
Malam pun berganti menjadi pagi.
Suara ayam sudah berkokok, di kota Bandung yang masih asri dengan suara ayam membuat Jihan terbangun dari tidurnya. Perlahan ia mengerjapkan matanya, hawa dingin menerpa tubuhnya.
Merasa ada yang aneh, Jihan langsung menyikab selimut. Disaat itu pula ia langsung bangun dan memanggil Dion.
"Diooonnn ...," teriak Jihan.
Jihan takut sudah terjadi sesuatu padanya semalam.
Mendengar Jihan memanggilnya, Dion langsung datang ke kamar yang di tempati oleh Jihan.
"Ada apa Jihan?" Dion panik, apa terjadi sesuatu padanya sampai Jihan berteriak memanggilnya?
"Apa yang kamu lakukan padaku? Kamu jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan, Dion!"
Dion berpikir sejenak, apa yang telah dilakukannya? Perasaan ia tak melakukan apa pun. Dion mendekatkan diri ke arah Jihan, dan duduk di sisi ranjang. Jihan menarik selimut dan mempererat selimut itu.
"Tenanglah, Jihan. Aku tidak akan berbuat macam-macam, tidak ada yang terjadi diantara kita. Aku hanya membantumu melepaskan baju. Aku berani sumpah! Aku tak melihat tubuhmu sedikit pun!" Dion meyakinkan Jihan.
Apa Jihan harus percaya pada pria itu? Memang, selama ia kenal Dion, Dion bukan laki-laki brengsek. Bahkan Dion selalu bersikap baik padanya. Ok, untuk kali ini ia percaya pada Dion.
"Mana bajuku?" tanya Jihan yang masih memegang selimut.
"Bajumu basah, tapi kamu bisa pakai bajuku untuk sementara." Dion menghampiri lemarinya, dan mengambil kemeja untuk dikenakan Jihan.
"Kamu bisa pakai ini." Dion pun memberikan bajunya, setelah itu, ia pun pergi dari kamar memberi waktu pada Jihan untuk memakai bajunya.
Karena waktu menunjukkan pukul 05.30, Dion langsung bergegas ke dapur. Karena tinggal sendiri membuatnya mandiri, Dion membuat sarapan untuknya juga Jihan. Disaat Dion sedang membuat sarapan, Jihan datang menghampirinya. Wanita itu terlihat lebih cantik pagi ini, tanpa polesan make up dan memakai baju kebesaran, rambutnya diikat secara asal hingga terlihat leher jenjangnya.
Dion menelan salivanya, andai Jihan sudah resmi bercerai, ia tak akan menunda waktu untuk melamarnya.
"Kamu sedang apa?" tanya Jihan.
"Buat sarapan untuk kita," jawab Dion.
"Gak ada pembantu di sini?"
Dion menggelangkan kepalanya, ia tak perlu pembantu untuk mengurus hidupnya sendiri.
"Kenapa tidak menikah? Biar ada yang merawatmu?"
__ADS_1
"Aku hanya ingin menikah dengamu, Jihan!"
Mendengar itu, Jihan tak lagi banyak bertanya. Wanita itu tetap tidak bisa menerima laki-laki lain. Meski tak lagi memiliki Rubby, bukan berarti ia mudah menerima pria lain dalam hidupnya. Apa lagi Dion masih saudara Rubby.
Tidak ingin membahas masalah pernikahan dan itu hanya akan berujung ke arahnya, Jihan pun berniat untuk meninggalkan Dion. Tapi sayang, Dion tak membiarkan Jihan pergi.
Dion menarik tangan Jihan sampai wanita itu terjerembab tepat di dada bidang Dion. Tatapan mereka bertemu, Jihan meronta, ia mencoba melepaskan tubuhnya dari jeratan Dion.
"Jihan, aku serius mencintaimu. Kamu jangan lagi mengharapkan Rubby, dia tidak akan kembali padamu."
Ucapan Dion membuat Jihan menangis kembali, ia rapuh ketika mendengar Rubby tak lagi memiliki hati padanya. Memang benar apa kata Dion, Jihan pun menyadari itu. Apa lagi madunya itu sedang hamil sekarang, sudah tidak ada lagi harapan Jihan kembali.
Dion menyeka air mata Jihan.
"Air matamu terlalu berharga hanya untuk pria seperti Rubby, Jihan!" Kini Dion manarik tubuh ramping itu dan mempererat pelukkannya.
