Bukan Rahim Pengganti

Bukan Rahim Pengganti
Bab 48


__ADS_3

Disaat Laras menampar Jihan, Dion yang baru saja tiba itu dikejutkan dengan pemandangan yang membuatnya itu sangat mengerikan. Baru kali ini ia melihat kakak iparnya marah, apa lagi marah pada Jihan.


Laras masih belum puas, sudah lama ia pendam kemarahannya pada Jihan. Baru Laras akan mengeluarkan kata pedasnya, Dion keburu datang pria itu langsung melerai pertengkaran Jihan dengan Laras.


"Sudah, Mbak ... Malu dilihat orang," kata Dion.


Anggoro menarik tubuh istrinya dan menjauhkan diri dari Jihan.


"Kata Dion benar, Ma. Sebaiknya kita pulang," ajak papa Rubby.


Laras mendelikkan matanya ke arah Jihan, wanita itu masih menyentuh pipinya, karena tamparan Laras cukup keras. Laras pun langsung pergi, tidak salah jika Rubby menceraikannya dan lebih memilih Khanza.


Jihan menyaksikan kepergian mertuanya, satu persatu keluarga dari suaminya kini membencinya. Tidak ada lagi harapan untuk Jihan kembali pada Rubby.


Dion menyentuh pundak Jihan, disaat itu pula Jihan menepis tangan Dion.


"Sebaiknya kamu pergi juga, Dion. Keluargamu sudah membenciku." Setelah mengucapkan itu Jihan pun pergi dari pesta pernikahan Bayu. Semua orang menatap dirinya, ada yang iba ada juga yang membencinya.


Jihan berlari sembari menangis, kini ia sudah kalah. Kalah untuk mempertahankan rumah tangganya. Jihan terus menelusuri jalan hingga air hujan pun turun membasahi bumi.


Dion terus mengikuti kemana pun Jihan pergi, ia khawatir pada Jihan. Pertengkaran Jihan dan keluarga suaminya tidak akan terjadi jika Rubby tidak menikah lagi. Karena Dion tidak tahu masalah perkaranya, pria itu malah berpikir ini semua karena Khanza.


Kehadiran orang ketiga membuat Jihan tersakiti. Di tengah derasnya hujan, Jihan berjalan tak tentu arah. Hingga tubuhnya mulai menggigil, Dion tidak bisa membiarkan itu terjadi, pria itu langsung menarik tangan Jihan dan membawanya ke mobilnya.


Di dalam mobil, Jihan masih terus menangis, matanya sudah sangat sembab. Dion mengusap air mata Jihan.


"Sudah jangan menangis." Dion merapihkan rambut Jihan yang kusut karena tersiram air hujan.


Jihan menatap wajah Dion.


"Kenapa kamu masih peduli padaku? Bahkan keluargamu saja sudah membenciku," kata Jihan.


"Jangan samakan aku dengan mereka, Jihan. Untuk apa aku membencimu? Aku tidak ada masalah denganmu." Melihat Jihan terus menggigil, Dion meraih jaket yang ada di kursi belakang dan langsung memakaikannya pada tubuh Jihan.


Setelah itu, Dion langsung menyalakan mobilnya dan mobil itu pun melaju membawa Jihan. Dion akan membantu Jihan untuk melupakan semuanya, termasuk untuk melupakan Rubby yang hingga sampai saat ini masih ada dalam hati Jihan.


Jihan melihat arah jalan dan ini bukan jalan ke arah rumahnya.

__ADS_1


"Kamu mau bawa aku kemana, Dion?" Jihan mulai takut, jangan-jangan Dion ikut membencinya dan menculik dirinya, pikir Jihan.


Dion tak menggubris perkataan Jihan, pria itu malah fokus pada kendaraan karena kabut menghalangi jalannya, hujan cukup deras membasahi bumi.


Tiga jam kemudian, Dion dan Jihan sampai di tempat Dion. Dion membawa Jihan ke rumahnya yang terletak di kota Bandung. Dion melihat Jihan tertidur, ia kasihan pada wanita itu. Masalahnya pasti sangat berat bagi Jihan.


Dion menyibak rambut Jihan yang kini menghalangi wajah cantiknya. Jihan tidak tahu apa yang dilakukan Dion padanya, Dion mencuri ciuman Jihan. Tak ada respon dari Jihan, Dion pun langsung turun dari mobil dan membopong tubuh Jihan membawanya masuk ke dalam rumahnya.


Dion membaringkan tubuh Jihan di atas kasur miliknya, kini Dion tinggal memikirkan bagaimana caranya mengganti baju Jihan yang basah, ia tak mungkin membiarkan Jihan dalam keadaan seperti ini.


