Bukan Rahim Pengganti

Bukan Rahim Pengganti
Bab 14


__ADS_3

Setelah tahu kebenarannya, Rubby harus menjaga Khanza dengan extra. Takut keberadaan Khanza terendus oleh ibunya yang kata Seno seorang germo.


Sekarang tinggal memikirkan bagaimana caranya menyembunyikan masalah ini pada Khanza? Gadis itu pasti ingin bertemu dengan orang tuanya jika ia tahu bahwa ibunya masih hidup.


Rubby tidak akan membiarkan itu terjadi.


***


Khanza merasa bosan berada di apartemen, ia mencoba keluar dari apartemen itu. Sembari mencari makan siang, gadis itu putuskan untuk pergi. Padahal Rubby sudah berpesan padanya, jangan keluar tanpa seizin darinya.


Khanza bersiap-siap, setelah itu ia benar-benar pergi. Pas sudah keluar dari apartemen, ia tak sengaja bertemu dengan teman sekolahnya sewaktu dulu.


"Khanza," panggil seseorang.


Khanza pun menoleh ke sumber suara.


"Niko," ucap Khanza.


Niko mendekat ke arah Khanza sembari tersenyum, ternyata Niko teman dekat Khanza sewaktu SMA. Pria itu menaruh hati pada Khanza, Khanza memang tidak cantik-cantik amat. Tapi gadis itu terbilang manis, ada sebagian teman prianya yang menyukainya termasuk Niko.


"Kamu tinggal di sini?" tanya Niko.


Khanza mengangguk sebagai jawaban.


"Waah ... Kebetulan sekali, aku juga tinggal di sini. Kamu mau kemana?" tanyanya kemudian.


"Mau cari makan," jawab Khanza apa adanya.


"Kalau begitu bareng saja, aku juga mau makan siang," ajak Niko. Padahal ia pergi bukan untuk makan siang, namun karena Khanza berkata demikian, Niko putuskan untuk menemani Khanza, kapan lagi bisa pergi dengannya?


Khanza bukan tipe cewek yang gampang diajak. Dari dulu Niko mengejarnya, namun Khanza selalu menjauh. Ia tidak ingin terlalu dekat dengan seorang pria, karena Seno tak mengizinkan itu. Khanza anak yang berbakti kepada orang tuanya.


Tak lama dari situ, Khanza berjalan lebih dulu, sebenarnya ia tidak ingin pergi bersama Niko, namun ia tak ingin disebut sombong karena Niko adalah teman sekolahnya. Bukan hanya itu, Khanza juga takut kalau Rubby tahu. Bisa ngamuk kalau Rubby tahu Khanza pergi bersama laki-laki.


Hingga mereka berdua pun sampai di cafe.


"Mau pesan apa, Za?" tanya Niko setelah mereka duduk dan disuguhkan buku menu oleh seorang pelayan.

__ADS_1


Khanza melihat buku menu setelah itu ia memesan makanannya, begitu juga dengan Niko. Pria itu memesan makanan seperti apa yang Khanza pesan.


Ketika sedang menunggu makanan datang, Niko bertanya mengenai pendidikan Khanza. Khanza gadis berprestasi di sekolah tidak mungkin kalau Khanza tidak meneruskan kuliahnya.


"Kamu kuliah di mana, Za?"


Khanza diam, ia tidak kuliah. Masa harus jawab dia bekerja sebagai asisten di apartemen Rubby dan dijadikan sebagai jaminan untuk ayahnya, 'Kan gak masuk akal. Tentu Niko tidak akan percaya akan hal itu, setahu Niko, Khanza tidak terlalu miskin. Jadi Khanza mencoba menetupi permasalahan keluarganya pada orang lain.


"Aku belum menemukan kampus yang cocok," jawab Khanza.


"Kuliah di kampusku saja, kamy cukup pintar, Za. Aku yakin kamu pasti diterima," usul Niko.


"Akan aku pikirkan." Padahal itu hanya alasan, mana mungkin Khanza kuliah. Sebentar lagi ia akan menikah.


Tak lama dari situ, makanan datang. Mereka menyudahi perbincangannya sejenak, fokus untuk makan siang dulu. Beberapa menit kemudian, mereka pun selesai makan.


Khanza langsung pamit, ia tidak bisa pergi lama-lama. Karena ia tak meminta izin lebih dulu pada Rubby.


"Niko, aku duluannya," pamit Khanza.


Khanza menggelengkan kepalanya.


"Lain kali saja, Ko," tolak Khanza.


