
Alan dan kedua orang tuanya langsung bergegas keluar dari kediaman Mawar. Pria itu menolak perjodohan itu karena ia melihat kondisi gadis yang hendak dijodohkan dengannya. Alan tampan dan gagah itu masa akan dinikahkan dengan gadis seperti Mawar, yang jauh dari kata sempurna. Memang tidak ada yang sempurna di dunia ini, setidaknya Alan memiliki istri yang sepadan dengan dirinya.
Setelah kepergian Alan dan orang tuanya. Nenek menjewer telinga cucunya itu keras-keras.
"Buat malu saja!" Nenek benar-benar marah pada Mawar.
Mawar juga menyesal sudah membuat neneknya malu, tapi ia beruntung setidaknya bukan ia sendiri yang membatalkan perjodohan itu. Nenek tidak lagi memaksa karena Alan sendiri yang membatalkannya.
"Nek, maafkan Mawar." Gadis itu masih menyentuh telinganya yang masih merah akibat jeweran neneknya.
Sang nenek yang baru pertama kali menyakiti cucunya itu pun tersadar kalau cucunya tengah kesakitan olehnya.
"Maafkan Nenek juga. Maaf, Nenek sudah menyakitimu," sesal Nenek.
kedua wanita itu kini berpelukan. Cinta memang tidak bisa dipaksakan, walau perjodohan itu batal bukan berarti Mawar bisa mencari calonnya sendiri. Nenek harus ikut serta menilai calon suami Mawar.
"Hapus itu, gigi hitammu!" Walau masih terlihat kesal, nenek mencoba berlapang dada dengan keputusan cucunya itu.
"Makasih ya, Nek. Mawar sayang Nenek." Mawar menciumi wajah neneknya, sampai sang nenek kewalahan dibuatnya.
"Sudah sana, bersihkan gigimu. Nenek tidak suka melihatnya!" cetus nenek.
Mawar hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu bergegas ke kamar mandi untuk menggosok giginya yang kotor akibat penyamaran itu.
***
Di luar rumah Mawar terlihat orang asing di sana. Sudah dipastikan bahwa itu suruhan Dion untuk memata-matai Mawar. Orang itu langsung melaporkan kejadia apa yang ia ketahui.
"Bos, tadi sempat ada pemuda yang datang ke rumah gadis itu. Tapi tidak lama, bahkan pas keluar dari rumah itu terlihat sangat tergesa-gesa," lapor orang yang disuruh Dion.
Dion jadi semakin penasaran, apa yang sudah terjadi di rumah Mawar.
"Terus awasi saja," jawab Dion disebrang sana. Sambungan itu pun langsung terputus.
Dua hari kemudian.
Mawar sedang berpikir, ia tidak bisa menganggur terus. Ia harus mencari pekerjaan. Disaat Mawar bersiap-siap hendak mencari pekerjaan, disaat itu pula ponsel miliknya bedering. Mawar langsung mengangkatnya, gadis itu menerima panggilan kembali di perusahaan yang di pimpin oleh pria yang ia taksir.
Mawar telihat bingung, apa ia harus menerima kerjaan itu? Tapi ini kesempatan bagus untuknya, tapi mengingat pimpinan di sana adalah Dion, Mawar jadi berpikir dua kali.
__ADS_1
Ia takut kalau Dion akan memarahinya kembali.
Tapi di sisi lain, ini panggilan dari pihak HRD bukan dari Dion langsung, pikir Mawar. Karena selama Mawar magang di sana, Mawar bekerja dengan sungguh-sungguh.
Ah, tidak peduli dengan Dion, yang penting Mawar bisa bekerja dan menghasilkan uang. Toh lagi pula sewaktu ia magang di sana ia tidak bekerja dengan Dion. Mawar bukan di bagian sekretaris, ia mendampingi Dion waktu itu karena disuruh menggantikan sekretaris Dion yang sedang cuti.
"Iya, Pak. Saya terima panggilan itu. Kapan saya bisa bekerja?" tanya Mawar langsung, itu hasil keputusan Mawar yang tadi sempat berpikir.
"Kalau bisa hari ini, saya tunggu kedatangan Anda," ucap si penelepon itu.
"Baik, saya akan segera ke sana," jawab Mawar. Sambungan itu pun berakhir. Mawar langsung bersiap-siap, entah kenapa, Mawar kembali bercermin. Gadis itu memoles wajahnya dan memberikan warna pada bibirnya. Tidak seperti biasanya Mawar berpenampilan sedikit menarik.