Dion menutup tubuh Jihan dengan selimut, lalu ia mulai membuka baju Jihan tanpa melihat tubuhnya sekali pun. Hati-hati Dion melakukannya, ia takut menyentuh sesuatu di dalam sana.


"Huh ..." Dion bernapas lega, akhirnya ia bisa menyelesaikan semuanya. Ia membiarkan Jihan tidur tanpa memakai baju, hanya selimut tebal yang ia gunakan untuk membungkus tubuh polos Jihan.


***


Di tempat lain.


Sedari tadi Khanza terus menangis, kini ia tahu siapa ibu kandungnya. Khanza sangat terpukul menerima kenyataan itu.


Bukannya berhenti, Khanza semakin mengencangkan tangisannya. Rubby sampai bingung harus dengan cara apa ia menghentikan tangis Khanza. Akhirnya, Rubby membiarkan Khanza sendirian mungkin Khanza butuh waktu untuk menerima semua ini.


Rubby keluar dari kamar, ia menuju dapur untuk membuat secangkir kopi untuknya. Di sana ia bertemu dengan Laras, wanita itu juga tak habis pikir kenapa Rubby tidak mencari tahu latar belakang Khanza?


"Rubby," panggil ibunya.


Rubby pun menoleh ke arah sumber suara.


"Iya, Ma." Jawab Rubby sembari mengaduk kopi yang kini ia bikin.


"Apa kamu tidak tahu latar belakang istrimu sebelumnya?" tanya Laras.


"Tahu, memangnya kenapa apa ada masalah?" tanya Rubby balik.


Laras menarik napasnya dalam-dalam, Laras bukan bermaksud mempermasalahkan jati diri Khanza, ia hanya ingin anaknya itu jujur padanya tentang menantunya itu.


"Aku tahu semuanya tentang Khanza, Ma. Bahkan aku lebih tahu dari pada Khanza sendiri."

__ADS_1


"Maksudmu?"


"Khanza dibesarkan Seno, Mama kenalkan dengan Seno yang bekerja di perusahaanku? Dia yang merawat Khanza hingga sebesar ini. Seno menemukan Khanza di pinggir jalan, mungkin ibunya membuangnya. Aku mohon, Ma ... Jangan mempermaslahkan ini. Aku bahagia dengan istriku!"


Laras menghampiri Rubby dan mengusap lembut punggung anaknya.


"Mama tidak mempermasalahkan itu, jika kamu bahagia jagalah Khanza. Mama takut ibunya datang dan mengambil Khanza darimu." Laras mewanti-wanti Rubby agar menjaga ekstra istrinya.


"Wanita seperti Ibunya Khanza bisa saja berbuat nekad. Mama takut Ibunya datang dan menjadikan Khanza sepertinya."


"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, Ma. Khanza milikku hanya milikku!"


Percakapan Rubby dan Laras didengar oleh Khanza. Khanza merasa bersyukur berada di keluarga ini. Mereka semua menerimanya dengan lapang dada. Sebenarnya yang Khanza tangisi sedari tadi adalah, ia takut keluarga suaminya menentang hubungannya dengan suaminya. Tapi nyata tidak, Laras ternyata berhati baik.


Disaat Khanza memutar tubuhnya hendak kembali ke kamar, disaat itu pula Rubby melihatnya.


"Ma, aku ke atas dulu," pamit Rubby pada ibunya. Laras pun mengangguk.


Rubby menyusul Khanza, istrinya itu baru sampai anak tangga. Rubby langsung memanggil nama istrinya.


"Za."


Khanza pun menoleh, ia langsung tersenyum melihat Rubby. Rubby memeluk Khanza, semuanya akan baik-baik saja. Tidak ada yang berubah, cinta Rubby tidak akan berubah meski semuanya sudah tahu latar belakang Khanza.


"Terimakasih, Mas. Kamu sudah menerimaku apa adanya. Aku mencintaimu, Mas."


Mendengar kata cinta dari istrinya, Rubby langsung menggendong Khanza dan membawanya ke kamar. Ia merebahkan tubuh yang mulai berisi itu di atas kasur.


Rubby menciumi wajah Khanza, dari ciuman biasa jadi luar biasa.


"Mas." Khanza menghentikan ciuman itu.


"Mas akan melakukannya dengan hati-hati, Mas janji tidak akan menyakiti anak kita." Rubby tidak lagi peduli apa kata dokter. Ia tak bisa menahan puasa lebih lama.


Dan akhirnya, terjadilah sesuatu diantara mereka.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2