
Mawar langsung mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan. Ia melihat ada Dion di sana, Mawar melihatnya hanya dengan sudut mata. Ia tak berani menatap wajah Dion secara langsung.
Laras yang tahu kalau hari ini hari terakhir Mawar, gadis itu dijamu habis-habisan oleh Laras. Sampai Dion merasa bingung melihatnya, jampi-jampi apa yang digunakan gadis polos itu? Sebegitunya Dion sampai memiliki pemikiran picik terhadap Mawar.
"Tante, ini masih banyak," kata Mawar. Laras terus meletakkan makanan di atas piring Mawar, bahkan makanan itu masih penuh.
"Gak apa-apa, sayang. Tante seneng melakukannya, kamu makan yang banyak ya? Kalau Tante sayang, Tante akan memperlakukanmu dengan baik," ucap Laras sembari matanya mengarah pada Dion.
"Tante gak mau membuat kesalahan yang nantinya mengakibatkan bisa kehilangan seseorang. Lebih baik Tante lakukan ini sekarang, karena nanti belum tentu Tante mendapatkan kesempatan itu. Karena penyesalan datangnya belakangan." Lagi-lagi ucapan Laras mengarah pada Dion.
"Apa maksud Mbak Laras?" batin Dion. Sesekali ia melihat ke arah Mawar, namun gadis itu nampak biasa saja bahkan Mawar begitu fokus pada makanannya.
"Ma, Mama kaya yang gak akan bertemu lagi saja dengan Mawar," kata Anggoro pada istrinya.
"Ish ... Papa ini, Papa diam saja. Mama lagi mencoba membuka hati Dion, sepertinya adikmu itu punya rasa sama Mawar. Tapi dia gengsi," bisik Laras pada suaminya.
"Makan ya makan aja, Mbak. Gak usah bisik-bisik," celetuk Dion. Dion merasa Laras selalu menyindirnya.
Laras dan suaminya pun dengan cepat menyelesaikan makannya, mereka lebih dulu selesai dari pada Dion dan Mawar.
"Mawar, kami duluan ya?" ucap Laras, Laras menarik tangan suaminya agar cepat-cepat pergi dari sana. Laras mencoba memberi waktu pada Dion dan Mawar, siapa tahu Dion menurunkan egonya.
"Ma, Mama tuh kenapa sih?" Anggoro masih belum mengerti kenapa istrinya itu bersikap manis pada Mawar.
"Malam ini, malam terakhir Mawar berada di sini, Pa. Mama inginnya tuh Dion menjalin hubungan sama Mawar." Laras mencoba memberi pengertian pada suaminya. Dan Anggoro hanya manggut-manggut, pria itu tidak ingin ikut campur dengan urusan adiknya itu.
"Dion tidak tahu kalau ini malam terakhir Mawar di sini. Semoga saja Dion bersikap manis pada Mawar untuk malam ini, Papa jangan ganggu Dion sama Mawar ya?" Laras mewanti-wanti suaminya untuk tidak kembali ke ruang makan atau ke ruangan yang lainnya. Suaminya itu cukup berdiam diri di kamar bersamanya.
***
__ADS_1
Mawar hampir selesai dengan makan malamnya, gadis itu masih tak bergeming. Bahkan Mawar masih acuh pada Dion. Begitu juga dengan Dion, Dion masih nampak kesal dengan kejadian tadi sore. Melihat Mawar bersama si Agus, dan itu cukup membakar hatinya.
"Kenapa juga aku harus memikirakan itu?" batin Dion.
Mawar beranjak dari tempatnya sembari membawa piring kotor ke dapur, gadis itu berjalan tanpa menoleh sedikit pun pada Dion. Tapi tidak dengan Dion, pria itu memperhatikan Mawar dari kejauhan. Semakin kesal pada Mawar, ia semakin penasaran. Tapi bawaanya kenapa ia selalu ingin marah pada gadis itu?
Apa Dion berharap Mawar yang lebih dulu menyapanya dan meminta maaf padanya? Ya, mungkin itu yang diinginkan Dion. Tapi Mawar harus minta maaf untuk apa? Bahkan ia tak memiliki kesalahan yang harus membuat Mawar minta maaf padanya.
Mawar kembali melewati tubuh Dion, entah kenapa, Dion beranjak dan menghalangi jalan Mawar. Sampai gadis itu kesusahan untuk melewati jalannya. Mawar ke kiri, Dion juga ke kiri. Begitu pun sebaliknya.
