhirnya, Rubby tahu keberadaan Khanza lewat cctv. Dan ...


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2