
Mendengar perkataan itu, Jihan pun akhirnya membalikkan tubuhnya. Hidungnya sudah kembang kempis menahan amarah.
"Kamu tega, Mas. Kamu tega!" Jihan menangis sesegukkan. "Kamu tega sudah mengkhianati pernikahan kita! Wanita murahan mana yang sudah berani mengambil hatimu, Mas?"
"Dia bukan wanita murahan, Jihan! Bahkan dia jauh lebih baik darimu, aku nyaman bersamanya!" Akhirnya, Rubby mengeluarkan apa yang ada dalam hatinya.
"Pernikahan kita sudah tidak bisa lagi seperti dulu! Kamu jangan menyalahku seperti ini. Api tidak akan muncul jika kamu tidak menyalakannya, Jihan!"
"Mas ... Mas mau menceraikan aku demi perempuan itu, iya?"
Rubby terdiam sejenak, ia pusing. Kenapa Jihan jadi seperti ini? Wanita itu di luar kendali. Tidak ingin berdebat lagi, Rubby memilih pergi dari rumah sakit.
"Aku mau ke kantor, Jihan. Sebaiknya kamu isirahat, Mas akan menghubungi Mama agar dia menemanimu di sini."
"Aku mau Mamamu yang menemaniku, Mas!"
Rubby menghela napas, kenapa dia malah ingin ditemani oleh mamanya Rubby? Sepertinya Jihan merencanakan sesuatu. Tetapi, Rubby mengiyakan keinginan Jihan.
"Iya, Mama akan kesini menjagamu di sini." Sebelum pergi, Rubby menghubungi mamanya terlebih dulu. Dan ia pun sudah menghubungi mamanya, mamanya akan ke sini menemani Jihan.
"Mas ke kantor dulu, mungkin sebentar lagi Mama kesini." Tanpa mencium Jihan terlebih dulu, Rubby langsung keluar dari kamar yang di tempati istrinya. Perasaannya mulai menghilang, apa lagi dengan kejadian percobaan bunuh diri, Rubby semakin menjadi tidak menyukainya.
***
Rubby mengendari mobilnya sendiri, ia pusing sendiri mengenai rumah tangganya dengan Jihan. Ia memang harus menceraikannya, larut dalam lamunan, Rubby tidak melihat ada yang menyebrang. Lebih tepatnya bukan dia sendiri yang salah, orang itu menyebrang secara asal.
Hingga Rubby mengerem secara mendadak.
Ciiiittt ...
Untung mobil masih bisa dikendalikan, dilihatnya orang yang hampir ia tabrak langsung berlari. Karena orang itu juga menyadari akan kesalahannya.
Disaat itu pula, Rubby tak sengaja melihat istrinya di sebrang jalan sana. Melihat istrinya sedang berjalan kaki, ia langsung saja memanggilnya.
"Khanza ..." teriak Rubby.
Tapi sayang, sepertinya Khanza tidak mendengarnya. Karena jarak yang terlalu jauh.
Sedangkan Khanza, gadis itu terus berjalan. Sudah pergi jauh-jauh, tapi ia malah tak bertemu dengan suaminya. Karena lelah, Khanza berhenti mengistirahatkan tubuhnya. Duduk di bangku yang tersedia di pinggir jalan.
Tak lama, ada seseorang yang ikut duduk bersamanya. Khanza pun menoleh ke arah orang itu.
__ADS_1
"Niko, sedang apa kamu di sini?" tanya Khanza.
Bukannya menjawab, Niko malah tersenyum manis kepadanya.
Sementara di sebrang sana, Rubby mengepalkan tanganya. Pemandangan itu membuat matanya perih, inginnya ia menghampiri Khanza. Tetapi ponselnya berdering, ia harus ke kantor sekarang juga.
Tapi Khanza ... Sudahlah, itu bisa ditanyakan lain kali pada istrinya. Rubby percaya kalau istrinya kecilnya itu tidak akan berbuat macam-macam.
Rubby kembali masuk ke dalam mobil, walau hatinya tetap ingin menemui Khanza, tapi ia harus pergi pekerjaan sudah menanti. Mobil pun langsung melaju.
***
"Kamu ngapain pagi-pagi sudah di sini?" tanya Niko pada Khanza.
"Tadinya mau nganterin ini, tapi gak ketemu sama orangnya," jawab Khanza sembari menunjukkan paper bag di tangan.
"Kamu masih tinggal di apartemen 'kan? Kok aku gak melihatmu sudah dua hari ini." Niko penasaran kemana Khanza pergi selama dua hari itu.
"Oh, kemarin aku ada urusan," jawab Khanza.