Apa Jihan harus mmelupakan Rubby? Itu sangat sulit bagi Jihan. Walau Jihan seperti itu, cintanya begitu besar kapada Rubby. Wanita itu berbuat salah hingga kehilangan suaminya.
"Tolong lepaskan," rintih Jihan.
Dion pun melepaskan Jihan, namun dengan syarat. Ia tak boleh lagi mengeluarkan air matanya untuk hal yang bodoh, Jihan pun mengangguk agar ia terlepas dari Dion.
***
"Za, kamu hati-hati di sini ya? Jangan keluar rumah tanpa ada yang menemani. Kalau ada apa-apa, kamu bisa minta bantuan Mama." Rubby mengecup kening istrinya, pria itu akan ke kantor pagi ini. Tak lupa, Rubby juga mencium perut Khanza yang masih rata.
"Papa kerja dulu ya, nak. Jangan rewel." Bebepara kali Rubby menciumnya sampai Khanza merasa geli.
"Sudah dong, Mas ... Aku geli," keluh Khanza.
Akhirnya Rubby pun mengakhirinya, dan ia mengajak Khanza sampai depan untuk mengantarnya. Rubby kembali mencium kening istrinya.
"Mas pergi dulu ya?" Khanza mengangguk.
***
"Za, Mama mau pergi ke mal. Apa kamu mau ikut?" ajak Laras pada menantunya.
Khanza berpikir sejenak, kalau tidak ikut ia pasti bosan di rumah sendirian. Akhirnya, Khanza putuskan untuk ikut dengannya.
"Aku ikut saja, Ma," jawab Khanza. "Aku siap-siap dulu," sambungnya lagi.
__ADS_1
Tak lama, Khanza datang. Ia sudah siap ikut bersama mertuanya. Dan mereka pun segera berangkat diantar oleh supir.
Jalanan lancar membuat mereka sampai tujuan lebih cepat dari perkiraan. Khanza turun dari mobil disusul oleh ibu mertuanya. Laras berjalan berbarengan.
Hingga dalam perjalanan menuju masuk ke dalam mal, ada seseorang yang sengaja menabrak Khanza dari belakang. Hampir Khanza oleng, untuk Laras gerak cepat menangkap tangan Khanza.
"Kamu gak apa-apakan, Khanza?"
Khanza menggeleng sebagai jawaban, ia tak apa-apa. Tapi siapa yang menanbraknya? Bahkan orang itu tak merasa bersalah padanya sekali pun.
Khanza dan Laras pun kembali berjalan, tanpa sepengetahuan mereka ada seseorang yang terus memantaunya. Orang itu terus mengikuti kemana pun Khanza pergi. Karena terus mengikutinya, Laras mulai curiga.
Orang itu sedari tadi ada disetiap Laras dan Khanza berada. Orang itu diam-diam mengintai. Laras pun diam-diam menghubungi Rubby pesan chat. Ia mengabarkan tengah berada di mal dan ada seseorang yang terus mengikutinya.
Di kantor
Rubby sangat sibuk, bahkan ia sampai tak sempat mengecek ponselnya. Karena Bayu masih sedang dalam masa cuti.
Hingga tiga jam kemudian, Rubby baru membuka ponselnya. Niatnya ingin menghubungi Khanza, tapi ia melihat ada chat masuk bahkan beberapa kali panggilan tak terjawab.
Penasaran Rubby langsung membuka chat itu. Setelah membaca pesan dari mamanya, Rubby langsung bergegas menyusul Khanza ke mal. Pria itu sudah khawatir takut terjadi sesuatu pada istrinya.
Dengan cepat, Rubby mengendari mobilnya. Hingga tak lama ia pun sampai di mal. Rubby menghubungi mamanya, bertanya di mana kebradaannya. Sudah tahu posisinya, Rubby langsung menenmuinya.
"Ma," panggil Rubby.
Laras pun menoleh ke arah anaknya sembari tersenyum
"Khanza mana, Ma?" Rubby tak melihat istrinya.
"Khanza baru saja ke toilet."
Rubby pun akhirnya menunggu Khanza, hingga beberapa menit kemudian, Khanza tak kembali. Rubby sedikit gelisah, kenapa istrinya tak kunjung kembali?
"Ma, Khanza lama sekali?" tanya Rubby yang sudah mulai tidak tenang apa lagi ia tahu tadi ibunya memberi kabar seperti tadi.
"Mungkin antri," jawab mama tanpa curiga sedikit pun.
Lama terus menunggu, Rubby pun akhirnya menyusul.
Bersambung.
__ADS_1