Dion selalu ingin membuat Mawar kesal setidaknya Mawar mengucapkan sesuatu padanya. Semakin Mawar menghindar, Dion malah semakin penasaran. Sayang, Mawar tidak terpancing dengan kelakuan Dion.
"Tolong, Pak. Beri saya jalan." Sebisa mungkin Mawar bersikap biasa.
Dion terdiam sejenak, sejak kapan kata formal itu berlaku di rumah? Bahkan Dion menyuruh Mawar untuk bersikap biasa dan tidak memanggil Bapak jika sedang tidak di kantor. Apa karena Dion sering marah padanya sampai Mawar bersikap seperti ini?
"Mawar, saya minta maaf." Kata itu lolos begitu saja dari bibir Dion. Apa dia menurunkan egonya?
"Apa Bapak tidak mau memberiku jalan?" tanya Mawar.
"Sial, Mawar mengabaikan kata maafku." Dion kembali membatin, ia menyesal sudah minta maaf pada gadis itu. Dion kembali ingin marah, tapi ia tak bisa. Ia tak ingin memperkeruh keadaan, pikirnya.
Akhirnya Dion menggeserkan tubuhnya memberi jalan pada Mawar, gadis itu pun berlalu begitu saja. Mawar sengaja melakukan itu agar ia bisa pergi dengan aman. Biar sekalian Dion membencinya, pikir Mawar.
Mawar menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Tanpa di sadari, Mawar mengeluarkan air matanya. Mawar mengakui pada dirinya bahwa ia telah jatuh hati pada pria matang itu, tapi Mawar juga tahu kalau Dion memiliki perasaan pada wanita lain.
Mawar sering melihat poto-poto yang terpasang di layar laptop Dion, itu sebabnya Mawar tidak begitu memikirkan akan cintanya pada Dion. Ia sadar, gadis seperti apa dirinya? Larut dalam pemikirannya, Mawar tertidur dengan sendirinya.
Di kamar lain.
__ADS_1
Dion yang baru saja merebahkan tubuhnya di atas kasur, pria itu mencoba memejamkan matanya. Namun tak kunjung terpejam. Begitu sulit menghilangkan kejadian tadi sore, apa Dion mulai cemburu melihat Mawar dekat bersama pria lain?
"Aargghhh ..." Dion menjambak rambutnya sendiri dan langsung bangkit dari tempatnya. Sepertinya pikirannya tengah gamang, kenapa ia jadi memikirkan Mawar terus? Bahkan wajah Mawar terus terbayang dalam benaknya.
"Sial!" rutuk Dion sendiri. Dion baru bisa tidur di jam tiga.
Sampai ia terbangun di jam tujuh pagi. Dion langsung bergegas ke kamar mandi, pria itu kesiangan. Dion berangkat ke kantor jam delapan. Bahkan rumah nampak sepi, ia tak melihat siapa-siapa di sana.
Dion juga berpikir kalau Mawar sudah berangkat lebih dulu ke kantor, pria itu benar-benar tidak tahu kalau Mawar sudah usai dengan masa magangnya.
***
"Kamu hati-hati ya, sayang," ucap Laras. Laras mengantar Mawar ke halte, inginnya Laras mengantar Mawar langsung sampai rumhanya. Tapi Mawar menolaknya, beralasan rumahnya tidak bisa dijangkau dengan kendaraan beroda empat.
Akhirnya, Laras hanya bisa mengantar Mawar sampai halte.
"Lain kali kamu main ke rumah Tante ya?"
Mawar mengangguk. Karena bus yang akan ditumpangi Mawar akan segera berangkat, Mawar pun pamit pada Laras.
Mawar memeluk tubuh wanita paruh baya itu.
"Terimakasih ya, Tante. Tante sudah baik pada Mawar," kata Mawar dalam pelukkan Laras. Setelah itu, Mawar pun menaiki busnya dan bus mulai melaju.
Laras pun kembali pulang.
***
Dion sampai kantor pada jam 08.30. Pas sampai sana, ia tak melihat Mawar. Masih berpikir tidak terjadi sesuatu, Dion pun melewati meja kerja Mawar yang kosong dan langsung masuk ke ruangannya.
__ADS_1
Bersambung.