Apa Mawar berharap bertemu Dion dan pria itu terpesona ketika melihatnya? Entahlah, yang Mawar rasakan sekarang gadis itu serasa kembali ceria. Mawar keluar dari kamar, sang nenek pun tengah berada di meja makan sedang menata hasil masakannya.
"Duh ... Neng-nya Nenek sudah cantik, mau kemana?" tanya nenek ramah.
"Mawar diterima sebagai karyawan, Nek. Mawar seneng bisa bekerja kembali di Anggoro group," jawab nenek.
"Anggoro group? Bukannya kamu menyukai bosmu di sana?" Itu seingat nenek kata Khalid.
"Ish ... Niat Mawar bekerja bukan itu, Nek. Mawar ingin membahagiakan Nenek. Tapi kalau ada kesempatan, Mawar tidak akan menolak." Ternyata, Mawar berharap juga kalau bosnya itu menyukainya.
"Sarapan dulu," titah nenek.
"Assallamualaikum, Nek," ucap Mawar sebelum pergi.
"Waalaikumsalam," jawab nenek.
***
Mawar sudah berada di kantor Dion, gadis itu langsung masuk ke ruangan HRD, karena gadis itu sudah di tunggu di sana.
"Mawar, kamu akan berkerja menjadi asisten pribadi Pak Dion," ucap staff di sana.
Mawar melongo, kenapa ia malah jadi asisten pribadi? Itu artinya, Mawar akan berada di sisi Dion selama ia berkerja?
Tapi, ya sudahlah. Mawar tidak bisa menolak atau pun membantah, ia hanya karyawan yang membutuhkan pekerjaan untuk sesuap nasi.
"Ayo, saya antar kamu ke ruangan Pak Dion?" ajak staff itu.
__ADS_1
Mawar pun mengekor dari arah belakang. Dan kini mereka sampai di depan pintu ruangan yang di tempati oleh Dion. Jantung Mawar berdetak lebih cepat dari biasanya. Gadis itu jadi gemetaran, bahkan ia berkeringat dingin. Belum juga melihat wajah Dion, Mawar sudah takut lebih dulu.
Tok, tok, tok
"Masuk," sahut Dion dari dalam.
Mawar pun masuk bersama staff itu.
"Pak, ini karyawan yang Bapak inginkan," ucap staff itu.
Karena posisi Dion membelakangi arah Mawar, pria itu pun langsung membalikkan tubuhnya yang kini tengah terduduk di kursi kebesarannya.
Mawar masih terlihat menunduk. Staff itu pun pergi karena melihat Dion yang melambaikan tangannya ke arahnya. Staff itu pun akhirnya pergi.
Kini hanya menyisakan Dion dan Mawar di ruangan itu. Dion beranjak dari tempat duduknya dan langsung berjalan menghampiri tubuh Mawar yang masih berdiri tegak di hadapannya.
"Kali ini kamu tidak bisa lagi pergi tanpa izin dariku," bisik Dion.
Mawar langsung mendongakkan wajahnya ke arah Dion yang kini kembali menjadi atasannya itu.
"Apa maksudnya dia berkata seperti itu?" batin Mawar. "Apa dia akan kembali memarahiku?" batinnya lagi.
"Sekarang kamu bekerja untukku, jadi kamu harus patuh apa kataku!"
"I-iya, Pak."
"Saya tidak mau kamu memanggilku dengan sebutan Bapak. Panggil saya seperti biasa," pinta Dion.
"Ta-tapi-,"
"Tidak ada tapi-tapian. Itu perintah! Kamu harus menuruti perintahku."
Mawar pun akhirnya mengangguk, ia menyanggupi keingainan bosnya tersebut. Gadis itu memilih berdamai dengan keadaan. Kalau bukan pekerjaan yang ia butuhkan Mawar tidak mau jadi pelampiasan pria itu, mesti ada rasa pada Dion. Mawar juga punya harga diri.
Dalam hati, Dion berbunga-bunga. Kini gadis itu menjadi asisten pribadinya, itu artinya, Dion akan lebih banyak waktu dengan Mawar. Apa lagi Dion tahu kalau Mawar memiliki perasaan padanya, pria itu masih ingat akan ucapan kakak iparnya.
"Mawar, tolong buatkan kopi seperti biasa," ucap Dion.
Mawar mengangguk, ucapan itu terdengar lembut di telinga Mawar.
__ADS_1
"Apa pria itu sudah kembali normal?" batin Mawar.
Bersambung.