Sedangkan Niko, pria itu jadi penasaran kembali, siapa pria yang bersama Khanza waktu itu? Niko terus memperhatikan Khanza, sampai ia melihat ada beberapa tanda merah di leher gadis itu. Kecil-kecil, tapi warnanya sangat mencolok. Itu bukan tanda bawaan, melainkan bekas bibir.
"Niko, aku pergi dulu," pamit Khanza sembari berdiri dan siap melangkahkan kakinya.
"Khanza, apa kamu sudah memiliki kekasih?" tanya Niko langsung, ia ingin tahu karena bekas di leher Khanza membuat hatinya meronta jiwa keingin tahuannya menuntut lebih. Pasalnya, kalau Khanza sudah memiliki kekasih, Niko akan mengubur perasaannya dalam-dalam.
Khanza mengerutkan alisnya, ia bingung harus jawab apa. Tapi ia juga tidak bisa menutupi pernikahannya, takut ada masalah baru muncul dalam rumah tangganya. Jadi Khanza pun jujur pada Niko.
"Aku sudah menikah, Niko," jawab Khanza.
"Jadi laki-laki yang bersamamu kemarin itu suamimu? Suamimu sudah berumur ya?"
Pertanyaan Niko membuat Khanza merasa risih. Akhirnya, Khanza menyudahi obrolan mereka.
"Maaf ya, Niko. Aku harus segera pulang."
"Aku antar," tawar Niko.
Khanza menggelengkan kepalanya, gadis itu menolak tawaran Niko. Lagian gedung aparteman sudah terlihat. Jadi Khanza pun pergi begitu saja.
***
__ADS_1
Di rumah sakit.
Ibu paruh baya dengan penampilan sedikit glamore itu baru saja turun dari mobilnya yang mewah. Sudah di pastikan orang itu orang kaya.
Sambil menenteng tas brandit miliknya ia berjalan dengan anggun, orang itu akan menemui menantunya, Jihan. Ya, orang itu adalah mamanya Rubby.
Sebenarnya mamanya Rubby tidak peduli akan keadaan menantunya itu. Mamanya Rubby tahu rumah tangga apa yang dijalani anaknya itu, sedari dulu mamanya Rubby kurang suka dengan Jihan.
Wanita itu banyak tingkah, apa lagi setelah menikah dengan Rubby. Jihan berasal dari keluarga sederhana, awalnya mama Rubby suka-suka saja dengan menantunya itu.
Tapi Rubby selalu mengeluh akan Jihan yang tidak perhatian padanya, hingga akhirnya mamanya Rubby juga mulai tidak menyukai Jihan.
Apa lagi sekarang, Jihan yang mau bunuh diri. Apa mamanya Rubby akan iba pada menantunya itu? Mama Rubby yang bernama Laras itu sampai di kamar Jihan.
Ketika pintu kamar yang di tempati Jihan terbuka, disaat itu pula Jihan merubahkan posisinya. Ia melihat ibu mertuanya datang.
"Ma," sapa Jihan.
Mama pun masuk dan menutup pintu terlebih dulu. Kedatangan mama di sambut dengan tangisan dari Jihan. Wanita itu mengadu akan kelakuan putranya.
"Ma, Mas Rubby, Ma ..."
Belum apa-apa, Laras sudah dibuat jengah oleh menantunya itu. Untung Rubby sudah menceritakan semuanya pada Laras, sahingga Laras tidak terjebak dengan air mata buaya Jihan.
"Apa betul kamu mencoba bunuh diri?" tanya Laras langsung. Wanita itu tidak suka basa-basi.
"Bu-bukan itu maksudku, Ma."
"Lalu, apa maksudmu? Kamu mau membalikkan fakta? Kamu mau menyudutkan Rubby, iya?"
Sepertinya kedatangan mama Rubby tidak sesuai dengan ekspektasi Jihan. Bukannya mendapat dukungan, Jihan malah jadi yang dipojokkan oleh ibu mertuanya itu.
"Jihan, Jihan ... Kalau kamu mau mempertahankan rumah tanggamu, bukan begini caranya. Yang ada Rubby semakin kesal sama sikapmu. Coba berpikir dewasa sedikit saja," kata Laras.
"Lalu aku harus bagaimana, Ma?" Jihan meminta pendapat dari ibu mertuanya.
"Mama tidak mau ikut campur rumah tanggamu dengan Rubby, semua keputusan ada sama Rubby. Rubby yang menjalaninya, nyaman atau tidaknya dia yang merasakan."
Jihan kembali putus asa, wanita itu sudah disalahkan oleh orang sekitarnya, termasuk orang tuanya sendiri.
Laras kesini pun hanya menemani saja, tidak ada solusi apa pun bagi Jihan. Orang tua mana yang ingin anaknya hidup menderita? Tentu Laras tidak akan mendukung Jihan.
__ADS_1
Bersambung.