Khanza benar-benar pergi dari cafe, ia putuskan untuk pulang sekarang juga. Kenapa hatinya jadi sedikit tidak tenang setelah ia pergi tanpa izin lebih dulu pada Rubby.


Hingga pada saatnya, ia pun sampai di apartemen. Khanza membuka kunci pintunya, namun pintu tidak terkunci. Khanza ingat betul, pintunya sudah ia kunci sebelum pergi tadi. Pikirannya langsung negatif. Jangan-jangan ada maling, pikir gadis itu.


Buru-buru, Khanza masuk ke dalam. Betapa terkejutnya ia, Khanza melihat Rubby duduk di sofa sambil menatap ke arahnya.


"Dari mana kamu? Kenapa pergi tidak izin dariku?" tanya Rubby sedikit kesal. Bukan tidak mengizinkan Khanza pergi, setelah ia tahu bahwa keberadaan Khanza tidak terlalu aman jika pergi sendiri.


Khanza diam sambil menunduk, ia mengakui bahwa ia sudah salah. Pergi tidak izin lebih dulu, hidup Khanza sekarang di bawah arahan Rubby. Setelah ayahnya bebas Khanza sudah menjadi milik Rubby, ia tidak bisa sebebas dulu.


"Maaf, aku pergi hanya untuk mencari makan siang. Tadi pagi, Tuan bilang jangan masak," jawab Khanza apa adanya.


Rubby menghela napas, lalu bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"Saya bukan tidak mengizinkan, Khanza. Setidaknya kamu bilang biar saya tidak khawatir. Saya datang kamu tidak ada di sini, saya kira kamu diculik."


Khanza langsung mendongakkan wajahnya ke arah Rubby.


"Ish ... Mana mungkin aku diculik! Siapa yang akan menculik gadis sepertiku?" Khanza cukup tahu diri, tidak ada yang spesial pada dirinya. Ia tidak tahu saja, ada seseorang yang menginginkanya. Untung ibunya Khanza tidak tahu wajah putrinya seperti apa sekarang. Karena Seno benar-benar melindungi putrinya.


"Kamu gadis unik, Khanza." Rubby mendekati Khanza, sehingga Khanza sedikit mundur. Ia sudah tahu apa yang akan dilakukan pria itu berikutnya.


"Jangan menciumku lagi! Awas kalau berani!" Khanza mulai berani, karena ia tidak mau dengan gampangnya Rubby menciumnya.


"Kalau saya menciummu memangnya kenapa?"


"Pokoknya tidak boleh sebelum kata sah terucap," jawab Khanza.


"Baiklah kalau begitu, saya akan menikahimu besok. Seno yang akan menjadi walinya, saya sudah bertemu dengan Papamu dan dia sudah merestui pernikahan ini."


Kalau sudah begini, Khanza pun pasrah. Ia sudah tidak bisa lagi menolak, karena hidupnya sudah ia pasrahkan pada Rubby.


Rubby menghubungi Bayu, ia meminta Bayu untuk mencarikan penghulu untuk pernikahannya.


Di sebrang sana, Bayu menggerutu. Dia yang mau menikah kenapa malah Rubby yang lebih dulu menikah. Bayu awalnya terkejut, namun Rubby sudah menjelaskannya padanya. Bayu pun mengerti keadaan bosnya itu. Tidak ada yang salah jika ia ingat akan kelakuan Jihan yang selalu menolak keinginan Rubby.


Mau tak mau, Bayu pun mempersiapkan acara untuk besok. Padahal ia juga sedang sibuk dengan rencana pernikahannya.


***


"Semuanya sudah disiapkan oleh Bayu," ujar Rubby. "Sekarang kita pergi, cari kebaya untuk kamu kenakan besok." Rubby menarik tangan Khanza dengan lembut, pria itu menuntun Khanza agar mengikutinya.


Rubby tidak menanyakan akan perasaan Khanza, apa gadis itu mau menikah dengannya apa tidak? Dari kemarin, Khanza belum menjawab. Main asal ajak saja.


Disaat Rubby menuntun Khanza, mereka berpapasan dengan Niko. Niko tak percaya dengan apa yang dilihatnya, setahunya itu bukan ayah Khanza. Siapa orang itu? Pikir Niko.


Rubby menyadari ada orang yang tengah melihat ke arahnya, sekilas ia melihat ke arah Khanza. Gadis itu berjalan sembari menunduk, sudah di pastikan ia tak melihat keberadaan Niko di sekitar.


Rubby dan Khanza sampai di area parkir.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2